
"Iya Mah, gak kebayang kalau hal itu terjadi kepada Elena. Mungkin kita berdua akan lebih sedih lagi." Balas Niko yang juga merasa empati kepada Leira.
"Semoga saja Leira cepat sadar, kalau Putra kita menyukainya. Mungkin dengan itu, kesedihannya akan berkurang ya Pah." Celetuk Alissa lagi.
"Iya, Papah yakin, gadis itu juga sebentar lagi akan menyukai Putra kita. Dan Papah juga yakin, kalau Putra kita akan menjadi yang terbaik buat Leira."
"Amiiin! Semoga ya, Pah!" Sahut Alissa.
Nicholas hanya mengaminkan ucapan Ayahnya dalam hati. Bukan apa-apa, dia hanya belum berani mengungkapkan perasaannya kepada Leira.
Dan semoga saja, ucapan Ayahnya akan menjadi kenyataan. Jika Leira cepat sadar akan perasaan sukanya kepda Leira, dan semoga Leira juga membalas cintanya. Amiin!
Di kamar tamu...
"Nahhhh, ini kamar untuk Kakak. Semoga betah ya, Kak. Biar aku ada teman ngobrol di rumah ...," Ucap Elena ketika sudah sampai di kamar buat Leira.
"He-he! Terima kasih, ya ...," Balas Leira terkekeh.
Apa maksudnya? Betah? 'Kan Leira hanya tinggal beberapa hari saja, lucu sekali Adiknya Nicholas ini! Itu yang ada di pikiran Leira saat ini.
"Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Kak Leira. Silahkan Kakak beristirahat, nanti kalau sudah waktunya makan malam, aku kesini lagi." Ucap Elena dengan ramah.
Leira hanya mengiyakan saja ucapan Elena. Karena jujur saja, Leira sudah merasa lelah perjalan dari Jakarta ke Surabaya sungguh menguras tenaga dan emosinya.
Setelah kepergian Adik Nicholas, Leira merebahkan dirinya di kasur. Bayangan tentang percakapan antara Alex dan Jessica kini berputar-putar di benaknya.
Flashback on...
"Jadi kalian semalam tidur satu kamar? Bahkan sudah berhubungan badan?" Teriak Jessica kepada Alex yang bersimpuh di hadapannya.
"Iya Mah! Alex tidur sekamar dengan Amoora! Tapi Alex tidak ingat, Alex sudah berhubungan badan atau enggak sama Amoora. Alex tidak bisa mengingatnya, Mah!"
Flashback of...
"Tega ya kamu, Lex. Aku kira, kamu itu lelaki baik, nyatanya aku salah. Tapi aku tidak akan menyalahkanmu atas kebodohanku yang telah memilihmu, aku hanya tidak bisa terima saja perlakuanmu, itu saja. Mulai sekarang, aku tidak ingin lagi, melihat, ataupun mendengar, tentang dirimu!" Gumam Leira pada dirinya sendiri.
Tak terasa, airmata Leira meleleh membasahi kedua pipinya. Perjuangannya untuk datang ke Surabaya, ternyata hanya sia-sia belaka.
Leira terisak dalam tangisannya, dan bahkan tanpa sadar tertidur pulas dengan airmata yang masih membekas di pipinya.
Di ruang keluarga...
__ADS_1
"Mah, Kak Leira cantik ya ...," Ucap Elena sembari duduk di sebelah Alissa.
"Sangat cantik!" Balas Alissa.
"Udah gitu, baik lagi orangnya." Ucap Elena lagi.
"Pilihan Kakakmu itu tidak akan pernah salah, kalau dia yang cuek saja bisa suka, apalagi kita!" Celetuk Niko kepada dua wanita tercintanya.
Elena dan Alissa terkikik mendengar ucapan Niko barusan.
"Apa yang Papah bilang barusan memang benar, Nichol aja yang dingin seperti es balok itu bisa mencair, apalagi kita yang sudah klemer-klemer, makin lumer deh. He-he!" Kata Alissa sembari mengerling ke arah Suaminya.
Elena juga seakan tak mau kalah, dia langsung menimpali perkataan sang Ibu. "Iya, Kak Nichol aja sampai gak bisa move on selama bertahun-tahun."
Ketiga orang yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan Anak tersebut, tertawa bersama-sama di ruang tengah.
Sedangkan Nicholas, hanya musam-mesem saja tiduran di atas kursi.
