Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 22 - Between Two Knights


__ADS_3

~ Tak ada keinginan menjadi ksatria, sampai berhadapan dengan ksatria lain... atau talenan kayu? ~


Wajah pemuda itu sebenarnya biasa-biasa saja. Kulitnya cenderung coklat, hanya memang cukup bersih. Baik dari bulu-bulu tak diinginkan maupun bekas-bekas jerawat. Lekuk wajahnya juga tampan dan sepintas ia mirip model iklan jika dipoles sedikit. Tingginya juga lebih dari 175 cm dan tubuhnya jelas terlatih dengan baik. Bahu lebar dan tegap itulah buktinya.


Andai pemuda ini melamar jadi model, Zaid pasti langsung mempertimbangkannya. Jika ia mampu mengikuti arahan, ia bisa dengan mudah tampil dalam salah satu produk iklan The Crown.


Dari awal, Zaid sudah mencurigai itu. Tapi kalau bukan karena Jenny yang meyakinkan, ia pasti takkan mau menerimanya sebagai juru masak di rumahnya. Sekarang terbukti sudah dugaannya, setelah mendengar pengakuan Elang.


"Benar, Pak. Saya hanya menyamar sebagai juru masak. Yang menyiapkan dan memasak semuanya Ave," akunya dengan tegas. Tanpa malu-malu sebelum mengakhiri. "Maafkan saya!"


"Kenapa?" tanya Zaid dingin.


"Karena Ave memerlukan bantuan saya. Ia ingin bekerja sebagai juru masak Bapak, tapi karena sudah menjadi staf di kantor Bapak, jelas itu tidak mungkin. Dia minta ke saya, makanya saya bantu," jawab Elang jujur. Ia tahu, percuma membohongi pria tanpa ekspresi ini.


Zaid teringat sesuatu. "Apa Anda juga yang mengantar makanan ke kantor dan ke studio hari itu?"


Elang mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Apa Anda juga yang menemuinya di apartemen? Pria berhelm?"


Kening Elang berkerut. Susah payah ia mengingat dan akhirnya... ia kembali mengangguk. Dalam hati Elang mulai membaca maksud pertanyaan Zaid. Pria ini tertarik pada Avelia. Meski ia tak mengakui.


Zaid menatap tajam. "Kalian pacaran?" tanyanya tanpa ragu. Ia tak ingin lagi galau karena pertanyaan ini telah berhari-hari mengendap di hatinya.


Tawa kecil muncul sejenak di bibir Elang. Kepalanya menggeleng. "Bukan, Pak. Jelas bukan. Sampai kapanpun, kami tetap... bersahabat. Ya seperti itulah. Tapi lebih dari itu, buat saya Ave itu sudah seperti adik."


"Adik? Hingga Anda mau membantunya berbohong?" tanya Zaid makin dingin.


Wajah Elang berubah serius. Ia tahu, Zaid sedang marah dan saat ini jawabannya mempertaruhkan kedua pekerjaan Avelia.


"Saya mohon maaf secara pribadi dan juga atas nama Avelia. Tapi begini, Pak... Ave sedang membutuhkan banyak uang. Banyak sekali. Itu sebabnya dia... dia bekerja keras. Andai saya bisa meminjamkannya, mungkin kami tak perlu membohongi Bapak. Saya mohon pengertian Bapak untuk tidak memecat Ave. Ini bukan kesalahannya saja. Dia hanya terpaksa."


Mata Zaid mengerjap. Berusaha mencerna penjelasan Elang. Uang? Sekali lagi masalah uang. Ave yang selalu berhitung ketat untuk semuanya. Ave yang selalu mencari kesempatan untuk menghasilkan uang. Orang di hadapannya mungkin tahu alasan sebenarnya.


"Berapa hutangnya? Pada siapa?" tanya Zaid lagi-lagi langsung pada intinya.


Elang melongok. Maksudnya?  Sebersit jawaban muncul di otaknya. Ah. Zaid mengira Ave berhutang rupanya. Ia meletakkan kedua tangannya ke atas meja.


"Maaf, Pak. Mungkin sebaiknya Bapak minta penjelasan pada Ave langsung. Tapi begini... kalau Bapak berniat untuk membayarkan uang yang dibutuhkan Ave. Percayalah itu percuma. Saya kuatir, dia malah akan menghindar dan pergi. Ave bukan tipe yang suka meminta dengan percuma. Dia selalu ingin berusaha sendiri. Makanya saya mau membantu seperti ini. Itu bukan karena saya gak bisa bantu dia dapetin uang segitu, tapi karena dia memang inginnya saya bantu seperti ini saja."


