
~ Andai nyanyian bisa meruntuhkan gunung es, selesai semua urusan Avelia ~
Maka keesokan paginya Ave berangkat kerja dengan penuh percaya diri. Ia tak lagi mengenakan pakaian-pakaian pinjaman dari Tiar, tapi mengenakan pakaiannya sendiri. Baju rajut lengan pendek yang dikombinasi dengan rompi, bersama celana model jogger kesukaannya. Kesan kaku yang dibenci Ave berganti menjadi gadis muda dengan selera modern. Tak ada lagi blus dan jas hitam putih yang kaku dalam kamusnya mulai sekarang.
Saat pagi Ave menyapa semua orang, siulan dan kata-kata memuji pun berhamburan.
"Waah, Ave jadi muda banget."
"Naaah gini nih buat penyegaran di sini! Kalo semua kayak Jenny, makin tua kita, ha ha!"
"Manis banget Adek abang ini sekarang! Pertahankan!"
Ave hanya tersenyum manis, dan mengangguk berterima kasih pada kelima pria yang mengelilinginya. Jenny belum datang saat itu. Tapi begitu gadis itu datang, ia juga tersenyum lebar.
"Kamu keliatan cakep banget pakai begitu aja ya, Ve. Kok saya gak bisa kayak kamu sih?" keluh Jenny sambil memandangi Ave dengan kagum. Memutar-mutar tubuh Ave untuk ia pandangi.
"Kata Mbaknya Ave, semua gadis itu harus jadi dirinya sendiri. Jadi Ave putusin pake baju yang paling Ave suka aja. Gak papa Ave ke kantor pake baju gini kan, Mbak?" tanya Ave setengah memohon.
Jenny mengangguk. "Gak papa, Ve. Ini semiformal. Saya aja suka. Malah saya mau nanya nih. Besok-besok kalo saya niru gaya kamu boleh kan?"
"Tentu aja, Mbak!" sahut Ave sebelum mereka tertawa berbarengan.
Ave memandang ke rekan-rekan kerjanya. "Siang nanti jangan pada makan siang di luar ya, hari ini ada makan siang buat semuanya yang di sini."
"Beneran Ve?"
"Waaah makasih banyak, Ve!"
Pak Wiryo menoleh pada Ave, "Memangnya Ave lagi ulang tahun ya?" tanyanya seraya tersenyum.
Ave menggeleng. "Enggak ada, Pak. Ini cuma suap kecil-kecilan kok. Suap makanan beneran aja, supaya Ave makin disayang," jawabnya sambil bercanda.
Semua tertawa mendengarnya. Mengangguk-angguk senang.
Benar kata Natty, Ave merasa bersemangat. Ia merasa melepaskan topeng yang selama ini ia pasang untuk melindungi rahasianya. Sekarang tak perlu, ia hanya perlu menjadi Ave seperti biasa. Kalaupun Zaid curiga, ia bisa menghindar atau mengelak dengan berbagai alasan.
Ave tak ingin lagi menyembunyikan beberapa hal penting dari dirinya. Itu sangat melelahkan. Bagian dari dunianya adalah memasak, dan ia ingin membaginya dengan teman-teman barunya. Ia juga ingin tahu masakannya sudah sesuai dengan selera umum, atau hanya pendapat pribadi orang-orang terdekat yang menyayanginya. Itu sebabnya Ave tak mengatakan kalau masakan yang ia berikan adalah hasil kerjanya. Tidak perlu. Reaksi apapun yang ia terima, Ave takkan rugi.
Zaid tak memperhatikan perubahan Ave sampai gadis itu mengantarkan kopi untuk tamu Zaid di ruang kerjanya. Mata Zaid masih terfokus pada tamu prianya yang sedang membicarakan masalah pekerjaan, tapi begitu Ave selesai menyajikan, mata Zaid justru mengikuti Ave sampai gadis itu keluar lagi.
Karena itu selesai meeting, ia pun keluar.
"Ve?"
Ave yang sedang mengetik sesuatu, menoleh. "Ya Pak?"
Ia tak memakai make up seperti kemarin. Tak ada warna mencolok. Hanya warna-warna muda pastel yang samar, tapi membuat wajahnya jauh lebih segar. Muda seperti anak kecil baru beranjak remaja.
