
~ Orang jahil itu terlahir dari orang baik yang selalu dijahili (Zaid) ~
"Selamat jadian ya, Ve! Thank you loh jagain idol kita!" ucap Rose.
Jika tak melihat raut wajahnya, kata-kata itu pasti terdengar tulus. Tapi buat Ave, kalimat itu adalah sindiran. Senyum Rose lebih mirip orang yang sedang menahan geli. Apalagi Rose baru saja mendengar cerita Alina. Tak hanya dia, Jack, Mike, Teddy, Rizal, Gita bahkan Pak Bambang juga tahu.
"Tenang, Ros. Masih banyak jalan buat kita menuju hati Pak Zaid kalo cuma nyaingin Ave. Cantik sih, tapi **** dan rada sarap. Ha ha ha," seru Alina tak mau kalah. Wajhanya begitu sumringah. Jika tak tahu, mungkin orang akan mengira dirinyalah yang menjadi kekasih Zaid.
Jack yang duduk di sebelah Ave pun tergelitik untuk bertanya, "Lu pake dukun mana sih, Ve? Gue boleh ikutan pake jasanya gak sih? Kalo Pak Zaid aja bisa dilumpuhkan, apalagi yang model sebelah lu? Ha ha ha!"
"Awas lo ya kalo berani melet gue! Najis gue jadian ama elo, Jack!" sahut Alina. Tapi tetap saja ia tertawa sambil melirik Ave.
Bibir Ave maju dua senti. Walau sudah berpura-pura menjadi kambing congek yang tak mendengar semua sindiran dan candaan itu di sekitarnya, tetap saja ia merasa jengkel. Kedua tangan Ave mengepal, menahan kesal. Bahkan Pak Bambang sempat melempar candaan. "Putri Avelia yang cantik, jangan lupa siapin laporan mingguan ya! He he he!"
Semua gara-gara Mr. Snowy Devil itu. Pokoknya harus dibalas! Harus! Harus!
Tak lama seluruh tim Creative harus berkumpul di ruang rapat besar. Seperti biasa, dalam rapat mingguan ini dipimpin langsung oleh Zaid dan dihadiri beberapa Direktur.
Karena masih kesal dikerjai sejak pagi, Ave memilih tak banyak bicara. Untungnya begitu ia masuk, Zaid beserta sekretaris dan asistennya juga masuk ke ruangan itu. Maka teman-temannya tak sempat menggodanya lagi.
Hazmi memimpin rapat, dan mulai memberikan briefing untuk beberapa proyek iklan yang harus segera dikerjakan. Beberapa yang telah selesai dan sedang dikerjakan, juga dilaporkan secara global oleh Pak Bambang, sebelum akhirnya memutuskan jadwal rapat lain sebagai tindak lanjut setiap proyek.
Dalam rapat kali ini, Ave tak banyak berkontribusi. Ia baru saja memasukkan salah satu proposal dan masih menunggu keputusan. Karena proyek itu tergolong besar, maka Ave diminta menunggu. Kalau The Crown memenangkannya, maka Ave harus berkonsentrasi pada proyek itu saja. Berbeda dengan anggota timnya yang lain, Ave tergolong masih sangat baru di dunia periklanan. Karena itulah, sesuai peraturan perusahaan, Ave hanya bisa memegang satu proyek dalam satu waktu selama masih dalam tiga bulan masa percobaan.
Karena itu, setelah satu jam lebih, Ave mulai kehilangan minat untuk mendengarkan. Malah pikirannya ke mana-mana. Sibuk mencari cara agar bisa membalas Zaid.
Ngambek dan tidak pulang bareng? Tidak mungkin. Ave tak mau berpadat ria menjadi sarden dalam busway hanya untuk bisa pulang ke rumah Zaid. Ia juga takkan sudi mengurangi saldo aplikasinya hanya untuk memesan ojek online. Selama ada tumpangan gratis, untuk apa buang uang?
Jelas bukan cara ngambek yang efektif.
Memasak dan menambahkan obat pencahar? Tidak, tidak. Zaid punya penyakit pencernaan yang saat biasa saja sudah membuatnya menderita. Ave tak sejahat itu.
Sementara Ave tenggelam dalam pikirannya sendiri, rapat mulai memasuki tahap akhir. Namun, sebelum Hazmi mengakhirinya, Jenny mengangkat tangan.
