
"Apa-apaan? Munggar-minggir, munggar-minggir! Memangnya di kira, Mang Ujang gak berani melawan?" teriak Mang Ujang sambil memasang kuda-kuda.
"Minggir, atau aku pukul!" bentak Alex sambil memelototkan matanya.
"Sok-lah, adu pukul!" balas Mang Ujang sambil merentangkan tangannya.
Leira mundur beberapa langkah membuat jarak antara dia dan Alex.
Elena 'pun segera menghampiri Leira dan memeluknya.
"Pak Haris! Tolong, Pak!" teriak Elena dengan sangat keras.
Haris yang mendengar teriakan sari Elena 'pun segera berlari dengan cepat, karena takut ada kejadian yang membahayakan.
"Ada apa, Non?" tanya Haris sambil melirik ke arah Mang Ujang yang seperti ingin berkelahi.
"Dia Pak, tolong usir dia dari rumah ini!" ucap Elena sambil menunjuk ke arah Alex.
"Eh, kamu! Kamu yang kemarin gebrak-gebrak pagar, 'kan?" tanya Pak Haris setengah berteriak.
"Usir saja, Pak! Gak perlu di baik-baikin!" titah Elena yang di balas anggukkan kepala oleh Pak Haris.
Pak Haris mencabut pentungan dari ikat pinggangnya, dan mengacungkannya ke arah Alex.
"Ayo, keluar! Jika tidak, jangan salahkan saya jika pentungan ini saya gunakan untuk menyakiti anda!" ancam Pak Haris.
Dia masih belum bisa bersikap kasar, karena masih merasa jika Alex bukanlah orang sembarangan. Dan Pak Haris juga tidak mau bermain tangan, bisa-bisa nanti dia di adukan dan di tangkap polisi.
Bisa gawat!
Nanti, jika ada yang mengadu karena dia telah main hakim sendiri, bagaimana?
"Minggir, Pak! Saya hanya ingin berbicara dengan Leira!" tegas Alex masih kekeh dengan keinginannya.
"Mas lihat sendiri, 'kan? Non Leira menolak bertemu dengan anda! Jika anda masih tetap memaksa, saya akan lapor polisi karena anda telah membuat keributan di kediaman majikan saya." ancam Pak Haris dengan tegas.
Boleh saja dia tidak bisa bermain secara kasar, tapi, jika lapor polisi masih boleh, 'kan? pikir Haris.
Alex mundur, dia juga tidak mau jika urusannya akan menjadi panjang seperti sekarang.
"Baik, baik, saya akan pergi! Tapi lain kali, saya juga akan datang lagi kesini!" ucap Alex sambil melirik ke arah Leira.
Leira bersembunyi di balik punggung Elena, dia tidak ingin jika Alex akan mendekatinya lagi.
"Silahkan keluar, atau, saya akan membawa anda dengan paksa!" ucap Pak Haris dengan tegas.
__ADS_1
"Tidak usah khawatir Pak Satpam, ada Mamang di sini. Mamang akan bertindak, jika dia berani macam-macam." ucap Mang Ujang sambil melompat-lompat kecil di tempatnya.
Alex mendengus kasar begitu mendengar perkataan Mang Ujang. Dia merasa tidak senang di perlakukan seperti itu, oleh orang yang pernah mendukungnya dulu.
"Ngapain kamu melototin saya? Nantang? Sok, maju!" kata Mang Ujang dengan kesal.
Alex tidak menjawab, dia memilih untuk melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang.
"Yahh, takut! Badan aja tinggi, nyali se-uprit!" ejek Mang Ujang yang membuat Alex menghentikan langkahnya.
"Mang, udah Mang!" ucap Leira ketakutan.
Mang Ujang 'pun akhirnya terdiam, dan memilih untuk berdiri di sampingnya Leira.
Alex melanjutkan lagi langkahnya, dia 'pun kembali mengambil kartu identitas dari Pak Haris. Kartu identitas asli kurir, yang dia pinjam saat melakukan penyamaran.
Setelah mengunci kembali pintu gerbang dengan rapat, Pak Haris kembali datang untuk mengucapkan permintaan maaf atas keteledorannya
Dia juga tidak menyangka, jika kurir pengantar makanan adalah mantan Leira yang menyamar.
