
Di kediaman Raharja...
Saat ini Leira sedang mendengarkan cerita dari Nicholas, tentang perjalanannya ke kantor Polisi kemarin.
"Aku tidak sangka, akan ada kejadian seperti itu di jalan." Ujar Leira yang merasa terkejut dengan cerita Nicholas.
Bagaimana tidak, cerita Nicholas tadi membuat jantung Leira berdetak kencang karena merasa ketakutan setelah mendengarkannya.
Untung saja, sahabatnya itu bisa lolos dari kejaran para preman yang menyerang mobilnya itu. Jika tidak, mungkin dia sudah di rawat di rumah sakit sekarang.
"Aku juga berpikiran sama denganmu, Ra. Pas kejadian itu terjadi, aku juga sedang fokus melihat jalanan." Balas Nicholas sembari menghela nafas.
"Apa mungkin, ini ulah orang yang sama dengan orang yang menyusup kemarin kesini, Nichol?" Ujar Leira mengungkapkan kecurigaannya.
Nicholas mengangguk, bisa saja yang di ucapkan Leira itu benar. Orang-orang itu sedang merasa terancam sekarang, dan penyerangan kemarin, mungkin untuk merebut barang bukti yang Nicholas bawa. Untungnya, Nicholas sudah sangat terlatih dalam kondisi seperti ini. Jadi dia bisa lolos, dengan begitu mudahnya dari kejaran mereka.
"Mungkin saja, kita harus bersikap lebih waspada sekarang." Ucap Nicholas seraya menoleh ke arah Leira.
Leira juga tidak berusaha menyangkal ucapan Nicholas, mereka memang harus bersikap lebih waspada lagi ke depannya agar tidak kecolongan seperti kemarin.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Leira kepada Nicholas yang sedang menatapnya.
Nicholas sedikit tersipu karena ketahuan sedang menatap Leira saat ini.
"Seperti yang aku bilang tadi, tetap waspada." Balas Nicholas yang sekarang menundukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan lebih berhati-hati lagi." Ujar Leira dengan tenang.
"Bukan hanya kau saja, semua orang yang tinggal di sini juga. Seperti Mang Ujang dan Bi Nenah, jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi." Ujar Nicholas yang memperingatkan Leira.
"Baik, aku akan memberitahu mereka nanti." Leira mengangguk patuh ke arah Nicholas.
Jantung Nicholas berdetak tidak karuan, entah kenapa setiap berada di dekat Leira, jantungnya akan bereaksi seperti itu.
"Baguslah! Kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, aku pamit untuk beristirahat." Ujar Nicholas yang memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
"Silahkan!" Balas Leira seraya tersenyum lembut.
__ADS_1
Bukan karena mengantuk ataupun merasa lelah Nicholas pergi ke kamarnya, tapi karena debaran hatinya yang semakin menjadi-jadi saat ini.
Dia mungkin tidak akan bisa bertahan jika tetap berada di sana, hanya dengan mendengar suara Leira saja Nicholas menjadi seperti kehilangan arah.
Apalagi harus terus menatap wajah Leira, bisa mati berdiri Nicholas di sana.
Setelah berada di kamar, Nicholas langsung merebahkan badannya di ranjang.
"Astaga! Kenapa dengan jantungku ini?" Gumam Nicholas sembari meremas bagian dadanya yang terasa sesak.
Nicholas ingat, ketika melakukan test rutin di kepolisian, Dokter mengatakan jika kesehatannya baik-baik saja saat ini. Bahkan tidak ada tanda-tanda apapun jika dia memiliki riwayat penyakit jantung. Tapi kenapa sekarang, jantungnya seakan selalu bermasalah.
Apa Dokter yang salah diagnosis? atau dirinya yang tidak bisa menjaga kesehatan?
"Aku mungkin harus test ulang kesehatan." Gumam Nicholas yang sedang merasa jika kesehatannya berada dalam bermasalah.
Di ruang tamu saat ini, Leira, Bi Nenah, dan Mang Ujang, sedang berkumpul membahas tentang penyerangan yang terjadi kepada Nicholas.
