
~ Pertemuan dengan teman lama itu selalu dipenuhi kenangan dan... pertanyaan ~
Ketika langit biru berubah gelap, semua staf dan karyawan termasuk Zaid dan Avelia berkumpul di gazebo taman hotel dalam pesta barbekyu yang akan mengakhiri liburan singkat mereka. Dalam keseruan itu, tak ada lagi jarak di antara mereka. Tawa tak berhenti sejak awal pesta dimulai. Dengan aneka makanan yang berlimpah di atas meja besar yang dikelilingi semua orang, Avelia menjadi pusat perhatian. Di sampingnya Zaid duduk dengan kalem tanpa banyak bicara selain sesekali tersenyum. Tak banyak yang tahu, di bawah meja besar itu, tangan kanan Ave saling berkait dengan tangan kiri Zaid.
"Mas, Ave mau makan satenya. Masa Ave harus makan dengan tangan kiri. Lepasin dulu!" pinta Ave setengah berbisik, berusaha melepaskan tangannya. Tapi Zaid malah mempererat genggaman.
Tanpa berkata apa-apa, Zaid mengambil salah satu sate dan menyodorkan di depan mulut Ave, memberi kode pada gadis itu untuk mulai makan. Tak hanya itu, Zaid juga menyodorkan segelas air putih. Setelah itu, Ave mulai berani menunjuk makanan yang ia mau. Dengan patuh, Zaid mengambil satu persatu, menyuapi Ave bahkan mengusapkan tisu untuk menghapus noda saus kacang yang ada di sudut bibir Ave.
Siulan menggoda terdengar dari bibir para staf pria diiringi tawa dan tatapan malu-malu para staf wanita.
"Duh bikin ngiri aja nih! Mendadak gak punya tangan ya, Ve?" goda Rose sambil menatap penuh arti.
Ave hanya tertawa malu-malu dan memilih menikmati perlakuan spesial Zaid. Ia benar-benar bersyukur karena hubungan mereka tak hanya direstui oleh semua orang, tapi juga dianggap sebagai sesuatu yang normal bagi mereka.
Setelah menyuapi Ave, Zaid juga mengambil sate untuk disantapnya sendiri.
Dengan mulut masih penuh, Ave mulai bertanya, "sekarang tebak kenapa orang kalo lagi ngupil suka sembunyi-sembunyi?"
Rose yang duduk di sebelah Ave langsung terbatuk, nyaris tersedak. Untunglah Mike buru-buru menyodorkan segelas air putih, dan menepuk-nepuk punggungnya lembut.
Mulut Zaid yang tengah makan juga seketika membeku, menoleh pada gadis di sampingnya. Tak hanya ia yang terdiam, wajah semua orang di sekitar mereka yang mendengar pertanyaan itu juga berubah drastis. Terlihat jelas selera mereka langsung berkurang setengahnya.
"Ve, kita lagi makan, kamu malah nanya gitu sih? Jorok ih!" seru Alina yang juga langsung menghentikan gerakannya yang sedang menyendok salad.
Tangan Ave melambai-lambai di depan wajahnya. "Enggak kok! Enggak jorok ini!"
"Ya udah, kita pada gak tau. Kamu yang tau. Jawab aja gih! Biar cepet selesai," kata Mike yang sudah kenal benar dengan karakter Ave.
Ini pasti sesuatu yang akan membuat semua orang tertawa. Jadi sebelum itu terjadi, Mike buru-buru menelan makanannya dan mengosongkan mulutnya sendiri. Bisa bahaya kalau isi mulutnya tersembur ke arah si cantik Rose yang kebetulan duduk di sebelahnya. Rose saja terbatuk-batuk begitu, apalagi dia nanti.
Ave cemberut. "Gak bisa gitu dong! Harus dijawab dulu." Lalu gadis itu menoleh pada Zaid. "Atau gini aja... yang bisa jawab entar dikasih bonus sebulan gaji sama Pak Zaid. Gimana?"
Kontan tangan Zaid yang lagi menggenggam tangan Ave, menekan lebih kuat hingga gadis itu meringis.
"Aduh, aduh!" pekik Ave. Ia melotot pada Zaid. "Iih tenang aja kali, gak bakal ada yang bisa."
"Kalo ada yang bisa, gaji kamu yang kupotong buat bonus mereka!" sahut Zaid tak peduli.
"Iiish, pelitnya! Ya udah, potong aja!" kata Ave sengit.
"Saya deh yang jawab, Ve!" seru Pak Bambang sembari mengangkat tangan. Sebelum itu ia menangkap isyarat mata Zaid padanya.
Ave mendelik. "Enggak! Enggak! Bapak gak boleh. Gaji Bapak kan lebih gede dari gaji Ave, habis dong gaji Ave dipotong semua! Entar Ave makan apa dong?! Enggak!"
__ADS_1
Semua orang tertawa melihat wajah Ave yang memucat. Tapi Pak Bambang tak peduli, dibantu bisikan dari sekelilingnya ia menjawab, "Itu kan kotoran, Ve. Pasti malu dong kalo gak sembunyi-sembunyi."