"Oh ya, saya ingin memberitahu mengenai proyek iklan yang dikerjakan oleh Tim 2, bahwa dari klien kita sudah ada informasi resmi yang baru tadi pagi saya dapatkan."
Semua mata memandang Jenny, menanti jawaban, kecuali Ave yang malah memangku wajahnya, menatap keluar jendela. Gaya asyik Ave melamun itu tak luput dari perhatian Zaid. Gadisnya itu benar-benar punya dunia berbeda dari orang lain.
"... Kita berhasil! The Crown mendapatkan kontrak iklan itu untuk dua tahun! Kita berhasil mengalahkan GE!" seru Jenny tak bisa menyembunyikan kegirangannya. Ia tahu ini proyek pertama Ave, dan ia sangat senang Ave berhasil melakukannya. Keraguannya atas keputusan Zaid lenyap sudah.
"Waaaah! Selamat Tim 2!"
"Alhamdulillah!"
"Syukurlah!"
"Selamat! Selamat!"
Seruan-seruan gembira dan tepuk tangan ramai terdengar memecah keheningan ruang rapat, juga berhasil memecahkan lamunan Ave. Dengan wajah bingung, ia bertanya pada Jack yang duduk di sampingnya. "Ada apa, Mas? Siapa yang mau nikah?"
Jack menatap Ave speechless, "Nyawa lu baru balik? Itu loh, proyek kita gol! Malah nanya yang nikah siapa? Lu ngebet banget apa mau nikahin Pak Zaid?!" omel Jack dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Ave.
"Iiissh, cuma nanya kali!" Lalu dengan wajah riang, Ave juga bertepuk tangan tak kalah senang.
Pak Bambang mengangkat tangan, meminta giliran bicara. Semuanya pun diam. "Oke, oke! Begini, Pak Zaid. Saya sebagai Manajer dari Creative, ingin mewakili teman-teman untuk memohon sesuatu. Karena kwartal terakhir ini semua proyek yang kami kerjakan selalu di-approve hampir 85%, maka... sebagai bonus tambahan, bisakah kami mendapat hadiah liburan khusus, Pak?"
"Iya, Pak! Gathering gitu. Antar kita-kita dalam satu departemen aja!" sahut Mike.
"Betul, Pak Zaid. Agar kami ngerasa refresh, jadi bisa makin kreatif. Betul gak, Teammates?" Kali ini suara Alina yang terdengar.
"Betuuul!"
__ADS_1
Zaid mengangguk-angguk. Ia menatap sekelilingnya dan berakhir dengan menatap Ave yang mengangguk-angguk penuh harap. Sesaat gadis itu melupakan keinginan balas dendamnya.
"Ada ide liburan yang kalian inginkan?" tanya Zaid.
Lalu suara-suara saling bersahutan berebut meluncurkan ide mereka. Ada yang meminta ke pantai, berkemah di gunung, menginap di resort, bermain di wahana taman bermain sepuasnya, berenang di wahana taman air dan lain-lain.
"Baik! Kalian pantas meminta liburan itu. Saya memang sudah merencanakannya. Tapi sebelum itu... " Zaid menunjuk Ave. "Ve, bisa tolong saya ambilkan air putih?"
Serempak semua orang menatap gelas berisi air putih di depan Zaid, termasuk Ave.
"... yang dingin!" sambung Zaid saat menyadari kesalahannya. Terlihat senyum tertahan di bibir semua orang, kecuali Ave dengan bibir melengkung, hanya bisa mengangguk.
Setelah Ave keluar, Zaid kembali berkata, "Sebelum kita memutuskan liburan seperti apa yang kalian dapatkan. Kita sepakati dulu bersama satu hal. Kalian boleh mengambil keputusan sendiri di antara semua ide kalian tadi atau tidak, jika Ave bisa menjawab pertanyaan saya."
"Kok Ave sih, Pak? Kita aja deh yang jawab!" seru Alina dengan nada manja tapi penuh kekuatiran.
Zaid menatap Alina lembut. "Saya putuskan nanya Ave karena dia yang merancang plot storyboard proyek yang kita menangkan kali ini. Jelas?"
