
Nicholas sangat senang melihat Leira yang seakan telah melupakan masalah yang menimpanya.
Syukurlah, Leira sekarang terlihat bahagia, batin Nicholas.
"Kak, ngapain ngelamun di sini? Ayo masuk, jangan sampai ketinggalan sama kita semua!" Tegur Elena yang melihat Nicholas hanya menatap kehampaan.
"Apaan sih kamu ...," Ucap Nicholas kesal.
Elena sering saja mengganggu dirinya. Sampai-sampai Nicholas kehilangan moment memperhatikan Leira.
"Anak-anak, ayo cepat! Habis dari sini, Mamah pingin jalan-jalan melihat kain batik khas daerah kita." Kata Alissa menegur kedua Putra-Putrinya yang malah berantem di pintu masuk.
Leira tersenyum lembut ketika mendengar suara Alissa. Dia merasa iri dengan kelembutan kasih yang Nicholas dan Elena dapatkan sekarang. Tak seperti dirinya yang telah kehilangan sosok Ibu beberapa waktu yang lalu, bahkan juga dia harus kehilangan sosok Ayah secara bersamaan.
"Kamu kenapa nangis, Nak?" Tanya Niko yang melihat mata Leira tampak berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa Om, mata Leira hanya kelilipan barusan." Balas Leira sembari berpura-pura mengucek matanya.
"Oh, syukurlah! Om kira, tadi kamu nangis. Jadi Om takut kamu kenapa-napa ...," Ujar Niko merasa lega.
Leira mengangguk, lalu memalingkan mukanya ke arah lain karena sudah mulai memanas karena menahan tangisannya.
"Anak-anak! Ayo cepat!" Teriak Alissa yang kerepotan dengan tingkah Elena dan Nicholas.
Tak seperti biasanya, Elena kini sering menganggu Nicholas. Padahal dulu, kalau Nicholas pulang ke rumah, Elena akan terus menempel kepada Kakaknya itu. Tapi sekarang, dekat sedikit saja langsung berantem.
"Mah, Kak Nicholas lelet banget deh!" Protes Elena.
"Kamu yang lelet, malah nyalahin Kakak." Gerutu Nicholas yang sedikit kesal dengan Adiknya.
"Emang Kakak lelet kok, buktinya tadi cuma bengong aja. Kalau aku gak ingetin, mungkin Kakak udah kesambet hantu tempat ini gara-gara bengong melulu." Cibir Elena yang langsung di balas pelototan mata oleh Nicholas.
Alissa langsung menengahi pertengkaran kedua Putra-Putrinya.
"Sudah-sudah, kalian ini! Memangnya tidak malu sama Leira. Dari tadi dia kalem-kalem aja, gak kaya kalian yang ribut terus." Kata Alissa sembari melirik ke arah Leira.
Nicholas menghampiri Leira, lalu merangkul bahunya. "Leira memang anak penurut, Mah. Gak kaya Elena, kerjaannya bikin keributan terus."
Leira tersipu malu karena tangan Nicholas masih melingkar di bahunya.
"Nichol, awas ih, tanganmu itu!" Tegas Alissa sembari menghempaskan tangan Nicholas.
"Memangnya kenapa, Mah?" Ujar Nicholas tidak peka sama sekali.
__ADS_1
"Kak Leira itu perempuan, kalau mau merangkul, rangkul Papah aja sono!" Cibir Elena.
Nicholas melirik ke arah Leira yang kini wajahnya tengah memerah.
Nicholas baru sadar, kalau hal yang dia lakukan tadi sangatlah tidak sopan.
"Ra, maaf ya! Tadi aku reflek!" Kata Nicholas sembari menggeser badannya menjauhi Leira.
"Modus!" Sindir Elena.
Leira mengangguk saja tanpa bersuara untuk menjawab ucapan Nicholas.
"Elena! Sudah, jangan ganggu Kakakmu terus!" Tegur Niko kepada Putri kesayangannya itu.
Elena mendelik, baru saja mereka sampai tempat ini, dia sudah kena teguran dari sang Papah.
Kak Nichol! Semua ini karena Kak Nichol! pikir Elena dongkol.
"Kita mau cari tempat duduk di mana, Pah?" Tanya Alissa sembari menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Di sana aja Mah, di pinggiran danau." Tunjuk Niko.