"Pak Haris sekarang berjaga aja lagi, kita gak marah, kok!" ucap Elena sambil tersenyum lembut.
Pak Haris mengangguk, dan kembali ke tempatnya semula untuk berjaga.
"Len, kamu nanti jangan bilang-bilang Nichol, ya. Bahaya! Kamu 'kan tahu, sifatnya Kakak kamu gimana." ucap Leira cemas.
"Gak bisa gitu dong, Kak! Kak Nichol harus tahu semuanya, lebih bahaya lagi jika kita tidak bicara dengan jujur." bantah Elena keras.
Memang, Kakaknya Nicholas pasti akan marah besar jika di beritahu tentang kejadian tadi.
Namun, Kakaknya akan lebih marah lagi jika sampai mendengarnya dari orang lain.
Membayangkan kemarahan Nicholas saja membuat Elena menjadi merinding, ketakutan.
"Iya juga sih, Len." balas Leira canggung.
Beberapa jam kemudian, Alissa dan Mila datang dengan membawa banyak barang belanjaan.
"Hai, sedang apa kalian?" sapa Alissa dengan riang.
"Biasa aja Mah, kita lagi nonton bareng." jawab Elena tanpa menoleh.
"Sini Mah, biar Leira bawain sebagian." sambut Leira hangat.
"Tidak perlu repot-repot, Sayang. Kami masih kuat, ya 'kan, Mil?" ucap Alissa sambil melirik ke arah Mila yang tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Keduanya langsung duduk, dan membongkar semua barang yang mereka bawa di hadapan Leira dan juga Elena.
"Lihat nih, Mamah beliin ini buat kamu, Sayang." ucap Alissa sambil mengangkat sebuah boneka beruang.
"WOW! Lucu!" Elena berteriak kegirangan.
Dia memang sangat menyukai boneka beruang, atau juga yang biasa di sebut sebagai boneka Teddy.
"Ini buat kamu, menantu kesayangan Mamah!" ucap Alissa sambil memberikan gaun merah muda kepada Leira.
"Terima kasih, Mah!" ucap Leira dengan senang.
Tak mau kalah dengan Alissa, Mila 'pun memberikan masing-masing satu tas kepada Elena dan juga Leira
"Tante juga punya, hadiah buat kalian berdua."
"Waw, Tante! Elena suka, suka sekali!" teriak Elena sambil memeluk tas punggung yang di berikan Mila.
Tas punggung yang mungil, dan berhiaskan gantungan boneka beruang yang lucu.
"Kamu gimana, Ra? Suka?" tanya Mila kepada Leira yang masih terdiam.
"Suka Tante, terima kasih!" ucap Leira sambil menghambur ke pelukan Tantenya.
Mila mengelus punggung Leira dengan penuh kasih sayang. Dia memperlakukan keponakannya itu, persis seperti Ibu kepada Anak perempuannya.
"Jangan menangis, Sayang. Kalau kamu suka, harusnya senyum dong!" ucap Mila dengan lembut sambil mengusap airmata yang menetes di kelopak mata Leira.
"Mah, sedih!" celetuk Elena dengan mata berkaca-kaca.
"Ish, kamu mah, ah. Merusak momen penting!" balas Alissa sambil mengusap airmatanya sendiri.
"Elena, sini!" panggil Mila merentangkan tangannya lebih lebar agar Elena bisa masuk ke dalam pelukannya bersama dengan Leira.
"Ah, Tante. So sweet!"
Elena setengah berlari menghambur ke dalam pelukan Mila berdua dengan calon Kakak Iparnya.
"Ish, ada acara apa nih? Kok, pada main peluk-pelukan sih? Aku boleh ikutan, enggak?" tanya Nicholas yang baru saja datang bersama dengan sang Ayah.
"Sirik aja, kerjaannya!" cibir Elena.
Nicholas hanya bisa tersenyum garing mendengar cibiran dari Adiknya. Siapa yang sirik? Nicholas justru merasa terharu dengan adegan yang harmonis seperti itu.
Elena melepaskan pelukannya dari Mila. Dia lalu menatap semua orang dengan serius, lalu berpura-pura terbatuk kecil.
__ADS_1
"Mah, Pah, Kak Nichol, Tante Mila, kalian pasti akan terkejut dengan apa yang akan aku ceritakan!" ucap Elena dengan ekspresi yang serius.