Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
43. Kalap.


__ADS_3

"Bi, lagi masak apa?" Tanya Leira mendatangi Bi Nenah di dapur.


"Bibi lagi masak kesukaannya Non Leira, oseng mercon." Balas Bi Nenah bersemangat.


Leira hampir menetes air liurnya mendengar makanan kesukaannya di sebutkan.


"Terima kasih, Bi!" Leira tak segan-segan memeluk erat wanita paruh baya tersebut.


Saat ini, Alissa keluar kamar bersama Niko karena mencium aroma masakan yang sangat enak.


"Lihat Pah, gadis itu gak sungkan sama sekali. Padahal 'kan Bi Nenah cuma asisten rumah tangga. Tapi kayanya, Leira sangat akrab dengan Bi Nenah." Bisik Alissa kepada sang Suami yang juga menatap Leira dengan penuh kekaguman.


"Leira cocok sama Nicholas, Mah. Kita harus buru-buru, membuat mereka bersatu. Jangan sampai, Leira di tikung lagi sama mantan tunangannya yang brengsek itu." Balas Niko dengan penuh antusias.


"Ya udah, Pah. Mamah mau nyamperin Leira dulu, gak enak kalau cuma diem aja di kamar." Alissa berjalan meninggalkan Niko yang sedang bengong.


"Dasar perempuan, tadi ngajak ngobrol, giliran di balas, di cuekin. Nasib-nasib!" Ujar Niko sembari mengelus dada.


"Wangi apa nih, kayanya enak banget!" Alissa berkata sambil berjalan menghampiri Leira dan Bi Nenah.


Leira menoleh dan memberikan senyuman termanisnya untuk Alissa.


"Eh, Tante! Ini, Bi Nenah lagi masak oseng mercon." Jawab Leira ramah.


Mata Alissa berbinar begitu mengetahui nama masakan yang sedang di siapkan oleh Bi Nenah.


"Wahhhhh! Pasti enak!" Seru Alissa semangat.


Leira mengangguk. "Masakan Bi Nenah memang selalu enak, Tante!"


"Non Leira bisa saja ...," Ucap Bi Nenah malu-malu.


Leira dan Alissa tertawan melihat Bi Nenah yang jadi salah tingkah karena mendapat pujian.


"Kalau begitu, Leira ajak Tante Alissa dulu ke depan ya, Bi." Leira memutuskan untuk pergi meninggalkan Bi Nenah di dapur.


Kalau Leira tetap di sana, Bi Nenah akan semakin gugup. Bisa-bisa, masakannya malah jadi gak enak nantinya.


"Kak Leira, Mamah!" Sapa Elena yang baru keluar dari kamarnya.


"Hey, Sayang!" Balas Alissa.


Sementara Leira, hanya mengangguk saja sambil tersenyum lembut.


"Kalian mau kemana?" Tanya Elena yang heran Ibunya dan Leira jalan berbarengan.


"Mau duduk-duduk aja di depan, sambil nungguin Bi Nenah beres masak." Jawab Alissa tanpa sungkan.


Leira merasa senang, karena keluarga Nicholas tidak merasa canggung berada di rumahnya. Malah suasana rumah Leira sekarang, semakin hangat karena kehadiran mereka.


"Elena ikut ya ...," Ucap Elena sambil bergelayut manja kepada Alissa.

__ADS_1


Mereka bertiga 'pun pergi ke teras rumah dengan beriring-iringan.


"Suit ... suuiiiw ...," Suara siulan Niko terdengar nyaring oleh ketiga perempuan tersebut.


"Apaan sih, Papah? Genit banget!" Tegur Alissa berpura-pura memasang wajah masam.


"Cie ... ciieeee ...," Elena menggoda kedua orangtuanya.


Suara gelak tawa 'pun langsung terdengar di depan rumah Leira.


Bi Nenah yang mendengar suara tawa itu dari arah depan, merasa sangat bersyukur karena Leira mendapatkan kasih sayang dari semua orang, termasuk dari keluarga Nicholas sekarang.


"Ada apa nih, ribut-ribut?" Tanya Nicholas tampak kebingungan.


Dirinya baru saja bangun, ketika mendengar suara tawa keluarganya di depan rumah.


"Kepo!" Ucap Elena.


"Yeee ... aku nanya baik-baik juga." Kata Nicholas sambil mengusap muka Elena.


