Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 66 - Whatever It Is


__ADS_3

Author Note:


***Untuk next three eps\, mungkin agak sedikit membingungkan karena ada loncat waktu. Tapi nanti akan ada penjelasan di eps selanjutnya. Maaf ya. Semoga tidak membingungkan. Jangan lupa like dan komen setelah baca. (Iin Ajid) ***


~ Selalu ada alasan di balik sebuah pengkhianatan ~


Saat Zaid melangkah ke lobi gedung Golden Eagle, ia berhenti sejenak sebelum mendekati Danu yang telah berdiri menunggunya.


"Halo, Pak Zaid Zabir!" sapa Danu dengan nada resmi.


Zaid menyambut tangan Danu. Menyalaminya. "Panggil saja Zaid, Pak!"


"Kalau begitu panggil saya Danu saja," balas Danu.


Sesaat keduanya saling menilai satu sama lain, menyunggingkan senyum tipis. Kesimpulan Danu, pantas saja Zaid dan Ajie tak cocok, mereka memang berbeda. Walaupun dingin, Zaid bersikap lebih ramah dan jauh lebih menghargai orang.


Sementara Zaid sedikit heran pada orang yang dipilih Ajie sebagai asisten kepercayaannya. Danu, pria yang berbeda karakter dengan Ajie. Sangat berlawanan. Terutama saat melihat senyum lebar dan mata Danu yang seakan sedang tertawa.


Lalu Danu memberi tanda agar Zaid mengikutinya. Dengan langkah mantap, Zaid pun berjalan bersama Danu menuju lift khusus. Saat pintu terbuka, dan mereka hendak masuk. Seseorang yang ada di dalam lift terperanjat.


"Loh, Mas Zaid? Ngapain ke sini?" tanya Lily bingung. Pertanyaan itu menghentikan langkah Danu dan Zaid.


Zaid tersenyum hangat. "Mau bertemu Mas Ajie, Mbak Lily. Apa kabar?" sapanya ramah.


"Really? Alhamdulillah, saya sehat banget. Waah bagus. Semoga sukses ya! Oh iya, makasih ya hadiah buat Ali waktu itu." Lily mencondongkan diri sedikit ke arah Zaid. "Hmm... pasti soal ... ha ha... Ya udah. Entar kalo ketemu Mas Ajie, dia ngomong sepahit apapun jangan diambil hati. Tenaaang! Mas Ajie itu cuma keras di permukaan, hatinya mah Hello Kitty. Hi hi hi... "


"Ibu Lily... kalo situ dekat-dekat gitu, kita belom nyampe ke atas juga udah duluan ditelikung Ajie!" kata Danu memperingatkan.


Lily berpaling sambil menyipitkan matanya. "Eh hello, Mr. Spy Man! Kalo Mas diem-diem aja, ya dia gak taulah. Heran... Mas Danu dikasih makan apa sih sama Mas Ajie, setia banget sama bos."


"Oh, helllo ibu bosss... Boss itu suami ibu loh!"

__ADS_1


"Jeesss... susah ngomong sama ekornya Mas Ajie. Huh!" Lily memeletkan lidahnya sebelum berpaling dan tersenyum manis pada Zaid. "Lily pamit ya Mas Zaid. Mudah-mudahan urusannya sukses supaya lancar ya... " katanya sambil menatap penuh arti. Melemparkan makna 'pasti-ini-tentang-Ave' pada Zaid.


Dengan tulus, Zaid mengangguk sebelum mereka berpisah dan masuk ke lift bersama Danu.


"Bu Lily memang jarang bicara serius, tapi apa yang dikatakannya itu memang benar. Saya berharap Mas Zaid memahaminya," kata Danu.


"Saya mengerti, Mas," ucap Zaid singkat.


Danu tidak mengantar Zaid masuk ke ruang kerja Ajie. Ia hanya mengetuk pintu, begitu terdengar perintah dari dalam ia membukanya dan mempersilakan Zaid masuk.


Saat masuk, Ajie tengah duduk di kursi depan meja kerjanya. Pria itu memandang ke arah Zaid yang berjalan mendekati meja itu dengan langkah tenang.


"Siapa yang menyangka kalau akhirnya kamu berdiri di sini," ujar Ajie seraya menyeringai.


Zaid hanya diam. Tetap tenang. Berdiri seperti ini, membantunya tetap fokus pada tujuannya.


"Well, jadi apa yang mau kamu jelaskan?" tanya Ajie sambil menyandarkan punggung ke kursinya dengan gaya bicara formal. Sangat berbeda dengan kemarin. Ia tak menawarkan tempat duduk pada Zaid. Baginya, lebih cepat selesai bicara dengan pria ini, maka lebih baik.


"Minta maaf?" ulang Ajie setengah berdesis. Ada senyum mengejek terlihat di wajahnya. "Setelah selama ini? Setelah bertahun-tahun? Setelah kamu menginginkan seseorang dari keluargaku?" Masih menekankan nada formal pada setiap kalimatnya.


Zaid menggeleng. "Dari dulu gue mencoba, Jie. Jangan lupa kalau lu sendiri yang selalu menghindar. Lu pindah sekolah mendadak. Lu gak mau dateng saat reuni. Lu gak mau bertemu teman-teman lama kita. Lu bahkan mencegah Natasha mempertemukan kita dan mengancamnya untuk tidak lagi berurusan dengan gue."


Ajie memiringkan kepalanya. "Benarkah? Usahamu untuk minta maaf hanya segitu? Baiklah... memang salahku." Terdengar nada sarkas saat ia mengucapkan kalimat terakhir.


