
~ Saat kata-kata menghancurkan hati lebih dari yang dibayangkan ~
Zaid tak tahu berapa banyak lampu merah yang ia langgar saat berusaha secepat mungkin sampai di gedung GE. Bahkan ia memilih langsung parkir tepat di depan lobby. Ia juga tak peduli ketika petugas keamanan mendekatinya untuk menegur. Zaid malah melemparkan kunci motornya pada sang petugas yang hanya bisa berdiri keheranan, sebelum ia masuk ke lobi gedung.
Petugas itu mengikuti Zaid. "Pak! Maaf ini... "
Tepat saat itu Danu yang baru saja selesai mengantar tamu-tamunya pergi melihat ke arah mereka.
"Zaid!"
"Oh... Danu!" Zaid mendekat. "Gue mau ketemu Ajie sekarang. Penting! Bisa lu anter?" tanya Zaid menggunakan bahasa nonformal.
Danu sedikit terkesiap melihat ketergesaannya. Namun dengan cepat Danu menguasai dirinya dan mengangguk. Sebelum pergi, Danu memberi kode pada petugas untuk membantunya mengurus motor Zaid.
Ketika memasuki ruang kerja Ajie, hanya ada Ajie dan istrinya yang duduk santai di sofa. Di depan mereka tampak beberapa cangkir teh yang habis dipakai.
Jelas baru saja ada pertemuan di ruangan itu. Keduanya sama-sama heran ketika melihat Zaid masuk bersama Danu. Zaid juga melihat cangkir-cangkir itu.
"Ave? Apa Ave ke sini?" tanya Zaid to the point.
Alis Ajie terangkat sebelah. "Apa maksudmu? Dia ke sini?"
Zaid mendekat. "Ave tahu. Gue... " Zaid melirik Lily yang juga sedang menatapnya, sebelum kembali menatap Ajie, melemparkan isyarat melalui sorot matanya.
Mengerti maksud Zaid, Ajie tersenyum pada istrinya. "Sayang, aku harus bicara dengannya. Tadi katamu Papa mau datang, gimana kalau kamu turun duluan sambut Papa. Mungkin sebentar lagi Papa sampai."
Senyum di wajah Lily pun muncul. "Mmmm...bilang aja mau ngusir Lily. Udah... udah... Lily ngerti, Mas. Silakan ngobrol dan bahas Ave. Ayo Mas Zaid, duduk! Tenang aja... suami Lily ini the best-lah dalam segala urusan."
Zaid membalas senyuman Lily dengan anggukan hormat. Andaikan itu benar, ia pasti senang sekali. Ditatapnya Lily hingga menghilang dari balik pintu bersama Danu.
"Ehem... Ada apa?"
Nada hangat yang tadi terdengar saat Ajie bicara pada istrinya, telah berganti menjadi dingin.
Pertanyaan itu membuat Zaid kembali menoleh pada Ajie. Sedikit gugup. "Ave mendengar semua dari... salah satu model gue. Gue takut dia salah paham sama elu. Gue rasa dia lagi ke sini. Gue harap lu gak..."
"Apa yang dia dengar?" tanya Ajie tenang.
__ADS_1
Ajie bisa melihat kondisi Zaid yang sedikit berantakan. Rambutnya tak tersisir rapi, wajahnya pucat, keringat tampak membasahi dahinya dan lengan kemeja yang ia kenakan tergulung hingga batas siku. Pasti sesuatu telah terjadi di kantornya. Ajie pun berdiri.
"Kamu yakin Ave ke sini? Memangnya dia mendengar apa?" tanya Ajie sekali lagi.
Pintu terbuka tiba-tiba.
"Mendengar kakak Ave sendiri menghancurkan semuanya!" jawab seseorang yang melangkah masuk ke ruang kerja Ajie, setengah berteriak.
Zaid dan Ajie sama-sama menoleh ke pintu, melihat Avelia yang menyerbu masuk dengan wajah merah padam. Matanya menatap marah pada Ajie.
Bergegas Zaid mendekat, menahan langkah Ave, menghadangnya untuk tidak mendekat pada Ajie.
"Ve, kamu salah paham. Bukan itu yang terjadi. Tolong jangan marah dulu!"
Ave mendongak pada Zaid. "APA? Mas mau ninggalin Ave kan? Mas mau pergi selamanya dari Ave, kan?" Airmata tampak membanjiri wajahnya. "Karena Mas Ajie yang minta, karena Mas Ajie yang ngerampas The Crown kan? Mas mau bohongin Ave sampai kapan?"
"Ve... Sssh. Ssshh. Tenang dulu."
Zaid ingin menghentikan Ave tapi ia tahu saat ini Ave dikuasai emosi, jadi satu-satunya yang terpikir di kepala Zaid membujuknya. Namun berulangkali Zaid berusaha memegang tangannya, Ave selalu menepiskannya.
Maka ia memeluk Ave walaupun terdengar geraman Ajie di belakang. Tetap saja gadis itu berusaha melepaskan diri dari pelukan Zaid dan terus merangsek maju, bergerak mendekati kakaknya yang berdiri mematung memandangi keduanya dengan sorot mata dingin dan wajah nyaris tanpa ekspresi.
