
~ Sesuatu yang tak bisa disembunyikan adalah aroma cinta ~
Kesunyian terasa sepanjang jalan karena Ave benar-benar kelelahan. Zaid ingin mengajaknya makan malam, tapi mata gadis itu malah tertutup. Akhirnya ia mengarahkan mobil pulang.
Ave tidak tidur. Gadis itu hanya sedang berpikir. Pikirannya dipenuhi aneka pertanyaan. Ia ingin memahami perasaannya sendiri. Terhadap mimpinya, terhadap keluarganya, dan... terhadap pria yang ada di sebelahnya.
Mengapa sekarang hatinya begitu mudah tersentuh hanya karena melihat Zaid menunggunya berjam-jam di rumah sakit? Kenapa hatinya bergetar dengan mata menahan tangis melihat senyum bahagia yang terlihat di wajah kakaknya yang biasanya sangat jarang emosional? Dan kenapa bayi mungil itu, yang baru hadir beberapa jam, mampu membuat Ave menginginkan bayinya sendiri?
Lalu ke mana cita-cita dan impiannya bergeser dari hatinya? Kenapa ia tak lagi yakin? Kenapa sekarang di otaknya malah teringat kalimat singkat dan dingin Zaid saat mengatakan ingin menikahinya? Bahkan ia bisa mengingat dengan baik pernyataan itu. Mulai ingin mengucapkan jawaban yang berlawanan dari sebelumnya. Ia ingin mengucapkan....
"AAAAAKH!!! TIDAK!" pekik Ave tak sadar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Zaid terlonjak kaget dan nyaris membelokkan kemudi begitu saja. Buru-buru ia mengendalikan diri.
"Astaghfirullah, Ve! Kenapa? Kamu mimpi?" tanya Zaid. Ia tak menghentikan mobil, hanya mengurangi lajunya sambil melirik Ave.
Ave melirik kesal, mulutnya cemberut sebelum menjawab, "IYA! Mimpiin Bapak! Cih!"
Kedut di sudut bibir Zaid terangkat sedikit. Tapi matanya jelas menertawakan Ave. "Ya bagus kan mimpiin saya. Gimana? Mimpinya kita lagi ngapain? Ciuman? Tidur bareng? Mandi... hahaha!"
Tak tahan menggoda Ave, Zaid tertawa.
"Iiih, Bapak jorok! Ave kasih tahu ya... Enggak, sama sekali enggak!" Mulut Ave makin lancip, ia bahkan melipat kedua tangan di depan dadanya. Merajuk.
Tawa Zaid mereda. Ia mengganti raut wajah gelinya dengan senyuman. "Apa mimpi tentang saya seburuk itu sampai kamu kesal begini?"
"Enggak sih... "
"Jadi mimpiin apa?"
"Itu... tentang... bayi," gumam Ave terus terang. Nyaris tanpa pikir panjang.
Tangan Zaid hampir melepas kemudi lagi. Ia menoleh cepat, sebelum teringat kalau sedang menyetir. "Ya ampun Ve, kita menikah aja belum, kamu sudah mimpiin bayi yang mirip saya!"
"BAPAAAK!" pekik Ave kesal lagi. Kali ini Ave sengaja memejamkan matanya lagi. Lebih baik tidur daripada terus menerus digoda boss yang kini makin pandai membalasnya.
Zaid tertawa lagi. Lebih lebar. Lebih lama. Tak lagi peduli gadis di sebelahnya kembali merajuk, dan membuang muka. Ia tahu, ada kemajuan yang telah ia buat untuk meraih hati gadis ini.
Tapi kelelahan ternyata membuat Ave benar-benar tertidur. Zaid memilih untuk membopongnya masuk, Ave sempat menggeliat dan matanya terbuka sedikit.
"Tidur aja!" bisik Zaid pelan sambil melepaskan safety belt.
"Hmmm... " Lalu dengan santainya Ave mengalungkan tangan ke leher Zaid dan melanjutkan tidurnya. Ia dikelilingi pria-pria penyayang dan suka memanjakannya dari kecil dalam keluarga. Perhatian seperti ini hanyalah salah satu bagian dalam kenangan manisnya.
Zaid membawa Ave ke kamarnya. Ia tak membawa Ave ke paviliunnya, karena pasti terkunci dan Zaid tak ingin merogoh tas gadis itu untuk mencari kunci sembarangan. Lebih baik dirinya yang mengalah tidur di sofa atau di ruang kerja. Lagipula, terakhir kali melirik kamar paviliun, Ave berhasil mengubah desain kamar minimalis itu menjadi seni tingkat tinggi dari sebuah kapal pecah.
