Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 40 - Second (New) Hand Phone


__ADS_3

~ Demi cinta, ponsel lama pun serasa baru (Zaid) ~


Pagi hari, Ave merasa jauh lebih baik dan dengan penuh semangat ia ke dapur. Ia tak lagi melihat Zaid di kamarnya, mungkin semalam ia keluar saat Ave sudah tertidur.


Tapi di dapur, Zaid sudah berdiri di samping meja makan, hampir selesai menyiapkan sarapan.


"Gimana? Mendingan?" tanya Zaid begitu Ave mendekat.


"Kok Bapak yang nyiapin sarapan?" Ave makin yakin sebentar lagi ia akan diberhentikan. Sudah berkali-kali Zaid memilih menyediakan sarapannya sendiri.


Zaid meletakkan piring berisi sandwich yang ia buat lalu menarik tangan Ave, menyuruhnya duduk. "Kamu kan lagi kurang sehat, Ve. Walaupun sudah sehat, tapi gak ada salahnya hari ini saya yang nyiapin dulu. Lagipula ini hanya sandwich aja."


Mulut Ave cemberut. Tapi matanya sibuk meneliti roti lapis di depannya. Ini jelas-jelas bukan buatan seseorang yang sekadar menyediakan sarapan. Ada fillet ayam di balik lapisan itu.


"Bapak bisa masak kan?" tebak Ave usai memakan segigit.


Zaid yang sudah duduk di depan Ave hanya mengangguk-angguk. "Tentu saja. Hanya saya gak punya waktu untuk memasak. Sibuk."


"Kenapa gak ngasih tau Ave? Kalo tau kan Ave gak perlu blingsatan pulang tiap hari," keluh Ave.


Zaid tertawa. "Itu kan memang tugasmu."


"Terus sekarang kenapa mau masak?" selidik Ave.


"Karena saya mau nunjukin kalo saya juga calon suami yang ideal," jawab Zaid lugas. Mulut Ave langsung monyong usai mendengarnya.


Lalu keduanya sama-sama menghabiskan sarapan dalam diam. Saat Ave berdiri membereskan meja makan, Zaid menghilang ke ruang kerjanya. Ia kembali ketika Ave selesai mencuci piring.


"Ve, ini hape bekas saya. Kamu pake ini aja," kata Zaid sambil menyodorkan sebuah ponsel.


Sepintas, ponsel itu mirip dengan ponsel milik Zaid. Ave meraihnya, memeriksanya. Benar. Mirip sekali.


"Loh ini bukannya punya Bapak?" tanya Ave lagi.


Zaid mengangkat bahu. "Kan tadi saya bilang hape bekas saya, Ve. Saya udah beli yang baru."


"Terus hape Bapak yang baru mana?"selidik Ave.


Dengan tenang Zaid mengeluarkan ponselnya. Ponsel yang sama persis dengan ponsel yang ada di tangan Ave. Kontan Ave tertawa. "Aduuh, Pak! Orang-orang itu kalo ganti hape tuh sama yang speknya lebih bagus. Ini mah sama aja kale. Ketahuan yak sebenarnya pengen beliin Ave yang baru? Ya kan? Ya kan?"


Mata Zaid menyipit. "Kan kamu gak mau saya belikan. Makanya saya beli baru, kamu pake yang lama."


Ave tertawa lagi. "Bukannya Ave gak mau, Pak. Entar malah dipotong gaji aja. Males dah! Mending gak usah deh."


"Yang mau potong gaji kamu siapa?" Kening Zaid berkerut. Ia sedikit kesal. Gadis ini sering memikirkan hal-hal yang di luar bayangannya.


"Jadi gak bakal dipotong gaji nih? Ini gratis?" tanya Ave dengan mata sedikit terbelalak.


"Iya, gratis, " ucap Zaid dengan wajah datar.


"Beneran nih? Ave rekam nih pernyataan Bapak." Ave mengacungkan ponsel yang baru saja diberikan Zaid padanya.


Zaid menyeringai. "Kamu mau saya tanda tangan surat pernyataan di atas materai sekalian biar yakin saya gak bohong?"


"Berarti kalau gitu ini gak dibalikin lagi kan?" tanya Ave masih tak percaya.


"Enggak, Avelia Shamsiah!" kata Zaid dengan senyum dikulum.


"Ya udah kalo gitu tukeran," ujar Ave seraya menyodorkan ponsel itu kembali pada Zaid.


"Tukeran?" ulang Zaid bingung.


"Iya, kan katanya Bapak pengen ngasih Ave hape yang baru, tapi karena Ave gak mau, makanya Bapak kasih hape bekas. Tapi karena sekarang Ave tahu Bapak gak niat motong gaji Ave, ya udah Ave mau deh hape barunya."


"Hah?" Zaid tercengang.


Gadis itu mengangkat bahu. "Iya. Daripada hape bekas, Ave lebih suka hape baru. Gratis lagi."


"Tapi... "

__ADS_1


"Yeee, kan tuh... Bapak gak ikhlas kan sekarang." Ave balas menyeringai menggoda pria itu lagi.