Tangan Zaid menarik tangan Ave lagi, menghentikan langkahnya. "Sudah Ve, kita bicara dulu baik-baik. Kamu tenang dulu!" pinta Zaid.
Walaupun masih diam, wajah Ajie sudah begitu kelam dan itu membuat Zaid kuatir. Ia kuatir Ajie juga naik pitam. Ia tak ingin menambah buruk hubungan antara Ajie dan Ave.
"Ave gak pernah ngomong apapun soal Mas dan Papa yang ninggalin Ave dan Mama. Ave juga gak pernah nyalahin kalian soal Mama. Ave diam! Ave simpan semuanya sendiri! Demi Mama, semua Ave simpan sendiri. Sekarang... "
"Ve, sudahlah!" gumam Zaid putus asa. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa untuk menghentikan Ave.
Tapi dada Ave sudah terlalu sesak dengan semua emosinya. Wajahnya merah padam, dipenuhi airmata. "Apa Mas tahu waktu Mama gak ada, perasaan Ave gimana? Ave cuma mau mati! Mas di mana waktu Ave terpikir itu? Apa Mas tahu itu? Apa Mas tahu gimana rasanya duduk di atas pagar balkon apartemen dan berpikir untuk terjun supaya bisa nyusul Mama? Apa... "
"Ve, Sudah. Sudah! Please! Jangan katakan apapun lagi!" ujar Zaid lebih keras.
Kali ini ia memeluk tubuh Ave sekuat tenaga, menenggelamkan wajah gadis itu di dadanya agar kata-katanya berhenti.
Zaid tahu benar, emosi Ave mudah sekali pecah. Tapi baru kali ini ia melihat kemarahan gadis itu bisa begitu tinggi hingga nyaris histeris. Ia tak tahu lagi cara menghentikannya, selain tidak membiarkan Ave bicara.
__ADS_1
Siapapun orangnya pasti akan terkejut mendengarnya. Zaid tahu arti Ave bagi Ajie, jadi ia tak ingin Ajie mendengar keluhan Ave yang selama ini hanya menjadi rahasia mereka berdua.
Jika Zaid saja tak bisa menahan emosi karena rasa bersalah saat mendengarnya, entah bagaimana dengan Ajie. Dan semua itu juga karena dirinya. Seandainya ia tak pernah mengganggu Ajie, mungkin kakak Avelia itu tidak akan pernah pindah ke manapun dan begitu berita ibu mereka tiada, Ave tidak sendirian.
Di belakang Zaid, Ajie terpaku mendengar kata-kata adiknya. Ia tahu Ave pernah mengalami depresi, tapi ia tak pernah menyangka kalau Ave pernah berpikir sejauh itu. Kedua tangannya mengepal kencang.
Suara Ave terdengar lirih dalam pelukan Zaid. Menangis tersedu-sedu. Ia tak lagi melawan. Kedua tangannya juga melingkari tubuh Zaid. "Ave minta maaf, Mas. Semua gara-gara Ave, Mas kehilangan semuanya. Maafin Ave, Mas. Maaf!"
"PAPA!!"
"Aaah, Pak Fariz!!"
Suara pekikan di luar, membuat ketiganya terkesiap. Ajie yang lebih dulu berlari keluar, disusul Ave dan Zaid. Mereka kaget saat melihat Pak Fariz terbaring di lantai, dikerumuni oleh beberapa staf dan Lily di sampingnya.
Semua orang bergerak cepat, berusaha menolong Pak Fariz. Hanya Ave yang terdiam gemetar di tempatnya, shock melihat keadaan papanya, sampai Zaid harus menyeret dan membawanya ke mobil yang akan membawa Pak Fariz ke rumah sakit.
Untungnya, Lily juga menyadari itu dan ia memapah Ave. Mereka masuk dalam mobil itu bersama-sama.
Setelah mobil yang membawa Pak Fariz meluncur pergi, Danu yang telah menyiapkan mobil lain pun memanggil Ajie, memberi tanda untuk segera masuk. Ia juga sempat menyerahkan kunci motor pada Zaid.
Zaid dan Ajie sempat saling berpandangan, tapi keduanya sama-sama tak bicara. Kemudian, tanpa menunggu Ajie masuk ke dalam mobil Danu, sebelum mobil itu melaju meninggalkan gedung GE.
Bahu Zaid merosot, tiba-tiba ia merasa perutnya bergelora tidak nyaman dan rasa mual menguasainya. Ia benar-benar ingin muntah saat ini. Tangannya pun bergerak menutup mulutnya sementara tangan lain bersandar di salah satu pilar gedung GE.
Semua yang ia kuatirkan terjadi. Ia membuat Avelia mempertaruhkan nyawa papanya sendiri. Semua salahnya. Semua karena dirinya. Sama seperti dulu.
Sama seperti ia membuat Mama dan Uncle meninggalkan dunia untuk selamanya.
*****
Author Notes:
Pada nangis ya... he he he!
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya.
__ADS_1
Terima kasih.
Iin Ajid