"Tapi kita boleh memilih pertanyaannya ya, Pak?" tanya Jenny, membuat semua orang tersenyum lagi. Tak menyangka kalau Jenny juga begitu bersemangat ingin berlibur.
Zaid menganggukkan kepalanya dan tepat saat itu Ave masuk kembali dengan gelas berisi air es. Air putih dengan es yang sangat padat. Bergegas, gadis itu meletakkan gelas di depan Zaid sebelum ia duduk. Ia tak sabar ingin tahu liburan apa yang akan mereka dapatkan.
Tapi Zaid malah menatapnya dengan wajah datar. Tampak jelas ada sesuatu yang ia rencanakan. Hati Ave sedikit berdebar.
"Ve, saya akan mengajukan pertanyaan sama kamu, dan jika kamu bisa menjawab dengan benar, maka seluruh yang ada di ruangan ini akan mendapatkan liburan gratis yang boleh kalian putuskan sendiri, ke manapun selama bisa dinikmati dalam dua hari akhir pekan. Tentu dengan budget tertentu. Kamu bisa?"
Ave menatap ke sekelilingnya dengan kuatir. "Tapi gak susah kan, Pak?"
Zaid menggeleng, lalu ia berbisik-bisik dengan Jenny sebentar. Setelah beberapa menit, Jenny pun menunjuk pada sesuatu.
"Gampang kok, Ve!" ucap Jenny yakin. Ave pun mengangguk.
Zaid juga mengangguk setuju pada Jenny dan gadis itu pun mulai membacakan pertanyaannya. "Seorang pria memberikan tujuh juta rupiah pada calon istrinya untuk membeli perlengkapan pernikahan. Satu juta untuk make up dan sewa baju pengantin, satu juta lima ratus untuk katering, lima ratus ribu untuk panggung dan pelaminan, lima ratus ribu untuk menyewa organ, dua ratus ribu untuk sewa seragam pagar ayu, dua ratus ribu untuk beli hantaran penganten. Jadi berapa sisa uang yang ada pada si calon istri?"
Tapi tunggu dulu! Ini kenapa masalah pernikahan yang dibahas? Kenapa pertanyaannya semudah ini? Tidak mungkin manusia pelit dan dingin seperti Snowy Devil ini memberikan pertanyaan yang bisa dikerjakan anak SD begini, pikir Ave lagi. Ia mulai ragu.
Dengan tatapan curiga, Ave menyipitkan mata sebelum bertanya, "Ave boleh nanya kan sebelum menjawab, Pak?"
Zaid mengangguk.
"Jumlah undangannya berapa, Pak?" tanya Ave. Semua melongok tak mengerti. Bahkan Zaid sendiri bingung mendengarnya.
Jenny mulai kuatir. "Enggak ada hubungannya, Ve. Kamu tinggal ngurangi-ngurangi aja dari informasi tadi terus sisanya itu aja diinfo."
Ave menatap Jenny. "Gak bisa, Mbak. Ini kan pertanyaan serius. Kalo jumlah undangannya gak sesuai sama jumlah kateringnya, nanti anggarannya juga pasti gak cukup. Entar Ave jawab sekian, eh undangannya kebanyakan terus uangnya malah gak bersisa gimana? Sekarang aja satu piring minimal udah tigapuluh ribuan. Nah, kali 500 aja udah tau kan hasilnya berapa?"
"Jawab aja, Ve! Tujuh juta kurangi semua itu," sela Hazmi tak sabar.
"Jadi jawabanmu apa, Ve?" tanya Zaid lagi. Ia mulai kesulitan menahan tawanya sendiri.
Ave bisa melihat semua orang terlihat tak sabar. Tapi ia lebih mengenal Zaid, dengan sejuta akal bulusnya. Ave sudah berkali-kali merasakan akibatnya. Apalagi ini, menyangkut kepentingan teman-temannya. Ia tidak bisa bertindak sembrono, harus dipikirkan sebaik mungkin.
Lagipula, apa maksud pria ini mengajukan pertanyaan tentang pernikahan? Apa si pelit ini sedang menghitung dana untuk pernikahan mereka nanti? Apa Zaid mengira Ave bisa menerima uang sejumlah itu untuk biaya pernikahan mereka? Papa bisa mengamuk jika putri satu-satunya hanya menikah secara sederhana. Bahkan Ave sendiri sudah lama ingin merencanakan untuk menjadi Ratu sehari yang sempurna saat nanti ia menikah. Mana mungkin uang tujuh juta cukup mewujudkannya?!?
