Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 14 - The Real Princess


__ADS_3

~ Tak perlu menjadi siapapun, karena setiap perempuan adalah seorang putri ~


Sepanjang perjalanan Ave diam saja. Sepertinya Zaid juga menginginkan hal itu karena ia juga membisu. Perjalanan yang hampir satu jam itu hanya diisi dengan suasana sunyi senyap disertai deru mobil dan mesin pendingin.


Sepanjang hidup Ave tak pernah menghadapi orang sedingin Zaid, yang tahan mendiamkan seseorang walaupun duduk bersebelahan. Bahkan Ajie yang terkenal dengan sifat keras dan protektifnya, tak pernah memperlakukan Ave seperti ini.


Kalau saja tidak demi Cafe, kalau saja Papa mau membantu Ave...


Ave berusaha menahan airmatanya. Ia tidak boleh kalah. Ia juga tidak boleh memperlihatkan kelemahannya. Dulu Ave bisa menghadapi kematian Mama sendiri, maka ia yakin menghadapi Zaid tak ada seujung kukunya. Ia pasti bisa. Zaid hanyalah seseorang yang akan memberinya kesempatan untuk memulai hidupnya sendiri. Setelah setahun, semua akan berlalu.


"Kamu mau diantar sampai mana? Sampai ke dalam?" Suara berat di sebelah Ave menghentikan lamunan gadis itu.


Ave tergagap dan buru-buru melihat keluar. Mobil sudah berhenti di lobby apartemen. Buru-buru, ia melepaskan tali pengaman dan berpamitan.


"Makasih banyak, Pak. Ave duluan!"


"Tunggu!" cegah Zaid.


Ave memutar tubuhnya lagi. Menunggu. Tapi Zaid hanya menatapnya. Tanpa ekspresi. Itu membuat Ave pun bertanya, "Kenapa, Pak?"


"Siapkan proposal yang saya minta itu segera!"


Untuk sesaat pikiran Ave kosong melompong tak mengira kalau Zaid akan mengingatkan hal itu, sebelum akhirnya ia  mengangguk. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Ave bergegas keluar mobil. Ia sempat mengangguk sekali, sebelum berjalan cepat untuk masuk.


Tapi di depan pintu otomatis, seseorang berhelm merangkul Ave tiba-tiba. Spontan Ave mengelak. Pria yang memakai helm itu pun membuka bagian depan helm, dan melemparkan senyum pada Ave. Melihat wajah yang dikenalnya, senyum Ave segera merekah.


"Idiih, Mas Elang! Kirain siapa? Ave sampe kaget," pekik Ave.


Elang tertawa. "Sorry! Sorry! Buru-buru soalnya, lupa lepasin helm. Ada Yayang Natty tuh di dalam. Yuk! Entar saya diomelin dia kalo kelamaan di sini."


Senyum Ave berganti jadi tawa lebar. "Ya ampun, udah yayang aja sekarang!"


Elang tertawa sambil merangkul Ave, mengajaknya masuk menemui kekasih barunya. Baru beberapa hari, tapi tak ada yang tahu. Sebagai artis, Natasha sangat berhati-hati soal kehidupan pribadinya. Tapi tak ada rahasia antara dirinya dan Ave. Elang bisa membohongi semua orang, kecuali Ave. Gadis cantik bermata besar yang pintar ini.


Sementara di dalam mobil yang masih berdiam di depan apartemen, Zaid menatap tajam pada sosok pria yang merangkul Ave dengan hangat. Tadi saat melihat seseorang menyergap Ave dari belakang, Zaid hampir melompat keluar dari mobilnya. Namun, saat melihat tawa lebar Ave beberapa detik kemudian, ia tahu itu tak perlu. Pria yang memakai helm itu pasti seseorang yang sangat dekat dengannya. Ia sampai merangkulnya seperti itu.


Apa itu kakaknya yang lain? Atau itu kekasihnya?


Sambil menstarter mobilnya, Zaid mulai berpikir. Dalam CVnya, Ave menyebut dirinya sebagai anak kedua. Ia punya seorang kakak. Hanya saja Zaid tak tahu, kakak perempuan atau lelaki. Yang jelas, Zaid merasa Ave terlalu banyak menyimpan rahasia. Ia harus menyelidikinya.


Di dalam lobby apartemen, sambil berjalan menuju cafe, Elang melepas helmnya dan menatap Ave, "Tadi diantar Mas Ajie, Ve? Mas Ajie beli mobil baru?"


