Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 30 - The Beautiful Real Dream


__ADS_3

~ Kenapa orang menyebut 'tidur untuk menjadi cantik'? Padahal saat bangun, yang ada hanya wajah berantakan dan... mimpi buruk yang menjadi nyata (Ave)~


Ketika mengikuti langkah cepat Zaid, Hazmi tak terpikir sama sekali akan menjadi saksi pemandangan yang menurutnya paling aneh. Bagaimana bisa seseorang seperti Zaid, pria nyaris tanpa emosi, yang kehadirannya sanggup membuat seantero ruangan merasa berada di kutub utara, tampak panik mencari seseorang bernama Ave?


Lebih tak masuk akal, ketika ia bisa melihat dari pintu saat Zaid memasuki paviliun dan gadis itu ada di sana. Sedang tertidur pulas. Mereka tinggal serumah! Baiklah, tidak serumah. Tapi tetap saja paviliun itu bagian dari rumah Zaid. Sejak kapan? Tapi kenapa Zaid berakting seperti tidak kenal gadis itu selama ini?


Baru kali Hazmi tak memahami jalan pikiran Zaid. Ia bingung. Juga tak tahu harus melakukan apa, ketika melihat Zaid justru memilih berbaring di sisi Ave yang masih tertidur. Pintu paviliun bahkan belum tertutup rapat. Jadi dengan sedikit berjingkat, ia menutup pintu pelan-pelan. Namun, Hazmi sedikit terlonjak saat melihat Jenny sudah berdiri di belakangnya.


"Duh, Jen! Lu ngagetin aja!"


Mulut Jenny siap terbuka, tapi Hazmi buru-buru menggamit lengannya, mengajaknya menjauh. Menuju rumah utama.


"Lu gak papa, Mas?" tanya Jenny saat mereka sudah berada di ruang makan lagi. Jenny langsung duduk di salah satu kursi.


Hazmi menoleh. "Gak papa? Emangnya gue kenapa? I am always OK."


Jenny menunjuk ke arah paviliun. "Setelah liat itu, lu yakin gak papa?"


Tawa kecil terlihat di wajah pemuda itu. "Justru gue yang pengen nanya, lu gak papa tau soal Pak Zaid dengan si Ave?"


"Ya gak papa sih. Bukan urusan gue juga kali," jawab Jenny sembari mengangkat bahu.


Tawa Hazmi menghilang. Raut wajahnya berubah serius. Digesernya kursi makan dan duduk menatap Jenny lekat. "Lu yakin? Jelas-jelas Pak Zaid dan Ave itu... Ya lu tau maksud guelah, Jen. Yakin?"


Kali ini malah Jenny yang tertawa. "Apaan sih, Mas? Ya biarlah. Orang yang jatuh cinta, kok lu malah kuatirin gue. Memangnya... " Jenny menyadari sesuatu. Matanya menatap tajam pada Hazmi. "... Lu pikir gue suka Pak Zaid?"


Tak ada gelengan. Tapi tak ada anggukan juga. Hanya sorot mata Hazmi yang menjawab pertanyaan itu dengan jelas.


"Astaga, Mas Hazmi! Gak sama sekali. Pak Zaid itu bukan tipe gue sama sekali."


Bersandar pada kursi, Hazmi menatap Jenny penuh arti. "Tipe lu seperti apa?"


Bibir Jenny berkedut menahan senyum sebelum ia menjawab. "Yang bisa buatin secangkir kopi enak buat gue."


Hazmi mengangguk-angguk, lalu ia berdiri. "Baiklah, mau nyoba kopi buatan gue yang terkenal itu, Jen? You'll addicted!"


"Really? Siapa takut!" Lalu keduanya tertawa dan bertatapan penuh arti.


Sementara di kamar paviliun, Ave menggeliat. Berusaha membebaskan diri dari selimut yang menutupi tubuhnya. Bukannya merasa hangat, tapi ia justru merasa kepanasan. Sejak kapan ia memakai selimut saat tidur seperti sekarang? Di kamar tanpa AC, di negeri tropis ini pula.