"Udah dapet, Ve?" tanya Zaid lagi. Ave mengangguk mantap sebelum ia berdiri.
"Kalo Ave jawabannya... kembaliin uangnya atau minta lagi. Mana ada jaman sekarang orang nikah modalnya cuma tujuh juta! Mau nikah, tapi gak mau ngasih uang yang cukup. Realistis aja, Ave gak bakal mau," jawab Avelia tegas.
Semua orang terdiam, menatap Ave tak percaya. Lalu nyaris serempak semua bersandar lesu di kursinya masing-masing. Jack mengacak rambutnya, Alina berusaha keras tidak menepuk belakang kepala Ave, mulut Jenny terbuka tanpa sadar, Hazmi hanya bisa menghela napas, Rose dan Mike saling menatap sedih. Bahu Pak Bambang merosot. Sisanya tak bisa menyembunyikan kekecewaan di wajah mereka.
Hanya satu orang yang bertepuk tangan dan tersenyum lebar. Zaid.
"Bagus! Bagus banget! Jawaban yang amat sangat meyakinkan! Ha ha ha ha!" seru Zaid senang.
__ADS_1
Ave menatap tak mengerti pada semua orang, sebelum akhirnya Alina mencubitnya, membuat Ave menoleh padanya. "Kamu masih kesal ya tadi aku ledekin? Jadi balesnya begini? Sengaja jawab salah biar kita gak jadi liburan?" cecar gadis itu dengan bibir cemberut.
Ave yang sudah duduk kembali kebingungan. Tapi ia mulai mengerti ketika satu persatu temannya berdiri dari kursi, terlihat kecewa dan tampak sedih. Berarti ia benar-benar salah menjawab. Berarti tadi pertanyaan biasa yang seharusnya dijawab dengan cara biasa. Ave langsung ingin menangis. Ia salah menilai pertanyaan itu. Seharusnya ia menjawab sesuai dengan jawaban yang seharusnya. Bukan seperti tadi.
"Kalian gak ingin memutuskan kita akan liburan ke mana akhirnya?" tanya Zaid santai.
Langkah dan gerakan semua orang terhenti, kembali menatap bos mereka yang memandangi mereka dengan tatapan ingin tahu. Tampak begitu serius.
"Maksudnya, Pak?" tanya Jenny berusaha memperjelas.
"Saya hanya bercanda kok," kata Zaid. Kata-kata itu membuat semua orang menelan ludah dengan mata berputar. Candaan macam apa ini?
"Jadi kita beneran dapet liburan, Pak?" tanya Alina yang kembali mendekati meja meeting. Kepala Zaid mengangguk.
"Ya Allah, Alhamdulillah!"
"Ha ha ha ha! Lucu candaannya, Pak! Bener-bener lucu!" ucap Jack dengan tawa aneh. Tampak benar-benar sangat palsu. Ia pasti masih merasa kesal.
Rose menghela napas. "Duh ya ampun, Pak! Aku tuh sampe pengen ngajakin Ave les Matematika anak SD!"
Jantung Ave yang tadi berdebar kencang karena merasa bersalah, mulai normal kembali. Tapi ia menatap Zaid dengan tatapan memusuhi. Hari ini, Zaid tak hanya membuatnya malu, tapi juga membuatnya nyaris dibenci semua teman-temannya satu departemen. Menahan emosi di hatinya, Ave meraup semua dokumen dan laptopnya, meninggalkan ruang rapat yang masih dipenuhi dengan kegembiraan.
Melihat Ave keluar tanpa pamit dengan wajah merah padam, senyum di wajah Zaid pun lenyap. Ia tahu kali ini ia benar-benar keterlaluan. Buru-buru Zaid berdiri, mengejar kekasihnya, membuat seisi ruangan juga terdiam.
Tepat sebelum keluar, Zaid berpaling. "Kalian putuskan saja liburan itu, saya harus... " Zaid tak tahu harus mengatakan apa selain menunjuk ke arah Ave keluar tadi, tapi Hazmi menepuk bahunya, mengerti maksud Zaid dan membiarkannya menyusul Ave.
