Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
15. Tempat tinggal untuk Amoora.


__ADS_3

Mario terus saja berceloteh di hadapan sepupu dan teman kuliahnya, Amoora.


Sementara orang yang di ajaknya berbicara, tidak ada satupun yang memperhatikannya.


Alex sibuk dengan pikirannya yang teringat dengan sang kekasih hati, Leira Raharja. Yang belum ada kabarnya sampai saat ini juga, bahkan Alex sudah beberapa kali menghubunginya, namun nomor telpon Leira sedang tidak aktif. Entah apa yang di lakukan tunangannya itu, yang jelas, Alex sangat merindukannya.


Sementara Amoora, dia tidak ada waktu mendengarkan perkataan Mario. Karena, fokusnya Amoora saat ini hanya untuk Alex.


Mario menjadi kesal, kedua orang di hadapannya ini tak ada satupun yang menjawab pertanyaan ataupun merespon perkataannya.


"Kalian itu kenapa sih? Dari tadi aku ngomong, gak ada yang jawab sama sekali." Teriak Mario kepada keduanya.


"Aku ...," Amoora seakan bingung mau menjawab apa.


"Iya, kamu! dan kamu juga, Alex!" Tunjuk Mario.


Alex hanya melirik sebentar ke arah Mario, lalu melanjutkan lamunannya. Bagi Alex, masalah Mario tidak lebih penting dari urusan kekasihnya, Leira.


Karena Alex mengacuhkannya, Mario mengalihkan pandangan kepada Amoora.


"Terus kamu, ngapain dari tadi hanya diam saja?" Tanya Mario ketus.


Amoora terlihat malu, dia tidak mungkin bilang jika dia memperhatikan Alex sedari tadi, dan tidak memiliki waktu untuk mendengar ocehan Mario yang tidak ada gunanya itu.


"Aku hanya sedikit lelah." Kilah Amoora.


"Segitu lelahnya, sampai-sampai tidak bisa menjawab seluruh perkataanku?" Cibir Mario yang tidak puas dengan jawaban dari Amoora.


"Maaf, maaf dech ... aku salah!" Goda Amoora yang sontak bikin Mario salah tingkah di buatnya.


Mario memang sedari jaman kuliah, sudah menyukai Amoora. Namun karena merasa malu, ia tidak berani mengungkapkan perasaannya.


"Ya, ya tidak apa-apa juga sih." Ujar Mario sambil garuk-garuk kepala.


Mario juga tidak ingin memperpanjang urusan, bagaimanapun itu haknya Amoora, mau mendengarkannya atau tidak, itu urusannya.


"Mario aku masih bingung, selama aku tinggal di sini, aku harus tidur di mana?" Tanya Amoora dengan raut muka kebingungan.


Mario juga jadi bingung, ingin mengajak Amoora tinggal di rumahnya, ini akan berbahaya. Karena dia tinggal sendirian, bagaimana kalau dia tidak bisa menahan hawa nafsunya dan memperkosa Amoora.

__ADS_1


Tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi. Amoora tidak boleh aku biarkan tidur di rumahku, batin Mario.


Dia memang tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, tapi karena dia menyimpan perasaan suka kepada Amoora yang sudah lama. Dia mungkin tidak akan bisa menahannya, seandainya mereka berdua tinggal di rumah yang sama.


"Aku juga bingung, Moor. Kamu 'kan perempuan, tidak mungkin bisa tinggal di rumahku. Apalagi, kita harus tinggal satu atap. Tidak mungkin, 'kan."Jawab Mario penuh penyesalan.


Sebenarnya Mario, ingin sekali membiarkan Amoora tinggal di rumahnya. Tapi ya, itulah, ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk menimpa mereka berdua.


"Lalu aku tinggal di mana?" Tanya Amoora bingung.


Dia berniat lama tinggal di Surabaya untuk melakukan pekerjaannya, tidak mungkin dia menyewa hotel ataupun ngontrak rumah.


Ia tidak biasa hidup sendirian, jika di hotel, pasti butuh biaya yang tidak sedikit. Jika ngontrak, ia tak cukup berani untuk melakukannya.


Mario berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya, hingga ia menatap Alex, barulah Mario membuka kembali suaranya.


"Kamu tinggal di rumah Alex saja, di sana ada Tante Jessica. Dia itu sangat baik, dan kamu pasti tidak akan kesepian jika tinggal di sana." Ucap Mario yang di sambut binar bahagia oleh Amoora.


"Apakah boleh?" Tanya Amoora seraya menoleh ke arah Alex.