"Bukan gitu... "


"Bapak juga maunya pake yang baru ya? Ya udah deh. Gak papa juga. Tapi kalo ikhlas itu jangan setengah-setengah, Pak. Kita tuh kalo ikhlas harus seikhlas-ikhlasnya... "


"Yang di tanganmu itu justru hape yang baru saya beli, Ve," sela Zaid memotong kata-kata Ave. Bibirnya membentuk garis mendatar.


Ave menatap Zaid terpana. Lalu memeriksa lebih teliti. Ada label plastik yang masih tertempel di bagian belakang casing ponsel itu. Ave mendongak lagi. Matanya mengerjap. Bersinar penuh cinta. "Aah, Bapak co cuit banget sih."


"Maaf Ve, saya bohong karena kuatir kamu gak mau."


"Sering-sering aja. Bohong model gini gak papa kok, Pak. Sekalian ya ngasih sepatu bekas, tas bekas, mobil bekas. Tapi baru...  Hahaha!" cetus Ave tergelak.


"Dasar kamu!" Tangan Zaid terangkat, mengacak poni rambut Ave. Gadis itu berusaha mengelak, tapi Zaid tak peduli.


Dalam perjalanan ke kantor, Ave sibuk memainkan ponsel barunya. Membiarkan Zaid mengemudi.


"Ve?"


"Mmmm... " jawab Ave tanpa memindahkan tatapannya dari layar ponsel.


"Kamu mau sampai kapan manggil saya resmi terus? Saya punya nama," kata Zaid. Ia ingin membuat hubungannya dengan Ave selangkah lebih maju.


Ave menoleh sekilas. "Baiklah. Kalau gitu mulai sekarang Ave manggilnya... Bapak Zaid." Lalu ia sibuk lagi memainkan ponsel barunya.


Zaid menghela napas. "Bukan begitu, Ve! Nama saya kan gak terlalu panjang."


Mata Ave menatap Zaid heran. Lalu ia mengulangi. "Ooh, Bapak Zaid Zabir yang baik hati."


"Ave, setua itukah saya sampe kamu panggil bapak-bapak terus?"


Kali ini Ave menoleh dengan senyum lebar. "Jadi beneran nih Ave boleh manggil tanpa 'Bapak'?"


Zaid mengangguk yakin.


"Aveee!"


Ave tertawa-tawa. "Ya udah, mau dipanggil apa? Kakak, Abang, Mas atau.... Oppa. Aaah enggak ah. Ave aja jijik dengernya. Gimana orang-orang?" gumam Ave bergidik sendiri, membuat senyum di wajah Zaid segera menghilang.


"Kamu pikir saya mau dipanggil apa tuh... Opa? Itu kan buat manggil kakek-kakek," sungut Zaid.


"Astaghfirullah, manusia kudet! Oppa itu artinya mas-mas bahasa Korea, Bapaaak! Ya udah Ave panggil aja.... Babang... tamvan?" goda Ave dengan gaya merayu.


"Aveee!"


"Atau... Yayang Zaid?" goda Ave lagi dengan tawa tertahan.


"Stop Ve! It's disgusting! Panggil Mas saja."


"Mas? Okelah... Mas Zaaaid." Nada rayuan mendayu-dayu, meluncur dari bibir Ave.


"Gak usah pake tone begitu juga, Ve. Biasa aja!"


Ave berdehem. "Ehem. Mas... Zaid," ucapnya dengan anggun.


Zaid mengangguk puas. Ia tersenyum senang.


Sementara kilatan mata Ave berubah sekilas. Sembari menyembunyikan ide baru yang terlintas di kepalanya barusan, ia menahan senyum. Selama Mr. Snowy-nya senang, ia akan baik-baik saja.


Karena sama-sama sibuk, keduanya langsung ke lantai departemennya masing-masing. Hingga menjelang makan siang, Ave dan Zaid kembali bertemu di ruang meeting. Kali ini akan ada presentasi semua tim untuk beberapa proyek sekaligus.


Di tengah meeting, ada pesan masuk ke ponsel Ave.


[Papa: Ve, Papa mau makan siang sama kamu bisa? Papa otw ke gedung kantormu]


Apa?!


Aduh, bagaimana ini? Kalau Papa datang, dan ada yang mengenali Papa. Bukan tidak mungkin semua penyamarannya akan sia-sia. Dulu Papa berhasil membuat banyak perusahaan tak berani menerimanya. Bagaimana kalau sampai Papa tahu soal The Crown dan memaksa Zaid memecatnya? Tidak!

__ADS_1


Sementara, perubahan wajah Ave jelas terlihat oleh Zaid yang memang sesekali memperhatikan gadis itu. Meeting ini hanyalah satu-satunya cara agar ia bisa melihat Ave selain di rumah. Tak ingin mengganggu meeting, Zaid mengirim pesan.


[Zaid: Kenapa Ve?]


Ave membaca pesan itu dan buru-buru menjawab.


