Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 44 - Alien From The Star


__ADS_3

~ Karena Zaid bukan manusia, dia alien dari bintang lain (Ave) ~


Semua terasa lengkap bagai mimpi.


Ave hanya perlu meneruskan perjuangannya yang tinggal hitungan bulan. Segalanya begitu sempurna, hingga ia nyaris tak percaya. Bahwa kadang keajaiban cinta bisa terjadi secara tak terduga.


Kurang dari dua tahun lalu, saat menerima kabar pernikahan Ajie, Ave ingin menertawai kakaknya itu. Terakhir bertemu, kakaknya masih pria dingin yang jangankan mencintai, punya perasaan hangat selain pada adiknya sendiri, terhadap kaum wanita saja tidak. Tapi siapa sangka... kehadiran Lily dalam sekejap mengubah Ajie menjadi seorang ayah yang penyayang dan suami yang sangat perhatian.


Kini, bukti lain terjadi. Seorang pria lain jatuh cinta. Bukan pada orang lain, tapi pada dirinya. Pria yang sangat jarang tersenyum, jarang bicara, bahkan seperti tak punya urat di wajahnya yang selalu dingin itu, sekarang selalu tersenyum hangat padanya.


Hari ini perasaan Ave jauh lebih baik. Ia merasa jauh lebih segar dan sebelum matahari terbit, Ave sudah sibuk di dapur. Niatnya untuk membereskan semua pekerjaannya di dapur kemarin ternyata dilakukan oleh Zahra sebelum ia pergi. Tadi saat ia membuka lemari es dan memeriksa, tak ada yang perlu dibereskan. Semua sudah tersimpan rapi dalam kotak-kotak penyimpanan, sama seperti yang selama ini dilakukan Ave.


Dengan hati berbunga-bunga, Ave mengeluarkan beberapa bahan. Ia ingin memasak sesuatu yang spesial untuk kekasih hatinya.  Ave memasak bukan lagi untuk tuannya, tapi untuk pria yang dicintainya. Agar Zaid tahu bahwa pria itu hanya perlu menunggunya. Sebentar saja. Hanya beberapa bulan.


"Pagi, Sayang!" sapa Zaid yang baru saja pulang dari mengantar kakaknya dan Layla ke bandara subuh tadi.


Ave menoleh sekilas. "Mmm, biasa aja kali Mas. Pengen muntah dengarnya. Biasanya pagi-pagi ini kita kan berantem."


"Save your energy, Honey! Nanti pas bulan madu, akan kupastikan kita berantem tiap hari," sahut Zaid kalem sambil mendekati meja dapur dengan nada penuh arti.


"Iiiih, mesum!"


Dengan tatapan berpura-pura bingung. "Loh yang mikir mesum siapa coba? Emang aku ada bilang ya? Hayooo... yang mesum siapa nih?" goda Zaid.


Wajah Ave seketika merona. Berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.


Tanpa izin, Zaid memeluk Ave dari belakang. Menghirup wangi yang menguar dari rambut Ave. "Hmmm, calon istriku wangi sekali!"


"Mas, tahu ini apa yang Ave pegang? Pengen nyoba tajam apa enggak?" tanya Ave sambil mengangkat pisaunya. Zaid terkekeh dan melepaskan pelukan.


"Makanya kita menikah aja yuk! Menikah, punya anak... Seperti manusia normal pada umumnya. Soal mimpimu atau keinginanmu itu kita wujudkan bersama. Kamu gak kasian sama aku, Ve? Merana tiap malam mandi air dingin tiap selesai memelukmu?"


Avelia tertawa kecil. "Ya bagus. Ave gak pernah tuh nganggap Mas itu manusia normal, My Snowy Devil!"


"Fine, aku memang bukan manusia biasa. Aku berasal dari bintang paling bercahaya di luar angkasa. Aku di sini untuk mempelajari misi jatuh cinta. Pada seorang putri," balas Zaid asal-asalan.

__ADS_1


Mengikuti candaan Zaid, Ave berbalik sambil membawa potongan buah yang sudah tersusun rapi di atas piring. "Jadi apa misi Anda berhasil, Mas Alien?"


