Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 53 - Waiting In Fear


__ADS_3

~ Di dalam penantian yang menakutkan, ada keajaiban sedang terjadi ~


Suara isakan akhirnya tak lagi terdengar, membuat Zaid bisa sedikit bernapas lega. Dadanya masih terasa berat, seperti ada batu yang menghimpitnya. Tapi kini terasa lebih ringan setelah ia tak mendengar isakan Ave lagi.


Zaid masih bisa mendengar semuanya. Tapi ia tak bisa membuka mata, jika ia memaksa pandangannya mengabur dan kepalanya terasa sakit.


Sementara ia kuatir Ave akan makin sedih jika gadis itu melihat ia kesakitan. Zaid ingin menjaga gadis itu agar tak bersedih, ingin melindunginya dari semua hal yang membuat Ave merasa tak bahagia walaupun Zaid tahu kondisinya benar-benar tidak memungkinkan untuk itu saat ini.


Zaid berpikir untuk menutup matanya sebentar saja, menikmati aroma manis dan dingin yang masuk melalui respirator untuk mengurangi rasa pusing dan sakit di sekujur tubuhnya sampai ia bisa bicara lagi dengan Ave.


Perlahan peristiwa tadi terulang dalam ingatan Zaid.


Sejak kapan ia sebodoh itu, Zaid juga tak mengerti. Ia tak pernah memikirkan orang lain sepenting ini sebelumnya, hingga tak peduli pada tubuhnya sendiri.


"... Jadi tadi masih bisa jalan?"


Terdengar suara seseorang yang asing. Mungkin petugas kesehatan yang bersama mereka dalam ambulan. Seseorang yang duduk mendampingi Ave dan memasangkan peralatan di tubuh Zaid tadi. Zaid ingin menjawab, tapi ia bisa mendengar Ave mengiyakan. Gadis pintar. Paling tadi Ave tahu harus melakukan apa.


"Untunglah, berarti tidak patah," gumam orang itu lagi. Tidak keras, tapi Zaid bisa mendengarnya dengan sangat baik.


Untunglah?


Yang benar saja! Bagaimana orang ini bisa menggunakan kata 'untunglah' untuk menggambarkan keadaannya? Zaid bahkan tak bisa mengangkat kakinya yang terus berdenyut sakit terutama kaki kirinya.


"Tapi darahnya banyak banget, hiks... " Kali ini suara Ave yang terdengar dengan isakan yang masih tersisa.


Katakan sesuatu yang membuatnya tenang!


"Tidak apa, ini luka luar! Secepatnya kita sampai nanti, dokter akan menanganinya. Kami sudah menghentikan pendarahannya."


Baiklah, itu penjelasan yang lebih baik. Itu akan menenangkan kekasih hatinya.


"Tapi boss Ave gak akan mati kan, Pak?"


TIDAK!!!


Zaid ingin sekali bangun dan memberitahu Ave kalau ia tidak apa-apa, tidak akan mati. Saat ini Zaid hanya ingin tidur sebentar, beristirahat sebentar dan mengembalikan kejernihan otaknya yang mulai ia ragukan.


"Insya Allah, beliau tidak apa-apa, Mbak. Tenanglah!" Sang petugas diam sejenak, lalu terdengar lagi ia bertanya, "Ini bossnya Mbak? Bukan suami? Atau pacar?"


Apa maksudnya orang ini bertanya seperti itu?


"Bukan... "


"Oooh, maaf, maaf. Soalnya lihat Mbak pegangan tangan... "


"Saya calon istrinya," lanjut Ave pelan tapi tegas yang membuat Zaid tak bisa menahan senyum saat mendengarnya. Tapi seketika terhenti, ketika ia merasa kesakitan saat menarik napas.


Sang petugas kesehatan terbatuk-batuk. Lalu keheningan kembali memenuhi suasana dalam ambulan sebelum Zaid merasakan kendaraan yang membawanya itu berbelok dan berhenti.

__ADS_1


Zaid mengencangkan genggamannya, saat ia merasakan tempat ia berbaring ditarik keluar. Seperti tak ingin mengganggu pasangan yang seakan tak terpisahkan itu, para petugas kesehatan membiarkannya.


Sesuatu yang menyilaukan dan berganti-ganti membuat Zaid terpaksa membuka matanya. Semua terlihat kabur, menyilaukan dan menyakitkan matanya. Mereka tak lagi berada dalam ambulans, namun di ruang besar. Zaid bisa melihat Ave berdiri di sebelahnya, di antara para perawat yang bekerja di sekitarnya.


