
~ Kado terbaik bukanlah hadiah barang, tapi Zaid (Avelia) ~
Mobil yang dikemudikan Zaid melaju sedang di keramaian kota Jakarta. Sesekali Ave menatap ke sebelahnya, ke arah supir tampan yang tampak fokus menyetir.
"Akhirnya ingat juga hari ini hari apa ya," sindir Ave dengan senyum penuh arti.
Zaid menoleh sedikit. "Ulang tahunmu maksudnya? Loh tadi pagi aku udah ngucapin kan?"
Bibir Ave merengut. "Cuma itu? Kadonya mana? Mbak Jenny aja ngasih Ave hadiah... Katanya Mas pacar Ave, masak gak nyiapin hadiah buat Ave."
"Apa aku sebagai kadomu gak cukup, Ve?" goda Zaid.
"Hmmm... Ya udah, kalo tahun ini Mas ngasih kadonya diri Mas, entar Mas ultah Ave kasih diri Ave aja deh," sahut Ave ringan.
Mendengar itu, tawa Zaid pun pecah."Ha ha ha, bener yaaa? Berarti pas ulang tahun aku, kita nikah ya?"
"Iiih, tuh kan menjebak lagi!!"
"Lah tadi yang berencana mau ngasih dirinya sebagai kado, siapa?" kata Zaid sambil tertawa terbahak-bahak membuat Ave semakin merengut.
Tapi Ave tak bisa menyembunyikan pipinya yang memerah karena jengah. Ketika ia menatap keluar jendela, senyum mengembang menggantikan cemberutnya. Saat melirik, Zaid juga melihat senyum itu. Ia tahu Ave hanya berpura-pura kesal.
"Apakah Anda tidak tertarik untuk menjadi istri dari cowok ganteng, pinter, baik hati dan manis ini, Bu Ave?" goda Zaid lagi.
Ave tak mau kalah. "Apakah Anda tidak bosan menawarkan diri terus pada cewek cantik, lucu, dan imut-imut ini, Bapak Zaid?" balasnya.
Zaid kembali terbahak. "Imut-imut dari Hongkong!"
"Baik hati dari Jerman!"
"Kok Jerman sih, Ve?" tanya Zaid bingung. Pilihan Ave kadang-kadang di luar dugaan.
"Suka-suka Ave dong!" sergah Ave cepat. Tapi kemudian ia melihat keluar jendela mobil dan baru sadar kalau Zaid membawanya pulang. "Loh kita beneran pulang, Mas?"
__ADS_1
Zaid mengangguk.
"Gak ke restoran atau cafe dulu? Atau ke mal gitu?" tanya Ave masih tak mau menyerah.
Tawa kecil Zaid tersungging lagi. "Bukannya tadi kamu baru selesai makan siang. Ini masih sore loh!"
"Iiish... Dasar gunung es! Snowy Devil! Gak ngerti perasaan wanita!" celutuk Ave kesal. Bibirnya cemberut.
Zaid tak marah. Ia justru makin bersemangat menggoda Ave. "Tapi Ave tetap suka sama aku kan?"
"Itu karena Ave bod*h!" kata Ave ketus. Hilang sudah semua keinginannya merayu Zaid.
Mobil berhenti tepat di depan rumah. Begitu berhenti, Ave turun dengan wajah menahan kesal campur kecewa.
"Tunggu, Ve!"
"Apaaa... lagi?" desis Ave dengan senyum terpaksa yang jelas-jelas terlihat seperti orang menahan amarah.
"Gak perlu! Ave bisa jalan sendiri. Ave bukan anak bayi! Cuma beberapa langkah ini."
"Kalau begitu pegang tanganku, supaya aku yang gak jatuh."
Ave tak bisa menjawab dan hanya bisa diam menunggu dengan cemberut, sampai Zaid menggandengnya. Walaupun hatinya masih kesal, Ave tak lagi berkeras hati. Percuma dilawan, hari ini dia sudah cukup jengkel menghadapi pria berhati batu ini.
Rumah Zaid menggunakan sistem otomatis di beberapa bagian. Lampu setelah pintu masuk dan lorong menuju ruang tamu adalah lampu yang akan menyala secara otomatis ketika mendeteksi adanya gerakan. Sementara lampu-lampu di teras dan outdoor lain akan menyala ketika suasana gelap.
Ave sudah terbiasa dengan semua kecanggihan teknologi. Ia cukup lama tinggal di negeri Kangguru. Golden Eagle, grup perusahaan keluarganya, juga termasuk salah satu perusahaan yang menjadi pionir dari sistem teknologi seperti itu.
Rumah Ave bahkan jauh lebih canggih dalam penerapan teknologi. Makanya ia tak canggungmenghadapi semua itu sejak awal.