Zaid mengangguk penuh keyakinan. "Yep, berhasil! Aku tahu rasanya jatuh cinta sekarang. Jadi sudah tiba saatnya aku kembali dan rajaku sudah mengirim para alien lain untuk menjemput. Tapi aku menolak meninggalkan bumi. Kamu tahu kenapa, Ve?"


"Karena udah kelamaan jadi manusia gak normal?" jawab Ave sambil tertawa-tawa.


Tangan Zaid melambai-lambai di depan wajahnya dengan kepala menggeleng. "Salah. Itu karena putri yang dicintai alien ini tinggal di bumi. Zaid, sang alien, rela melepaskan bintang paling bercahaya demi putri itu. Kamu tau lagi kenapa alasannya?"


Ave makin tak bisa menahan tawanya, "Ya karena Mas jatuh cinta-lah... ha ha ha."


Zaid masih menggelengkan kepalanya. "Salah lagi! Karena bintang paling bercahaya di hati alien ini sekarang adalah sang putri itu sendiri. Putri yang bernama Avelia Shamsiah."


"Hueeek!" Dengan sengaja Avelia berpura-pura muntah mendengar pernyataan penuh rayuan gombal Zaid.


"Eeeeh, apa perlu dibuktikan dengan... " Zaid kembali mendekat dan menangkap tangan Avelia, kembali memeluknya. "... begini?" tanyanya lagi sambil berbisik di telinga Ave.


Ave terlalu bahagia untuk mengucap tidak. Ia hanya tersenyum lebar. Hatinya seperti dipenuhi dengan awan-awan lembut kebahagiaan. Dengan mata bersinar, Ave mengangkat kepalanya. "Gak nyangka, My Frozy, Chilly, Snowy Devil bisa juga ngerayu kayak begini." Lalu ia berjinjit dan mencium sekilas pipi Zaid.


Sebelum Zaid sempat membalas, Ave tiba-tiba bertanya, "Eh itu siapa?"


Dengan cepat, Zaid menoleh ke arah Ave menunjuk. Tapi tak ada siapa-siapa. Sebelum ia sadar kalau sekali lagi dibodohi oleh Ave, gadis itu sudah tertawa-tawa menjauh berhasil melepaskan diri darinya, bergerak menuju meja makan sambil membawa dua piring berisi potongan buah dan dadar telur.


Setelah berpisah di lift, Ave pun berjalan menuju ruang kerjanya sendiri. Tapi saat ia baru saja masuk ke Creative Department, Alina sudah menunggunya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Jadi kapan kamu mau jujur soal hubunganmu dengan Pak Zaid, Ave? Aku tadi lihat kamu keluar dari mobil Pak Zaid. Juga ngelihat waktu kalian masuk ke lift khusus Direktur sambil pegangan tangan. Masih mau bilang kalo kamu cuma tukang masaknya?" tanya Alina dengan nada tajam.


Nah lo, ini yang dilupakan Ave selama akhir pekan. Ia benar-benar lupa kalau Creative Department adalah tempat berkumpul para fans berat Zaid. Sudahlah, tak ada lagi yang bisa disembunyikan.


Dengan bibir mencebik, Ave memegangi ujung blus Alin, melemparkan tatapan memelas. "Maaf, Kak. Ave beneran gak bohong. Awalnya cuma untuk masak. Tapi lama-lama Ave jadi suka sama Pak Zaid. Tapi kan gak mungkin Ave ngomong duluan. Ave sembunyikan aja itu. Bener-bener cuma nganggap Pak Zaid sebagai atasan. Baru kemaren deh Pak Zaid juga ngaku. Ave juga nerima karena Ave gak mau bikin Pak Zaid kecewa. Kalo Pak Zaid kecewa kan kakak-kakak semua nanti ikut kecewa. Iya kan?"


Lebih baik jujur sejujur-jujurnya saat berada di jurang antara kebenaran dan fitnah. Juga lebih baik menggunakan kekuatan fans daripada memutuskannya. Semua fans sama, perasaan dan kepentingan idola di atas segalanya.


"Jadi kamu nerima cinta Pak Zaid? Takut ngecewain aku?" ulang Alina. Terdengar jelas nada tak percaya dalam pertanyaannya.