"Bi Nenah! Mang Ujang! Tadi Nicholas bercerita, jika perjalanannya kemarin ke Kantor Polisi telah di serang oleh sekelompok orang tak di kenal. Dan Nicholas yakin, jika orang-orang itu ada kaitannya dengan orang-orang yang menyerang kita di sini waktu itu. Oleh karenanya, Nicholas meminta kita semua untuk lebih berhati-hati lagi sekarang."
"Kamu mah Nenah, masih saja nyindir ka saya. 'Kan kata Non Leira juga kita semua, bukan begitu, Non?" Mang Ujang berkata sambil menoleh ke arah Leira.
Leira pun mengangguk membenarkan ucapan Mang Ujang, "Bener Mang ...."
"Tuhhh ... dengar atuh, Nenah!" Sindir Mang Ujang.
Bi Nenah memutar mata malas ke arah Suaminya yang kini sedang bersungut-sungut di hadapannya.
Kalau boleh jujur, Bi Nenah masih merasa kesal dengan kejadian kemarin yang hampir merenggut nyawanya itu.
''Kalau Non Leira ngomong, saya pasti dengar atuh Surjang. Tapi kalau kamu? males!" Cibir Bi Nenah.
Kini gantian Mang Ujang yang mendelik ke arah Bi Nenah. Sudah beberapa kali dia meminta maaf, tapi Istrinya itu masih saja kekeh dan terus saja menyindir dirinya.
Leira yang melihat perdebatan sepasang Suami Istri itu semakin sengit, buru-buru menyudahi percakapan mereka.
"Bi, Mang, sudah malam, Leira mau masuk kamar dulu. Bibi dan Mamang juga, sudah boleh beristirahat." Ujar Leira seraya beranjak.
__ADS_1
Bi Nenah dan Mang Ujang mengangguk kompak, lalu mereka pun juga pergi untuk beristirahat karena telah merasa lelah bekerja seharian ini.
Keesokan harinya...
Leira bangun pagi-pagi sekali dan sekarang sedang membantu Bi Nenah memasak di dapur.
"Non, kenapa gak nunggu aja di dalam. Masalah masak mah, biar Bibi yang urus." Ujar Bi Nenah yang merasa gak enak dengan Leira yang terlihat kelelahan.
Leira tertawa kecil mendengar perkataan Bi Nenah, "Gak apa-apa Bi, Leira senang kok, bisa bantuin Bi Nenah di sini."
"Tapi 'kan, Non Leira jadinya kelelahan. Lihat saja tuh mukanya, sampai keringetan begitu." Balas Bi Nenah sambil menunjuk muka Leira.
"He-he ... gak apa-apa, Bi." Sahut Leira sembari terkekeh.
Sedang asik mengobrol dengan Bi Nenah, Leira sampai tak sempat memperhatikan situasi di sekitarnya.
Bahkan, Leira juga tidak mengetahui, jika Saat ini, Nicholas sedang berdiri di pintu menuju dapur dan memperhatikan Leira yang sedang tertawa bersama Bi Nenah.
"Cantiknya kamu, Leira." Ucap Nicholas perlahan.
"Non Leira mah, memang cantik Pak." Mang Ujang yang mendengar ucapan Nicholas langsung menyela.
Nicholas terperanjat, ia tidak menyangka jika Mang Ujang akan mendengar ucapannya.
"Mang Ujang, bikin orang kaget aja." Celetuk Nicholas seraya pergi meninggalkan Mang Ujang yang kini sedang melongo menatapnya.
"Pak Polisi teh kenapa pergi? 'kan saya berkata apa adanya, Non Leira memang cantik. Memangnya, ada yang salah ya?" Ucap Mang Ujang sembari garuk-garuk kepala.
"Bi, aku mau mandi dulu ya." Ujar Leira sembari mengendus pakaiannya sendiri yang lembab karena keringat.
"Siap Non, mangga." Balas Bi Nenah.
"Tapi Bibi gak apa-apa 'kan, aku tinggal?" Tanya Leira yang merasa tak enak.
"Gak apa-apa Non, biarin ini Bibi yang beresin."
"Ya sudah kalau gitu Bi, aku masuk dulu ya." Pamit Leira kepada Bi Nenah.
__ADS_1