Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 55 - You're My Google


__ADS_3

~ You're my everything, You're my Google ~


Sejak keluar dari rumah sakit, Zaid semakin manja. Ia mungkin tak menunjukkannya saat mereka bekerja di kantor, tapi ketika pulang ke rumah, penyakit baru Zaid itu menyiksa Avelia.


Lelaki yang biasanya dingin dan bersikap tak peduli itu sekarang seperti lem yang menempel pada Ave.


"Mau ke mana, Ve?" tanya Zaid begitu Ave berjalan menuju pintu.


Ave menjawab santai sambil memainkan dompet di tangannya. "Ke minimarket dekat persimpangan situ sebentar. Mau beli garam dapur dan... Loh Mas mau ngapain?"


Belum lagi Ave selesai menjelaskan, Zaid sudah mengambil kunci mobil dan bergerak mendekati Ave.


Dengan bibir dicebikkan sedikit, Zaid menjawab, "Ikuuut!"


Bulu kuduk Ave seketika meremang mendengar nada manja itu. Nada manja akan terdengar aneh jika seorang pria jantan yang menyatakannya, apalagi ini Zaid. Bukan hanya aneh, tapi menakutkan!


"Mas kenapa sih? Dari kemarin maunya nempel mulu. Kayak parasit aja!" sindir Ave kesal.


Hanya cengiran kecil terlihat di wajah Zaid. Tanpa peduli sindiran gadis yang sudah memasang wajah cemberut.


"Ada yak orang mau beli garam doang sampe harus naik mobil gini? Orang kayaaah mah bebaaas!" sindir Ave lagi saat mereka sudah di dalam mobil. Mereka tak jadi membeli di minimarket yang hanya berjarak ratusan langkah dari rumah, Zaid malah mengajak Ave ke hipermarket.


"Kan bisa sambil beli yang lain, Yang," kilah Zaid tak mau kalah.


"Yang, yang... Kuyang!"


Zaid terkekeh.


Selama Ave selalu di depan matanya, Zaid tak peduli. Segala cara kini halal baginya, selama itu bisa membuat Ave selalu di sisinya. Setiap harinya dipenuhi kekuatiran. Ia kuatir Ajie merampas Ave dari hidupnya sebelum ia siap dengan rencananya.


Rencana itu tak mudah. Sangat tidak mudah saat berurusan dengan seorang Ajie yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya. Avelia juga adik Ajie satu-satunya dan Zaid sangat mengenal mantan sahabatnya itu sebagai seorang yang protektif terhadap semua miliknya. Tapi ketika mengganggu orang-orang yang disayangnya, Ajie bisa membalas ribuan kali lipat menyakitkan. Dengan semua yang ia miliki, Ajie bisa memusnahkan semua harapan Zaid dalam sekejap mata.


Sebenarnya Zaid hanya ingin Ave. Bahkan jika ia harus kehilangan The Crown. Ia bisa membangun The Crown lain, selama ada Ave di sisinya.


Tapi ini berbeda ketika Zaid harus dihadapkan pada sahabat-sahabat yang bekerja bersamanya. Hazmi, Jenny, Pak Wiryo, Akbar, Alin, Rose, Pak Bambang, dan semua orang-orang yang bergantung pada keputusan Zaid. Nasib mereka tak bisa ikut dipertaruhkan dalam perang ini. Mereka telah berjuang bersama Zaid menjadikan The Crown sebesar saat ini, mereka ada saat Zaid berusaha mengumpulkan puing-puing jati dirinya yang berantakan. Tak mungkin bagi Zaid melupakan mereka hanya karena ego semata.


Jadi selama Zaid bisa, ia ingin membangun hubungan yang sangat kuat dengan Ave. Nanti pada saatnya, ia dan Ave akan sama-sama berjuang agar Ajie menerima hubungan ini. Sambil melakukan semua itu, ia akan melicinkan jalan mereka dengan rencananya. Setidaknya ia berusaha sangat keras. Zaid tak ingin melepaskan sesuatu semudah dulu lagi.