"Bukan begitu, Jie... Kehidupan gue juga gak semudah bayangan lu. Gue... harus berjuang, gue harus bekerja dan saat itu banyak masalah... jadi gue... "


"Lalu ke mana teman-teman yang kamu banggakan itu? Apa mereka membantu?" Sekali lagi Ajie melemparkan sindiran.


Zaid terdiam. Teman-temannya memang hanya sebanyak jari di tangannya. Yang membantunya lebih sedikit lagi. Tidak banyak tapi Zaid masih bersyukur memiliki mereka. Hanya saja, mereka juga punya kesulitan sendiri. Teman-teman baiknya itu juga melakukan kesalahan yang sama dengannya pada Ajie. Jika ia mengatakan nama mereka, Zaid kuatir Ajie akan marah.


Melihat raut wajah Zaid yang mendadak kelam, Ajie tertawa mengejek.

__ADS_1


"Apa teman-teman yang membantumu itu Ricky? Atau Natasha? Hazmi?" tanya Ajie. Zaid tak bisa menyembunyikan keheranannya. Matanya memandang tajam pada Ajie.


Ajie terkekeh. Jemarinya mengetuk meja beberapa kali sebelum berkata,"Apa kamu pikir aku tak tahu kalau kamu dan Natasha masih sangat akrab? Bahkan mungkin hubungan persahabatan kalian jauh lebih baik daripada aku dan dia. Apa kalian semua kira aku masih Ajie yang bodoh dan gampang dibohongi seperti dulu? Kalian salah besar kalau begitu."


Zaid tak ingin tahu apa yang akan dikatakan Ajie selanjutnya. Bukan cerita baru baginya mengetahui sisi kejam Ajie yang dulu terkenal bertangan dingin melibas pengusaha curang dan orang-orang yang menghalanginya. Baru setelah menikah, Zaid melihat perubahan besar dari pria di hadapannya ini. Walaupun tak pernah berhubungan lagi, Zaid mengikuti semua perkembangan Ajie melalui Natasha dan saluran berita. Bagaimanapun, Zaid belajar banyak darinya. Pria itu jauh lebih tangguh dan lebih kejam dalam dunia bisnis dibandingkan dirinya. Itu sebabnya ia selalu menghindari konflik dengan Ajie selama ini.


"Kenapa? Masih mengira aku tidak tahu kalau kamu dan Natasha sangat dekat? Sampai Natasha berani membawa adikku ke perusahaanmu?"


Zaid menghela napas. "Gue harap lu gak menyalahkan Natasha. Dia benar-benar hanya berniat membantu adik lu, Jie. Gue yang salah. Gue yang jatuh cinta dengan adik lu."


"Benarkah? Seyakin itu kamu sama Natasha?" tanya Ajie dengan kening terangkat sebelah.


"Waktu Avelia melamar pekerjaan, lowongan yang dia mau sama sekali tidak ada hubungannya dengan gue. Seharusnya dia hanya jadi asisten Jenny. Natasha juga tidak tahu kalau dari hari pertama gue dan Ave sudah bertemu."


Tatapan Ajie berubah semakin dingin. "Lalu bagaimana bisa kalian bertemu? Bisa begitu dekat hanya dalam beberapa bulan? Bahkan sampai lu berani melamar dia."


"Bagaimana kalau gue bilang itu karena takdir, Jie?" Ada nada tak berdaya saat Zaid mengucapkannya. Ia tahu akan sulit meyakinkan pria yang membencinya hingga ke tulang sumsum seperti Ajie ini.


Ajie menyeringai. Jelas bukan pertanda yang baik, karena itu membuat Ajie berdiri dari kursinya. "Kamu sudah tahu kalau dia salah satu pewaris GE kan? Kamu pikir sesetia apa Jaya padamu sebagai teman? Bagaimanapun Jaya adalah sepupu istriku, dia sudah cerita kalau kamu sudah tahu cukup lama kalau Ave adalah adikku."


Zaid menghela napas dan tersenyum masam. "Kenapa lu gak sekalian tanya sama Natasha juga, Jie? Kapan dia tahu gue dan Ave saling jatuh cinta?" Tak tahu lagi apa yang harus ia ucapkan, Zaid kembali menatap Ajie. "Apa nilai Ave hanya bisa dihitung dengan materi, Jie? Adik lu jauh lebih berharga dari itu. Gue jatuh cinta pada pribadi Ave, bukan dengan harta atau keluarganya. Terserah lu percaya atau tidak."


Ajie terdiam. Ia menatap ke arah Zaid. Tak menyia-nyiakan waktu, Zaid kembali berkata, "Gue tahu lu benci gue, Jie. Gue juga udah mencoba menjauhi adik lu saat gue tahu dia adik kandung lu. Gue sadar diri. Tapi gue gak bisa, Jie. Lu... bagaimana kalau lu diminta menjauhi Lily? Lu bisa?"


"Kamu menyamakan dirimu dengan aku dan Lily?"


"Bukan begitu, Jie. Gue sedang berusaha memberitahu lu yang sebenarnya. Gue benar-benar gak bisa berhenti mencintai Ave. Atau... " Zaid berhenti sebentar sebelum meyakinkan dirinya sendiri dan kembali berkata, "Lu bisa melakukan apapun yang lu mau ke gue, asal gue bisa bersama Ave. Terserah. Lu mau pukul gue juga boleh."


"Apapun itu?"


Bulu-bulu halus di belakang leher dan punggung Zaid berdiri tanpa ia sadari saat mendengar ucapan perlahan tapi penuh arti dari mulut Ajie. Mata pria yang pernah menjadi sahabatnya itu tampak gelap.

__ADS_1


Zaid tahu ia sudah tak bisa mundur lagi.


__ADS_2