Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 26 - Rejection


__ADS_3

~ Bimbang itu artinya The Little Kingdom atau Pangeran Salju ~


Sekarang yang ditakuti Ave terjadi. Bosnya, manusia berwajah dingin sedunia yang selama ini mengancam pasti akan memecat Ave jika pacaran di kantor, justru jatuh cinta pada dirinya. Lenyap sudah impian dan rencana Ave. The Little Kingdom tak akan pernah terwujud.


"Ve, kenapa?" tanya Zaid bingung dengan suara berbisik.


Ave mengangkat wajahnya yang basah. "Apa... apa ini artinya Bapak ingin memecat Ave lagi?"


Zaid menatap mata Ave dalam-dalam. Sulit menjelaskan apa yang terjadi barusan. Zaid mengira tindakan saja sudah cukup menunjukkan jawaban pada Ave. Tapi gadis ini... bahkan tak mengerti?


"Kamu tau maksud saya, Ve. Kenapa saya harus pecat kamu?"


Sepasang mata Ave mengerjap. Masih ada sisa airmata. "Maaf kalo Ave salah paham, Pak. Tapi Ave gak ingin salah nilai maksud Bapak. Apa ini artinya Bapak suka sama Ave? Atau karena Bapak iseng aja becanda sama Ave?"


Zaid senang Ave menanyakan hal itu lebih dulu. Gadis itu yang menanyakan sesuatu yang tak bisa ia mulai dengan kata-kata. Hanya saja ia tak habis mengerti, tak bisakah gadis ini membedakan saat seseorang bercanda atau serius menyatakan cinta?


Tanda tanya memenuhi kepala Ave. Ia tak bisa memahami lelaki di depan ini. Sesaat lalu ia bersikap dingin, barusan sikapnya jauh berbeda. Seperti orang jatuh cinta. Ave mau gila rasanya berusaha membaca pikiran lelaki berwajah dingin ini.


Katakan sesuatu, Zaid!


Zaid berusaha mencari kalimat yang tepat. Mata bening di depannya seolah-olah palu hakim yang sedang ingin bersiap menghukumnya. Akhirnya, ia berkata, "Kadang-kadang salah paham juga bisa benar, Ve."


Lalu lelaki itu berbalik, meninggalkan Ave.


Ave masih terdiam sesaat. Pikirannya melayang-layang ke mana-mana. Terlalu banyak yang terjadi. Terlalu banyak perubahan yang tak bisa ia tangani. Maksudnya Zaid apa? Salah paham yang mana?


Sembari menatap punggung Zaid yang menjauh, Ave berjudi dengan keputusannya. Sambil menarik napas dalam-dalam, Ave berkata dengan cukup keras. "Tapi Ave gak cinta sama Bapak."


Untuk Zaid, mungkin yang baru saja terjadi hanya ciuman biasa. Tapi untuk Ave, ia harus menjaga mimpinya. Semua rencananya harus berjalan dengan baik. Tidak boleh ada sesuatu yang menghalangi. Cinta tidak ada dalam rencana itu.


Ajaibnya, Ave teringat kata-kata Papa yang sering berbicara tentang prinsip bisnis dengan kakaknya kala makan bersama.


'Terkadang kita harus mengorbankan sesuatu untuk mempertahankan sesuatu yang lebih penting.'


Zaid atau My Little Kingdom.

__ADS_1


My Little Kingdom atau Zaid.


Dan meluncurlah kalimat itu. Kalimat yang ampuh membekukan gerakan Zaid. Dengan wajah menggelap, Zaid berbalik, menatap Ave tajam.


"Ave gak cinta sama Bapak. Ave cuma becanda. Ave benar-benar hanya menganggap Bapak sebagai atasan dan.... dan teman Ave," ucap Ave lebih terperinci. Tangan Ave tak sadar meraih ujung blus, memelintirnya sekuat tenaga. Ia harus kuat. Ia harus berani.


Zaid membisu. Wajahnya mengeras. Tak ada lagi senyum dan tatapan hangat.