Wajah panik Ave berubah. Seringai khasnya muncul. "Iiih Pak Bambang berarti suka jorok ih. Pasti pengalaman sendiri, kan? Kalo ngupil pasti suka sembunyi-sembunyi." Ia tertawa-tawa puas.
Tawa berderai terdengar sekali lagi. Pak Bambang hanya bisa menggeleng-geleng. Stafnya yang satu ini memang pandai bersilat lidah.
"Tapi jawaban itu benar gak, Ve?" tanya Jack yang tawanya masih mengembang di wajahnya.
Ave menggeleng. "Saaa... lah! Ayo masa gitu aja udah pada nyerah sih?"
"Udah jawab aja! Sebelum kamu diserang mereka yang udah sebel dikerjain mulu." Kali ini Zaid yang ikut menimpali. Tangannya meraih anggur yang ada di depannya.
"Beneran yak? Okelah kalo gitu." Ave menegakkan punggungnya. "Jawabannya kalo terus terang ngasih tau lagi ngupil, entar Mbak-mbak dan Mas-mas pada rebutan deh pengen nyobain rasanya."
"Aveeee!" teriakan kesal terdengar kompak di sekitar Ave yang tertawa terbahak-bahak sendiri. Puas mengerjai semua orang. Bahkan saking gemasnya, Zaid memencet hidung gadis itu hingga ia meringis. Melihat ekspresi Ave yang kesakitan, semua orang pun tertawa.
Lalu satu tebakan, disusul tebakan lain, dan tawa memenuhi seantero taman. Beberapa tamu yang kebetulan lewat ikut tersenyum melihat suasana kekeluargaan yang riang itu. Sangat jarang ada company gathering yang begitu 'hidup' seperti itu. Tampaknya, perusahaan ini adalah salah satu perusahaan yang benar-benar mengutamakan kebersamaan.
Di tempat parkir, seorang pria yang berpakaian kaos dan jaket dengan logo polisi turun dari mobil, saat melihat taman hotel yang jauh lebih terang dan ramai daripada biasanya. Ia menoleh pada istrinya yang juga turun.
"Kayaknya lagi ada gathering, Dek?" tanya pria itu sambil mendekati istrinya.
Sang istri mengangguk. "Iya, Bang. Kata Ayah, rombongan perusahaan dari Jakarta. Tapi tenang aja, restoran gak rame kok. Aku udah pesan khusus buat kita. Jarang Bang Jay bisa santai begini."
Sang suami tertawa dan meraih tangan istrinya. "Ulang tahun istri mah harus ditemani. Abang gak mungkin lupa."
"Kenapa, Bang?"
"Kayaknya aku lihat temanku deh, Dek," katanya dengan kening berkerut. Berusaha memastikan pandangannya benar pada salah satu sosok yang sedang duduk di antara orang-orang yang berpesta itu.
Sang istri tak mau kalah. Ia juga melihat ke arah tatapan suaminya. "Orangnya yang mana, Bang?"
"Itu loh, Dek! Yang duduk di tengah itu. Yang lagi senyum-senyum itu," kata sang suami sambil menunjuk.
Mengikuti arah telunjuk suaminya, sang istri mulai mengamati orang itu. Tapi yang menjadi perhatiannya justru gadis yang berada di sebelah pria itu. "Loooh, itu kan si Avelia, Bang!"
"Avelia? Ave adiknya Ajie?" tanya sang suami bingung. Ia ikut memperhatikan gadis yang ditunjuk istrinya.
Tapi istrinya tak menunggu suaminya lagi, ia segera melangkah mendekati tempat pesta itu. Sedikit terburu-buru. Ada senyum membayang di wajahnya. Ia benar-benar kangen pada Ave. Sudah lama mereka tak bertemu.
"Ave! Avelia!" panggil sang istri begitu ia cukup dekat dengan meja besar tempat pesta berlangsung.
Ave yang sedang tertawa-tawa pun menoleh dan matanya nyaris melompat keluar saat melihat wanita itu. "Kak Tiaaar!!" teriaknya tak mau kalah, membuat semua orang terdiam.
__ADS_1
Bergegas Ave bangkit dari kursi dan berlari ke arah Tiar, memeluk sahabatnya itu penuh kerinduan. Nyaris tiga bulan lebih mereka tak bertemu, selain bercanda melalui grup media sosial. Tentu saja ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Semua orang memandangi keduanya. Ikut merasakan keakraban dua sahabat itu. Dari sambutan Ave, jelas sekali perempuan yang sedang hamil bernama Tiar ini punya hubungan yang sangat baik dengannya.
Tapi ketika semua orang memandang dua perempuan itu, Zaid menatap pria di belakang keduanya. Wajah Zaid berubah sedikit demi sedikit ketika menyadari bahwa ia tak salah melihat. Pria itu juga sedang menatap ke arahnya. Tersenyum hangat padanya sama seperti dulu, bertahun-tahun yang lalu saat mereka masih menjadi teman satu sekolah.