Setelah membaringkan Ave, Zaid ke kamar mandi. Ia perlu mandi. Mandi air sangat dingin. Bersentuhan dengan Ave benar-benar ujian lahir batin. Zaid harus segera membuat perempuan yang tertidur di tempat tidurnya itu untuk menjadi istrinya. Sangat segera sebelum ia mati kedinginan tiap malam untuk meredam keinginan.
Ketika keluar dari kamar mandi dan berganti kaos serta celana panjang longgar, Zaid terkesima menatap Ave.
Gaya tidur Ave sungguh unik. Ia tidur seperti kura-kura. Kaki dan tangannya mengepak seperti sayap. Selimut yang tadi dipakai Zaid untuk menghangatkan tubuhnya sudah bergulung di kaki dan sebagian tangannya. Bantal di kepala Ave sudah tertekan hingga ke sudut dan kepala gadis itu tak lagi ada di atas bantal.
__ADS_1
Bahkan dalam tidurnya, gadis itu tak bisa diam.
Sambil menahan tawa, Zaid memperbaiki tidur gadis itu. Lalu ia memperbaiki letak selimut dan bantal di kepala Ave. Kali ini ia menyelipkan selimut di bawah tubuh Ave, agar gadis itu tak mudah melepaskan selimutnya lagi. Terakhir, ia menyapu pelan anak rambut yang menutupi wajah Ave sebelum memutuskan untuk duduk sebentar, menikmati wajah damai yang tertidur itu. Tak sadar, Zaid mengelus pipi Ave perlahan.
Bertahun-tahun, Zaid tak pernah membayangkan jika suatu ketika setelah lebih dari 30 tahun, ia menginginkan seseorang berada di sampingnya. Dulu, ia berpikir takkan ada seorangpun yang bisa memahaminya. Ia bahkan berpikir untuk hidup sendirian saja. Pilihan aman daripada membuat dirinya sakit hati, atau mungkin menyakiti orang lain.
Tapi kini, ia ingin memahami gadis yang berbaring di tempat tidurnya ini. Ia ingin tahu apa yang disukai dan dibenci oleh Ave. Ia ingin hadir dalam setiap detik kehidupan gadis ini. Ia ingin memastikan senyum dan tawa bahagia selalu ada di wajah Ave. Ia ingin turut merasakan kesulitan dan kesedihan gadis itu. Ia ingin menjadi bagian dari hidupnya.
Zaid menarik napas panjang sebelum mematikan lampu dan keluar dari kamar, membawa bantal dan selimut. Sofa di ruang tamu adalah pilihan terbaik malam ini. Ia tahu, ia akan kesulitan memejamkan mata. Tapi itu bukan karena ia memikirkan masalah, justru karena hatinya terlalu hangat dipenuhi berbagai rasa yang menyenangkan.
Ave terbangun beberapa jam kemudian. Hampir tengah malam dan sedikit bingung melihat sekelilingnya gelap gulita. Buru-buru Ave menyapu nakas, dan ia beruntung menemukan lampu. Setelah meraba-raba, ia menemukan tombol saklar kecil. Begitu lampu meja itu menyala, ia bisa bernapas lega.
Seseorang yang mematikan semua lampu pasti tak tahu kalau ia tak bisa tidur dalam keadaan gelap gulita. Bahkan di apartemen saja saat berhemat listrik dulu, Ave tak berani tidur segelap itu. Entah lilin, lampu meja atau lampu dari ponsel, Ave harus melihat cahaya saat terbangun atau ia takkan bisa bernapas.
Perlu beberapa menit sebelum Ave benar-benar terbangun dan sadar kalau ia tak sedang berada di kamarnya sendiri. Ini... kamar Zaid!
Segera kepala Ave menoleh ke sebelah tempat tidur, tapi tak ada siapapun di sana. Ia bernapas lega lagi. Tapi tubuhnya sulit bergerak, rupanya tergulung oleh selimut. Pantas saja ia tak bisa melepaskan selimut ini. Pasti Zaid yang menggulungnya seperti dadar gulung begini.
Lalu Zaid ke mana? Ave bangun dan menyalakan lampu kamar. Memeriksa seisi kamar. Kosong. Hanya ada dirinya di kamar besar itu. Sambil membuka blazernya, Ave mulai menjelajahi isi kamar pria berwajah dingin itu.