Elena yang tidak terima di perlakukan seperti itu, langsung mengadu kepada Alissa.


"Lihat tuh Mah, Kak Nicholas!" Rengek Elena.


Nicholas memutar mata malas karena Adiknya yang suka mengadu ini.


"Nicholas!" Tegur Alissa.


"Kepo Pah, bukan kupa-kopo!" Tegas Alissa.


Elena semakin bermuka masam saja ketika Nicholas di bela oleh Niko.


"Terus aja, belain Kak Nicholas!" Sindir Elena.


"Cemburu ya ...," Goda Nicholas.


"Gak!" Jawab Elena singkat.


"ye-ye! Elena cemburu!" Nicholas semakin menggoda Adiknya yang kini sedang marah.


Sementara Leira, kini menutup mulutnya menahan tawa karena tingkah Nicholas mirip anak kecil.


"Aku gak cemburu! Lagian Kak Nicholas cuma di belain Papah aja. Sedangkan aku punya dua, satu Mamah, satu lagi Kak Leira. Iya 'kan Kak? Kakak pasti belain aku 'kan?" Ucap Elena dengan bermanja-manja kepada Leira yang kini membalas ucapannya dengan anggukkan kepala.


Kini giliran Nicholas yang bermuka masam. Harusnya Leira belain dia, bukan Elena.


"Maaf menganggu semuanya, makanan sudah siap." Lapor Bi Nenah yang membuat beberapa orang jadi berbinar-binar.


"Ayo makan!" Niko langsung masuk duluan.


"Tunggu Mamah, Pah!" Alissa tak mau ketinggalan.

__ADS_1


Nicholas dan Elena merasa malu dengan kelakuan orangtuanya tersebut.


"Kak, Mamah sama Papah bikin malu aja ya ...," Bisik Elena pelan.


"Iya Dek, kaya belum makan satu tahun." Celetuk Nicholas.


Di tempatnya berdiri, Leira dan Bi Nenah sekuat tenaga menahan tawa mereka.


"Ayo, kita susul mereka!" Ajak Elena sambil menarik tangan Leira dan Nicholas.


Di meja makan...


"Ayo-ayo sini, semuanya makan! Jangan sungkan!" Niko berbicara dengan mulut penuh makanan.


"Yang punya rumah siapa, yang sungkan siapa." Celetuk Elena sambil berjalan mendekati meja makan di susul oleh Nicholas dan Leira.


Alissa dan Niko kaya orang kalap mencicipi semua makanan yang di masak oleh Bi Nenah.


"Enak gak, Pah?" Tanya Nicholas.


"Enak!" Jawab Niko dengan mata berbinar.


"Kalau Mamah, enak juga?" kini giliran Alissa yang mendapat pertanyaan.


"Bangett!" Balas Alissa dengan ekspresi wajah senang.


"Besok-besok, Om dan Tante mau di masakin apa? Biar Leira minta Bi Nenah untuk menyiapkan semua bahannya." Ucap Leira dengan senyuman hangat.


Niko merasa bersemangat sekali begitu mendengar kata-kata Leira barusan. Jangankan di suruh memilih, gak di suruh juga dia akan memakannya dengan senang hati, pikir Niko.


"A ...,"


"Bebas, Ra. Apa aja yang di masak Bi Nenah, kita pasti makan, kok." Baru saja Niko mau membuka mulutnya, Nicholas sudah bicara duluan.


"Benar begitu, Om, Tante?" Leira ingin memastikan, sebab Niko tadi seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi keduluan sama Nicholas.


"Iya ...," Ucap Niko pasrah.


Leira mengangguk, dan tak lagi menyinggung tentang masalah masakan. Itu, yang membuat Niko jadi tidak berselera lagi untuk makan.


Coba kalau tidak ada Nicholas, pasti tadi aku sudah bilang mau makan sama empal, soto, masakan sunda, padang, dan banyak lagi yang lainnya, batin Niko.


"Papah kenapa murung?" Tanya Alissa yang melihat Suaminya jadi pendiam.


"Lagi kesal!" Jawab Niko datar.


Mulutnya Niko mengerucut, persis kaya corong eskrim yang suka ada si mini market.


"Kesal kenapa, Pah?" Tanya Alissa heran.


"Tadi Mah, waktu di meja makan. Papah kesal sama Nicholas." Alissa bingung dengan ucapan Niko sekarang.

__ADS_1


__ADS_2