Melihat mata Zaid terbuka, Ave menunduk. "Mas... "


"Hazmi... telepon Hazmi!" gumam Zaid susah payah.


Lalu Zaid merasakan sesuatu ditusukkan di tangannya, tidak sakit, tapi membuat kepalanya terasa ringan, sebelum akhirnya semuanya terlihat putih lagi. Hanya kali ini ia tak lagi bisa mendengar atau melihat apapun hingga kemudian genggaman tangannya merenggang perlahan.


Ave menatap Zaid yang tertidur, sebelum ia digiring keluar oleh perawat.


Saat duduk sendirian di depan IGD, Ave menerawang menatap telapak tangannya yang masih bernoda darah. Airmatanya tak pernah berhenti, meski ia bisa mengendalikan isakannya. Kenangan buruknya menjadi kenyataan lagi.


Dulu... dulu sekali, ia pernah seperti ini. Duduk sendirian di depan IGD, berdoa penuh harap agar seseorang datang dan memberitahu kalau Mama akan baik-baik saja.


Sekarang, sejenak Ave tak tahu harus berbuat apa, selain duduk dan menunggu. Ia tak mengenal keluarga Zaid selain Zahra dan Layla. Tadi Zaid memintanya menghubungi Hazmi. Tapi Ave tak tahu bagaimana caranya. Ponsel milik Ave juga tertinggal dalam mobil yang masih terparkir di bandara. Ia bahkan tak ingat nomor telepon Hazmi.


Pintu IGD terbuka, seorang perawat keluar dan mendekati Ave. Ada jaket Zaid di tangannya.


"Keluarga Bapak Zaid Zabir?" tanyanya.


Ave mengangguk.


"Ini jaket pasien, tapi maaf kami terpaksa menggunting kaos dan celana beliau. Ini juga ada ponsel, dompet dan jam tangannya," ujar sang perawat datar sambil memperlihatkan satu persatu.


Teringat dengan perintah Zaid, Ave buru-buru mengusap layar ponsel Zaid. Ia tahu kode pattern ponsel Zaid.


"Gak takut nanti Ave ngintip isi hapenya Mas?" tanya Ave saat itu.


Zaid menatapnya. "Gak, semua yang ada di hati aku itu kamu aja. Apa yang perlu disembunyikan?"


Dua titik air jatuh di atas layar ponsel Zaid. Apalagi ketika Ave melihat foto yang muncul saat ponsel menyala. Itu foto Ave yang sedang tertawa lebar. Sesuatu yang hangat tapi menyakitkan terasa di hati Ave.


Ya Allah, tolonglah Mas Zaid! Tolong selamatkanlah dia!


Belum pernah Ave memohon setulus ini sejak kematian Mama. Belum pernah juga ia merasa ketakutan seperti ini lagi. Ketakutan dan kekuatirannya menumpuk jadi satu hingga membuat dadanya terasa sakit. Makin sakit karena ia bahkan tak bisa berbuat apapun selain menunggu.


Ave memandang ponsel dan segera mengusap airmatanya. Bergegas ia menekan nomor telepon Hazmi.


"Halo? Udah ketemu sama Ave?" tanya Hazmi begitu tersambung.


Ave terdiam sejenak sebelum ia berkata pelan, "Ini Ave, Mas Hazmi."


"Ave?"


"Mas Zaid kecelakaan, sekarang dia lagi... "


"Rumah sakit mana?" potong Hazmi cepat. Dengan segera, Ave memberitahu nama rumah sakit dan alamatnya. Telepon berakhir setelahnya.

__ADS_1


Ave ingin menghubungi sahabat-sahabatnya. Ia ingin memeluk mereka saat ini. Ia butuh seseorang yang bisa mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Tapi yang ia bisa lakukan, masih sama seperti saat dulu sendirian di Sydney, menunggu dan menunggu. Dengan perasaan tak karuan dan ketakutan.


Waktu berlalu begitu cepat, saat Ave mendengar suara kaki-kaki berlari mendekatinya. Saat ia menoleh, ada Hazmi dan Jenny, juga Pak Bambang. Jenny yang paling pertama tiba, berdiri di depan Ave dan memeriksa sekujur tubuh Ave.


"Mbaaak!" panggil Ave pilu sembari merentangkan kedua tangannya. Tangisnya pecah lagi.


Jenny yang tampak kuatir langsung memeluk gadis itu. "It's ok, Ave. It's ok!" bisiknya sambil mengusap-usap punggung Ave.


Sementara Hazmi melihat jaket Zaid yang tergeletak di samping kursi Ave, juga barang-barang pribadinya. Melihat noda darah yang ada di jaket itu, juga di pakaian dan tangan Ave, dalam hati Hazmi berdoa agar keadaan Zaid tak separah perkiraannya.


