
~ Juru masak adalah seorang putri dengan pisau... Atau masalah di tangannya ? ~
Beberapa hari berlalu.
Ave memundurkan kursinya, mendengarkan obrolan antara Jenny dan Hazmi yang mengobrol di dekat ruang pantry.
"Gue nyari di mana, Mi?" tanya Jenny setengah mengeluh.
"Lo gak punya kenalan yang pinter masak gitu?" tanya Hazmi.
Terdengar suara helaan napas Jenny. "Gue juga heran, sejak kapan Pak Zaid sampe harus nyari Chef segala? Ih, nyebelin banget sih! Dikira nyari juru masak itu gampang apa? Apalagi cuma buat masakin satu orang aja. Haduuuh! Gue harus gimana dong, Mi?""
Sudut bibir Ave terangkat. Otaknya berputar cepat. Ini kesempatan bagus. Satu lagi peluang usaha untuk menambah pulus. Okeee! Masak memasak, serahkan pada Ave!
Ave berdiri, mengambil gelas yang sebenarnya masih ada seperempat. Sebelum mendekati dua orang itu, ia meminum kopinya sampai habis. Biar ada alasan. Pura-pura mau bikin kopi lagi.
"Eeeh, Mbak Jenny! Mas Hazmi! Idiih, pacaran ya?" goda Ave sambil lewat.
Bibir Jenny langsung manyun. "Pacaran apaan sih, Ve? Lagi pusing juga."
"Pusing?" tanya Ave dengan mata bulat. "Ave bisa bantu? Apaan sih, Mbak?"
Hazmi tertawa. "Nyari juru masak, Ve. Buat Pak Zaid!"
"Beneran, Mbak?" tanya Ave memastikan pada Jenny.
Jenny mengangguk. "Iya, Ve. Pak Zaid minta dicariin juru masak khusus buat di rumahnya. Kriterianya susah. Banyak banget. Saya pusing."
Seringai tipis muncul di wajah Ave. "Emang kriterianya apa aja, Mbak? Siapa tau Ave bisa bantu?"
Jenny mulai menyebutkan satu persatu. Harus bersertifikat atau memiliki kemampuan yang sudah mendapat rekomendasi, mampu memasak aneka jenis masakan Barat dan Asia, bersedia tinggal di rumah Zaid dan mampu mengurus katering khusus saat ada acara.
Siip, itu sih bidang Ave banget. Sertifikat apa sih yang belum dimiliki Ave?
Ave benar-benar tertarik. Sangat tertarik. Terutama ketika Jenny menjelaskan apa saja yang akan didapat juru masak spesial itu. Gaji yang melebihi gaji Ave, dan tempat tinggal gratis. Ada paviliun kecil dalam area rumah Zaid yang bisa digunakan si juru masak jika diterima.
__ADS_1
Kalkulator di kepala Ave mulai berhitung. Selain bisa mengurangi biaya kost, ia juga bisa menghemat biaya makanan. Tak hanya itu, ia bisa menambah pundi-pundi tabungannya dengan cepat. Dua pekerjaan, dua penghasilan! Ia hanya perlu meminta seseorang menyamar menjadi dirinya saat harus diwawancara.
Maka Ave langsung berucap, "Ave ada, Mbak! Ave punya rekomendasi!"
"Benarkah? Beneran ini? Serius?" Jenny berdiri tegak. Matanya berbinar senang.
Ave mengangguk. "Iya, tapi Ave tanyain dulu ya, Mbak!"
"Oh iya iya... Tanyain ya Ve! Please! Make sure he will accept it ya! Please!" pinta Jenny setengah memohon. Tubuh hati Ave membeku.
[A/N: Tolong! Pastikan dia nerima ya, tolong!]
He? Cowok? Lowongan sebagai juru masak itu harus diisi seorang cowok?
"Oh harus cowok, Mbak?" tanya Ave bingung.
Bahu Jenny merosot. "Cewek ya, Ve? Pak Zaid gak mau cewek. Maunya cowok. Katanya urusan sama kamu udah bikin kepalanya pening tiap hari. Dia udah wanti-wanti gak mau."
Issssh, tuh orang. Dasar Salju! Gunung es gak berhati! Diskriminatif banget sih. Gitu taunya marah kalo orientasi sexnya dianggap gak jelas.
Tapi ini Ave. Tidak ada kesempatan yang boleh dilepaskan begitu saja. Pokoknya ambil dulu, urusan lain belakangan.
Hazmi tertawa kecil. "Hebat kamu, Ve! Serba bisa. Ya udah ya, atur aja sama Jenny. Saya ke dalam dulu. Takut dicari Pak Zaid." Usai berkata, Hazmi meletakkan mug ke atas meja pantry begitu saja, memberi kode pada Ave untuk mencucikannya dan dijawab dengan anggukan santai Ave sebelum ia bergerak menuju ruangannya.
Jenny menatap Ave. "Jadi ada ya, Ve? Beneran?" tanya Jenny memastikan.
"Entar gimana proses wawancaranya?" selidik Ave. Ini penting. Siapapun nanti yang mewakili dirinya tak boleh melakukan kesalahan. Si Snowy itu terlalu pandai untuk dibodohi tanpa rencana.