Hanya saja, hari ini sangat berbeda.
Begitu pintu terbuka dan lampu menyala secara otomatis, mata Ave disambut oleh hamparan kelopak bunga di lantai, balon dan hiasan aneka pita. Tak sadar, mulutnya ternganga heran. Setiap kali ia melangkah, lampu-lampu di sisi kiri dan kanannya juga menyala. Balon-balon melayang memenuhi langit-langit rumah dengan pita menjuntai di sepanjang selasar menuju ruang tamu makin jelas terlihat.
__ADS_1
Bahkan di ruang tamu, balon-balon melayang makin banyak dan ada lembaran foto tergantung di pita yang mengikat pada setiap balon. Kepala Ave menoleh ke kiri dan kanan bergantian, malah sesekali ia sampai berputar hanya untuk memperhatikan semuanya dengan lebih jelas.
"Waaah!" decaknya tanpa sadar. Cemberut di wajahnya lenyap. Ia tak menyangka rumah yang tadi pagi terlihat biasa saja berubah menjadi seperti sebuah tempat di negeri dongeng.
Perhatian Ave berpindah pada foto-foto yang bergantung pada pita di balon-balon yang melayang. Ada seorang gadis terlihat dalam semua foto itu. Ada yang berwarna, ada yang hitam putih. Sebagian close-up, sebagian diambil dari jarak yang cukup jauh. Ekspresi dan hal-hal yang dilakukan gadis dalam foto itu juga sangat beragam. Sedang tertawa, memperhatikan sesuatu dengan seksama, serius ketika tengah memasak, membaca buku, makan sambil menonton televisi, bermain air, ketika bekerja di depan laptop, saat menahan kantuk di ruang meeting, mengobrol dan bercanda dengan beberapa orang di sudut kantor, berdansa dengan Zaid... bahkan ketika tertidur dengan mulut terbuka. Gadis dalam foto itu adalah dirinya.
"Ini??" Ave menoleh ke sampingnya sambil menunjuk foto ketika ia sedang tertidur, menatap sebal pada Zaid.
Sang fotografer pelaku hanya tertawa kecil. Tanpa berkata apa-apa, ia menunjuk sesuatu. Ave mengikuti telunjuk Zaid dan melihat sebuah kertas kecil digulung dalam pita. Ia pun melepaskan kertas itu. Kertas itu tertulis sesuatu.
- 'Siapapun dirimu\, aku mencintaimu apa adanya\, Ve' -
Mata Ave terasa lembab. Sebaris kalimat manis itu membuatnya menoleh dengan tatapan sayang pada Zaid. Tapi Zaid menunjuk ke kertas itu lagi, meminta Ave membaca tulisan lain di bagian bawah.
- 'PS: Makanya kita nikah yuk, Sayang!' -
Kali ini tawa Ave pun pecah. Tanpa berkata apa-apa, ia memeluk leher Zaid, menghadiahinya ciuman untuk kejutan manis itu. "Thank you," bisiknya kemudian.
"It isn't the end, Sayang! Masih ada... " kata Zaid di telinga Ave. Ia meraih tangan Ave dan mengajaknya ke ruang makan.
Meja makan besar itu sudah tak ada. Seantero ruang makan juga sudah berubah menjadi seperti taman kecil dengan lampu-lampu berkelap-kelip di langit-langitnya. Jendela dipenuhi dengan hiasan bunga dan balon. Lantai juga masih dipenuhi dengan kelopak bunga bertebaran. Di tengah-tengah ruangan, ada satu meja kecil dengan dua kursi. Meja itu dipenuhi dengan perlengkapan makan dan sebuah tempat lilin bercabang tiga. Walaupun lilin belum dinyalakan, dan piring-piring masih kosong, tapi semua itu sudah cukup membuat Ave hanya bisa mengeluarkan desah tertahan.
Ave menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. Sekali lagi melemparkan tatapan penuh terima kasih pada Zaid. "Oooh, so sweet. Thank you, thank you so much, Mas!"
Zaid tertawa. "Karena kamu baru selesai makan, dan makan malam kita juga harus dipanaskan dulu. Kita akan makan nanti... tapi sebelum itu... "
Trrrt! Trrrt! Trrrt!
Ponsel Zaid berbunyi tepat ketika ia hendak menurunkan satu lututnya dan mengambil sesuatu dari kantong celananya. Mendengar suara itu, Zaid urung melakukannya dan malah mengambil ponsel.
Layar ponsel menunjukkan foto Natasha. Ave juga melihatnya. Zaid menghela napas lalu memutuskan sambungan dan mematikan telpon.
*****
__ADS_1