__ADS_1


Ave terlalu malas untuk membuka matanya yang lebih berat. Tapi keringatnya mulai terasa mengaliri punggungnya dan... ampun deh kenapa selimut ini terasa begitu berat begini?


Mata Ave terbuka perlahan. Namun saat tangannya hendak menyibak selimut, ada tangan seseorang sedang menindih selimutnya. Ave bahkan bisa merasakan napas hangat seseorang di sisi kanannya.


Ave memalingkan kepalanya, menoleh ke samping. Dan wajah yang baru saja muncul di mimpinya terlihat di sana. Sedang memejamkan mata. Tertidur pulas.


Ave tersenyum simpul.


Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar. Ini mimpi luar biasa indah. Setelah bagian klimaks dalam mimpinya yang tadi terputus saat tengah mengejar Zaid, ternyata itu bukan akhir. Mimpi ini bahkan makin terasa nyata. Aneh tapi Ave tak peduli. Sungguh Allah Maha Pengasih, saat hatinya tengah gundah gulana, ada rezeki mimpi seindah ini.


Lihatlah tangan kekar dengan bayangan otot-otot dan tulang terlatih yang nyaris seperti asli di depan hidungnya ini. Di dunia nyata saja, Ave tak pernah merasakan pelukan sehangat ini. Bahkan ia bisa merasakan berat tangan itu sekarang. Lalu... Ave menoleh ke samping.


Wajah tenang yang tampan di sisinya, dengan mata terpejam yang jelas tertidur pulas. Sungguh berbeda dengan kenyataan. Tak ada lagi Pangeran Salju berwajah dingin. Yang ada hanya pangeran tampan yang tidur bagai malaikat turun dari langit.


Ya Allah... tolong jangan bangunkan Ave dari mimpi indah ini!


Ave menggeser tubuhnya agar bisa melihat wajah pria di sampingnya agar lebih jelas. Gerakannya membuat tubuh di sebelahnya ikut bergerak. Tapi tak membuat tangan yang menindih selimut di dada Ave berpindah. Malah justru makin dekat. Kini dengan jelas, Ave bisa mengeksplorasi wajah tampan di depannya. Jarak mereka bahkan tak berjarak setelapak tangan.


Ave tersenyum puas. Sekali lagi mengucap syukur. Ini karunia Ilahi yang luar biasa. Kapan ia bisa melihat wajah Pangeran Saljunya sejelas ini kalau tak dalam mimpi seperti sekarang?


Alisnya rapi dan tebal. Bersusun membentuk setengah lingkaran yang sempurna. Bulu matanya berjejer rapi bagai disisir, membingkai wajah dengan tulang rahang tinggi itu. Wajah yang seringkali membuat Ave tak bisa berkata apa-apa. Hidungnya... Ave mengangkat tangannya, menyentuh ujung pangkal hidung lalu menggeser ujung jarinya hingga ke puncak hidung. Tinggi bagai gunung Himalaya. Sungguh pas berada di tengah-tengah wajah tampan.


Ave sungguh tak menyangka kalau dalam mimpi ia bahkan bisa mendengar seseorang bersuara persis seperti aslinya walau sedikit parau. Ave tak tahan. Dengan gemas, ia memencet hidung di depannya sekuat tenaga. Kapan lagi ia bisa melakukannya kalau tidak dalam mimpi?


"Mmm... " Sepasang mata tertutup itu sekarang terbuka separuh,  melirik Ave dengan tatapan mengantuk. "Kamu bangunin orang selalu begitu, Ve?" Senyum kecil terlihat usai ia mengucapkannya.


Astaga! Astaga! Astaga! Ini seperti nyata sekali. Sulit rasanya percaya kalau ini hanya mimpi. Benar-benar seperti bukan mimpi. Tubuh Zaid juga miring, tangannya menopang kepala dan tersenyum lagi pada Ave.