Alex yang sedang memikirkan Leira jadi terperanjat dan langsung mengangguk tanpa mencari tahu dulu pertanyaan dari Amoora apa, karena tadi dia sedang sibuk memikirkan kekasihnya, Leira.


"Tuh, aku sudah bilang, jika Alex akan setuju dengan usulanku." Teriak Mario girang.


"Itu ... usulan Amoora tinggal di rumahmu, tadi kan kamu sudah mengangguk begitu Amoora bertanya kepadamu." Terang Mario yang membuat Alex memijit kepala.


"Aku itu tadi sedang melamun, jadi tidak tahu pertanyaan sebenarnya. Untuk masalah tempat tinggal, aku tidak bisa berjanji banyak." Ujar Alex berusaha memperbaiki kesalahannya.


Dia tidak bisa membiarkan Amoora tinggal di rumahnya juga, jika Leira tahu dia memperbolehkan gadis lain di rumahnya nanti, bagaimana perasaannya, Leira pasti sedih dan patah hati.


Amoora terlihat kecewa mendengar perkataan dari Alex, dan Alex pun menyadarinya.


"Maafkan aku ya, Moor. Tapi aku punya ini ...," Ucap Alex sambil menyodorkan selembar voucher kepada Amoora.


"Apa ini?" Amoora menerima voucher pemberian Alex.


"Itu voucher hotel, kamu bisa menginap dua malam di sana." Ujar Alex menjelaskan kegunaan voucher yang berada.


"Coba aku lihat!" Mario langsung merebut voucher itu dari tangan Amoora.

__ADS_1


Mata Mario berbinar ketika melihat nama hotel yang tertera di atas voucher tersebut.


"Wahhhh ... ini sih hotel bintang lima yang lagi naik daun itu, yang di jalan Bintoro itu 'kan." Mario setengah berseru ketika mengucapkannya.


Alex mengangguk pasrah, kelakuan sepupunya itu tidak pernah berubah. Bagaimana bisa dapat pacar, jika kelakuannya sendiri masih seperti bocah, pikir Alex.


"Kamu beruntung Moor, ini tuh hotel terkenal di Surabaya. Udah kamu terima aja, untuk ke depannya, nanti aku yang akan minta ijin langsung sama Tante Jessica." Ujar Mario penuh keyakinan.


Amoora yang tadinya sempat kecewa, kini terlihat lebih ceria lagi setelah mendengar perkataan Mario.


Sementara Alex, hanya cemberut karena merasa tak senang dengan tindakan yang di lakukan sepupunya itu. Sudah hampir berhasil dia menolak Amoora untuk tinggal di rumahnya, tapi Mario malah menggagalkan usahanya tersebut.


"Baiklah kalau begitu ... Terima kasih ya Alex, atas vouchernya." Ujar Amoora sambil tersenyum semanis mungkin ke arah Alex.


Mario mungkin akan terpana dengan senyuman Amoora. Tapi bagi Alex, Leira lah satu-satunya gadis yang bisa membuatnya tergila-gila.


"Sama-sama." Balas Alex dengan malas.


Wajah Amoora yang tadinya ceria, berubah kaku begitu mendengar balasan dari Alex.


Untuk mengatasi kecanggungan karena perubahan sikap Alex yang mendadak dingin kepadanya, Amoora pun pamit pergi ke toilet.


Setelah Amoora tidak ada di ruangannya, Mario buru-buru menegur sikap Alex yang menurutnya tidak sopan.


"Lex, kamu itu kenapa sih? Kasihan Amoora, jadi sedih lihat sikap kamu kaya gini." Ujar Mario kesal.


"Itu bukan urusanku, lagian juga, kamu seenaknya saja menyuruh dia tinggal di rumahku." Balas Alex yang juga kesal dengan keputusan Mario.


"Ya, kamu 'kan bisa berbicara baik-baik, Lex. Jangan kaya anak kecil begini ...," Mario masih kekeh menyalahkan sikap Alex.


Alex yang jadi emosi pun langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Terserah! Aku mau pergi, pusing!" Jawabnya sambil berjalan keluar dari ruangan Mario.


"Lex! jangan pergi! Alex!" Mario beberapa kali memanggil Alex, namun panggilannya itu tidak di gubris sama sekali.


Amoora yang baru kembali dari toilet, langsung bertanya kepada Mario, begitu melihat punggung Alex yang semakin jauh darinya.


"Alex mau kemana, Rio?" Tanya Amoora.

__ADS_1


Mario yang belum siap menjawab, jadi tergagap di depan Amoora. "Itu, itu ...,"


"Itu apa?" Tanya Amoora lagi.


__ADS_2