Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 59 - I Only Want You


__ADS_3

~  Aku... hanya ingin... kamu, Ve (Zaid) ~


Saat Ave ingin menemui Elang di ruang kerja Zaid. Ternyata sahabatnya itu sudah pulang dan Zaid juga tak ada di ruang kerjanya. Jenny yang memberitahu Ave kalau Zaid sedang beristirahat di lantai 9. Bergegas, ia naik ke lantai 9 untuk menemui Zaid.


"Mas Elang ke sini ngapain, Mas?" tanya Ave begitu duduk di sebelah Zaid yang tengah memejamkan mata bersandar di kursi menghadap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota.


"Kenapa? Kamu pikir dia datang ke sini karena mau ngelamar kamu?" Zaid balik bertanya tanpa membuka mata. Wajahnya terlihat lelah.


Ave sebenarnya kesal dijawab sedingin itu, tapi akhirnya ia hanya bisa bergumam, "Issh... Nanya aja kali."


Zaid membuka matanya perlahan. "Seperti apa hubungan kalian?"


Ave menoleh ke sampingnya. Menatap wajah dingin yang nyaris tak menunjukkan ekspresi apapun itu. "Menurut Mas?" tanya Ave penuh arti.


Sesaat terlihat kilasan kaget di mata Zaid sebelum ia mengibaskan tangannya. "Lupakan, tak perlu kamu jawab! Kapan sih kamu mau jujur sama aku?" katanya sebelum kembali memejamkan mata dan kembali menyandarkan kepalanya. Ia sengaja duduk di sini untuk mendinginkan hati dan kepalanya yang terasa membara setelah pertemuan dengan Elang.


"Baik. Ave akan jujur... "


Bibir Zaid membentuk senyum miris. Tapi ia tak bergeming. Itu hal yang tidak mungkin dilakukan Ave saat ini.


"Nama Ave yang sebenarnya Avelia Shamsiah Al Farizi. Ajie Al Farizi kakaknya Ave dan Kak Lily adalah kakak ipar Ave. Ave tidak boleh memberitahu identitas asli Ave karena punya perjanjian khusus dengan Papa untuk itu."


Tubuh Zaid membeku. Ia tak tahu harus membuka mata atau tidak. Namun memutuskan untuk tak bergerak dan terus mendengarkan.


"Sejak orangtua Ave bercerai, Ave ikut Mama dan Ajie ikut Papa. Ave kenal Mas Elang di Sydney. Di sana kami akrab sebelum Ave pulang duluan. Beberapa bulan lalu Ave... baru ketemu lagi dengan Mas Elang. Waktu kami bertemu lagi, Mas Elang sudah punya pacar dan Ave gak pernah satu haripun punya hubungan percintaan apapun dengan Mas Elang. Mas Elang bilang, Ave akan selalu jadi adiknya. Ave juga menganggapnya seperti saudara."


Akhirnya Zaid membuka matanya dan berpaling ke sampingnya, melihat Ave yang juga menatapnya. Gadis ini mengakui semuanya dan sejujurnya Zaid sendiri tak menyangka ia melakukannya.


"Kami berpelukan itu karena kebiasaan di Aussie aja, Mas. Di sana begitulah cara yang biasa dilakukan semua orang. Mas Elang juga memeluk teman-teman ceweknya yang lain. Kami benar-benar hanya bersahabat. Please, don't take this wrong!"


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu juga memeluk semua teman-teman cowokmu selama di sana?" potong Zaid. Ave bisa melihat pijaran api membara lagi di matanya.


Ave tak tahu harus menjawab apa, "Hmm itu... itu... " Zaid menggelengkan kepalanya tak percaya dan Ave buru-buru melanjutkan, "Hanya beberapa! Hanya satu dua aja! Ave gak punya banyak teman di sana!"


"Di sana Ave selalu bersama Mama. Mama sakit keras dan Ave hanya ingin bersamanya. Ave gak punya waktu untuk bergaul, makanya teman Ave gak banyak. Mas Elang banyak bantu Ave ketika Mama baru meninggal. Thanks to him... Ave... Ave gak merasa sendirian."

__ADS_1


"Apa itu berat?" sergah Zaid tiba-tiba.


Ave melongok. "Hah? Berat? Apanya?"


Zaid tersenyum tipis lagi. Tapi matanya terlihat sedih. "Saat Mama meninggal... Apa itu berat?"


Sekali lagi tatapan mereka bertemu. Dua orang yang tahu benar rasanya kehilangan. Emosi berkecamuk di hati keduanya, tapi sama-sama tak berani mengungkapkannya. Ave takut airmatanya jatuh lagi, karena membicarakan masa itu selalu menyesakkan dadanya. Zaid tahu jawaban yang tak bisa dikatakan Ave dan ia paham benar rasanya. Ia menyesal menanyakan hal itu, seakan membuka luka lama kekasihnya. Tapi sudah terlambat...


"... Yes, really really hard. Ave bahkan berpikir untuk... " Jawaban itu menggantung dan Ave menunduk. Setitik air jatuh di atas kedua tangannya yang saling menggenggam di atas paha Ave.