Zaid terdiam. Hanya menatap Elang. Menunggu penjelasan lebih banyak.


"Lagipula, Ave sangat suka memasak. Itu bukan pekerjaan untuknya. Tapi hobi. Masakannya juga sudah Bapak tahu sendiri. Luar biasa kan? Tak ada ruginya Bapak membiarkan dia tetap melakukannya. Saya jamin itu," kata Elang dengan senyum lebar.


Zaid berdehem. "Itu benar-benar dia yang memasak?"


Elang mengangguk. "Ya, dan jujur saya juga senang bisa ikut berperan. Tiap hari saya bisa makan enak. Ha ha ha... " tawa Elang hanya sekilas sebelum menghilang saat melihat raut wajah Zaid.


Wajah itu masih seperti sebelumnya, bahkan makin dingin. Mata Zaid malah lebih kelam setelah mendengar kalimat terakhir Elang. Hati Elang mencelos tidak enak.

__ADS_1


"Jangan informasikan apapun soal pembicaraan kita hari ini. Biar saya dan Ave yang akan selesaikan," kata Zaid datar.


"Tapi, Pak... Dia tidak akan dipecat kan? Setidaknya bisa biarkan dia tetap bekerja 10 bulan lagi?" tanya Elang penuh harap.


Kening Zaid berkerut. Tapi kemudian ia menjawab masih dengan nada datar. "Tidak, dia tidak akan dipecat."


Elang memegang dadanya. "Alhamdulillah, makasih Pak Zaid. Hufffh!" Berurusan dengan pria dingin yang tak banyak bicara seperti Zaid benar-benar tak mudah. Elang kini mengerti mengapa Avelia sangat berhati-hati. Sungguh ia tak ingin merusak rencana Avelia ketika rencananya sendiri bergantung pada gadis itu.


Mereka berpisah setelah Elang melirik jam di tangannya dan meminta izin untuk bersiap bekerja. Zaid tampak sedikit kaget mendengar profesi asli Elang. Seorang satpam apartemen. Mendadak seluruh kepercayaan dirinya kembali lagi. Bibirnya terangkat sedikit saat menyaksikan Elang keluar meninggalkan cafe. Sementara Zaid memilih kembali ke kantor. Ia sedang tak ada pekerjaan, tapi saat ini ia tidak ingin pulang dan membuat Ave terkejut.


Zaid memutuskan pulang malam. Sesuai dengan jadwal yang telah ia atur sebelumnya dengan Elang. Kembali ke rumah lagi. Satpam cluster sempat bingung melihatnya bolak balik. Tapi ia tak mengatakan apa-apa.


Rumah sudah hening seperti biasa. Tak ada suara apapun seperti beberapa jam yang lalu. Tak ada lagi aroma menyengat tapi enak. Juga suara nyanyian setengah berteriak dengan nada tak jelas. Tidak ada semua itu. Yang ada hanya ketenangan.


Dari jendela dapur, terlihat paviliun kecil terpisah dari rumah yang diperuntukkan bagi juru masak itu. Sebenarnya ada dua kamar. Yang satu untuk pembantu rumah tangga. Tapi Zaid memilih menggunakan perusahaan Cleaning Service yang datang setiap 2 hari sekali. Zaid tidak suka terlalu banyak orang di rumah.


Lampu di paviliun kecil itu menyala. Seseorang sedang berada di dalamnya. Zaid tahu itu Avelia. Gadis itu pasti tertarik karena bisa tinggal gratis dan mengerjakan pekerjaan yang ia sukai. Biarlah. Selama bisa membantunya. Zaid akan mengikuti permainannya.


Zaid meletakkan tas di atas kursi dan membuka tudung nasi berwarna pink di atas meja makan. Aroma harum menyerbu hidungnya. Menggugah seleranya. Ayam geprek, sayur bayam, sambal, tumis terong dan satu lagi... Zaid membuka pembungkus dari daun pisang itu, memperhatikan seksama. Oh ini pepes tahu.


Tangan Zaid meraih sendok dan mulai mencicipinya satu persatu. Gadis itu... benar-benar pandai memasak. Untuk perempuan yang mulutnya lebih pedas daripada sambal, ia ternyata punya kelebihan juga.


Santai Zaid menuju kulkas, ingin mengambil minuman dingin. Tapi ia malah terhenyak di depan kulkas yang terbuka.


