Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 56 - Tease Me, Don't Lie!


__ADS_3

~ Boleh bercanda, asal jangan bohong ~


Jantung Zaid berdetak keras. Ia tak tahu kalau leluconnya membuat Ave sakit. Gadis itu tadi terlihat baik-baik saja, tapi kenapa sekarang ia pingsan?


Dengan tangan sedikit gemetar, Zaid memeriksa wajah Ave. Walaupun berkeringat, wajah Ave tak terlalu pucat. Suhu tubuhnya juga tidak panas atau tidak dingin.


*Tapi apa yang terjadi? *


Tak ingin menduga-duga, satu tangan Zaid menahan punggung dan yang lainnya berada di bawah kedua kaki Ave. Ia harus membawa Ave ke dokter.


Baru sekitar lima kali melangkah mendekati pintu keluar, Zaid merasakan tubuh Ave mulai bergetar, bahunya bergoyang-goyang sebelum mata jernih milik gadis itu terbuka lebar menatapnya dan seringai tawa memenuhi wajah cantiknya.


Ave membohonginya!!


Ave terkekeh-kekeh dalam gendongan Zaid. Saat pria itu berniat menurunkannya, kedua tangan Ave sudah melingkari lehernya.


"Emang enak dikerjain? Ha ha ha!"


Bibir Zaid mengerucut. "Kamu ini... Tau gak aku panik beneran! Bocah banget sih!"


"Biarin! Habis enak aja nyuruh-nyuruh orang kerja, situnya malah main hape aja," sergah Ave tak mau kalah.


Zaid melepas tangan yang menahan kedua kaki Ave, membuat gadis mungil itu seperti bergantung pada Zaid.


"Lepasin gak?"


"Enggak!"


"Yakin? Yakin gak mau lepasin?" tanya Zaid dengan mata menyipit. Sebuah ide melintas di kepalanya, dan ketika Ave terus menggelengkan kepalanya, kedua tangan Zaid pun mulai menggelitiki pinggang Ave. Gadis itu tertawa terbahak-bahak dan kedua tangannya yang bergantung di leher Zaid pun lepas.


Zaid ingin membalas Ave. Ia memasang wajah dingin dan berpura-pura marah pada Ave. Ia berjalan ke dapur, mau mengambil segelas air putih. Walaupun hanya bercanda, jantung Zaid masih berdebar tak beraturan akibat kaget. Ia harus menenangkan diri dulu.


Namun, Zaid mendengar ada suara benda jatuh di belakangnya. Sekali lagi Ave terjatuh pingsan. Saat Zaid berbalik, gadis itu sudah terbaring di lantai. Kali ini Zaid tak ingin dibodohi lagi.


"Udah ya, Ve. Gak mempan! Bangun! Aku tau kamu cuma bohong aja," kata Zaid santai. Tapi ia tetap mendekati tubuh Ave.


Ave tetap tidak bergerak.


Zaid pun berjongkok di dekatnya, disentuhnya pipi gadis itu sambil menggoyangkannya sedikit. "Ave sayaang... keliatan banget dramanya. Udah, ayo bangun!"


Tapi Ave tetap tidak bergerak. Seluruh tubuhnya seperti membeku. Untuk sesaat Zaid diam, memperhatikan baik-baik sambil berharap ada gerakan sedikit saja. Namun tubuh Ave tetap diam. Sekali lagi, jantung Zaid berdebar keras.


"Ve? Ve? Bangun, Ve! Ve, ini beneran? Ve?" panggil Zaid berulangkali sambil mengangkat tubuh bagian atas Ave.  Memeluk sambil memeriksa wajah gadis itu. "Ve? Ayolah... jangan bercanda lagi! Ve! Avelia!"

__ADS_1


Melihat tak ada reaksi bahkan setelah suaranya meninggi, Zaid mulai panik. Kembali ia mengangkat tubuh Ave, bersiap untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi...