Hening. Hanya tangan Zaid bergerak menggenggam kedua tangan Ave yang mungil. Lalu perlahan Ave menyandarkan kepalanya ke bahu Zaid. Tanpa berkata apa-apa, Zaid menularkan kehangatan melalui tangannya juga membiarkan gadis itu bersandar padanya. Dalam diam, ia membiarkan Ave meluapkan kerinduannya.


Jauh dalam hati Zaid, ia mulai memahami hubungan antara Ave dan Elang. Ia berterima kasih pada Elang. Pemuda itu punya banyak kesempatan untuk mencintai Ave jika dia mau. Elang bersama dengan Ave saat gadis ini sedang membutuhkan seseorang. Kalau akhirnya salah satu dari mereka jatuh cinta, itu sesuatu yang sangat wajar.


Tapi ini tidak, Elang justru mencintai orang lain dan Ave memilih mengatakan semua tentang mereka dengan jujur padanya daripada terjadi salah paham dengan Zaid. Seluruh kecemburuan Zaid luntur seketika.


Satu-satunya penyesalan Zaid, ia tak bersama Ave saat itu.


Setelah beberapa saat, Ave mulai bercerita tentang Papa dan perjanjian konyol mereka. Zaid mendengarkan semuanya tanpa memotong sama sekali. Ia kini mengerti, keluarga Al Farizi tak seperti yang ia sangka. Senyum penuh rasa bersalah tersungging saat Zaid mengenang teman bertubuh kurus yang pendiam saat di SMP dulu. Pantas kalau Ajie membenci dirinya dan teman-teman lain karena mengejeknya.


"Tapi Mas harus janji ngerahasiain siapa Ave sebelum masa taruhan Ave dan Papa selesai. Papa itu punya banyak mata-mata. Sedikit aja celah, Ave gak akan bisa nikah sama Mas."


"Jadi kamu beneran mau jadi istriku?" tanya Zaid dengan senyum dikulum.


Giliran wajah Ave berubah dingin. "Jadi Mas ngelamar itu main-main aja? Oh ya udah... "


"Apa maksudmu? Kamu gak mau jadi istriku?"


"Emang kapan Ave bilang Ave mau jadi istrinya Mas?"


"Kamu... "


Ave tertawa kecil. Lalu menepuk-nepuk telapak tangannya dengan telapak tangan Zaid. "Waktu Kak Lily dilamar, dia dilamar di lantai atap GE yang diubah jadi taman bunga. Mas Ajie juga memesan perhiasan terbaik dari luar negeri," katanya tersirat.


"Aku bukan Ajie," sergah Zaid cepat.

__ADS_1


"Dan jadi kekasih, jadi pacar... belum tentu jadi istri. Siapa yang bilang kalau semua orang pacaran bisa jadi pasangan suami istri."


Mata Zaid menyipit. "Kenapa kamu ngomong begitu?"


"Just saying... "


Lagi-lagi Zaid menahan geram. Tapi Ave tak peduli. Pria tanpa perasaan ini harus diberi pelajaran. Ave sudah menjelaskan semua perasaannya, bagaimana mungkin pria ini melamar hanya dengan sebaris kalimat? Apa dia pikir Ave hanya barang yang bisa diambil dan dibawa seenaknya?


"Kamu jadi menemui Lily dan Tiar?" tanya Zaid seakan tak peduli dengan sindiran Ave. Ia malah mengganti topik obrolan.


Ave hanya bisa menghela napas. Percuma. Pria sedingin es tanpa perasaan ini tidak mungkin memahami maksud Ave. Daripada nanti ribut lagi, Ave memilih mengalah. Ia mengangguk.


"Kalau begitu, aku akan pulang jam 10 nanti malam."


Ave hanya mengangguk. Lalu sambil bangkit dengan malas, ia berpamitan. "Kalau gitu, Ave pamit."


Tapi baru saja dia berdiri, tangannya ditarik paksa dan tubuhnya terdorong jatuh ke atas pangkuan Zaid. Pria itu langsung mengunci tubuh Ave dengan kedua tangannya yang melingkar.


"Di mana-mana itu kalau pakai rumah orang ada bayarannya."


Ave terkekeh. "Bayaran? Mas minta bayaran?"


"Tentu saja! Kamu pikir aku jadi pengusaha itu berbekal gratisan. Nothing is free, My Little Princess!"


"Jadi mau... "


Ave belum selesai bertanya, ketika tangan besar Zaid menyentuh dagunya dan menggiring wajahnya mendekati wajah pria itu. "I want this," gumam Zaid sebelum mendaratkan ciuman di atas bibir Ave.


Ketika tangan Zaid yang menyentuh dagunya berpindah ke belakang lehernya dan mempererat pelukannya, di antara ciuman terdengar bisikan dari suara yang berat dan serak. "Aku... hanya ingin... kamu, Ve."


Perlahan tangan Ave melingkari leher Zaid, membiarkan kekasih hatinya memperdalam ciuman. Ave tak lagi memikirkan keinginannya untuk lamaran terindah. Baginya, setiap sentuhan dan setiap kebersamaan dengan pria ini sudah cukup. Tak apa tak ada lamaran mengharukan, tak apa tak ada perhiasan indah yang mahal. Selama ia punya Zaid, ia bisa memperjuangkan apapun demi hubungan mereka.


Ave juga hanya ingin Mas Zaid.


*****

__ADS_1


__ADS_2