Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 11 - Lily, The Friendly Queen


__ADS_3

~ Sahabat sejati adalah mereka yang menjatuhkanmu di depan hidungmu ~


Sejak pagi, Avelia tak melihat si Pangeran Salju alias boss berhati dingin itu datang ke kantor. Kepalanya sampai lelah sendiri bolak-balik melirik ke arah pintu masuk, tapi ia tak terlihat.


"Katanya langsung meeting dengan klien dulu." Akhirnya Ave mendapat sepenggal info itu dari Akbar yang duduk tepat di sebelahnya.


Ave mengangguk. Sebenarnya ia ingin tahu apakah si Boss balik atau tidak, mengingat ia mengundang Lily makan siang bersamanya hari ini. Ave tak ingin bertanya apapun saat ini. Pekerjaannya sedang jadi taruhan dan ia memilih untuk sedikit kalem.


Zaid tak seperti yang ia kira. Ave mengira, ia berhasil membuat pria itu seperti umumnya para lelaki yang mendekatinya. Mudah terkecoh dengan kecantikannya. Justru Zaid berbeda. Ia terlalu dingin, angkuh dan tak mudah untuk dipahami. Yang jelas, Ave merasa gagal membaca maunya manusia satu itu.


Semalam saat seluruh keluarga berkumpul, diam-diam ia menarik Lily untuk membicarakan hari ini. Mudah-mudahan Lily, ratunya jahil itu bisa membuat hati Zaid lebih lembut pada Ave. Setidaknya menghilangkan imej perselingkuhan yang dituduhkan padanya.


Ave benar-benar tak sabar menunggu waktu makan siang tiba. Apalagi sejak pagi, ruangan Manajemen hanya ada dirinya, Jenny dan Pak Wiryo. Dua orang yang karakternya kurang lebih Zaid. Tak banyak bicara saat sibuk bekerja. Untungnya, tumpukan pekerjaan yang diperintahkan para staf Manajemen pada Ave juga berhasil membuat gadis itu sibuk.


Maka ketika suara lagu berkumandang dari radio di gedung itu, Ave bergegas berdiri. Bergerak menuju Cafe di lantai dasar, sambil mengirim pesan pada Lily.


[Ave: Kak, udah sampe?]


[Lily: Udah! Dari tadi malah.]


[Ave: Maaf Kak, baru istirahat.]


[Lily: Gak papa, ada Mas Zaid nemenin nih!]


Ave mengucek matanya. Apa? Tidak salah? Buru-buru ia menekan tombol lift agar segera terbuka. Dengan hati berdebar, ia masuk dan menunggu sampai lift membawanya ke lantai dasar. Dalam hati ia berharap, tak ada apapun yang terjadi. Jangan sampai Lily membongkar kebohongannya.


Sementara di lantai dasar, 30 menit yang lalu sebelum waktu makan siang, Lily sudah tiba. Dibantu oleh Vani, ia duduk di salah satu sofa dekat jendela.


"Mau nunggu sini aja atau gue teleponin Ave, Li?" tanya Vani.


Lily menggeleng. "Gak usah! Emang belum waktunya, Mbak. Entaran aja jemput Lily lagi sekitar sejam-an ya."


"Siap, Bu!" Lalu Vani menyerahkan tas pada Lily dan meninggalkan istri Presdirnya sendiri.


Sementara itu Zaid yang sejak tadi duduk membaca IPAD-nya usai meeting, menurunkan gadget dan menatap wanita hamil yang sedang berbicara dengan pelayan.


Wanita itu masih muda dan cantik. Tak seperti di majalah atau berita yang menampilkan fotonya, dilihat secara langsung istri Ajie lebih tampak seperti remaja andai perut besarnya tak terlihat. Wajahnya ceria dan senyuman selalu terlihat. Entah apa yang wanita cantik itu katakan hingga membuat sang pelayan tersipu menahan tawa bahkan sampai ia meninggalkan meja itu.


Mau tak mau Zaid harus mengakui, Ajie beruntung memilih perempuan secantik itu. Pantas saja Natasha merasa kalah. Zaid tak heran soal itu. Hanya bagaimana bisa Ajie bertemu istrinya, itu masih tanda tanya besar bagi Zaid dan semua orang yang mengenal Ajie. Jelas sekali kalau istrinya bukan dari kalangan selebritis atau artis terkenal. Ia hanya perempuan biasa.