"Jaya?" Zaid menyebut nama sahabatnya itu sambil berdiri dan mendekati pria yang kini berdiri di dekat Tiar dan Ave yang masih saling melepas rindu.
"Apa kabar, Id? Lama gak ketemu!" sapa Jaya santai, sembari mengangkat tangan.
"Oh... Jaya kan? Jaya Januardi! Astaga, lo jadi polisi?" Zaid tak mampu menyembunyikan kekagetannya. Masih dengan semangat, ia menyambut uluran tangan Jaya. Tapi Jaya malah mengubah salaman tangan itu menjadi adu tos, salam khas saat mereka remaja dulu.
Gantian Tiar dan Ave yang menoleh pada mereka, terkejut melihat keakraban Zaid dan Jaya yang tak disangka-sangka itu. Apalagi para staf yang baru melihat Zaid bisa bersikap hangat pada seorang pria yang ia bilang seorang polisi itu. Tak biasanya Zaid memiliki sahabat di luar dunia periklanan.
"Wah, gue tau lo jadi bos sekarang. Hebat! Lo emang luar biasa, Id! Lama gak ketemu udah sehebat ini."
"Lo juga apa kabar?" seru Zaid. Matanya bersinar bahagia. Jaya salah satu sahabat terbaik yang pernah ia miliki. Orang yang ikut andil mengubah dirinya dulu. Sudah lama ia ingin tahu keadaannya. Tapi justru tak sengaja bertemu di tempat ini.
Sesaat mereka saling bertukar informasi singkat. Zaid memberitahu alamat barunya, sementara Jaya memberitahu kalau ia baru saja dipindahtugaskan ke Jakarta. Mereka juga saling bertukar nomor telepon. Kini dengan istrinya, ia tinggal di salah satu apartemen di Jakarta. Malam ini adalah ulang tahun istrinya, jadi ia datang untuk merayakannya.
"Oh ya ampun... kenalkan ini istri gue, Id! Tiar namanya," ujar Zaid sambil merangkul bahu Tiar.
"Oh, ini?" Zaid menyalami Tiar sebelum menoleh pada Ave yang tersenyum padanya. "Temannya Ave juga ya? Saya Zaid, Kak. Teman satu SMP dan SMA Jaya."
"Tiar," balas Tiar dengan ramah.
Ave mengangguk-angguk penuh semangat. "Iyaaa. Ave juga kenal Bang Jaya kok. Halo Bang! Masih inget sama Ave kan?" sapa Ave sambil melambai pada Jaya.
Jaya tertawa kecil. Ia mengelus kepala Ave. "Tentu saja, mantan jodoh Abang mana bisa lupa."
Kalimat itu membuat Tiar, Jaya dan Ave saling memandang sebelum sama-sama tertawa penuh arti.
Tapi tidak dengan Zaid yang menatap heran. Sedikit ada rasa panas di dadanya mendengar kalimat yang dilontarkan sahabatnya. Meski nadanya bercanda, tapi kata 'mantan' itu benar-benar tak disukainya.
"Gue pamit dulu, Id. Mau nyenengin istri gue dulu. Silakan dilanjutkan acara makan-makannya. Nanti kita ngobrol lagi, Id." Jaya menggandeng tangan Tiar, lalu menoleh pada semua orang yang masih duduk. "Semuanya, saya permisi dulu ya. Silakan menikmati! Selamat malam!"
"Malam, Paak!"
Sampai Jaya dan Tiar menghilang di balik pintu restoran, Zaid terus memperhatikan. Ia menatap Ave yang sudah kembali duduk dan melanjutkan candaannya. Kalimat terakhir Jaya membuatnya justru bertanya-tanya tentang jati diri gadis ini. Semakin lama, ia semakin penasaran. Tapi Zaid tahu, Ave pasti akan memintanya menunggu lagi kalau ia tanya. Sama seperti biasanya.
Jaya adalah sahabat lamanya. Waktu mungkin mengubah seseorang, tapi Zaid yakin Jaya masih sama seperti dulu. Sahabatnya itu pasti bersedia memberitahunya tentang Avelia yang ia tahu. Zaid berharap, apapun informasi itu, ini tak berarti mematahkan hubungan persahabatannya dengan Jaya.
Zaid mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada nomor yang baru saja diberikan Jaya sebelum menghela napas panjang sembari menatap Ave.
__ADS_1
Ia hanya benar-benar ingin tahu. Meski dalam hati kecilnya, Zaid berharap, ia sama sekali tak ingin mendengar kabar yang buruk. Ave sudah menjadi bagian dari masa depan yang ia rencanakan, dan Zaid tak ingin melepaskannya begitu saja. Tapi satu-satunya yang diinginkan Zaid saat ini adalah ia tahu semua tentang Ave. Seburuk apapun itu, ia akan berusaha menerimanya.
*****