__ADS_1


"... Ngelamun lagi.. "


"Eh, apa? A... apa?" tanya Zaid tergagap. Ia tak menyimak kata-kata Ave barusan. Ia menoleh sekilas, sebelum kembali menatap ke depan.


Ave menatap Zaid. "Nyupir gak boleh sambil melamun, Mas. Bahaya! Ngelamunin apa sih?"


Zaid terkekeh. "Ngelamunin masa depan kita, Sayang!"


"Idiiih... Beneran ini kepala Mas gak perlu dicek lagi? Ave rasa ada yang salah sejak Mas tabrakan deh," kata Ave memutar bola matanya. Ujung bibirnya berkedut menahan senyum.


"Gak perlu, My Google! Sejak ketemu kamu, aku udah bukan aku yang dulu lagi."


Mendengar itu, kening Ave berkerut. "Nah loh, apaan lagi itu My Google? Emangnya Ave Asisten Google? GPS?"


"Loh, kan semua yang Mas cari ada di Ave. You're my everything, you're my Google!"


"Ya ampuuun Mas rayuanmu.... Ave gak kuaat ya Allah, ha ha ha!"


Tawa membahana pun meledak lagi dalam mobil yang melaju sedang itu.


Mama, Ave sangat bahagia. Mama, Ave sudah punya cinta seperti Mas Ajie. bisik Ave dalam hati saat menatap ke pria muda yang sedang tertawa di sebelahnya.


***


"Maas! Ini kan hari Minggu, Ave mau ketemu Papanya Ave!"


"Tapi.. " Zaid memandang sekelilingnya, berusaha mencari alasan. Lalu matanya berkilat, "Rumah kotor! Perlu dibersihkan!"


Ave melongok. "Hah? Tapi sejak kapan tugas membersihkan rumah jadi tugas Ave? Besok pagi juga kan ada housekeeping bersihin. Lagian mana... mana yang kotor?" tanya Ave bingung.


Seperti biasa Ave berencana pulang ke rumah untuk menemui Papa. Seperti biasa, ia harus mengikuti aturan perjanjian mereka. Apalagi hari ini Lily dan Ajie akan datang bersama si baby boy. Ave kangen pada ponakan kecilnya yang kini menjadi pengisi snapgram kedua kakaknya.


Dari pagi tadi, Ave sudah berusaha menyelesaikan semua tugasnya. Ia sudah berbelanja kemarin bersama Zaid dan menyiapkan bahan masakan untuk seminggu. Makan siang untuk Zaid hari ini juga sudah siap. Dapur bersih, ruang tamu juga bersih. Ave bahkan menyiapkan kue kering dan biskuit dalam toples di ruang keluarga untuk Zaid yang belakangan ini sangat betah duduk di situ.


Ini bukan kali pertama Zaid melarangnya pergi di akhir pekan. Padahal ini sudah pekan ketiga Ave tak bisa bertemu keluarganya. Yang pertama karena Zaid masih sakit dan tak mau ditinggal, yang kedua karena Zaid tiba-tiba merasa tak enak badan dan sekarang... saat Ave ingin sekali bertemu keluarganya, Zaid justru melarangnya.


"Pak, tugas Ave itu di sini memasak! Bukan membersihkan rumah!" tegas Ave sambil berkacak pinggang. Ia merengut kesal.

__ADS_1


Ketika Ave memanggilnya dengan 'Pak', itu artinya Ave merasa Zaid bersikap bossy padanya.


Zaid tak menemukan alasan apapun. Tapi ia tetap tak ingin Ave meninggalkannya. Tidak untuk saat ini. Ave belum boleh bertemu keluarganya. Zaid tak ingin rencananya gagal kalau Ave sampai tahu.