Alissa 'pun menyetujui usulan Niko untuk duduk di pinggir danau. Ia kemudian mengajak semua orang untuk pergi ke tempat yang di tunjuk Niko.
"Ita sudah, di situ aja Mah!" Balas Niko sembari menaruh barang bawaannya di lantai.
"Kak Leira, gimana? Enakkan wisata di sini, tempatnya sejuk." Kata Elena sembari mengajak Leira melihat-lihat sekeliling.
"Iya, pemandangannya bagus." Balas Leira takjub.
Elena merasa puas karena Leira menyukai tempat favoritnya ini.
"Ini itu tempat yang paling suka aku kunjungi kalau lagi penat, Kak." Tutur Elena.
"Benarkah?" Kata Leira seakan tak percaya.
Biasanya, anak gadis dari golongan anak orang kaya macam Elena, jarang sekali menyukai tempat seperti ini dan lebih banyak menghambur-hamburkan uangnya berpesta di club ataupun caffe-caffe ternama.
"Benar, Kak Leira. Selain itu juga, ini menjadi tempat pilihannya Kak Nicholas kalau lagi merindukan seseorang yang istimewa di hatinya." Jelas Elena.
Leira langsung heran ketika menyebutkan tentang kebiasaan Nicholas.
Tempat pilihan Nicholas? Seseorang yang istimewa? batin Leira.
__ADS_1
Entah kenapa hati Leira menjadi gelisah ketika Elena menjelaskan tentang hal itu.
Diam-diam, Elena memperhatikan perubahan air muka dari Leira.
"Kak Leira kenapa? Sakit?" Tanya Elena dengan sengaja ketika melihat Leira hanya diam saja.
Leira menjadi gelagapan ketika di tanya secara mendadak seperti itu.
"Enggak, gak apa-apa. Mungkin hanya sedikit tidak nyaman, karena angin di sini terlalu kencang." Kilah Leira panik.
"Kita pindah ke tempat lain saja, Kak. Kebetulan, di sebelah sana ada banyak orang berjualan. Kita kesana saja!" Ajak Elena yang di balas anggukkan oleh Leira.
Setelah sampai di tempat yang di sarankan oleh Elena. Leira memang banyak melihat para pedagang kaki lima di sana. Mereka berjualan berbagai macam makanan, yang tak kalah enaknya dengan makanan-makanan di caffe.
"Wahhhhh ... pantesan kamu ngajak kesini, ternyata isinya makanan semua." Ucap Leira seraya tersenyum kecil ke arah Elena.
"Ini alasan aku sering datang kesini, Kak. Selain tempatnya enak buat di jadikan tempat menyepi. Tempat ini juga tidak kekurangan makanan, he-he!" Balas Elena sembari terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
"Dasar, kamu!" Goda Leira sembari ikut terkekeh juga.
Elena mengajak Leira untuk mendekat ke arah kerumunan para pedagang.
Setelah berada di sana, Elena menawarkan beberapa makanan khas Surabaya kepada Leira.
"Kak Leira mau makan apa? Di sini ada rujak cingur, sate klopo, rawon, soto lamongan, dan ada lontong kupang. Kakak mau yang mana?" Tanya Elena.
Leira tampak bingung dengan berbagai makanan yang di tawarkan oleh Elena.
Dari semua yang di sebutkan, Leira hanya mengenal satu jenis saja. Yaitu rujak cingur! Untuk yang lainnya, Leira belum pernah mencoba.
"Aku rujak cingur aja ...," Balas Leira bimbang.
"Yakin Kakak mau makan itu aja? Gak mau mencoba yang lain? rawon misalnya? Atau sego sambal?" Tanya Elena memastikan.
"Sego sambal itu apa ya?" Kata Leira penasaran.
"Nasi sama sambal gitu Kak, kalau di Jakarta mungkin hampir mirip sama pecel lele. Pilihannya sama, ada ikan goreng, lele, juga ayam." Tutur Elena.
Karena Leira masih terlihat bingung, akhirnya Elena mengajak Leira berkeliling langsung.
"Itu apa?" Tanya Leira seraya menunjuk ke sebuah stand pedagang yang paling ujung.
Elena menoleh ke arah yang di tunjuk, lalu mulai menjawab pertanyaan dari Leira.
__ADS_1
"Itu nasi krawu, Kak! Kak Leira mau coba? Rasanya enak, aku juga suka!" Jawab Elena sembari menelan salivanya.