
Semua orang yang sedang asik bercengkerama, langsung menoleh ke arah Elena.
"Memangnya, apa yang ingin kau ceritakan, Len? Sebuah lelucon? Atau hal penting?" tanya Nicholas dengan rasa penasaran yang tinggi.
Elena melirik terlebih dahulu kepada calon Kakak Iparnya untuk meminta persetujuan. Setelah Leira mengangguk, barulah Elena membuka suara.
"Tadi, Alex datang kesini. Dia masuk, dan menyamar sebagai kurir pengantar makanan."
"Alex!" geram Nicholas.
Leira tampak ketakutan, dia tahu jika Nicholas akan bereaksi seperti itu jika mengetahui tentang apa yang terjadi tadi siang.
"Tenang dulu, Kak. Aku belum selesai berbicara!" ucap Elena yang membuat Nicholas harus berusaha menahan rasa amarahnya.
"Untungnya, pas mau mendekati Kak Leira, Mang Ujang datang dan menghalanginya. Mang Ujang hebat tau, Kak. Dia berani melawan Alex dengan jurus-jurus silatnya."
Nicholas sedikit merasa lega karena Alex tidak berhasil mendekati tunangannya.
Tapi sampai kapan Leira bisa menghindar? Masih sukur tadi ada Mang Ujang, namun lain kali, bagaimana?
Nicholas yakin, Alex tidak akan menyerah begitu saja. Tidak, ini tidak bisa di biarkan.
Nicholas harus bertindak!
"Mah, Pah, aku harus datang ke kediamannya keluarga Alex. Aku gak mau Mah, Pah, Alex datang lagi untung mengganggu Leira." ucap Nicholas dengan kesal.
Niko 'pun memiliki pemikiran yang sama, jika di biarkan, Alex akan tetap datang mengganggu calon menantunya tersebut.
"Papah dukung kamu, Nichol! Si Alex ini, jika di biarkan, pasti akan keseringan berbuat hal seperti tadi." dalih Niko yang juga mendapat dukungan fari semua orang.
"Kapan kamu akan berangkat kesana, Nak?" tanya Alissa dengan serius.
"Sekarang juga, Mah! Nichol gak mau, masalah ini terus berlanjut. Kita bisa bawa rekaman cctv, sebagai barang bukti untuk mengancam mereka. Bagaimana?" tegas Nicholas.
"Brilian! Dengan begitu, si Alex gak akan pernah lagi datang ke rumah kita." Niko sangat bangga memiliki Putra setanggap Nicholas.
Meskipun Niko tahu, jika Putranya sudah sangat terlatih di kepolisian. Namun, setiap kali ada pergerakan baru dari Putranya, Niko akan jadi orang pertama yang membusungkan dada, dan menyombongkan ketangkasan yang di miliki Putranya.
Beberapa saat kemudian, mobil mereka 'pun sampai di kediaman keluarga Wibowo.
Selain sudah hafal tempatnya, Nicholas juga menjalankan mobilnya dengan sangat kencang, agar dia bisa segera sampai di tempatnya Alex.
__ADS_1
"Maaf, Pak! Ingin bertemu dengan siapa?" tanya Satpam yang bertugas berjaga pintu.
"Kami dari keluarga Mahendra, ingin menemui Bapak Wibowo dan juga Putranya." Niko berbicara dengan lantang.
Jiwa pemimpinnya keluar, sehingga orang yang menjadi lawan bicaranya akan merasa segan.
"Baik, Pak. Saya akan melapor terlebih dahulu." jawab si Satpam lalu dia masuk dan membuat laporan via sambungan telepon.
Setelah selesai berbicara, Satpam itupun kembali menemui Niko dan keluarganya.
"Maaf sekali, Pak! Tuan Alex menolak untuk bertemu dengan keluarga anda." tutur si Satpam dengan penuh kesopanan.
Nicholas mendengus, dia merasa jengkel karena Alex seperti sengaja ingin menghindarinya.
Di dalam rumah, Alex mengintip di balik tirai jendela ruang tamu.
"Kenapa, Sayang? Ada apa di luar?" tanya Jessica yang baru keluar kamar.
"Tidak apa-apa, Mah!" jawab Alex datar.
Matanya terus menatap ke arah gerbang, di mana Nicholas sedang berbicara kepada penjaganya.
"Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak berani!" jawab si Satpam dengan gugup.
Tottt! .... Tottt! ....
