Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
23. Alat perekam.


__ADS_3

Yatno yang merasa terkejut, langsung membalas teguran dari Dante dengan keras.


"Kamu mengagetkan aku saja, Dante."


"Lagian kamu, kita sudah capek-capek masuk kesini, eh malah ngelamun." Dante merasa tersinggung karena Yatno malah membentaknya.


"Aku bukannya melamun, tapi sedang menyelidiki tempat ini." Kilah Yatno yang juga merasa tersinggung oleh ucapan dari Dante.


Dante menggelengkan kepala, lalu berjalan mengelilingi ruangan.


Yatno pun melakukan hal yang sama, dia berjalan berkeliling di sekitaran ruang baca.


Setelah keduanya berada di dekat meja, barulah mereka berhenti dan mulai mencari catatan yang di tinggalkan Crishtian.


"Kamu yakin, Crishtian menyimpan catatan itu di ruangan ini?" Tanya Yatno kepada Dante yang sedang mengecek isi laci meja.


"Aku juga tidak tahu, dan hanya asal tebak saja." Balas Dante yang masih serius memeriksa isi laci.


Yatno menatap ke arah Dante dengan tatapan rumit.


"Kau bilang hanya asal tebak saja?" Tanya Yatno yang merasa tidak senang dengan jawaban Dante.


"Iya!" Dante menjawab singkat tanpa memperhatikan ekspresi wajah Yatno yang sudah berubah kelam.


"Kau tahu, dari asal tebakmu itu telah membuat kita jatuh ke dalam perangkap." Ucap Yatno dengan nada keras.


Dante yang di perlakukan kasar seperti itu, langsung tersulut emosinya karena ucapan Yatno.


"Kau ini bisa diam, tidak? Dari tadi hanya membentak orang saja bisanya ...," Gerutu Dante yang membuat Yatno jadi naik pitam.


"Heyy! kalau bukan karena omongan kamu, aku tidak mungkin datang kesini sendirian. Aku sudah bayar anak buah mahal-mahal, malah terjun bebas masuk perangkap." Teriak Yatno yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Dari tadi kamu ngomong perangkap-perangkap terus, kalau kita tidak melakukan hal mencurigakan, tidak mungkin kita terjebak. Sudahlah, cepat cari mungpung kita masih berada di sini. Gunakan kesempatan yang ada, dengan sebaik-baiknya." Dante yang juga merasa emosi, langsung membalas teriakan dari partnernya, Yatno.


Karena situasi di sana semakin memanas, Dante akhirnya memilih menjauh dari Yatno yang terlihat ingin menerkam dirinya.


Dante mencari di tumpukan berkas-berkas, yang tersusun rapi di dekat rak buku sebelah kanan.


"Ini bukan, ini juga bukan," Gumam Dante sembari membolak-balik berkas yang berada di hadapannya.


Yatno juga mulai mencari keberadaan catatan peninggalan Crishtian di tumpukan dokumen yang berada di atas meja.

__ADS_1


"Di mana kau menyimpannya, Crishtian. Apa mungkin? kau dulu hanya menggertak kami berdua saja?" Gumam Yatno pada dirinya sendiri.


Tanpa mereka berdua ketahui, sedari tadi mereka mengacak-acak ruang baca Crishtian, sedang di saksikan oleh sepasang muda-mudi yang berada di balik sebuah layar.


"Kau lihat itu, Ra? Sepertinya, mereka mencari catatan yang akan kita jadikan barang bukti." Tutur Nicholas masih dengan memperhatikan layar di depannya.


"Jadi maksudmu? Om Dante, dan Pak Yatno adalah dalang di balik kematian kedua orangtuaku?" Tanya Leira dengan raut wajah menampilkan kesedihan.


Nicholas menggeleng, dia juga belum bisa memastikan kebenarannya. Tapi kalau di lihat dari gerak-gerik mereka berdua, sudah sangat jelas mencurigakan.


"Kita masih belum mempunyai bukti kuat, untuk menuduh mereka berdua yang melakukannya. Jika kita bergerak secara sembarangan, bisa-bisa kita yang di serang balik oleh mereka." Jelas Nicholas.


Leira juga paham, maksud dari ucapan Nicholas sebenarnya. Nicholas mencurigai kedua orang terdekat Ayahnya itu, namun takut salah dalam mengambil tindakan.