Sama seperti tadi, sekali lagi tubuh dalam gendongannya bergetar dan tak lama kemudian tawa Ave yang renyah terdengar memenuhi ruangan. Sekali lagi Ave berhasil mengerjainya.


"Ha ha ha ha... terjatuh dalam lubang yang sama sampe dua kali. Ha ha ha ha!"


Tak ada senyum apalagi tawa di wajah Zaid. Tak seperti tadi, mimik wajahnya yang berubah dingin terlihat menakutkan. Tanpa mengatakan apapun, Zaid menurunkan Ave dan menarik tangan Ave lepas dari lehernya, sebelum ia melangkah keluar menuju taman belakang. Ave tahu, kali ini Zaid benar-benar marah.


Zaid keluar rumah dan duduk di kursi tidur dekat kolam renang. Tidak bersandar. Hanya duduk tegak menatap ke arah rimbun tanaman aneka warna di tamah sebelah kolam renang. Dadanya naik turun karena emosi.


Hati Ave tak enak. Niatnya murni ingin bercanda saja. Tapi melihat Zaid benar-benar marah seperti itu, Ave mulai merasa bersalah. Ia mulai merasa keterlaluan. Pelan-pelan ia melangkah mendekati kekasihnya.


"Mas Zaiiid, maaf ya! Ave tahu Ave salah bercandanya keterlaluan. Maafin dong!" pinta Ave sambil berdiri di depan Zaid.


Tapi Zaid memperlakukannya seolah-olah ia tak ada. Pria itu tak bergeming. Malah ia mengeluarkan ponselnya, sibuk memeriksa notifikasi.


"Mas Zaid sayaaang, jangan begini dong! Kan jadi gak ganteng lagi. Maaf ya, Mas."


Zaid masih diam seribu bahasa.


Karena tak mendapat respon, Ave duduk juga di kursi tidur sebelah Zaid. Ia memilih ikut diam, sambil mencari cara untuk bisa membuat Zaid memaafkannya. Saat itulah, matanya melihat ada sesuatu berbulu hitam putih bergerak di tepi kolam renang. Ave melihatnya lebih dekat, ah ternyata seekor kucing kecil!


"Waaah ada kucing!" pekik Ave sambil mendekati kucing liar itu. Sambil mengelus kepalanya, Ave bergumam, "kamu lapar ya? Mmm... tunggu ya! Ave ambilin makanan!"


Ave berlari masuk menuju dapur mencari makanan untuk kucing. Diam-diam Zaid memperhatikan tingkah Ave. Gadis itu hanya sebentar berada di dapur sebelum melesat keluar lagi sambil membawa sebuah piring berisi potongan ikan goreng. Ave berjongkok di depan kucing mungil itu.


Zaid merapatkan bibirnya dengan kesal. Sayangnya, gadis itu seakan tak mempedulikan kehadiran Zaid lagi.


"Kamu sendirian ya. Kasian banget. Makanya kalo punya pacar jangan disuruh-suruh kerja. Pacar itu disayang, dicintai, dikasih apapun maunya... "


"Meong!" Seakan memahami kata-kata Ave, si kucing mulai merespon.


"Kalo gak kayak kamu gini deh. Hidup sendirian. Gak enak kan? Gak enak kan?" Kali ini Ave melirik ke arah Zaid. Tapi Zaid tak bergeming. Ia malah melengos.


"Meong!"


Ave tak lagi berjongkok. Ia sudah duduk bersila di atas rumput. Kucing mungil itu menatap Ave yang kemudian mengelus-elus kepalanya. Sesekali si kucing kembali ke piringnya untuk makan lagi.


Ave menoleh ke arah Zaid. "Mas, Ave boleh pelihara kucing ini gak?"


Zaid tak menjawab. Ia hanya mendengus.


Tapi Ave hanya mengangkat bahu. "Ya udah kalo masih ngambek." Ave kembali memandangi si kucing. "Siapa yang sebenarnya bocah ya, Kucing? Eh... Ave harus ngasih nama deh buat kamu. Mmm... apa ya bagusnya? Oh iya! Zabe aja! Hai Zabe! Zabe... "

__ADS_1


"Meong!"