Tak banyak hiasan atau pajangan di kamar yang didominasi warna abu-abu, hitam dan putih itu. Nyaris seperti kamar hotel biasa. Bedanya, ada banyak buku-buku bersusun di salah satu rak. Tapi untuk bagian itu, Ave terlalu malas untuk membaca. Buku semacam itu obat tidur untuknya. Baca sebaris, matanya akan digantungi pemberat. Baca selembar, ia akan tertidur pulas. Jadi lebih baik tidak usah.
Tak sengaja, Ave melewati cermin panjang dekat lemari pakaian dan matanya nyaris melompat keluar melihat tampang berantakannya. Bergegas Ave ke kamar mandi. Berniat mencuci muka.
Tapi saat melihat bak besar putih yang ada di kamar mandi itu, kerinduan Ave pada rumahnya mulai memuncak. Tanpa pikir panjang, niatnya untuk mencuci muka berubah menjadi berendam sampai puas. Memanjakan tubuhnya yang mulai terbiasa dengan kemiskinan.
Hanya saja, Ave lupa kalau pemilik kamar mandi itu seorang pria. Tentu saja semua aroma maskulin yang dipilihnya. Tapi Ave tak peduli. Sepanjang ia bisa merasakan kenyamanan sebuah kemewahan, soal wangi maskulin pun ia masih bisa terima. Tak apa-apa.
Namun, ketika Ave masuk ke dalam bak mandi dan mulai menenggelamkan tubuhnya di antara buih sabun beraroma maskulin, pikirannya justru dipenuh bayangan sang pemilik. Aroma sabun ini benar-benar sempurna mengingatkan pada sosoknya. Apalagi, walaupun sebelumnya ia sedikit tertidur, Ave bisa mencium aroma yang sama di dada pria itu saat menggendongnya tadi.
Karena tetap tak bisa menghilangkan bayangan itu, Ave pun keluar dari bak mandi. Memilih mengakhiri keinginannya untuk berendam. Ia lebih suka tidur sekarang. Berharap esok pagi, ia berhasil mengeluarkan bayangan pria berwajah dingin itu dari kepalanya. Tapi sebelum itu ia harus menghilangkan jejak sabun itu.
Dengan santai, Ave mengambil salah satu kaos milik Zaid dari lemari pakaian. Punya seorang kakak laki-laki, membuat Ave terbiasa mengenakan baju laki-laki. Tak masalah, nanti bisa dicuci. Ia terlalu segan untuk bergerak ke paviliunnya. Kamar nyaman Zaid terlalu menggoda.
Ave terbangun saat mendengar suara dari kamar mandi. Seseorang sedang mandi. Buru-buru Ave bangkit. Tanpa menunggu sampai Zaid keluar dari kamar mandi, ia keluar dari kamar membawa semua pakaian dan tasnya.
Setelah bersiap di kamarnya sendiri, Ave bergegas ke dapur dan Zaid sudah duduk di meja makan sambil menyeruput kopi. Ia tampak memeriksa IPadnya seperti biasa. Tapi yang tak biasa, ada cangkir kopi lain di dekat Zaid. Juga ada piring berisi roti sandwich berjejer rapi di sisi cangkir itu.
Ave baru ingin bertanya, ketika Zaid menoleh padanya. "Makan sarapanmu! Saya sudah sarapan tadi. Ini untukmu. Saya bikinin sandwich aja."
Ave terperangah. Menatap tak percaya. Loh, bukannya membuat sarapan itu tugasnya? Tapi... ah sudahlah. Hari ini Ave kesiangan, ia juga harus segera ke kantor. Kemarin ia meninggalkan kantor begitu saja, sementara ada beberapa proyek yang ditangani timnya. Tak hanya itu, ia masih harus menjenguk ke rumah sakit. Tak ada alasan untuk menolak kebaikan Zaid.
"Makannya jangan cepat-cepat. Nanti keselek," tegur Zaid pelan ketika melihat Ave duduk dan makan dengan tergesa-gesa.
Ave menelan sebelum menjawab, "Entar Bapak ke kantor atau ke studio?"
Zaid menatap bingung.
Melihat pertanyaan di mata Zaid, Ave menyambung lagi. "Hari ini Mbak Maya syuting lagi, Pak. Kan biasanya kalo dia syuting, Bapak ke studio."
Zaid menggeleng. "Enggak! Sudah ada tim di sana. Kecuali kamu perlu ke sana, nanti saya antar."
__ADS_1
Senyum tipis terlihat. "Enggak kok, Pak. Ave mau ke kantor. Kerjaan Ave lagi banyak."