Ave menoleh. Buru-buru menggeleng. "Oh, enggak! Itu bossnya Ave."


"Benarkah? Bossmu? Luar biasa adik satu ini, udah mau niru kakak iparnya aja," goda Elang.


"Apaan sih, Mas! Boss Ave temannya Kak Lily. Kami tadi habis nganter Kak Lily periksa kandungan," kata Ave menjelaskan.

__ADS_1


Raut wajah Elang berubah serius. "Eh iya, apa kabar dengan Mbak Lily? Sehat? Anaknya cowok apa cewek?"


Tawa Ave terdengar. "Ya gak taulah, Mas. Kan belum lahir. Tapi Mbak sama bayinya sehat-sehat."


Saat itu Natty sudah melambai pada mereka. Gadis berambut panjang hingga sebahu itu masih mengenakan kacamata hitam. Celana jeans dengan blus maron itu tampak pas di tubuh model langsing itu. Ave mempercepat langkahnya.


"Hallo, Avelia! Apa kabar?"


"Halo, Mbak! Alhamdulillah I'm ok, Mbak gimana?" balas Ave.


Natty hanya mengangkat bahu sebelum memberi isyarat agar Ave duduk. Tepat saat itu, Elang yang juga menyusul Ave, memilih duduk di sisi Natty. Tak seperti sebelumnya, kali ini Natty hanya menoleh dan tersenyum pada Elang. Santai Elang menjulurkan tangan ke belakang Natty dan memberinya pelukan samping serta ciuman kecil di dahi.


"Note ya Bapak ibu. Adegan 17 tahun ke atas jangan dipamerin di sini!" kata Ave dengan wajah ditekuk.


Elang memandang sekeliling mereka. "Siapa yang 17 tahun? Cafe kosong begini!"


"Hello, ini yang di depan kalian berdua siapa ya?"


"Monyet pelarian dari bonbin Ragunan?" tebak Elang mengejek. Ia terbahak sendiri.


"Apaaa?" pekik Ave sembari mengangkat tangan, membuat Elang menyembunyikan wajah di balik punggung kekasihnya. Tapi setelah itu Ave malah tertawa-tawa.


"Sudah ih, Lang! Lo depan Ave jadi kayak anak kecil sih!" Tangan Natty menepuk pelan lengan Elang.


"Lah, My Nunna! Baru ini sempat ngobrol lagi sama teman satu penjara dulu. Wajar kalo ketemuannya begini!"


"Eh biarin, kolong jembatan tapi di luar negeri loh!"


"Ya ampun, Ve... " Wajah Natty berubah serius. "Lo yakin itu jembatannya Sydney? Apa bukan replikanya? Kolong jembatan Sunter!" ujarnya tak mau kalah, ikut bercanda dengan keduanya. Mereka bertiga pun sama-sama tertawa.


Tak lama seorang pelayan datang dan mereka mulai memesan. Sambil menunggu makanan datang, mereka mengobrol.


"Lo kenapa, Ve? Murung banget," tanya Natty setelah memperhatikan Ave yang lebih sering mendengarkan.


Ave menghela napas panjang. "Boss Ave yang baru ini beda dari yang lain, Mbak. Ave gak tau gimana harus ngadepinnya?"


"Boss yang tadi nganterin kamu, Ve?" tanya Elang.


Natty berpaling menatap Elang. "Diantar Bossnya? Barusan ini tadi?" tanyanya tampak tak percaya.


Elang dan Ave sama-sama mengangguk.


"Tadinya cuma nganterin Kak Lily, Mbak. Terus sekalian anter Ave. Gitu aja kok!" kata Ave buru-buru menjelaskan.


Sesaat Natty terdiam, sebelum sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya. "Zaid nganter Lily dan lo? Hmm..."


"Iya, tapi habis itu nganter Ave pake diperenguti sepanjang jalan," seru Ave dengan kesal.

__ADS_1


Natty memajukan tubuhnya. "Coba ceritakan sebenarnya ada apa di antara kalian sampai lo sekesal ini?"


Lalu Ave mulai menceritakan awal pertemuan mereka yang tak sengaja, interview konyol yang dilakukan Zaid, dan serangkaian perselisihan mereka yang sempat berujung dengan keputusan Zaid untuk memintanya mengundurkan diri, hanya karena melihatnya bersama Ajie.


Elang ikut tertawa sesekali sebelum ikut berkomentar, "Lo emang sebodoh itu, sampe gak ngerti maksud Boss lo waktu diinterview, Ve?"