"Ha ha ha! Kamu suka ya? Ya iyalah suka. Bagus kan? Tau gak artinya itu apa?" Lalu Ave melirik Zaid lagi masih dengan ekor matanya. "... artinya Zaid ****. Hua ha ha ha!"


Ave tertawa terbahak-bahak sampai tak melihat kalau Zaid sudah berdiri di belakangnya. Sebelum gadis itu sempat bereaksi, Zaid sudah mengangkat tubuhnya, membawa gadis itu masuk ke dalam rumah.


"Kamu boleh pelihara kucing itu, tapi besok aku mau pelihara monyet!"


Walaupun kaget dengan cara Zaid yang tiba-tiba, Ave hanya tertawa sambil kembali mengalungkan kedua tangannya ke leher Zaid. "Oh ya? Terus mau dikasih nama apa?"


"A.P.A," eja Zaid. Senyum tertahan terlihat di wajahnya.


"APA? Kok namanya Apa sih? Emang itu artinya apa?" tanya Ave manis. Ia senang Zaid tak lagi marah padanya.


Zaid menatap Ave penuh kemenangan. "Avelia P.A*!" jawabnya sambil terkekeh-kekeh, sementara gadis dalam gendongannya langsung memasang wajah cemberut.


Seharian itu, Ave pun mengalah. Mereka menghabiskan waktu bersantai di rumah. Mereka memilih bersandar di sofa ruang keluarga. Menonton televisi, lalu mengganti dengan film komedi sebelum akhirnya bermain games. Sesekali Avelia dan Zaid bergantian mengambil makanan atau minuman di dapur, hingga meja depan sofa dipenuhi berbagai minuman ringan, bungkus-bungkus snack dan toples-toples yang berisi aneka kue. Kucing kecil yang baru ditemukan Avelia tertidur nyaman kekenyangan di atas karpet dekat sofa.


Dulu, jika rumah berantakan seperti ini, Zaid akan segera memanggil petugas kebersihan secepat mungkin. Sekarang, itu bukan lagi masalah baginya.


Aroma campuran aneka makanan dan minuman di depan mereka menggelitik hidung Zaid. Tapi ia tak merasa keberatan. Zaid malah menyukainya. Aroma ini akan selalu mengingatkan saat-saat terindahnya bersama Ave. Seperti sekarang.


"Ve... " bisik Zaid ketika mereka sudah kelelahan. Perut juga sudah kekenyangan.


Televisi di depan mereka tak lagi menyala. Suasana kembali tenang nyaris tanpa suara. Matahari sore mengintip di jendela yang tertutup sebagian dengan gorden. Ave duduk bersandar di sofa, sementara Zaid berbaring di atas pahanya dengan mata tertutup. Tangan mereka saling menggenggam.


"Next, kamu boleh bercanda, tapi please jangan seperti tadi lagi! Jangan bohongi aku dengan cara itu lagi," kata Zaid. Pelan tapi tegas. Matanya juga masih tertutup.


"Kenapa, Mas? Ave kan cuma main-main."


"Tapi aku benar-benar panik. Menakutkan melihat kamu pingsan begitu."


Hening. Tak ada suara. Kesunyian itu membuat Zaid membuka matanya. Ave sedang menatapnya. Tampak rasa bersalah terlihat di sorot matanya.


"Maaf ya Mas. Ave janji gak akan begitu lagi," kata Ave sungguh-sungguh.


Zaid tersenyum, lalu ia mengangguk sambil menunjuk bibirnya. Meminta ciuman.


Mata Ave menyipit saat ia tertawa kecil dan gadis itupun menunduk, sesuatu hangat dan lembut beraroma softdrink singgah di atas bibir Zaid.


Maafkan Ave, Mas, dan terima kasih selalu memikirkan Ave.


*****

__ADS_1


Editor Note:


*PA: Pendek Akal


__ADS_2