"Biasa aja sih, Ve. Cukup bawain aja beberapa sampel makanan buat Pak Zaid, nanti beliau cobain dan selesai. Entar kalo enak dan sesuai, ya udah langsung kerja."
"Kira-kira juru masak-nya harus interaksi gak sama Pak Zaid, Mbak?"
"Interaksi? Sama Pak Zaid? Kamu kayak gak kenal si Boss aja," jawab Jenny sambil mengangkat bahu. "Ya udah pasti enggaklah. Malah jangan sampe keliatan. Pak Zaid berentiin juru masak-nya yang terakhir itu karena si juru masak suka bawelin dia pas lagi makan."
Mulut Ave membentuk O. "Pak Zaid makan selalu sendirian, Mbak?" tanyanya.
__ADS_1
Jenny kembali mengangkat bahu. "Gak tahu. Mungkin. Selama saya kerja di sini aja, beliau cuma makan bareng sama klien. Mana pernah sama kita-kita ini. Mungkin di rumahpun begitu."
Ave mengangguk. Berarti beres. Tak ada masalah. Ia bisa memasak saat Snowy itu sedang lembur atau bangun lebih pagi menyiapkan bahan.
"Kalau gitu nanti saya minta lamarannya ya, Ve," kata Jenny. Bersiap kembali ke ruang kerjanya.
"Siap, Mbak!" Dengan riang, Ave menerima mug kotor dari Jenny juga meraih mug bekas Hazmi tadi lalu mencuci semuanya termasuk mug miliknya yang tak jadi diisinya.
Setelah selesai, ia bergerak menuju teras gedung untuk menelpon. Seseorang harus menyamar menjadi juru masak dan ia memerlukan seorang cowok. Natasha jelas tidak bisa diharapkan. Jadi...
"Halo?"
Ave tersenyum senang mendengar suara laki-laki yang menjawabnya. "Bang! Bang Elang! Ini Ave, Ave mau ngomong."
"Halo, Ave. Ada apa, Dik?" tanya Elang lembut.
Andaikan Mas Ajie dan Papa, atau si Snowy itu selembut Elang, tentu semua masalah Ave akan terselesaikan dengan baik. Tak ada yang lebih menyenangkan mendengar kata-kata lembut dari pangeran tampan bernama Elang.
"Bang, Ave bisa minta tolong ga?" tanya Ave setengah merayu.
"Tentu aja. Minta tolong apa, Dik?" Elang tersenyum mendengar suara manja Ave. Junior yang sudah seperti adiknya sendiri itu memang selalu seperti itu tiap kali ada maunya.
"Jadi juru masak untuk Ave bisa gak, Bang?" tanya Ave pelan.
"Hah? Juru masak? Saya jadi juru masak, Ve? Gak salah?"
Elang ingin tertawa. Bagaimana bisa Ave memintanya memasak? Selama ini ia hanya tahu urusan mesin dan robot saja. Saat sama-sama bekerja di restoran dulu, pekerjaannya hanya mencuci piring dan menjadi pelayan. Bukan juru masak seperti Ave. Justru dia sayang pada Ave karena adik kecil yang satu ini pandai memasak. Selama di Sydney, Ave selalu memberinya hasil masakan yang enak-enak. Sekarang... malah disuruh menyamar jadi juru masak?
Maka meluncurlah penjelasan dari bibir Ave. Tentang keinginannya untuk mendapatkan dua penghasilan, dan tawaran menjadi juru masak ini sungguh tak bisa dilewatkan. Ia tak bisa mengatakan kalau itu dirinya, karena ia bekerja pada boss yang sama. Ave hanya perlu bantuan Elang untuk menyamar sebagai pelamar di depan bossnya, tapi selebihnya tetap ia yang mengurusnya. Makanan yang harus dimasak tetap menjadi tanggung jawab Ave.
Elang manggut-manggut mengerti dan akhirnya ia mengiyakan. Sebelum itu, Ave memintanya mengirimkan berkas lamaran agar bisa diubah Ave sebelum diserahkan pada Jenny.
Untuk urusan segampang ini, tentu saja Elang sanggup. Ia takkan meminta apapun selama itu untuk membantu Avelia. Tapi ketika Avelia berkata, "Nanti kalo keterima, Ave bantuin urusan Abang dengan Mbak Natty deh." Semangat Elang langsung naik.
"Beneran, Ve? Oke oke oke, baik! Saya kirim sekarang aja yak! Nanti kapanpun waktunya, info ke saya ya. Saya pasti bantuin!" seru Elang bersemangat. Sudah beberapa hari ini ia berusaha menemui Natty, tapi gadis itu terlalu sibuk dengan jadwal kerjanya. Elang perlu alasan yang tak bisa ditolak Natty, dan itu artinya Avelia.
__ADS_1
Teleponpun berakhir. Avelia tersenyum puas. Selesai! Semua sudah diatur. Sekarang tinggal menentukan menu yang bisa membuat lidah si Snowy itu takkan bisa menolaknya. Dan Ave yakin itu sangat mudah.
*****