__ADS_1
"Pak Zaid?" panggil Ave lagi. Panggilan kedua ini menarik perhatian semua staf yang berada di ruangan itu, mereka ikut melihat ke arah Zaid yang terpaku diam.
"Mmm... Oh, kamu ikut saya!" kata Zaid sambil menjentikkan jarinya. Tiba-tiba hanya itu ide yang terpikir olehnya.
Alis Ave terangkat. "Ke mana, Pak?" tanyanya bingung. Barusan Pak Wiryo meminta Ave membuat data hasil penelitian rating televisi iklan.
"Kita... kita ke studio. Saya mau lihat pemotretan. Kamu kan belum pernah ke sana. Sekalian... biar kenal orang lapangan," kata Zaid sedikit terbata-bata. Ini satu-satunya cara bisa menghindari tatapan ingin tahu dan menyelidik dari balik dinding kubikal di sekitar Ave.
Sambil membereskan mejanya, Ave bergumam pelan, "Kirain ikut ke hati Bapak."
"Hah? Apa kamu bilang?" Zaid menoleh tak percaya mendengar kalimat itu.
Ave tersenyum sangat manis. "Enggak kok, Pak. Enggak bilang apa-apa."
Tapi Zaid mendengar apa yang dikatakan Ave barusan, begitu juga semua staf pria yang mengelilingi meja gadis itu karena Zaid bisa mendengar suara-suara kikik kecil menahan tawa di balik kubikal-kubikal yang memisahkan meja mereka itu. Hal itu membuatnya segera meninggalkan ruangan itu.
Lalu Ave meraih tasnya dan berbicara pada Pak Wiryo, "Datanya nanti-nanti bisa kan, Pak?" Pak Wiryo mengangguk sambil tersenyum.
Sebelum menyusul Zaid yang lebih dulu pergi, Ave berpesan pada Jenny sedikit berbisik, "Mbak, nanti ada teman Ave anterin makan siang. Namanya Mas Elang. Entar tolong dibantu kalo Ave belum kembali ya, dibagiin ke teman-teman."
Jika terakhir mereka berada di dalam mobil berdua, hanya suasana dingin yang terasa, maka kali ini Ave memutuskan mengubah suasana itu.
"Nyalain musik ya, Pak? Boleh kan?" tanya Ave.
Zaid mengangguk setuju, sambil tetap menyetir. Telunjuk Ave pun sibuk menekan tombol mencari lagu yang ia suka.
Tapi sudahlah, Ave tak merasa perlu berpikir jadi ia menekan sembarang. Dan musik dangdut Melayu seorang perempuan terdengar merdu memecah keheningan dalam mobil.
".... Laksmana Raja di laut. Bersemayam di Bukit Batu. Ahai hati siapa, ahai tak terpaut... Mendengar lagu zapin Melayu... "
Ave tak bisa menahan tawanya lagi. Ia terbahak-bahak. Lagu ini lagu angkatan Papa yang dulu ia dengar saat masih kecil.
"Apa? Kenapa ketawa?" Zaid mulai kesal melihat tawa Ave.
Ave menoleh pada Zaid. "Ganteng-ganteng ternyata suka lagu begini ya, Pak! Ha ha ha ha!"
Wajah Zaid berubah kelam lagi. Tapi Ave buru-buru mengangkat tangan.
"Maaf, maaf, Pak. Bukannya Ave ngehina ini loh. Tapi gak nyangka aja. Kirain orang dingin dan angkuh kek Bapak sukanya yang orkestra-orkestra gitu, gak taunya suka orkes Melayu. Beneran lucu aja. Ha ha ha ha!"
Tak ada seorangpun yang berani mengatakan hal itu padanya. Tidak juga Ave yang sebelumnya. Tapi sekarang... tiap kali Zaid melirik ke wajah Ave yang ceria itu, ia tak tega menghapus senyum itu.
"Ya udah, ganti aja yang lain!" kata Zaid akhirnya. Tanpa senyum seperti biasa.
Ave menggeleng cepat. "Enggak ah! Ave mau pelajari liriknya. Biar bisa nyanyiin."
Wajah Zaid tetap dingin. Tak ada perubahan. Hanya menoleh sedikit sebelum kembali lurus menatap ke depan. Tidak mengiyakan, tapi juga tidak melarang. Percuma juga dilarang-larang. Toh jemari gadis itu sudah sibuk memutar ulang lagu ke awal dan mengencangkan suara music player agar lebih nyaring.