Ave mengangguk dengan mata berkedip-kedip. Berusaha meyakinkannya. Ia harus berhasil sebelum para fans lain muncul. Duh, Mas... kenapa juga kamu tercipta sebagai manusia ganteng sih?! Kan Ave jadi repot. 

__ADS_1


"Kamu pikir aku kemakan bohongmu itu? Mana ada yang percaya kalo Pak Zaid ngejar-ngejar perempuan, Ave? Kecuali kamu yang nawarin diri. Iya kan?"


"Beneran ya Allah, Kak. Ave gak boong. Malah Mas Zaid bilang dia itu alien loh aslinya, yang gak jadi pulang ke bintangnya karena jatuh cinta sama Ave. Coba gimana Ave gak kasian?"


Alin memandang Ave dengan tatapan tak percaya. "Ve, kamu lagi ngebahas Pak Zaid atau bucin sakit jiwa?" tanyanya dengan dagu terangkat dan mata menyipit.


"Oke! Oke! Kalau gitu Ave telepon Mas Zaid deh." Tangan Ave segera mengambil ponselnya, menekan nomor penting di angka 1, yang membuat alis Alina terangkat, lalu memasang speaker agar Alina bisa mendengarnya sendiri.


"Halo? Kenapa, Ve?" tanya Zaid cepat.


Dengan senyum dikulum, Ave pun menjawab dengan nada manja. "Mas Alien tersayaaang, apa kabar bintang hari ini? Putri Ave sedang kangen nih!"


Hening. Tak ada suara selain desah napas Ave dan Alina yang menanti respon Zaid.


"Ve, kamu tahu kafe di lantai dasar gak?" tanya Zaid tanpa menjawab pertanyaan Ave.


"Tau, Mas!"


"Sekarang kamu turun ke sana, pergi ke kafe itu dan beli segelas kopi tanpa gula ukuran paling besar. Minum sampai habis, biar matamu melek dan bangun dari mimpi! Oke?" kata Zaid dengan nada dingin dan tegas sebelum memutuskan sambungan.


Ave melongok. Sementara Alina tergelak melihat wajah Ave yang terlihat bodoh.


"Ve, Ve... Kamu jadian sama Pak Zaid. Gak masalah buat aku atau teman-teman yang lain. Kami malah sangat bersyukur. Sangat bersyukur. Jangan terlalu takut sampe kamu harus cerita yang bukan-bukan begitu!" kata Alina dengan mata bersinar senang. Ia mulai mengerti kenapa Zaid menyukai gadis muda ini dan dalam hati turut merasa senang, tapi bukan Alina jika tak ikut menggodanya.


"Alhamdulillah!" ucap Ave penuh rasa syukur.


Lalu sambil melenggang kembali menuju meja kerjanya sendiri, Alina bergumam tapi masih bisa terdengar dengan jelas, "Yaaah setidaknya kami masih punya harapan besar bisa menggantikan pacarnya Pak Zaid yang **** model kamu, Ve. Ha ha ha ha!"


Bibir Ave seketika membentuk garis lurus mendengarnya. Semua gara-gara si Snowy Devil itu. Kenapa dia berubah begitu cepat sih? Jangan-jangan dia tahu kalau ada Alina yang ikut mendengar obrolan mereka.


Kepala Ave sibuk menengok ke sana ke mari, mencari bayangan Zaid. Tapi ruangan kerja itu masih sepi, hanya satu dua orang yang terlihat. Dengan bahu merosot dan wajah memerah, apalagi Alina masih tertawa-tawa saja, Ave mulai menyibukkan diri.


Dalam hati, Ave berjanji akan membalaskan rasa malunya ini pada si Snowy Devil itu nanti.


Sementara di kantornya, Zaid juga sibuk menahan tawanya ketika melihat laptopnya yang sedang memperlihatkan keadaan di ruang Creative melalui cctv.

__ADS_1


Tadinya Zaid kuatir para gadis di departemen itu akan merundung Ave, makanya begitu masuk ruang kerjanya, ia langsung memeriksa cctv  yang sudah lama selalu menjadi caranya mengetahui apa saja yang sedang dilakukan Ave sejak gadis itu pindah. Tapi siapa sangka justru dirinyalah yang lagi-lagi berhasil menggoda gadis itu.


*****


__ADS_2