
Tapi aku memang bukan pencinta yang berpengalaman. Sempat kukira dengan memastikan Ave mendapatkan semua yang ia punya dengan menyerahkan semua yang kumiliki untuknya, maka hatiku akan merasa tenang. Ternyata tidak.
Rindu yang menyiksa itu datang lagi. Lebih menyakitkan. Lebih intens.
Aku sudah berusaha, memeriksa media sosial Ave yang kuikuti. Tapi ia tak pernah memasang status lagi. Bahkan tak pernah memasak lagi. Apa yang terjadi padanya setelah aku pergi? Aku benar-benar ingin tahu.
Aku mencoba menelponnya, tapi kemudian aku ragu sendiri. Aku tahu saat itu Avelia pasti sama tersiksanya denganku.
Setelah dua minggu lebih berlalu, kuputuskan untuk kembali ke Indonesia. Kembali ke Jakarta. Aku tinggal di rumah tua tempat Mama dan aku dulu tinggal. Rumah itu sudah kuperbaiki beberapa tahun lalu, masih layak dan masih sama seperti dulu. Tadinya karena rumah itu terlalu jauh dari kantor The Crown, aku membeli rumah yang sekarang. Tapi karena aku kuatir Avelia tahu aku kembali ke Jakarta dan dia nekad lagi, aku memilih untuk pindah ke rumah lama saja.
Aku tahu aku harus segera bekerja. Seluruh sahamku sudah kuserahkan atas nama Avelia. Tabunganku memang lebih dari cukup. Tapi jika tidak bekerja, aku bisa gila kalau yang di otak ini hanya memikirkan gadis mungilku. Sambil memikirkan apa yang harus kukerjakan selanjutnya, aku duduk di sebuah kafe, berharap bisa melihat Avelia meski dari kejauhan.
Lalu gadis-gadis dari Creative Department berhasil menemukanku. Jangan tanya bagaimana! Mereka hanya tertawa ketika berhasil menangkap basah diriku sedang duduk di kafe dekat kantor The Crown.
"Apa Bapak gak tau kalo Mbak yang lagi ngelayani Bapak di kasir tadi itu anggotanya FCZZ kita?" Alina tertawa.
Tentu saja aku tak tahu. Kukira gadis-gadis itu hanya bercanda saat mereka bilang mereka mendirikan fans club untukku. Aku benar-benar dibuat terdiam saat Gita memperlihatkanku jumlah follower fanspage mereka. Rata-rata perempuan. Sayangnya... dari sekian banyak mereka, aku hanya mencintai satu orang.
Tapi bertemu para gadis itu cukup membantuku. Aku jadi tahu banyak hal. Aku baru tahu Avelia masih sibuk mengurusi Papanya di rumah sakit paska operasi jantung. Aku juga tahu kalau sekarang Ajie mengurus The Crown bersama Hazmi dan bahkan meninggalkan pekerjaan utamanya. Aku baru tahu, kalau para staf dan karyawanku merindukanku kembali. Aku baru tahu... Aku juga mencintai pekerjaanku, mencintai teman-temanku yang menjadi bawahanku di The Crown. Andai aku tahu aku akan meninggalkan mereka, aku pasti berusaha keras untuk tidak pernah memarahi mereka seperti di masa lalu.
Kutraktir para gadis di hari itu dan meminta mereka untuk membujuk Avelia kembali bekerja. Gadisku harus tetap bekerja. Karena aku tahu, dengan begitu, Avelia akan bisa melupakanku. Tapi sebenarnya jauh dalam hatiku, itu caraku untuk bisa melihatnya kembali. Aku benar-benar merindukannya.
Kami sepakat untuk bertemu seminggu sekali. Para gadis akan mengumpulkan informasi yang kuperlukan. Aku bilang, aku tak perlu The Crown lagi, aku hanya perlu Avelia-ku. Tapi gadis-gadis itu bilang, "Kami kangen tangan dingin Pak Zaid memoles hasil karya kami kayak dulu."
Jadi itulah pekerjaan baruku belakangan ini. Para gadis dari Creative Dept. membawa hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan dengan diriku di kafe yang kemudian menjadi kantor sementaraku.
Aku melakukan hal-hal yang kusuka lagi dengan cara berbeda. Setidaknya kepalaku yang mau pecah karena memikirkan Avelia, kini juga disibukkan dengan pikiran lain.