"Apa sih, kalian misuh-misuh gak jelas?" Ujar Nicholas sembari bangkit berdiri.
"Ada yang ke sindir kayanya, Mah." Goda Elena.
Niko dan Alissa hanya tertawa melihat interaksi kedua Putra-Putrinya itu.
"Jangan ngeles Kak, kita sudah tahu semua kok!" Goda Elena sembari mengedipkan mata ke arah Nicholas.
"Sok tahu kamu! Sudah ah, Kakak mau istirahat dulu di kamar." Ucap Nicholas sambil berjalan meninggalkan ruangan.
Setelah kepergian Nicholas, Elena menoleh ke arah kedua orangtuanya.
"Pah, Mah, boleh gak Elena bantuin Kakak?" Kata Elena penuh semangat.
"Bantuin apa?" Tanya Alissa heran.
"Iya, bantuin apa sih?" Tanya Niko yang juga penasaran.
Elena mendekati kedua orangtuanya, lalu berbisik kepada mereka berdua.
"Bantuin Kak Nichol, buat dapatin Kak Leira. Kalau nunggu Kak Nichol nembak Kak Leira, kayanya bakalan lama deh, Pah, Mah! Elena udah gak sabar, pengen punya Kakak Ipar. Apalagi, yang jadi Kakak Iparnya Kak Leira. Elena makin tidak sabar!"
"Mamah dukung kamu, Sayang!" Balas Alissa dengan penuh semangat.
__ADS_1
Sedangkan Niko menggeleng-gelengkan kepala.
Entah apa maksud Niko melakukan hal itu, yang jelas, Alissa dan Elena jadi tidak sabar ingin mendengarkan saran dari sang kepala keluarga.
"Kalian jangan gegabah!" Tegas Niko.
Alissa dan Elena merasa kebingungan.
"Gegabah?" Tanya keduanya secara bersamaan.
"Iya, gegabah! Kalian harus memiliki planing yang matang untuk melakukan hal itu. Minimal, kalian harus punya ahli strategi di dalam rencana kalian." Tutur Niko penuh penekanan.
"Ahli strategi?" Alissa semakin kebingungan.
Elena juga sama, untuk gadis belia seperti dirinya, ucapan tentang ahli strategi sangatlah jarang di dengar. Mereka hanya ingin mengejar cinta, bukan untuk berperang. Masa harus pake ahli strategi segala.
"Iya, ahli strategi! Dan Papah yang sudah sangat ahli dalam membuat strategi, sangatlah cocok dalam misi ini." Ujar Niko dengan yakin.
Alissa memutar bola mata malas ketika mendengar ucapan Suaminya yang narsis. Begitupun juga Elena, dia bahkan mencebik ke arah sang Ayah.
"Ahli strategi dari mana? Sejak kapan, Papah berganti profesi?" Cibir Elena.
Niko menepuk dadanya yang bidang.
"Jangan menghina, biarpun kalian tidak percaya, tapi Papah bisa membuktikannya kepada kalian. Kalau calon mantu Papah itu, akan berhasil takluk, dan mau di nikahin oleh Nichol. Lihat saja, nanti!" Kata Niko dengan sombongnya.
"Ok! Elena tunggu! Kalau Papah gagal, berarti aku yang maju!" Tantang Elena dengan berani.
Alissa juga tak mau kalah, dia langsung berkata, dan menyampaikan dukungannya kepada Elena.
"Mamah tetap dukung kamu, Sayang!"
Niko mendengus. Meskipun sang Istri tidak mendukungnya, Niko yakin dia akan berhasil.
"Baik, Papah terima tantangan kamu! Kalau kamu gagal, kamu tidak boleh ngerecokin Mamah selama Satu bulan. Mamah akan jadi milik Papah selama sebulan itu, dan kamu tidak boleh mengganngunya. Kalau tidak, kamu harus bersiap menanggung hukuman." Ucap Niko tegas.
Elena mengernyitkan alisnya, lalu berkata membalas Niko. "Hukuman? Hukuman apa?"
"Hukumannya adalah, jika kamu kalah, kamu harus membiarkan Papah berduaan terus sama Mamah. Terus kamu juga harus di hukum, di kurangin uang jajan selama sebulan!"
"Tidak Pah! Jangan itu!" Ucap Elena yang berubah panik.
__ADS_1