"Aku percaya sama kamu, Nichol. Mungkin saja, instingmu itu benar adanya." Sahut Leira yang membuat Nicholas menoleh ke arahnya.


"Jadi kamu juga mencurigai mereka, Ra?" Ujar Nicholas sembari menatap tajam kepada Leira.


"Um ... Kamu lihat saja mereka! Seandainya benar mereka mencari berkas penting, harusnya mereka meminta bantuan dariku 'kan? Sebagai Anak dari tuan rumah, tentu saja aku akan membantu mereka. Tapi apa yang terjadi? begitu memasuki ruangan pribadi Ayah, mereka langsung menutup pintu rapat-rapat. Seolah-olah, kegiatan mereka tidak ingin di ketahui oleh orang lain." Jelas Leira dengan panjang kali lebar.


Nicholas juga merasa setuju dengan penjelasan Leira yang masuk akal.


Tapi ini kebalikan, mereka seperti tidak ingin ada seorangpun yang ikut serta dalam kegiatan di sana.


Benar-benar mencurigakan!


Nicholas terus berpikir untuk mencari ide agar bisa mendekati kedua orang yang kini berada di ruang baca Crishtian.


Setelah beberapa saat, barulah Nicholas menjentikkan jarinya.


"Aku punya ide, Ra ...," Ujar Nicholas yang sontak membuat Leira terkejut.


"Ide apa?" Balas Leira yang berusaha menahan rasa kagetnya.


"Bagaimana, kalau kita menyuruh Bi Nenah masuk ke dalam sana." Kata Nicholas sambil menunjuk ke arah layar.


Leira berpikir sejenak, lalu membalas ucapan Nicholas dengan sedikit khawatir.


"Kalau terjadi apa-apa dengan Bi Nenah, bagaimana?"


Nicholas menjawab dan menggeleng, "Tidak akan, mereka tidak akan berani melakukan apapun juga."

__ADS_1


"Kamu yakin?" Tanya Leira meyakinkan.


"Yakin!" Ujar Nicholas penuh percaya diri.


"Baik, aku panggil dulu Bi Nenah kesini." Kata Leira seraya bangkit dari duduknya.


Namun sebelum Leira sempat melangkah, Nicholas langsung menghentikan Leira dengan memegang tangannya.


"Biar aku saja yang memanggil Bi Nenah, kamu tetap di sini, dan awasi mereka berdua."


"Baik ...," Leira mengangguk patuh dengan ucapan Nicholas.


Nicholas pun pergi ke arah dapur, guna mencari keberadaan Bi Nenah.


Setelah menemukan orang yang di cari, Nicholas membawa serta Bi Nenah ke ruangan di mana Leira sedang menunggunya.


"Eh ... Non Leira, mereka sedang apa si ruangan Tuan?" Ucap Bi Nenah sambil menunjuk ke arah layar, di mana menampilkan Dante dan Yatno yang sedang mengobrak-abrik dokumen dan berkas-berkas di dalam sana.


"Leira juga tidak tahu Bi ...," Jawab Leira perlahan.


Nicholas menghampiri Bi Nenah, dan menyematkan kancing kecil di balik kerah baju Bi Nenah.


"Ehh ... itu apa barusan, Pak?" Ujar Bi Nenah yang terkejut ketika Nicholas memasang sesuatu di kerah bajunya.


"Ini tuh alat perekam Bi ...," Ucap Nicholas kepada Bi Nenah.


Bi Nenah yang belum mengerti dengan maksud dari Nicholas, langsung menolak di pasang alat seperti itu di bajunya.


"Bibi gak mau di pasang alat-alatan, Pak. Bibi takut viral di facebook." Ujar Bi Nenah, sembari ingin melepas alat perekam di kerah bajunya.


"Tidak ada yang akan viral, Bi Nenah. Maksud Nicholas, bukan seperti itu." Ujar Leira yang menghentikan aksi Bi Nenah melepas alat.


Bi Nenah langsung diam tak bergerak, begitu mendengar ucapan Leira.


"Lalu apa atuh Non, maksud Pak Polisi?" Tanya Bi Nenah dengan raut muka cemas.


Leira menuntun Bi Nenah ke depan monitor, dan menunjuk ruang baca Crishtian yang terpampang jelas di dalam layar.


"Bibi lihat mereka?" Tanya Leira perlahan kepada Bi Nenah yang semakin merasa gentar.


"Lihat, Non!" Balas Bi Nenah singkat.

__ADS_1


__ADS_2