[Ave: Ave minta izin makan siang di luar boleh gak, Pak?]


[Zaid: Dengan siapa?]


[Ave:  Enggak dengan siapa-siapa. Pengen makan sendiri aja]


[Zaid: Bukannya kamu lagi sibuk? Ada apa?]


Jempol Ave berhenti di layar ponsel. Bingung menjawab apa. Ia hanya bisa menatap ke arah Zaid. Zaid juga menatapnya. Seolah-olah menyuruh gadis itu untuk menjawab pertanyaannya segera. Tapi Ave terdiam.


Begitu juga seisi ruang meeting.


Saat Zaid mulai sibuk dengan ponselnya. Staf yang tengah mempresentasikan rencana sudah selesai. Ia pun mengajukan pertanyaan. "Menurut Bapak sendiri bagaimana? Apakah ada saran?"


Tapi Zaid malah menunduk, mengetik sesuatu di ponselnya dan menatap layar aplikasi pesannya tanpa peduli pada staf itu. Ketika semua orang saling memandang tak mengerti, mereka justru tak sengaja melihat Ave juga tampak sibuk mengetik sesuatu. Tanpa kata, perlahan ada kesimpulan muncul di benak mereka. Jangan-jangan...


Keyakinan akan kesimpulan itu menebal saat Zaid dan Ave jelas-jelas bertukar tatapan. Dan keduanya sama-sama tak sadar diperhatikan semua orang.


Zaid melirik layar ponselnya lagi.


[Ave: Papanya Mas Ajie datang! Ngajak Ave maksi! Gak enak kalo nolak]


"Ehem!" Pak Bambang yang berada tepat di samping Zaid akhirnya berdehem. Cukup untuk membuat Zaid menoleh padanya dan tersenyum. Ia sudah terlihat santai.


"Lanjutkan! Lanjutkan!" perintah Zaid. Ia meletakkan ponselnya di atas meja.


"Mmm... Tadi menurut Bapak bagaimana?" ulang staf yang memberi presentasi itu lagi.


Dengan tenang Zaid berpaling pada Pak Bambang. "Gimana Mas, menurutmu?"


Sambil tersenyum simpul, Pak Bambang pun mulai memberikan pendapatnya, membuat Zaid bisa bernapas lega. Tapi kini tak semua memperhatikan isi pertemuan ini lagi. Mereka malah sibuk memperhatikan gerak-gerik Zaid dan Ave, yang beberapa kali bertukar senyum dan tatapan.


Sampai Alina memperhatikan ponsel yang tergeletak di depan Zaid dan Ave. Mata gadis itu mendelik sebelum ia menoleh pada Rose dan Fitria. Dengan isyarat bola matanya, ia menunjukkan persamaan kedua ponsel tersebut. Dua gadis yang mengapit Alina juga tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka pada fakta itu.


"Kamu kenapa sih, Ve? Dari tadi gak konsen. Lagi meeting juga!" tegur Michael yang sedang membereskan semua berkas di depannya. Salah satu anggota tim Ave.


Ave bahkan tak tahu kalau rapat telah berakhir. Ia melemparkan tatapan meminta maaf. Tapi ia tak sempat bicara, saat sudut matanya menangkap bayangan Zaid yang menuju ke arahnya. Tepat saat itu Pak Bambang berbicara pada Ave.


"Jam 1 nanti kita ketemu sama klien ya Ve. Draft storyboard kemaren mau direvisi. Jack, Mick dan Teddy biar ngerjain yang ini dulu di kantor. Bisa kan?"


"Pak, Ave mau izin makan siang di luar. Ave kuatir gak bisa on time. Udah terlanjur janji."


Wajah Pak Bambang berkerut tak setuju. "Tapi, Ve. Ini penting. Gak bisa dicancel janjimu itu?"


Lalu ide yang tadi ia simpan dalam otaknya muncul lagi saat melihat Zaid mendekat. Inilah saat paling tepat untuk menggunakannya.


"Aah, Mas... Mas Zaid mau makan siang?" tanya Ave sambil tersenyum manis.


Pak Bambang yang berdiri tepat di sebelah Zaid tercengang. Juga sebagian staf yang belum semuanya keluar ruangan. Keinginan untuk melarang Ave luntur sudah. Panggilan semesra itu tak mungkin digunakan oleh karyawan biasa. Siapa yang berani melarang calon istri atau mungkin kekasihnya boss?


Meski menginginkan Ave memanggilnya seperti itu, Zaid tak membayangkan kalau Ave justru akan menggunakan panggilan itu dengan nada manja seperti itu, justru di hadapan semua staf. Tapi ia tak bisa berkata apa-apa, selain mengangguk.


"Kalau begitu, selamat makan ya Mas... Zaid," lanjut Ave. Masih dengan nada yang sama.


Zaid hanya bisa menghela napas sebelum berlalu, diikuti oleh Hazmi yang tersenyum geli dan saling melempar tatapan penuh arti pada Ave.


Zaid telah menciptakan seorang monster kecil.


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2