Tapi Ave tak kunjung bekerja. IG-nya juga tak kunjung update. Aku mulai gerah. Sesuatu pasti terjadi. Namun ketika aku datang ke rumah sakit, aku melihat Avelia tersenyum di samping Papanya di taman rumah sakit. Wajahnya terlihat baik-baik saja, walaupun tubuhnya yang kurus makin terlihat kurus. Aku sungguh sedih melihat itu. Kenapa Avelia juga harus sebodoh aku?
Untungnya, hari itu ia memposting sebuah foto makanan. Karena hobi memasaknya, IG Avelia memang dipenuhi foto makanan. Tak menunggu lagi, aku menekan tanda hati untuk mengirimnya 'pesan tersirat'. Aku suka ia kembali pada hobinya lagi. Ia harus melanjutkan hidupnya. Ia tak boleh menjadi bod*h sepertiku.
__ADS_1
Lalu, Rose mengirim WhatsApp padaku dua hari kemudian. Avelia sudah kembali bekerja. Hari itu juga, dengan motor besarku, aku melaju menuju kafe. Kuminta para gadis untuk mengajak Avelia ke kafe agar aku bisa melihatnya walau dari tempat tersembunyi.
Tapi mereka gagal. Avelia menolak. Di hari pertama ia bekerja, Avelia sudah tenggelam dengan pekerjaannya. Gadisku memang seperti itu. Jika ia mengerjakan sesuatu yang ia suka, maka ia akan melakukannya hingga selesai. Jadi hari itu, esoknya dan esoknya lagi... aku hanya meminta mereka untuk memberikan makanan dan minuman yang disukai Avelia. Aku ingin memastikan kekuatiranku tak terbukti.
Beberapa hari kemudia, aku juga bisa melihat Avelia lagi. Ia pulang kerja bersama kakaknya, tampak bergelayut manja meski senyumnya tak selebar biasanya. Melihatnya sangat akrab dengan kakaknya, hatiku jauh lebih tenang. Akhirnya usahaku tak sia-sia.
Hanya saja ada yang aneh pada postingan Avelia beberapa hari terakhir...
Setelah aku me-like postingan foto makanannya dulu, Avelia memposting puluhan foto masakan lain. Entah apa yang terjadi, tapi itu membuatku tahu ia baik-baik saja. Sampai beberapa hari setelah ia kembali bekerja. Tak ada lagi foto makanan yang ia buat, diposting. Padahal kukira ia sedang getol belajar masakan Malaysia. Justru postingannya yang berbeda dari biasanya bermunculan satu persatu.
Foto pertama adalah foto langit malam yang gelap. Foto biasa, tapi saat aku membaca komentar Lily, aku terkejut. Avelia memakai helm malam-malam. Untuk apa? Dan aku melihat Natasha dan Elang saling melempar sindiran. Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka?
Foto kedua justru membuatku... menangis. Itu foto sarapan pagi Avelia. Caption-nya. "I cooked so many nasi goreng for people... for others... but only two persons cooked for me in my whole life... My mother and the one who loves me." [Aku memasak begitu banyak nasi goreng untuk orang-orang ... untuk orang lain ... tetapi hanya dua orang yang memasak untukku sepanjang hidupku ... Ibuku dan orang yang mencintaiku.]
Avelia, apa kau tahu apa yang terjadi padaku setelah membaca itu? Aku rindu memasak untukmu, Sayang. Aku rindu sarapan pagi bersamamu. Aku rindu menggoda, bercanda dan tertawa bersamamu. Bagaimana bisa aku menangis hanya karena aku ingin memasak untuk seseorang?
Foto ketiga adalah foto jendela di lantai 9, tempat kami pertama kali bertemu dan Avelia menuliskan caption 'Before this place was fun because you're here with me.' {Sebelumnya tempat ini menyenangkan, karena kamu di sini bersamaku}
Aku tahu aku egois. Tapi aku yakin Avelia juga sedang merindukanku. Jadi untuk mengatakan kalau secara tersirat kalau aku mengerti maksudnya, aku memberi tanda 'hati' lagi untuknya.