Beberapa menit kemudian, Ave menjelaskan dengan airmata berlinang.


"... lalu pas masuk Terminal, mobil Ave nabrak pembatas jalan. Sebenarnya gak ada masalah. Cuma penyok dikit. Tapi mesin mobilnya jadi mati, terus Ave dibantuin petugas bandara buat minggirin mobilnya sekalian ke tempat parkir, mau lihat yang penyok, ... "


"Tapi kenapa yang luka justru Zaid, Ve? Kenapa dia tiba-tiba menyeberang? Apa dia lihat pas mobilmu nabrak?" tanya Hazmi tak sabar memotong cerita Ave. Ia harus segera melakukan sesuatu. Wajahnya tampak tegang dan napasnya agak terengah-engah. Cerita Ave tak berurutan dan membingungkan.


Jenny mendongak, melemparkan tatapan 'bisa-diam-tidak' yang membuat Hazmi hanya bisa mengulum bibirnya kembali.


"Lalu?" tanya Jenny lembut. Ia menggenggam tangan Ave yang gemetaran.


"Lalu Ave bilang, Ave ingin menjemput boss Ave. Ave minta tolong ditunjukin arah gatenya, dan para petugasnya itu baik-baik jadi kami... " Ave menunduk menahan tangis karena merasa bersalah. "Kami bercanda, Mbak," lanjut Ave sedih.


Andai ia tak keasyikan bercanda dengan para petugas berwajah ramah itu, mungkin Zaid takkan sampai sepanik itu hingga menyeberang tak melihat mobil lagi. Semua salahnya.


"Jadi itu sebabnya Pak Zaid menyeberang tiba-tiba? Karena dia melihatmu dikelilingi petugas?" tanya Jenny. Masih dengan suara yang lembut dan tenang. Tanpa bertanya pun, Jenny sudah bisa membaca apa yang dipikirkan Zaid saat kejadian itu.


Ave mengangguk. Sebenarnya Ave tak mengerti, kenapa Zaid harus panik? Pria itu bahkan bisa melihatnya berdiri dan berbicara dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun.


Hazmi menghela napas. Ave tak bersalah. Gadis ini bahkan terlalu polos untuk memahami perasaan orang lain. Tapi Hazmi tak mengerti isi kepala Zaid yang makin sulit dibaca. Ke mana perginya manusia paling rasional yang penuh perhitungan dan pertimbangan itu? Apa cinta membutakan mata dan melumpuhkan otaknya?


"Kamu tenang ya, Ve. Insya Allah Pak Zaid gak papa. Kita ke toilet ya, kamu harus bersihkan wajah dan tanganmu dulu. Nanti kalo Pak Zaid sudah sadar dan lihat kamu begini, dia pasti kuatir lagi," bujuk Jenny perlahan.


Patuh, Ave mengikuti Jenny menuju toilet. Segera setelah bayangan keduanya menghilang di ujung lorong, Pak Bambang mendekati Hazmi.


"Saya benar-benar berpikir tadi... rem mobil yang dibawa Ave yang blong atau rusak, dan Pak Zaid menahan dengan tubuhnya, makanya sampai tertabrak. Syukurlah ternyata tak seperti itu," kata Pak Bambang.


Senyum pahit Hazmi muncul di sudut bibirnya. Ia malah berpikir lebih ekstrim dari itu.


"Huffh... Tapi itu benar, Pak! Saya yakin, kalau orang gila di dalam sana itu ditanya apa yang ia lakukan kalo mobil Ave begitu, mungkin dia akan melakukan apa yang Bapak katakan barusan," desis Hazmi dengan sorot mata kesal ke arah ruang IGD.


"Hah? Benarkah?" Pak Bambang termangu.


Jawaban Hazmi membuatnya makin yakin. Zaid, boss yang dianggapnya seperti putranya sendiri itu, telah menemukan separuh jiwanya. Pak Bambang tersenyum tipis. Ia teringat dua sahabatnya yang telah tiada, ibu Zaid yang baik hati dan ayah tirinya yang ramah.


Dulu sekali, ia pernah mendengar keduanya berkeluh tentang Zaid, tentang kemungkinan pemuda itu takkan pernah mau menikah karena perceraian orangtuanya.


Tapi kini Pak Bambang bisa tenang. Tinggal menunggu waktu saja. Keajaiban yang bernama cinta telah menyentuh hati pria muda yang terbaring di dalam sana.


*****

__ADS_1


__ADS_2