Puteri Sang Walikota

Puteri Sang Walikota
72. Keluarga Widodo


__ADS_3

"Sedang apa, Nak Mario di sini?" tanya Alissa heran.


Bagaimana tidak, orang yang sedang terlibat perdebatan yang di gosipkan orang-orang ternyata Putrinya sendiri bersama Mario, Putra dari pemilik langganan butiknya.


"Ini Tante, aku sedang makan malam bersama keluarga. Terus, tanpa sengaja, aku menabrak Putrinya Tante saat buru-buru keluar dari toilet tadi. Mohon maaf ya Tante, Mario benar-benar tidak sengaja. Sumpah!" tutur Mario dengan tampang bersalahnya.


"Oh, jadi seperti itu ceritanya ...," Alissa merasa lega karena semuanya ternyata hanya salah paham.


"Bohong, Mah. Jangan percaya!" tuding Elena.


Mario menundukkan kepala, dia merasa kebingungan harus menjelaskan seperti apa lagi kepada Alissa jika dia sampai tidak mempercayai ucapannya.


"Elena, Nak Mario tadi bilang dia tidak sengaja. Bukan begitu 'kan, Nak Mario?" ucap Alissa sambil melirik ke arah Mario yang kini mengangguk patuh.


"Mah!" protes Elena namun tidak di gubris Alissa.


"Jangan banyak drama, semua orang sedang mencemaskanmu di sana. Ayo, pulang!" ajak Alissa yang di respon dengan cemberut oleh Putrinya.


Sebelum pergi, Alissa tidak lupa berpamitan kepada Mario yang masih belum beranjak dari tempatnya.


"Nak Mario, Tante duluan ya!"


"Iya Tante, silahkan!" jawab Mario dengan sopan.


Alissa berjalan menuntun Elena yang masih merasa kesal dengan sikap sang Ibu yang membela Mario.


Elena sangat menyayangkan, sifat Alissa yang menurutnya terlalu lemah lembut terhadap orang lain. Sedangkan kepada Putrinya sendri, justru malah sebaliknya. Garang!


"Len, kamu dari mana saja?" tanya Niko cemas.


"Iya nih, kita nungguin kamu sampe berjamur!" ucap Nicholas yabg langsung mendapat pelototan dari Adik perempuannya.


"Ini Pah, Putri kita malah asik berantem di depan toilet." ucap Alissa yang merasa lucu dengan kejadian tadi.


"Hah?! Elena, berantem sama siapa, Mah?" tanya Niko dengan kaget.


"Papah masih ingat, Jeng Dian Istrinya Pak Widodo? Pengusaha batik, yang terkenal di Surabaya." tutur Alissa dengan mata yang berbinar.


"Ingat, Mah! Papah Ingat dengan betul dengan beliau." jawab Niko antusias.


Elena menghela nafas pasrah, urusan perdebatannya barusan akan berbuntut panjang jika sang Ayah sudah ikut campur.


"Nah, jadi Elena tadi di sana, berdebat dengan Putranya Jeng Dian. Mario!" ucap Alissa yang hampir membuat Niko jantungan.


"A-apa?! Elena, dan Mario, mereka ...,"


"Iya, Pah. Mereka berdua berdebat di sana!" tukas Alissa.

__ADS_1


"Tuh, 'kan!" gerutu Elena dengan bermuka masam.


Niko melirik ke arah Putrinya, yang saat ini masih mengerucutkan bibir.


"Len, keluarga Pak Widodo itu terkenal baik dan juga ramah kepada semua orang. Kok bisa sih, kamu makah berdebat dengan Putra semata wayangnya, beliau." tegur Niko dengan lembut.


Memang, Niko tidak pernah menegur kasar Putra dan Putrinya meskipun mereka berbuat kesalahan.


Dia hanya akan menegur dengan cara baik-baik, dan memberi pengertian tentang apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh Putra-Putrinya.


Menurut Niko, menegur Anak dengan cara kasar, hanya akan membuat mereka menjadi bebal.


Lebih baik secara lemah lembut saja, beri pengertian lebih kepada anak-anak agar tidak mengulangi kesalahannya. Itulah seharusnya yang di lakukan orangtua untuk mendidik anak-anaknya.


"Elena gak salah, Pah! Dianya aja, yang jalan tanpa memakai mata." kilah Elena.


Niko menarik nafas panjang, sangat susah berbicara kepada Elena jika suasana hatinya tidak sedang baik


"Ya sudah, tidak apa-apa. Biar nanti Papah yang meminta maaf, kepada keluarga Widodo."


"Kok harus Papah yang minta maaf, 'kan dia yang salah. Bukan Elena!" protes Elena saat mendengar perkataan sang Ayah.


"Dengar, Nak. Seseorang tidak akan menjadi rendah, hanya dengan meminta maaf. Mau dia ataupun kamu yang salah, tidak masalah, Papah akan meminta maaf lebih dulu, agar semua masalahnya cepat selesai." jelas Niko dengan perlahan.


Elena memutar mata dengan malas, lalu bangkit berdiri dari tempat duduknya.


"Pah ...," ucap Alissa dengan nada khawatir.


"Tidak apa-apa, Mah! Elena sudah besar, dia harus bisa bertanggung jawab dengan perbuatannya." balas Niko menenangkan sang Istri.