Karena belum waktunya makan siang, Cafe masih sepi. Jadi ketika Zaid memperhatikan, Lily yang sedang melihat seantero Cafe, justru menangkap basah tatapan pria itu. Bukannya malu, tangan Lily justru melambai pada Zaid sambil melemparkan senyuman sebelum ia kembali menunduk, mengambil sesuatu dari dalam tas besarnya. Gerakan itu sempat membuat Zaid terkesima. Wanita itu bahkan berani memanggilnya.


Merasa dipanggil, Zaid berdiri. Saat ia tiba di depan meja Lily, wanita muda itu masih sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya.


"Halo, Mbak tadi manggil saya?" tanya Zaid.


Lily mendongak. "Ah... Oh enggak! Enggak kok!" sergah Lily tertawa kecil sambil menggeleng-geleng.


Wajah Zaid menjadi jengah. "Bukannya Anda istrinya Ajie Al Farizi? Yang mau ketemu dengan Avelia?"


Mata Lily terbuka lebar sebelum mengangguk. "Tapi biasanya orang-orang nebak nama saya Lily dulu, sebelum tau saya istrinya Mas Ajie," katanya masih tersenyum-senyum.


Zaid hanya mengangguk. "Saya hanya memastikan."


"Anda ini siapa? Kok tau saya mau ketemu Ave?" tanya Lily heran.


"Karena Ave bilang mau ngenalin saya dengan Mbak."


"Oooh, oooh ngerti sekarang. Duduk! Duduk! Ya udah kenalan deh," Lily mengulurkan tangannya. "Saya Truly Amanda, panggil aja Lily. Tapi boleh juga panggil Bu Ajie. Terserah."


Zaid menyalami tangan yang melintasi meja itu. "Saya Zaid Zabir," balasnya sambil duduk di depan Lily.

__ADS_1


"Halo Pak Zabir," sapa Lily.


"Panggil aja Zaid, Mbak! Jangan pake pak," ujar Zaid. Entah mengapa, ia tak bisa bersikap dingin pada wanita yang terlihat bersahabat ini.


Lily mengangguk-angguk. "Ave belum waktunya istirahat. Jadi kita nunggu dulu aja ya. Dia masih karyawan baru. Takutnya kita malah ganggu."


Zaid terdiam. Apa Lily tak tahu tentang dirinya?


"Udah lama kenal Ave?" tanya Lily ramah. Saat itu pelayan membawakannya sandwich bersama segelas jus jeruk. "Mau pesan sekalian?" lanjut Lily menawarkan.


Zaid menatap si pelayan. "Satu Espresso."


Setelah pelayan itu pergi, barulah Zaid menjawab, "Belum sebulan."


"Aah, berarti baru kenal pas Ave mulai kerja ya? Syukurlah, Ave udah punya teman di sini. Huffh!" Lily mengangguk-angguk. "Soalnya saya rada kuatir sama Ave. Belakangan ini dia sering ngeluh."


"Ngeluh?" Kening Zaid berkerut.


Lily mengangguk dengan murung. "Sejak kerja, tiap hari Ave ngeluhin bossnya. Katanya boss dia pemarahan. Ganteng tapi pemarahan. Dia sampe susah tidur."


Bibir Zaid mengatup, membentuk garis lurus. Berusaha menahan diri.


"Ave itu belum pernah kerja. Ini pertama kalinya dia kerja di sini. Saya gak tega biarin dia kerja. Mana kantornya jauh! Mana bossnya begitu lagi! Kasian sebenarnya. Tapi ya... dianya mau mandiri," oceh Lily. Tangannya sibuk memotong sandwich dan melahap potongan kecil sesekali.


"Rumahnya jauh?" tanya Zaid perlahan. Ia bisa memastikan Lily tak mengenalinya.


Lily mengangguk. "Iya, makanya saya berat banget ngelepas dia. Takut ada apa-apa. Dia kan baru di Jakarta."


"Kalau boleh tau, apa hubungan Anda dengan Ave?" selidik Zaid. Tepat saat itu pelayan datang mengantar kopi pesanannya.


Sesaat Lily diam. Ia berpikir sejenak. Sejak sebulan lalu, Ave mewanti-wantinya untuk tidak mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya demi memenuhi syarat dalam perjanjian dengan Papa. Oleh karena itu, ia menjawabnya ringan. "Masih adik sepupu jauh saya. Tapi kami udah deket sejak SMA. Beda sekolah, tapi satu tempat les. Hanya karena Ave akhirnya ninggalin Jakarta, kami baru ketemu lagi pas saya mau nikah."


Kepala Zaid naik turun mengerti. "Jadi itu sebabnya dia juga akrab dengan suami Anda?"


