Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
28. Perasaan Nicholas dan kekecewaan Alex.


__ADS_3

"pak, sepertinya tahanan baru ini menderita gangguan jiwa." Ucap salah seorang Anggota Polisi kepada atasannya.


Si atasan tertegun, kejadian ini kerap sekali terjadi kepada tahanan baru.


Namun dia tidak bisa sembarangan memutuskan tentang hal itu.


Harus ada keterangan dari pihak-pihak medis tentang situasi seperti ini, barulah dia mengambil tindakan.


"Biarkan saja seperti itu untuk sementara waktu." Jawab si komandan Polisi.


Mereka pun kembali ke tempat masing-masing, meninggalkan Yatno yang sedang berteriak-teriak memanggil nama Hani.


Setelah tertangkapnya Dante dan Yatno, Karto dan Dorman 'pun ikut di tangkap beserta anak buah yang lainnya, setelah beberapa hari pengejaran oleh pihak kepolisian.


Istrinya Karto malah merasa bersyukur jika Suaminya di tangkap oleh pihak kepolisian.


Dia sudah geram dengan tingkah laku Karto yang sudah seperti preman pasar di kampungnya. Bukan hanya malu, Istri Karto malah sering kena pukul oleh Karto sendiri kalau berusaha menasehati atau 'pun menegurnya ketika melakukan perampasan atau pemalakan kepada setiap warga kampung.


Dengan adanya kasus ini, Istri Karto juga bisa terlepas dari jeratan rumahtangga yang tak sehat dengan Karto.


"Atikah, tolong aku! Aku tidak mau di penjara!" Ratap Karto kepada Atikah yang datang untuk membesuknya.


"Terima saja karma dari perbuatanmu!" Ujar Atikah sinis kepada Karto.


Karto menunduk lesu, dia tidak mau membusuk di dalam jeruji besi.


"Aku ini Suamimu, Tikah." Ucap Darto menghiba.


"Mantan!" Ujar Atikah tegas.


"Mantan apa? Kita masih berstatus menjadi Suami-Istri!" Tegas Karto sembari memelototi Atikah.


Atikah mengeluarkan sebuah amplop coklat dari tas yang di bawanya. Lalu menyodorkannya kepada Karto.


"Mulai detik ini, kita bukan lagi Suami-Istri!" Tegas Atikah sembari beranjak pergi meninggalkan Karto.


"Atikah, Atikah!" Panggil Karto berulang-ulang.


Namun Atikah tidak mendengarkan panggilan dari Karto dan terus melangkahkan kakinya ke depan.


Beberapa petugas datang dan mengamankan kembali Karto ke dalam jeruji besi.


Tak lupa, mereka juga menyuruh Karto membawa amplop coklat yang di berikan oleh Atikah.

__ADS_1


Di kediaman Raharja...


"Mulai Besok, aku akan pergi dari rumah ini, Ra. Tugasku sudah beres, dan kau aman sekarang." Ucap Nicholas kepada Leira yang duduk di sebelahnya.


Mereka berdua kini sedang berada di balkon atas sambil menikmati keindahan sinar rembulan.


"Terima kasih ya, Nichol. Jika bukan karena dirimu, mungkin para penjahat itu akan tetap bebas di luaran sana." Ujar Leira sembari menengadahkan kepalanya menatap bulan.


Sejujurnya, Nicholas masih belum rela jika harus berpisah lagi dengan Leira.


Namun Nicholas merasa malu untuk mengakuinya sekarang. Dan hanya bisa pasrah dengan keadaan.


Mungkin Nicholas tidak akan bisa lagi tinggal di rumah Leira. Tapi selama dia berada di satu kota dengannya, kemungkinan bertemu setiap hari akan tetap ada.


"Aku juga terima kasih, Ra. Selama tinggal di sini, aku banyak menyusahkanmu, dan Bi Nenah." Tutur Nicholas sendu.


Leira menoleh ke arah sahabatnya itu, lalu melemparkan sebuah senyuman manis yang membuat hati Nicholas semakin bergetar.


"Kamu ini bicara apa, Nichol. Bukan kamu yang menyusahkan, tapi aku, Bi Nenah, dan Mang Ujang."


Jantung Nicholas berdegup kencang melihat senyuman Leira yang semakin merekah indah.


Hampir saja, Nicholas kehilangan kesadarannya karena terbuai dengan keindahan yang ada di hadapannya ini. Bahkan senyum Leira, tak kalah indah dengan sinar sang rembulan.