"Lain kali kalo tidur, pintunya dikunci. Bahaya!"


Waah hebat, pengisi mimpinya juga begitu bijak dan perhatian. Luar biasa. Kalau aslinya, pasti sudah sibuk memarahinya.


"Jangan tidur pakai headset! Kamu jadi gak bisa dengar apa-apa. Gimana kalo ada orang jahat masuk kamarmu?"


Uwaaah, Ave tak bisa tak tersenyum mendengarnya. Andai ini benar-benar nyata. Andai Zaid benar-benar tidur di sisinya dan bicara selembut ini.


Merasa dicueki, tangan Zaid yang bebas menjulur. Memencet hidung Ave. "Kamu kenapa? Kok malah bengong."


Eeeh, tunggu dulu! Kenapa sakit? Kenapa sentuhan ini terasa sangat nyata?

__ADS_1


Ave menatap Zaid, sebelum berbisik pelan. "Ini... bukan... mimpi?"


Zaid tertawa lagi. Geli melihat raut wajah Ave yang tampak bodoh. Sekali lagi ia memencet hidung Ave. "Nih, bisa rasain sakitnya gak?"


Ini... nyata... NYATA!!!


"AAAAKKKHHH!" teriak Ave sekuat tenaga sambil melompat dari tempat tidur. Diraihnya selimut untuk menutupi tubuhnya sambil berteriak-teriak. "Kenapa Bapak ada di sini!? Bukannya semalam Bapak ke KL! Kenapa Bapak keluar dari mimpi Ave?"


Zaid melongok. Maksudnya?


Napas Ave tersengal-sengal. Mengkeret di sudut kamar. Terbayang semua yang baru saja ia lakukan pada sosok nyata yang ia kira hanya mimpi. Astaghfirullah, Ave! Dosamu takkan termaafkan.


Tapi Zaid tak tampak marah. Wajahnya yang kebingungan perlahan mulai berganti senyuman. Merekah makin lama makin lebar.


"Apa mimpimu tentang saya sangat indah?" tanya Zaid lembut.


Mata Ave mengerjap dua kali. Jelas ini bukan mimpi. Zaid duduk di tepi tempat tidur, menatap ke arahnya... dengan sayang. Pria yang semalaman ia harapkan untuk datang, benar-benar datang dan kini menatapnya. Doanya dikabulkan. Harapannya menjadi nyata.


Tapi kenapa pria itu sekarang di sini? Dia lewat mana? Terbang? Atau perjalanannya ke KL hanya dusta belaka?


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan di pintu membuat Zaid berdiri. Ia teringat sesuatu. Dengan cepat ia melangkah ke pintu.


Ada Hazmi berdiri di situ, di belakangnya ada Jenny yang berusaha keras menahan senyum dengan mengulum bibirnya.


"Maaf, Pak. Tadi saya dan Jenny mendengar... "


"Oh, gak papa! Ave hanya kaget. Sudah gak ada apa-apa," kata Zaid. Ia menoleh pada Ave. "Kamu siap-siap. Saya harus... menjelaskan pada mereka." Zaid memberi isyarat menunjuk ke arah belakangnya. Ave hanya bisa mengangguk.


Zaid keluar dan menutup pintu. Membiarkan Ave sendirian, yang masih memegangi dadanya.


Dengan jantung berdebar kencang bagai sedang berlari, Ave berusaha keras mengembalikan kesadarannya. Ia masih tak mengerti apa yang terjadi. Tapi ia harus buru-buru. Sudah siang dan Zaid sedang menunggunya!


Bergegas Ave menyambar handuk dan masuk kamar mandi. Tapi saat ia melihat dirinya di cermin, kakinya berhenti. Tampak rambutnya awut-awutan tak karuan, kedua matanya bengkak akibat begadang semalaman mengerjakan proposal dan... ada garis putih samar di ujung mulutnya.


"ASTAGA!!! KENAPA AVE JELEK BANGET!?!" jerit Ave kesal.


***

__ADS_1


__ADS_2