Zaid menghela napas lega. Ave tak berdusta padanya. Wajah Lily jelas menunjukkan kalau ia tak berdusta. Hatinya lebih tenang sekarang. Dengan santai, ia menyeruput kopinya.


"Tapi maaf nih... Mas ini suka ya sama Ave?" tebak Lily dengan mata bersinar jenaka.


Kopi menyembur keluar saat Zaid terbatuk-batuk. Lily membantunya mengambil tisu. Setelah itu, Zaid tersenyum malu pada Lily. "Saya... "


Lily mengibaskan tangannya. "Ya udah Mas kalo malu jelasin. Kalian juga baru kenal, baru kerja. Wajar itu sih. Saya nih salah nanyanya terlalu cepet. Tapi Mas sendiri kerja di sini juga?"


Zaid mengangguk.


"Sama bagiannya dengan Ave?"


Zaid menggeleng. "Lebih tinggi sedikit dari Ave, Mbak." Ia tak tega menjawab sejujurnya. Lily pasti merasa malu kalau ia melakukannya.


"Kalo begitu, saya bisa titip Ave ya Mas. Tolong dibantu adik saya itu. Diajarin kali aja dia gak bisa." Lalu Lily mencondongkan diri ke depan. "Sama bantuin kalo dia lagi dimarahi bosnya yang pemarahan itu ya. Ave takut banget sama bosnya itu," bisiknya lagi.


Zaid hanya bisa mengangguk dengan senyum pahit. Entah apa saja yang dikatakan Ave pada Lily, sampai wanita itu tampak kuatir seperti ini. Lalu terdengar suara ringtone dari dalam tas Lily. Lily mengambil ponsel, tersenyum saat membacanya dan membalasnya.


"Nih Ave baru mau turun! Mau tanya apa lagi? Entar susah loh kalo ada orangnya," kata Lily sembari meletakkan ponsel di sisi piringnya.


Zaid mengangguk.  "Ave... Maksud saya, Avelia itu kenapa takut sama bossnya?" tanya Zaid hati-hati.


Lily mengangkat bahunya. "Dia bilang dia yang salah. Tapi gak cerita juga sih salahnya apa. Hanya Ave bisa apa sih? Saya kenal bener sama anak itu, dia gak akan berani nyakitin orang. Nyamuk aja cuma ditiup doang! Yang saya heran itu sama bosnya, kok tega jahatin Ave cantik gitu?"


Ingin sekali Zaid mengatakan kesalahan yang dilakukan Ave padanya. Tapi wanita di depannya ini sedang hamil. Zaid kuatir itu akan membuatnya terkejut. Bisa-bisa Ajie akan menyalahkannya lagi. Sudah cukup satu masalah di antara mereka.


"Kaaak! Kak Lily! Hah! Hah! Hah!" Suara pekikan tertahan memanggil membuat keduanya menoleh. Ave berdiri dengan napas terengah-engah menatap keduanya bergantian.

__ADS_1


Lily tertawa melihat ekspresi Ave. "Ya Allah, Ve. Sampe lari-lari gitu!" Wanita itu berdiri.


Ave melirik Zaid dengan kuatir. Sambil maju mencium kedua pipi Lily, ia bertanya, "Kakak kok gak ngomong dateng lebih cepet?"


Bukannya menjawab, usai memeluk Ave, Lily memperhatikannya dengan kening berkerut. "Lo belum sebulan kerja udah kurus begini sih, Ve? Stress banget ngadepin boss lo?" tanyanya tanpa rem.


Ave ingin sekali membekap mulut Lily. Ia bahkan tak lagi berani menatap ke arah Zaid.


"Lo kenapa sih? Sampe pucat begitu. Habis dimarahi lagi sama boss? Tega banget sih tuh orang!"


"Enggak, Kak! Enggak! Oh please! Please!"


"Tenang aja, Dek! Tadi udah gue omongin ke Mas Zaid, minta tolong dia bantuin lo kalo dimarahi terus sama boss lo. Lo tenang aja," kata Lily lalu menoleh pada Zaid. "Siap bantu kan, Mas?"


Zaid mengangguk sambil tersenyum. Ave yang ingin menangis justru bengong melihat senyum di wajah Zaid. Tampak asli, tulus dan... tampan. Ia tak terlihat marah sama sekali.


Lily mendorong Ave untuk duduk, sebelum ia sendiri duduk. "Tadinya saya tuh mau nyaranin Ave untuk bikin boss jatuh cinta loh, Mas. Untung Mas buru-buru ngenalin diri. Gak papa! Yang penting adik saya ada yang jagain. Siapapun orangnya, saya pasti setuju."