Membaca itu aku tak tahu harus melakukan apa sekarang. Sangat lama aku duduk menatap layar ponsel dan tanpa kusadari waktu berlalu hingga malam menjelang. Aku melangkah gontai menuju motor besarku di parkiran gedung dan berdiam diri lagi sebelum terduduk di sadel motor dengan seluruh tubuh yang terasa sangat lelah. Aku kira, aku telah memberikan semuanya pada Ave, tapi tetap saja... aku tak pernah benar-benar memberi cinta untuknya.
Malam itu aku berpikir. Haruskah aku menemui Ajie lagi? Mungkin dengan bicara dengan Ajie, aku bisa meyakinkannya. Aku akan melakukan apapun untuk menggerakkan hati Ajie. Jika Ajie bersedia, aku yakin Papa Avelia juga akan menerimaku. Aku harus mengatur rencana. Aku berdoa malam itu agar Allah memberiku petunjuk.
Foto kelima yang kulihat pagi itu saat berada di kafe adalah foto kalung berinisial namaku. Ia memotretnya di depan cermin, bersama wajahnya yang tersenyum dan kalung yang tergantung di lehernya. Caption-nya 'Your name, your face and your heart has signed in my heart. When will you come back, Mr. @Zaid_Zabir?' [Namamu, wajahmu dan hatimu terdaftar di hatiku. Kapan kau akan kembali, Mr. @Zaid_Zabir? ']
Aku terpana. Avelia terang-terangan memintaku kembali. Jantungku kembali berdetak cepat. Bergegas aku meminum kopi untuk menenangkan diri. Tapi kopi itu terlalu panas jadi aku menyemburkan kopi ke atas meja. Aku meminta pelayan menyediakan segelas air es untukku. Aku harus mendinginkan kepalaku.
Namun itu tidak usai begitu saja. Saat aku sibuk membersihkan meja yang terkena tumpahan, Ave memposting sebuah foto lain dengan caption 'Do not try to run away, My Future-husband! I have my Dad, my brother, my family and my friends to chase after you wherever you go!' [Jangan mencoba melarikan diri, Calon suamiku! Aku punya Papa, kakakku, keluargaku dan teman-temanmu untuk mengejarmu ke mana pun kau pergi!]
Foto terakhir itu... Itu aku yang baru saja minum dan menyemburkan kopi!
__ADS_1
Avelia ada di sini! Dia ada di kafe ini!
Kuangkat wajahku dan gadis mungilku berdiri tepat di depanku, di dekat pintu masuk kafe, menatapku dengan bibir bergetar dan mata basah. Di sampingnya, Ajie melambaikan tangan padaku membuatku otomatis mengangkat tanganku membalasnya. Ia terlihat biasa-biasa saja. Malah wajahnya tampak gembira. Senyum lebar tersungging di wajahnya.
Tapi Ave tidak. Wajahnya perlahan berubah memerah dan kakinya mulai melangkah lebar menuju diriku. Tepat saat itu pelayan yang membawakan air es untukku datang. Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, air dingin menciprat wajahku. Aku terpana, pelayan kafe terkejut...
Lalu sebuah teriakan marah meluncur dari mulut Avelia. "Kenapa Mas ninggalin aku? Kenapa Mas gak balas pesanku? Kenapa Mas bohong sama Ave? Hu hu hu... "
Aku tak tahu, Avelia. Aku tak mengerti. Aku sudah bilang aku adalah pencinta yang bod*h.
Aku hanya tahu satu hal... Memelukmu adalah keinginan terbesarku. Mencintaimu dan bersamamu selamanya adalah impian yang paling ingin kuwujudkan.
Sekarang aku tahu, inilah cinta bod*hku... Saat bersama kekasihku, aku tak bisa berpikir, tak bisa berkata apapun dan tak bisa memikirkan siapapun.
Aku hanya tahu dialah matahari mungil dalam hidupku, yang telah melelehkan seluruh gunung es yang kubangun bertahun-tahun dalam hatiku.
*****
SELESAI
BENAR-BENAR SELESAI
Author Notes:
Terima kasih buat semua Reader yang selalu nge-like, ngasih support dan ngobrol di chat bersama Mak Author dan Kak Editor di grup. Juga buat silent Reader yang selalu mendukung diam-diam. Salute for you all.
Maaf kalau ternyata novel ini kurang memuaskan karena keterbatasan ilmu dan kesempatan Author.
Jangan lupa untuk mendukung novel Bye, Love juga ya.
Salam hangat selalu,
__ADS_1
(^_^)/
IinAjid