Senyum penuh arti terlihat di wajah setiap orang yang ada di ruangan meeting. Tak perlu dikatakan, mereka juga mengerti. Juga Alina, Rose dan Gita, serta para gadis lain yang berasal dari tim-tim lain.
Sementara Ave yang sudah duduk di kursinya, terkejut saat Zaid menyusulnya. Tanpa berkata apa-apa, pria itu menarik tangan Ave dan sesaat pria itu sendiri bingung, sebelum akhirnya menarik Ave menuju ruang pantri. Lalu dengan tangannya yang lain, ia mengunci ruangan itu.
"Marah?" tanya Zaid dengan seringai tipisnya.
Ave tak menjawab, hanya menghentak tangannya agar bisa terlepas. Tapi Zaid malah mempererat pegangannya. "Masak gitu aja marah? Kamu sering ngerjain aku lebih dari ini loh."
"Ih, siapa yang marah? Bos sih bebas mau ngomong apa aja. Nyuruh-nyuruh orang ngambil air dingin seember kek, minum kopi segentong kek, mau mutusin liburan apa enggak. BEBAAASSS!" kata Ave lantang dengan nada penuh sindiran.
"Kamu ini... Kamu gak tahu Ve, kalau orang jahil itu terlahir dari orang baik yang selalu dijahili? Coba berapa kali kamu ngejahilin saya?" tanya Zaid sembari menatap Ave lembut.
Ave memang kerap mengerjai Zaid. Tak mampu menjawab, ia hanya menunduk. Sebenarnya, begitu melihat Zaid menyusulnya, kemarahannya sudah lenyap. Ave tak bisa menahan marah lama-lama. Apalagi pada pria yang ia tahu tak terbiasa membujuk orang seperti Zaid. Tapi ia tak ingin dianggap terlalu mudah memaafkan.
"Sudah. Kita baikan ya! Jangan ngambek lagi! Atau aku bakal lupa ngasih tau berita yang gak sempat disampaikan Jenny."
"Berita apa?"
"Apa kamu tahu kenapa tadi Jack dan Mike begitu senang saat tahu proyek kalian berhasil?" tanya Zaid.
Ave menggeleng.
"Itu karena tim kalian hanya bertiga saat mengerjakannya. Sementara biasanya bisa lebih dari 5 orang. Nah, apa kamu tahu kalau semua proyek yang berhasil selalu insentif bonusnya?"
Ave tahu soal itu. Tapi ia tak menyangka kalau ia juga akan mendapatkannya, padahal masih dalam masa percobaan. Saat proyek itu berlangsung, hampir semua orang membantunya. Mereka memang tak tercantum sebagai anggota timnya, tapi semua membantunya setiap kali ia kesulitan. Mereka tahu dan sangat mengerti, Ave belum pernah mengerjakan hal-hal seperti itu. Jadi, Ave sudah cukup senang, proyeknya bisa menjadi alasan untuk semua orang mendapat liburan di luar rencana.
"Timmu hanya perlu membagi insentif untuk tiga orang. Kamu tahu itu artinya, Ve?"
Mata Ave bersinar cerah, senyumnya merekah. "Ave dapet bonus? Berarti kalau... " Ave menghitung cepat jumlah insentif yang ia tahu dengan jari-jarinya yang mulai gemetar, dan ia nyaris menjerit saat menatap jumlah jari di tangannya. "Wuaaaaah! Mas... Mas... Ini beneran kan? Ini beneran? Ave gak mimpi kan?"
Melihat kegembiraan di wajah Ave, Zaid hanya bisa menganggukkan kepala meyakinkannya.
"Assiiiiik! My Little Kingdom!!! My wedding!!! Asiiiik!!!" teriak Ave sambil melompat-lompat gembira, lupa kalau masih ada Zaid di dekatnya.
Senyuman Zaid masih tersisa. Tapi mendengar kata-kata Ave, ia menatap gadis itu tak mengerti. Jadi apakah semua yang mencegah pernikahan mereka ini sebenarnya hanya karena uang? Apa Avelia tak tahu, jika ia mengiyakan lamaran Zaid, maka Zaid akan rela memberikannya semua untuk gadis bodoh ini?
*****
__ADS_1