"Maaf, Pak. Ave benar-benar minta maaf," bisik Ave akhirnya. Ia menyerah. Ia tak tahu harus bagaimana lagi menggambarkan perasaan yang sebenarnya.


Setelah cukup lama dalam keheningan, Zaid akhirnya menghembuskan napas. "Baiklah. Terima kasih sudah mau jujur sama saya, Ve. Saya minta maaf kalau tadi memaksamu... " Sepertinya masih ada yang ingin dikatakan Zaid, tapi mulutnya hanya mengucapkan satu kata lagi. "Maaf."


Lelaki itu berbalik meninggalkan dapur tanpa suara. Barulah bahu tegang Ave mengendur. Namun, yang mengejutkan, Ave justru merasa bersalah. Hatinya tak enak setelah melihat reaksi Zaid. Ia terlalu tenang. Yang justru makin terlihat menakutkan.


Suara deru motor di luar membuat Ave mengintip melalui jendela. Zaid meninggalkannya. Lelaki itu kembali ke kantor tanpa dirinya. Tapi walau ditawarkan untuk menumpang, saat ini Ave juga tak mau. Ia benar-benar tak enak hati telah menolak uluran cinta bosnya yang tampan itu.


Ave hanya tak ingin berdusta. Ia masih belum sepenuhnya sembuh dari luka cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ia tak pernah membayangkan candaannya dianggap nyata oleh Zaid.


Sudahlah, Ave yakin takkan ada masalah berarti. Ia hanya harus berkonsentrasi meneruskan rencananya. Saat ini The Little Kingdom adalah segalanya, pilihannya, cinta yang harus ia pertahankan. Ia akan mencurahkan semuanya demi cafe impiannya.


Dengan lesu, Ave berjalan keluar. Tak lupa ia mengunci pintu. Sekarang ia harus berjalan ke halte untuk naik bis ke kantor. Untuk memesan ojek, Ave tak sanggup lagi mengambil dari tabungan yang makin lama justru berkurang.


Refleks Avelia mengangkat wajahnya. Seorang pria muda mengangguk hormat padanya. Ave bingung melihatnya. Ada mobil Ayla merah di belakangnya.


"Saya dapet order dari Pak Zaid untuk nganter Mbak ke gedung The Crown. Silakan, Mbak!" ujarnya ramah sembari memperlihatkan layar ponselnya.


Ave termangu. Tanpa membantah, ia duduk di kursi penumpang. Hanya bisa menunduk. Mulai menyesali keputusannya. Lalu dengan murung, ia mengetik pesan di grup Angels-nya.


Ave [What should I do when someone kissed me and I rejected him?] (A/N: Apa yang harus kulakukan saat seseorang menciumku dan aku nolak dia?)


Tiar [😱 what happened?] (A/N: Apa yang terjadi?)


Lily [😱 whyyy?] (A/N: Kenapa?)


Natasha [Who?? 🤔] (A/N: Siapa?)

__ADS_1


Segera terselip sesal telah mengirim pesan itu. Ia menghapus pesannya lagi, lalu buru-buru mematikan ponsel. Dia perlu sendiri saat ini.


Tepat saat itu mobil mulai memasuki tempat parkir. Saat sampai di lobby, sang supir mengucapkan terima kasih. Ave turun. Baru saja ia ingat kalau belum memberi uang, mobil itu sudah melaju pergi.


Di pintu masuk gedung, Ave berdiri. Ragu untuk melangkah masuk setelah kejadian di rumah. Ia mengedarkan pandangan dan melihat motor Zaid tampak tengah dipindahkan oleh petugas parkir. Sepertinya pria itu juga baru tiba. Ave sibuk mencarinya dan ia melihat seseorang berjaket hitam tengah menenteng helm berjalan melewati meja resepsionis di lobi. Semua orang terlihat mengangguk hormat pada sosok itu. Orang itu pasti Zaid. Buru-buru Ave menyusulnya.