__ADS_1
Tapi saat Avelia bernyanyi, Zaid tak bisa menahan tawanya lagi.
".... Laksmana Zaid di lauuut. Bersemayam seperti batuuu. Ahai hati siapa, ahai tak terpauut... Mendengar Ave nyanyi merayuuu... "
Saat Zaid tertawa, Ave justru terdiam, terkesima memandanginya. Ia berhenti bernyanyi, membuat Zaid menoleh padanya.
"Kenapa berhenti?" tanya Zaid heran dengan senyum kecil tersisa.
"Bapak ganteng kalo lagi ketawa gitu," jawab Ave tanpa pikir panjang.
Zaid hampir melepaskan kemudi andai tak bisa menguasai dirinya mendengar pujian yang tiba-tiba itu. Sementara gadis yang merayunya sudah kembali melihat ke depan, sambil menggoyang-goyangkan kepala mengikuti irama musik yang masih melantun. Sekali lagi menyanyikan lagu dengan syair seenak perutnya.
".... Laksmana Zaid di laut. Bersemayam seperti batuuu. Ahai hati siapa, ahai tak terpauut... Mendengar Ave cantik nan ayuuuu... "
Ave! Apa ini caramu bermain api pada semua pria di sekitarmu?
Hati Zaid campur aduk. Otak warasnya memikirkan semua misteri di sekeliling Ave. Kedekatannya dengan Natty, apartemen mewah pinjaman sepupu Lily, pria berhelm yang merangkulnya dan sekarang... perubahan yang jauh berbeda.
Sudah bertahun-tahun Zaid mengenal Natasha sebagai artis angkuh yang sulit ditaklukkan. Kemauannya banyak, persyaratannya juga tidak mudah. Apalagi saat gadis itu pacaran dengan Ajie, pengusaha muda terkenal yang arogan. Tapi Natasha juga artis yang profesional. Walaupun antara Zaid dan Ajie selalu terjadi perang dingin yang tak pernah nampak di permukaan, Natasha bisa bekerja sama dengan keduanya dengan baik selama ini.
Selama bekerja dengan Natty, nama panggilan Natasha yang hanya boleh digunakan orang-orang terdekatnya, Zaid harus ekstra hati-hati memilih tim. Sedikit saja ada masalah, Natty bisa 'ngambek' berhari-hari memundurkan jadwal.
Itu sebabnya ia heran saat Natty menyodorkan nama seorang gadis. Gadis bodoh yang penuh misteri karena banyak dari data pribadinya yang terkesan terlalu biasa untuk bisa memiliki kenalan seorang selebritis internasional seperti Natty.
Tujuan Zaid menerima Ave hanya satu. Untuk Natty. Untuk mempermudah kerja sama di antara mereka. Meski ia harus menahan emosi yang berlipat ganda setiap kali berurusan dengan gadis bermulut pedas ini. Bahkan beberapa kali harus melupakan hal-hal yang ia benci selama ini.
Tapi sekarang, sepertinya Zaid salah mengira. Ave memang gadis dengan kepribadian yang unik, sesuai dengan yang diceritakan Natty tentang dirinya. Ave gadis spontan yang tak berpikir dua kali mengatakan isi hatinya, juga tak peduli pada siapapun.
Jadi Zaid pun tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
"Ve?"
Ave menoleh. "Hmmm. "
"Kamu keliatan beda hari ini. Ada apa sebenarnya?" tanya Zaid serius.
"Bapak beneran pengen tahu?" tanya Ave balik.
Zaid mengangguk sambil membelokkan kemudi. Gedung tempat studio yang mereka tuju sudah ada di depan mata. Ave tak langsung menjawab sampai mobil mulai memasuki tempat parkir.
"Itu karena... " Ave berhenti sejenak, sebelum menoleh pada Zaid yang juga menunggu kalimatnya selesai. "...karena Ave lagi jatuh cinta." lanjut Ave. Kalem sekali.
Kaki Zaid tak sadar menginjak rem sekuat tenaga dan mendadak membelokkan kemudi agar mobil menepi. Untung tak ada kendaraan lain di belakang mereka. Hanya seorang petugas tampak terkejut melihat mobil yang berhenti mendadak. Sama seperti Zaid yang terlihat shock. Sementara Ave menoleh tak mengerti.
Ada yang salah dengan pemberitahuannya?
*****
__ADS_1