Dari belakang, terdengar suara klakson di bunyikan.
Niko menoleh, dan tatapannya berpapasan dengan tatapan Wibowo yang baru keluar dari mobilnya.
"Maaf, ada masalah apa ini? Kenapa anda semua berkumpul di depan rumah saya?" tanya Wibowo dengan penasaran.
Seperti di ketahui, Wibowo selalu bersikap netral kepada siapapun. Dia tidak berusaha menyalahkan Amoora, ataupun Leira, seperti yang di lakukan Istrinya.
Wibowo lebih suka berpikir menggunakan rasio, ketimbang harus mengumbar emosinya.
Toh yang salah juga Putranya sendiri, seandainya dia bisa lebih menjaga nafsu. Mungkin kejadiannya, tidak akan seperti ini.
Mau apapun itu alasannya, di jebak ataupun tidak, Wibowo menganggap Alex-lah yang bersalah.
"Selamat malam, Pak Wibowo! Kami kesini ingin menemui Putra Bapak!" ucap Niko dengan berterus terang.
__ADS_1
"Ada urusan apa ya, Pak?" tanya Wibowo heran.
"Saya rasa, tidak baik jika harus membicarakannya di sini!" dalih Niko.
Wibowo jadi merasa canggung, memang benar apa yang di katakan tamunya. Tidak sopan jika mereka membicarakan sesuatu yang penting, di tempat umum seperti ini.
Wibowo 'pun meminta Satpam untuk membukakan pintu gerbang, agar keluarga Mahendra bisa masuk ke dalam, dan mereka bisa dengan leluasa berbicara
"Sial!" Alex mengumpat kasar saat keluarga Nicholas sudah memasuki halaman rumahnya.
Jessica semakin merasa sedih dengan perubahan sikap Putranya. Alex yang dulu ramah, dan juga sangat ceria. Kini berubah menjadi kasar, dan juga menjadi suka mengurung diri di dalam kamar sendirian.
Tottt! ....
Suara klakson mobil sang Suami terdengar sudah memasuki halaman rumah. Jessica bergegas keluar, bermaksud menyambut kedatangan Wibowo.
Namun, Jessica malah terkejut dengan dua mobil yang berada di belakang mobil Suaminya.
"Mau apa mereka kesini? Jangan-jangan ...," Jessica langsung menutup mulut dengan mata terbelalak.
Jessica curiga, jika Putranya telah berbuat nekad hingga membuat keluarga Mahendra harus datang ke tempatnya.
"Alex, mengapa kamu jadi seperti ini, Nak!" gumam Jessica dengan lirih.
"Mah, siapin minum untuk tamu kita." ucap Wibowo yang hanya di balas anggukkan kecil Jessica.
"Bisa kita lanjutkan, obrolan kita yang sempat tertunda tadi?" ucap Wibowo setelah Jessica datang dan menyuguhkan minuman alakadarnya.
Maklum, jam segini asisten rumah tangga di keluarganya sudah pulang. Jessica sengaja mencari asisten yang bisa pulang pergi setiap hari, agar dia bisa mengurus Suami, dan Putranya sendiri dan hanya meminta asistennya mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa dia kerjakan saja. Seperti mencuci baju, piring, dan juga masak.
"Ini, Pak!" tanpa berbasa-basi, Niko langsung menunjukan rekaman video ketika Alex berusaha memaksa Leira ketika memasuki rumahnya dengan cara menyamar sebagai kurir.
Wibowo terkejut, begitu juga dengan Jessica. Mereka berdua tidak menyangka, jika Alex akan melakukan hal sejauh ini.
"Maafkan atas kesalahan Putra kami, Pak. Kami janji, hal ini tidak akan pernah terulang lagi." ucap Wibowo sambil menundukkan kepalanya.
Sebagai Boss perusahaan besar, baru kali ini Wibowo menundukkan kepala di hadapan orang lain.
Itupun dia lakukan, karena ingin melindungi Putranya. Dia tidak mau, jika keluarga Mahendra akan memperkarakan masalah ini dan memenjarakan Putranya karena telah masuk ke rumah orang lain tanpa ijin.
"Baik, kami akan memegang kata-kata Bapak. Jika hal ini kembali terulang, jangan salahkan kami jika berlaku tegas dan melaporkan Putra Bapak, dan juga Ibu!" ucap Niko dengan penuh ketegasan.
__ADS_1