Ave bisa melihat tubuh tinggi itu berdiri di depan lift dan mulai masuk. Sembari mempercepat langkahnya, Ave berteriak, "Tunggu! Tunggu!"


Ave tiba di depan lift saat pintu mulai menutup. Tatapan Ave bertemu dengan tatapan Zaid. Tapi pria itu sama sekali tidak bergeming untuk menekan tombol, tidak mau menahan pintu agar tak tertutup. Ia jelas-jelas membiarkannya.


Ada apa ini? Apa Zaid marah padanya?


Entah berapa puluh kali Ave menekan ulang tanda panah naik untuk memanggil lift. Ia harus bicara lagi dengan Zaid. Ia tak ingin pria itu salah paham. Ave tahu rasanya cinta ditolak dan Ave tak ingin Zaid sakit hati seperti dirinya.


Saat Ave tiba di ruang Departemen Manajemen, semua orang tampak sibuk. Ia mencuri lihat ke kantor Zaid. Semua jendela ruang kerja Zaid terbuka lebar, dan Ave bisa melihat ada beberapa orang tengah duduk di sofa. Salah satunya Zaid. Ia tampak sibuk menjelaskan sesuatu.


"Eh, kamu dari mana sih, Ve? Kok lama banget di studionya?" tegur Jenny. Namun, belum sempat Ave menjawab, Jenny menyodorkan setumpuk dokumen. "Ini tolong fotokopiin dulu, Ve. Rangkap 3 aja ya. Habis itu kamu di ruang meeting visual ya, bantuin Akbar dan anak-anak Creative nyiapin slide-nya. Bentar lagi tamu Pak Zaid ke sana."


Ave hanya bisa mengangguk. Melakukan semua perintah Jenny tanpa bantahan. Sekarang bukan waktu yang tepat. Mereka sedang sibuk. Departemen ini sedang kedatangan banyak tamu. Masalah pribadi harus dikesampingkan.


Susah sekali melupakan raut wajah Zaid setelah mendengar penolakannya. Hati Ave ikut sedih melihat Zaid murung. Ia benar-benar menyesal. Tak seharusnya ia memberikan jawaban secepat itu. Harusnya ia berpikir dulu. Bagaimana kalau Bossnya itu marah dan nyuekin dia selama-lamanya? Aaah tidak... Atau bagaimana kalau nanti Zaid pakai dukun untuk memeletnya? Bukankah kata orang, cinta ditolak maka dukun bertindak? Tapi Ave lebih memilih yang kedua daripada Bossnya marah.


Namun, saat kembali dari ruang fotokopi, sekitar meja kerja Ave tampak banyak orang berdiri. Heran, Ave melangkah maju mencari tahu. Kerumunan itu ternyata rekan-rekan kerjanya juga.


"Mana dia? Mana Ave?" Suara seorang gadis bertanya tegas terdengar. Ave bisa mendengarnya, tapi ia tak bisa melihat karena kerumunan itu.


"Siapa?" tanya Ave. Perlahan kerumunan tersibak. Gadis dengan rambut tebal bergelombang terlihat. Di sisinya, seorang pria tampan berdiri. Mereka memandang ke arah Ave bersamaan. Itu Natasha.... dan Elang.


Tiga langkah maju, Natasha berhenti tepat di depan Ave. "Kamu baik-baik saja, Dek?"


Bibir Ave mulai bergetar, matanya yang sedari tadi menahan bendungan airmata saat menyibukkan diri, tak lagi tertahankan. Dadanya mulai naik turun. Ia menunduk, menangis.


"Ya ampun, Dek!" Bisik Natasha sambil memeluk Ave. Membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.


Sementara di depan pintu ruang kerjanya, bersama barisan para tamu yang akan menuju ruang meeting, Zaid berdiri melihat semuanya. Perlahan tapi pasti, kedua tangannya membentuk tinju.

__ADS_1


Kau menyakiti hati gadis mungil itu, Zaid!


*****


__ADS_2