Lalu Ave melanjutkan sarapan sementara Zaid mulai sibuk memeriksa email sambil menghabiskan kopinya. Setelah selesai, mereka beriringan keluar.
"Tunggu! Tunggu, Pak!" tahan Ave dengan kening berkerut.
Zaid berpaling ke belakangnya. "Ada apa lagi? Ada yang ketinggalan?"
"Pak, Bapak berdukun ya?" tanya Ave nyaris berbisik.
Zaid melongok. "Dukun? Apa maksudmu?"
"Itu... sabunnya Bapak. Itu pake pelet kan? Itu buat menarik cewek-cewek kan?" tuduh Ave makin gencar.
"Hah? Sabun?" Zaid makin bingung. Makin tak mengerti.
"Berdukun itu gak baik loh, Pak. Musyrik! Gak bener itu. Untung tadi malam Ave buang semua sabun Bapak. Kalo enggak... dosa Bapak makin besar loh. Bapak itu udah ganteng, gak usah pake magic juga udah banyak yang suka kok," celoteh Ave sambil melangkah lagi.
Sabun? Oh gadis ini yang membuangnya? Pantas tadi pagi botol besar itu kosong melompong. Rupanya gadis mungil ini yang melakukannya. Tapi magic apa yang dimaksudkan gadis ini?
Zaid hanya bisa mengikuti langkah Ave dengan bingung.
"Pantesan aja Mbak Maya sampe segitunya ngejar-ngejar Bapak. Ave gak heran sekarang. Yakin deh pasti gara-gara pakai sabun magic itu kan?" Bahkan setelah dalam mobil, Ave masih terus membicarakannya.
Zaid yang sedari tadi berusaha memahami maksud Ave, mulai berhasil menyambungkan pikirannya. "Wait the minute, Ve! Maksudmu... saya pakai sabun yang dikasih magic gitu?" tanyanya sebelum menghidupkan mesin.
"Iya!"
"Untuk... menarik... cewek-cewek?" tanya Zaid ragu.
Ave mengangguk penuh keyakinan. "Iya!"
Bahu Zaid bergetar, makin lama makin kuat dan ia tak lagi bisa menahan tawa. Tertawa terbahak-bahak. Astaghfirullah, gadis antik satu ini!
Melihat Zaid tertawa geli untuk pertama kalinya membuat Ave terpana. Matanya mengerjap tak percaya. Pangeran Salju itu kini berubah rupa. Sungguh berbeda.
Zaid tertawa cukup lama, sebelum akhirnya mereda dan tangannya pun sibuk menyalakan mesin mobil. Tawanya masih tersisa saat ia berkata, "Kamu tau gak, Ve? Gara-gara khayalan anehmu itu, tadi pagi saya mandi gak pake sabun untuk pertama kalinya sepanjang hidup saya."
"Idiiiih, Bapak jorok!" tukas Ave cepat.
"Lagian kamu buang sabun orang, tapi gak nyediain gantinya," ujar Zaid. Matanya menatap lurus ke depan, mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Sorry, Pak. Ave lupa! Sore deh entar kita singgah beli ya," janji Ave.
"Tapi beneran saya jadi penasaran. Kamu dapet pikiran aneh kalo saya pakai sabun yang dikasih magic gitu dari mana?" tanya Zaid penasaran.
Mulut Ave yang terbuka bersiap menjawab. Tapi kemudian ia tahu itu bukan jawaban yang tepat. Zaid pasti akan menggodanya jika tahu kalau ia berpikir seperti itu karena kesulitan menghilangkan bayangan pria itu setelah mencium aromanya. Saat ini, ia tak boleh membongkar penyamarannya, dengan memberitahu perasaannya. Nanti. Pada saat ia bisa menjelaskan semuanya dengan bebas.
Ave menggeleng. "Adaaa aja!" jawabnya sebelum melihat ke jendela mobil. Menyembunyikan wajahnya yang mulai merona.
Zaid diam, mulai menduga-duga. Hanya saja, ia tak ingin jumawa. Jangan-jangan semua hanya dugaannya. Sementara Ave bukanlah gadis yang bisa ditebak. Gadis itu bertingkah laku sangat unik. Dalam mimpipun Zaid tak pernah bisa membayangkan ada orang yang mengira dirinya sampai berdukun hanya demi menarik perhatian perempuan.
__ADS_1
Senyum terbit lagi di wajah Zaid saat teringat kalimat Ave sebelumnya. Sekali lagi menahan geli di hatinya. Anehnya, ia merasa sangat bahagia.
*****