Di mejanya, saat ini Mario menjadi banyak diam daripada biasanya.


Bahkan Ibunya sendiri 'pun, menjadi kebingungan dengan sikapnya yabg tiba-tiba berubah sehabis kembali dari toilet. Tidak seperti pertama kali datang, justru Mario yang selalu berbicara dan membuat banyak lelucon seru agar semua orang bisa tertawa bahagia.


"Dari tadi Mamah perhatikan, kamu hanya diam terus, Mar. Ada apa?" tanya Dian penuh perhatian.


Mario menoleh, namun tidak mengatakan apa-apa selain hanya menggelengkan kepalanya.


"Nak Mario, sakit?" tanya Sri yang mendadak cemas.


Mario melakukan hal yang sama, menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan teman Ibunya.


Zahra, Putri dari Sri yang kebetulan ikut bergabung dalam acara makan malam keluarga Mario, langsung sigap memperhatikan keadaan Putra semata wayang keluarga Widodo.


"Mario, aku panggil dokter ya, biar bisa memeriksa keadaan kamu." usul Zahra berusaha mengambil simpatik dari pria incarannya.


"Gak perlu, Ra!" tolak Mario tegas.

__ADS_1


"Selamat malam!" sapa Elena hingga membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Eh, siapa ya?" tanya Zahra ketus saat melihat paras cantiknya Elena.


Hati Zahra menjadi terbakar cemburu, begitu melihat Mario menatap gadis yang baru datang dengan tatapan rumit.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Mario ketus.


Elena berusaha menahan keinginannya untuk mengumpat membalas ucapan Mario.


Dia sudah berjanji untuk datang dan meminta maaf kepada keluarga Widodo kepada sang Ayah.


Pantang bagi Elena, untuk mengingkari janjinya kepada Niko. Elena juga tidak ingin, membuat Ayahnya merasa kecewa, dengan tindakannya yang ceroboh jika dia tetap memaksakan diri membalas teguran keras dari pria yang membuatnya sebal.


Tanpa menoleh ke arah Mario, Elena lalu melanjutkan perkataannya yang secara khusus dia tujukan kepada kedua orangtuanya Mario.


"Tante, Om, mohon maaf saya mengganggu waktunya sebentar." ucap Elena sopan hingga membuat kedua orangtua Mario merasa tersentuh dengan kesopanannya.


"Ah, tidak apa-apa. Jika ada keperluan, silahkan saja!" balas Widodo dengan sangat ramah.


Elena menarik nafas terlebih dahulu, kemudian melanjutkan kata-katanya.


"Begini Tante, Om, saya datang kemari hanya ingin meminta maaf kepada kalian berdua."


Widodo dan Istrinya Dian, jadi saling bertukar pandangan karena merasa tidak mengerti dengan maksud Elena.


"Meminta maaf untuk apa, Nona?" tanya Widodo heran.


Sama seperti Suaminya, Dian yang sudah mengenal Elena sebagai Putri teman lamanya juga merasa penasaran dengan alasan Elena meminta maaf kepada mereka berdua.


"Iya Sayang, kamu 'kan tidak mempunyai kesalahan, untuk apa meminta maaf?" celetuk Dian.


"Sebenarnya, saya punya salah kepada Putranya Om dan Tante. Tadi, sewaktu di toilet saya di tab ... eh, maksud saya tertabrak Putranya Om dan Tante. Karena merasa emosi, saya 'pun malah memarahi Putra kalian berdua."


"Saya sangat menyesal, dan saya datang kemari hanya untuk mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. Om, Tante!" tutur Elena dengan ramah dan sopan membuat orang merasa tersanjung setelah mendengar ucapannya tersebut.


Zahra yang melihat keluarga Widodo seperti mengagumi sosok gadis yang baru saja datang, langsung merasa tidak senang. Dan dengan perasaan itulah, secara tidak sadar Zahra membentak Elena dengan sangat kasar.


"Hey, kamu! Jangan mencari-cari alasan, ya. Aku tahu kok, maksud kamu sebenarnya. Kamu pasti sengaja 'kan, menabrakkan diri ke Mario untuk mengambil simpati dari Om Widodo dan Tante Dian? Ngaku aja, kamu!" hardik Zahra.


"Zahra!" tegur Sri yang merasa malu dengan sikap tidak sopan Putrinya.


"Maaf Tante, Om! Saya tidak ada niatan seperti yang di ucapkan Mbak yang satu ini. Tidak ada untungnya buat saya, melakukan hal tersebut. Niat saya tulus, hanya untuk meminta maaf. Itu saja!" ujar Elena sambil matanya melirik tajam ke arah Zahra.


Widodo yang sudah merasa terkesan dengan sikapnya Elena, tanpa basa-basi langsung menerima permintaan maafnya tersebut.


Widodo yakin, gadis yang berada di hadapannya sekarang adalah gadis yang jujur. Dia berkecimpung di dunia bisnis sudah sangat lama, mudah baginya menilai perangai seseorang meskipun orang yang baru di kenalnya.

__ADS_1


Dan penilaiannya terhadap Elena sangat baik, gadis yang di hadapannya sekarang bukanlah gadis yang suka memanfaatkan keadaan seperti yang telah di tuduhkan oleh Zahra.


__ADS_2