Avelia menundukkan kepalanya hingga ia hanya bisa melihat ujung sepatunya. Ia benar-benar tak sanggup lagi menatap Zaid. Mungkin sedari tadi seluruh kebohongannya telah dibongkar habis oleh Lily. Selama ini Ave tahu kalau Lily polos dan apa adanya, tapi baru kali ini ia ingin menyumpahi kebodohan kakak iparnya ini.


"Saya akan berusaha semampu saya, Mbak." Terdengar suara berat Zaid menjawab.


Hah? Ave mengangkat kepalanya sedikit. Sekali lagi, ia melihat wajah penuh senyuman dari si Pangeran Salju. Hangat bagai sinar matahari.


"Walaupun cuma adik sepupu, saya sayang banget sama Ave. Jadi kalo Mas ada masalah dengan dia, perlu bantuan saya bisa... ini kartu nama saya, hubungi saya aja ya! Kapanpun, boleh tanya-tanya lagi soal Ave," kata Lily seraya menyodorkan selembar kartu namanya.


Zaid menerimanya. "Tapi maaf, Mbak. Saya lupa bawa kartu nama saya." Tidak mungkin baginya memberikan kartu nama yang berisi informasi dirinya setelah semua salah paham ini.


"Gak papa! Gak papa! Ini... masukkan aja nomor hp Mas di sini ya!" Tanpa berpikir apapun, Lily menyodorkan ponselnya pada Zaid.


Ave ingin sekali meneriaki kakak iparnya itu, tapi saat ia mendongak dan tak sengaja bertemu tatapan dengan Zaid. Pria itu malah tersenyum padanya sebelum sibuk mengisi nomornya di ponsel Lily.


Demi mengalihkan pembicaraan, Ave pura-pura bertanya, "Jadi jadwal periksanya besok ya Kak?"


Lily menoleh. "Loh, lo gimana sih, Ve? Kan udah dibilangin nanti sore. Tapi kalo lo gak bisa izin, gue prakteknya malam aja deh."


"Siapa yang mau diperiksa, Mbak?" tanya Zaid penuh perhatian memotong obrolan Ave dan Lily. Ave menatapnya tak percaya. Lelaki ini... bagaimana ia bisa begitu ramah pada Lily?


"Ini, Mas. Calon ponakannya Ave," jawabnya santai menunjuk perutnya.


Zaid masih bertanya lagi, usia kehamilan Lily dan tentang kesehatannya. Tak hanya itu, ia juga dengan tulus mendoakan kelancaran dan kemudahan saat Lily bersalin nanti. Tentu saja itu membuat Lily tersenyum bahagia. Sementara Avelia hanya menatap keduanya tak percaya.


Sampai akhirnya Vani terlihat mendatangi meja mereka. Lily pun berdiri dan pamit. Tiba-tiba Lily menarik Zaid dan membisikkan sesuatu. Zaid tertawa kecil sebelum mengangguk. Membuat Ave menatap keduanya curiga.


"Kakak ngomongin apa sih?" tanya Ave curiga.


Lily memeluk adik iparnya itu. "Ngomongin masa depan kamu, Cinta!" Lalu bersama Vani, Lily meninggalkan keduanya.


Begitu Lily keluar, Avelia pun berjalan hendak meninggalkan Zaid tanpa berani menoleh padanya. Tapi Zaid malah menangkap tangannya, dan menahan langkahnya.


"Pak, maafin kakak saya! Maafin saya! Maafin semuanya ya, Pak! Please," pinta Avelia sambil menunduk dengan kedua tangan memohon.


"Sampai Lily lahiran, kamu jangan ceritain siapa saya ya, Ve."


Ave mengangkat kepalanya, menatap Zaid bingung.


Zaid mengangguk meyakinkan. "Kakakmu itu orang yang baik. Dia juga lagi hamil. Dia gak salah apa-apa. Jangan kuatir, saya gak akan pernah marah sama dia!"


Ave menghela napas. Lega.  *Untunglah! *


Tapi mata Zaid menyipit sebelah saat menatap Ave. Ada seringai tipis di sudut bibirnya yang terangkat. "Tapi... saya gak bilang kamu bisa lolos gitu aja setelah gosipin saya seenaknya gitu ya."

__ADS_1


Bulu kuduk Avelia berdiri seketika. Seringai itu, sinar mata itu. Avelia tahu, hukuman sedang menantinya.


*****


__ADS_2