"Leira ...," Suaranya Nicholas seakan tercekat di tenggorokan dan tak bisa meneruskan kata-katanya untuk bilang jika dia menyukai Leira saat ini.


"Ti-tidak! Tidak apa-apa!" Ucap Nicholas tergagap.


"Ka- ...,"


"Non Leira, ada telpon!" Ucapan Leira terputus karena teriakan Bi Nenah.


"Baik, Bi!" Leira membalas teriakan Bi Nenah dari atas.


"Kamu tadi mau bilang apa, Nichol?" Tanya Leira yang menoleh lagi ke arah Nicholas.


Nicholas garuk-garuk kepala tak gatal mendengar pertanyaan Leira. Entah kenapa, dirinya tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.


"Aku lupa ...," Kata Nicholas sambil cengengesan.


"Ya sudah kalau kamu lupa, aku juga tidak akan memaksa." Balas Leira lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Kamu mau kemana?" Nicholas terheran karena Leira ingin meninggalkannya.

__ADS_1


"Tadi 'kan Bi Nenah bilang, kalau ada telpon buat aku." Jawab Leira sembari berjalan meninggalkan Nicholas yang menjadi cemberut.


Setelah Leira pergi, Nicholas menepuk-nepuk keningnya sendiri.


"Bodoh, bodoh, bodoh!"


"Kenapa aku gak bilang saja sih sama Leira, kalau aku itu suka sama dia." Gumam Nicholas perlahan.


Dia masih tetap menepuk-nepuk keningnya sendiri seakan menyesali sikapnya yang pengecut.


Sementara di lantai bawah, kini Leira sedang berbicara dengan Alex lewat sambungan telpon.


"Kamu kemana saja, Ra? Kenapa ponsel kamu juga di nonaktifkan?" Rajuk Alex di sebrang telpon.


"Maaf ya, Lex. Ponsel aku masih di tangan pihak kepolisian, bahkan hari ini 'pun ponsel aku masih di sana." Tutur Leira yang sontak membuat Alex terkejut mendengar kata kepolisian.


"Kamu kenapa, Ra? Apa kecelakaan? Atau gimana?" Alex mencecar Leira dengan banyak pertanyaan.


Leira terkekeh mendengar Alex memberendelnya dengan pertanyaan.


"He-he ... Aku tidak apa-apa, Lex."


"Lalu kenapa, ponsel kamu di sita Polisi?" Tanya Alex lagi terdengar cemas.


Leira 'pun menceritakan semua kejadian yang dia alami akhir-akhir ini. Bahkan kedatangan Nicholas 'pun tak luput dia bicarakan dengan Alex.


"Jadi Ayah dan Ibumu jadi korban kejahatan orang-orang serakah itu?" Tanya Alex di akhir cerita Leira.


"Benar!"


"Lalu kenapa, kamu tidak mengabariku, Ra? Setidaknya, aku akan datang dan menemanimu di sana!" Ujar Alex yang seperti kecewa karena tak bisa menemani Leira di saat-saat sulit.


"Bukannya aku gak mau, Lex. Tapi dari pihak kepolisian sendiri yang memintaku untuk tidak melibatkan orang luar dalam masalah ini." Balas Leira yang membuat Alex sedikit kesal.


Alex merasa tidak di anggap karena tidak di libatkan dalam masalah Leira. Apalagi ketika dia mendengar jika beberapa orang menerobos masuk ke rumah dan sempat menyandera Bi Nenah. Alex merasa gagal karena tidak bisa melindungi calon Istrinya tersebut.


"Jadi kamu menganggap aku ini orang luar?" Kata Alex dingin.


Leira jadi merasa bersalah karena mengucapkan kata-kata tadi, tapi memang itulah kenyataannya. Pihak kepolisian memintanya untuk tidak melibatkan orang lain dalam kasus mereka kemarin. Selain berbahaya, masalahnya akan bertambah rumit.


"Bukan itu maksudku, Lex. Kemarin sangat berbahaya, jadi pihak kepolisian tidak ingin menambah daftar korban jiwa." Jelas Leira lembut.


Namun Alex terlanjur kecewa, dan memutuskan mengakhiri percakapan mereka.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Lagipula, aku bukan siapa-siapa kamu, aku ini hanya orang luar yang tidak di anggap. Bahkan ketika tersiksa karena rasa rindu juga, aku tidak pernah di anggap."


Setelah mengatakan itu, Alex langsung menutup sambungan telponnya.


__ADS_2