Ada berderet-deret kotak bening memenuhi bagian kulkas yang biasanya kosong melompong. Isinya bahan dan bumbu makanan yang sudah siap masak. Sebagian bahan berupa sayur bahkan sudah dipotong. Ketika tangan Zaid membuka freezer, jejeran kotak yang sama juga terlihat. Bedanya yang ini berupa lauk.


Belum hilang kekaguman Zaid, saat ia menutup bagian atas kulkas. Ada lembaran rencana menu dalam seminggu. Ternyata gadis itu juga bisa mengatur rencana memasaknya jauh lebih baik dari mengatur jadwal kerjanya di kantor. Mungkin Ave memang tidak cocok bekerja di kantor. Ia jauh lebih baik bekerja di dapur.


Tapi gadis itu sedang membutuhkan bantuannya. Zaid ingin membantunya. Hanya ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Bekerja di dua tempat seperti ini apa tidak membuat gadis itu lelah?


Setelah mengambil sebotol minuman mineral, Zaid memilih mencuci tangan dan langsung makan. Ia terlalu sayang membiarkan makanan yang masih hangat itu menjadi dingin. Ia juga sayang menyia-nyiakan makanan yang tersaji rapi itu. Tanpa sadar, Zaid sudah menghabiskan semuanya.


Masakan yang disajikan Ave sebenarnya masakan rumahan biasa. Tapi Zaid jadi terkenang almarhumah Nenek dan Mama. Makanan yang dulu disajikan Nenek atau Mama untuknya ya makanan seperti ini. Makanan biasa, tapi bergizi dengan rasa yang akrab di lidahnya. Masakan yang mengingatkannya pada masa-masa kecil yang menyenangkan. Masa-masa ketika ia merasa rumah Nenek sebagai rumah yang sebenarnya. Rumah yang kemudian menjadi warisan Mama.


Usai makan, Zaid memutuskan naik ke kamarnya. Mandi dan berganti pakaian. Saat ia turun lagi, semua piring kotor yang tadi masih berserakan di atas meja makan dan ditinggalkan begitu saja oleh Zaid sudah tidak ada. Semua sudah tergeletak di rak pengering. Dalam keadaan bersih. Lampu ruang makan dan dapur juga sudah dimatikan.


Sepertinya Ave sudah merencanakan semuanya dengan baik. Ia bahkan nyaris tak terlihat. Zaid menghembuskan napas. Mengangguk mengerti. Lalu ia kembali naik setelah membuat secangkir kopi, langsung ke ruang kerjanya.


Beberapa jam berlalu, tapi Zaid mulai mengantuk. Pekerjaan yang harus diperiksanya juga sudah selesai. Gelasnya sudah kosong. Jadi sambil memeriksa semua pintu, Zaid berniat turun ke dapur dan seperti biasa mengambil sebotol air mineral untuk stok nanti malam di kamar.


Karena sudah hafal seluk beluk rumahnya sendiri, Zaid tak merasa perlu menyalakan lampu. Ia memilih langsung ke kulkas untuk mengambil sebotol air mineral. Ia baru saja hendak membuka kulkas, ketika...


Buggh!!


"Aduuuh!" teriak Zaid. Sesuatu yang melayang menghantam kepalanya. Cukup keras dan benda itu masih melayang lagi. Zaid menunduk menghindar, sambil mundur. Berusaha menyeimbangkan tubuhnya dengan kepala yang terasa berputar, sambil melihat siapa yang barusan memukulnya, sambil menghindari benda yang masih diarahkan padanya.


*"Ih! Ih! *Kena lo! Kena!" teriak orang yang memukulnya... terus mendesak maju dengan benda berbentuk kotak melayang-layang itu.


"Hei! HEI! Ini SAYA!" teriak Zaid sekeras mungkin. Tetap sambil melangkah mundur, tapi akhirnya ia jatuh terjengkang.

__ADS_1


Saat Zaid merasa dirinya sudah tak lagi bisa menghindar. Lampu dapur menyala secara mendadak. Seorang gadis berdiri dengan tangan masih menempel di saklar, menatapnya kaget dengan mulut terbuka lebar. Ada talenan kayu besar di tangannya, masih dalam posisi siap dipukulkan pada siapapun yang mendekat.


Zaid menghela napas. Pantas saja kepalanya pusing. Talenan sebesar itu...


"Pak Zaid?" tanya Ave tampak takut-takut mendekat.