"Ya habis gimana? Kata Mbak Natty, Ave gak boleh nunjukin aslinya Ave. Ya Ave pura-pura bodoh deh, kan Ave hanya pake ijazah SMA aja."


"Tapi gak sebodoh itu juga kali, Ve!" sahut Natty. Senyumnya terus muncul membayangkan reaksi Zaid yang pasti merasa aneh melihat calon karyawan seantik Ave.


Hanya Ave yang makin murung. "Terus Ave harus bagaimana, Mbak, Mas?" tanyanya setengah putus asa.


Elang menoleh pada Natty. "Yang, kamu yang kenal Zaid kan? Ajari adik saya ini ya, Sayangku!"


"Mas, jangan manggil gitu di sini! Entar... " Mata Natty mendelik sambil memberi isyarat pada sekeliling mereka. Gadis itu tak ingin hubungannya dengan Elang terekspose. Elang kadang-kadang melupakan hal ini. Elang hanya mengangguk sedikit.


Ave tersenyum melihat keduanya. Ada sedikit perasaan iri melihat semua orang di sekelilingnya memiliki kekasih. Bahkan cinta pertamanya jelas-jelas duduk di depannya bersama kekasihnya. Walaupun getir, Ave menyembunyikan perasaannya dalam-dalam. Ia tak lagi mencintai Elang, tapi tetap saja terasa pahit.


"Ve, lo itu cantik, pintar dan pemberani. Jangan sembunyikan itu! Jadilah diri lo sendiri. Tak perlu kuatir kalo nanti Zaid curiga sama lo. Biarkan saja! Jawab saja, this is me. Original you," nasihat Natty lembut.


Ave mengangguk perlahan.


"Dulu waktu gue ikut kontes kecantikan, seorang instruktur kepribadian bilang semua perempuan adalah seorang putri. Mereka menjadi cantik bukan karena wajah atau penampilan aja, tapi juga kepribadian, karakter dan kemampuan. Every woman is a princess," lanjut Natty.


"Jadi Ave gak perlu sembunyikan apapun, Mbak?" tanya Ave berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Ya Ve, be yourself. Lakukan saja jika lo mampu melakukannya! Kalo perlu lo tunjukkan ke Zaid, dia bakal rugi kalo mecat lo. Soal perselingkuhan itu, kan udah clear juga. Lo gak perlu takut. Katakan apa yang pengen lo katakan. Lakukan apa yang menurut lo baik untuk dilakukan," sambung Natty sambil menatap sayang pada Ave.


Setelah mengenal Ave dan mendengar cerita Elang tentang apa yang dilalui Ave saat masih di Sydney, Natty tahu gadis mungil yang terlihat rapuh ini sebenarnya cukup tegar menghadapi masalah. Natty sempat menyesal tidak mencarikan perusahaan yang jauh lebih baik untuknya, tapi ia tak ingin Ave murung atau sedih.


"Kalo Ave dipecat beneran gimana, Mbak?" tanya Ave. Nadanya lebih mirip mengeluh.


Kali ini Elang yang mulai bicara. "Pake senjata rahasiamu itu, Ve. Masa lupa?"


Kening Ave berkerut, juga Natty yang menoleh pada kekasihnya dengan tanda tanya. "Yang mana?"


"Rayuan, Ve! Kamu itu jagonya merayu kan? Udah lupa? Udah lupa dulu kamu ngerayu saya minta dianterin di depan teman-teman saya waktu rapat di kampus?"


Senyum Elang sumringah di wajahnya mengingat kenangan itu. Saat itu, di tengah rapat untuk acara buka puasa para mahasiswa Indonesia di Sydney, Avelia berteriak keras memanggilnya "Mas Elang super ganteng dan super baik, please anterin gadis cantik ini pulang dong!"


Wajah Ave memerah saat teringat peristiwa itu, tapi ia mengangguk-angguk membenarkan. Natty juga mengangguk setuju.


"Kalaupun nanti Zaid sampe hati memecatmu, kita akan tetap bantuin kamu cari kerjaan baru kok, Ve. Jangan kuatir!"


Sekali lagi Ave mengangguk penuh rasa terima kasih. Ia tahu, meski Ajie dan Lily tak bisa membantunya, ada kakak-kakak lain yang mengulurkan tangan untuknya. Ave tahu ia tak sendirian dan ia pasti bisa menghadapi Zaid.


Lagipula Ave adalah seorang putri!

__ADS_1


*****


__ADS_2