Zaid menundukkan kepalanya yang pening dan sakit. Sial gadis ini! Tangan Zaid bisa merasakan ada daging menonjol di ujung dahinya sekarang. Ia kuatir kalau berdiri mendadak, mungkin bisa terjatuh.


"Bapak masih ingat saya siapa?" tanya Ave lagi. Kali ini ia berjongkok di dekat Zaid dengan tangan bertumpu pada talenan kayu itu. Zaid meliriknya. Lalu menatap talenan itu, sekali lagi ia mengelus benjolan yang muncul itu lagi.


"Hilang ingatan kan, Pak? Bapak gak inget saya siapa, kan?" tanya Ave memastikan. Wajahnya makin dekat. Ketika Zaid mengangkat kepalanya, gadis itu menatapnya lekat. "Bener kan Bapak gak ingat? Alhamdulillah!" ucapnya sambil mengurut dada berulangkali.


Zaid menyipitkan matanya. "Kamu pikir talenan segede gitu bisa bikin orang amnesia,* hah*? Itu bisa bikin kepala saya pecah! Kepala saya sakit!"


Ave melipat bibirnya, menahan tawa. Berusaha keras tetap diam saja.


"Kamu ngapain sih? Tau-tau main pukul aja. Kamu lupa ini rumahnya siapa?" omel Zaid sambil berdiri. Untunglah, ia masih bisa berdiri dengan baik. Ave mundur menuju kulkas.


Sambil berjalan menuju kursi makan, Zaid masih memegangi dahinya yang sakit. Ia bersandar di kursi, sampai beberapa detik kemudian ada benda dingin ditempelkan di dahinya. Zaid membuka matanya dan terlihat Ave sedang memperhatikan wajahnya sambil memutar-mutarkan sebutir telur dingin di dahinya yang mulai berubah warna.


"Maaf ya, Pak Boss ganteng. Ave gak sengaja. Ave benar-benar gak ingat."


"Kamu ngapain sih malam-malam di dapur gelap-gelap?"


"Bapak sendiri ngapain ke dapur gelap-gelap?"


"Ini rumah saya, suka-suka saya. Saya biasa ngambil minum jam segini," sergah Zaid kesal.


Bibir Ave melengkung sedih. "Iya, maaf. Berarti Ave salah. Ave yang harusnya gak muncul di dapur. Tapi Ave mau nyiapin bahan buat sarapan besok. Takut gak sempat...* Ups!*" Tangan Ave menutup mulutnya.


Tampaknya Ave baru ingat. Tak seharusnya Zaid tahu soal keberadaannya. Tak seharusnya Zaid tahu kalau dialah juru masaknya sekarang. Tapi...


"Udahlah... Saya udah tahu. Nyiapinnya besok saja. Sudah malam. Sekarang tidurlah! Saya juga mau tidur!" Zaid berdiri dan bergerak pelan menuju tangga. Dahinya jauh lebih baik. Tidak sesakit tadi.


Saat Zaid di kamar mandi untuk memeriksa dahinya di cermin, seseorang terdengar mengetuk pintu. Zaid yang sengaja tidak menutup pintu kamar mandi pun berteriak mengizinkan. Ia tahu itu pasti Ave.


Gadis itu masuk, membawa nampan berisi handuk kecil dan baskom kecil. Ada juga sebotol air mineral dengan gelasnya. Tanpa berkata apa-apa, Ave meletakkannya di samping tempat tidur Zaid dan meninggalkannya begitu saja. Zaid berdiri di depan kamar mandi, memperhatikannya sampai ia keluar lagi.


Setelah itu, Zaid mengambil handuk kecil dan memasukkannya ke dalam air panas dalam baskom. Ia berbaring dan menempelkan handuk hangat itu di dahinya. Uh, nyaman sekal**i! Sakitnya cukup berkurang.


Tapi alih-alih marah, bibir Zaid malah membentuk senyuman. Makin lama makin geli. Senyumnya berubah jadi tawa kecil. Gadis itu benar-benar menggelikan.


Esok paginya, ketika Zaid sudah selesai sarapan pagi dan tengah menikmati kopi pagi sambil membaca berita di tabletnya, Ave bertanya, "Pak, lihat talenan kayu yang semalam gak?"


Tanpa menoleh pada Ave, sambil mengangkat gelas kopinya dan menyeruputnya, Zaid menjawab singkat dengan sangat tenang. "Saya buang!"


Ave menatapnya dengan mulut berdesis...* Issssh! Jahatnya!*


*****

__ADS_1


__ADS_2