Lalu tiba-tiba saja Zaid batuk-batuk. Awalnya pelan, dan Ave hanya menatapnya. Gadis itu pasti tahu kalau Zaid berpura-pura. Tapi ketika batuk Zaid makin keras dan beruntun, Ave mulai kuatir. Buru-buru ia mendekat, menepuk punggung Zaid perlahan.


"Uhuk! Uhuk! Debu... Uhuk! Debu... aku gak tahan debu, Ve. Uhuk!"


Tangan Ave berhenti bergerak. Sesaat ia menatap Zaid tak percaya. Bisa-bisanya laki-laki ini berbohong sampai begitu hanya untuk menahannya. Bukan Ave namanya jika tak bisa membalas.


Dengan senyum sangat manis, Ave pun berkata, "Ya sudah, Yayang Zaid sekarang bobo ya. Dedek Ave gak ke mana-mana. Dedek Ave bakal bersihin rumah. Se.ka.rang!" Walaupun terdengar manis, mata Ave menyorot tajam pada Zaid.


Zaid tak peduli. Mendengar kata-kata Ave, batuk Zaid seketika hilang. Sebagai gantinya, senyum lebar terlihat di wajahnya yang memerah karena memaksa untuk batuk. Dengan langkah lebar, ia menghempaskan tubuh ke sofa di ruang keluarga, mengambil bantal dan tiduran.


Ave ingin sekali menjitak kepala pria itu sekarang. Tapi ia menahannya, tetap tersenyum sebelum mengambil vacuum cleaner dan perlengkapan membersihkan rumah dalam lemari di bawah tangga.


Saat ia mulai mengelap jendela, Zaid tampak santai memandanginya sambil bermain ponsel. Lalu sesekali Zaid menunjuk ke bagian jendela tertentu, memperingatkan Ave untuk membersihkannya juga.


Ingin sekali Ave melemparkan lap di tangannya pada Zaid. Seenaknya saja ia mengalihkan tugas memasak menjadi babu pembersih begini. Cinta sih cinta, tapi Ave benar-benar tak bisa mengerti tingkah Zaid belakangan ini. Satu belum terjawab, Zaid sudah melakukan hal aneh lain. Tapi bukan Ave namanya jika tak bisa membuat Sang Snowy Devil  bertekuk lutut.


Mulut Zaid nyaris tak bisa menahan tawa melihat tingkah Ave. Kakinya yang panjang hitam yang menutupi hingga lutut, kaos kebesaran yang dipakainya nyaris menenggelamkan tubuh mungilnya dan rambut yang sudah mulai panjang digelung asal-asalan membentuk sanggul. Ada saputangan besar menutupi rambutnya. Ditambah bibirnya yang terus mencibir tiap kali menoleh ke arah Zaid, dengan sorot mata yang jelas-jelas kesal, membuat Ave lebih mirip anak remaja yang sedang dihukum orangtuanya. Cantik tapi menggemaskan.


Suara pesan masuk di ponselnya, membuat Zaid mengalihkan perhatiannya sejenak.


[Hazmi: Beres, Id! Gue berhasil. Selamat lo resmi jadi salah satu pemegang sahamnya.]


Membaca pesan itu, seringainya berubah menjadi senyuman lebar. Tanpa menjawab pesan itu, Zaid menoleh pada Ave. Satu rencana telah berhasil.


Gadis itu sedang melompat-lompat untuk mencapai bagian atas jendela. Zaid terkekeh. Dasar anak orang kaya! Ketahuan kalau Ave tak pernah bekerja kasar. Apa dia tak tahu kalau ada alat khusus untuk mencapai bagian itu tanpa perlu squad jump begitu?


Zaid berdiri, hendak mengambil alat pembersih khusus di lemari bawah tangga, saat ia menoleh lagi dan melihat Ave berhenti melompat, menyandarkan kepalanya ke jendela, sebelum gadis itu merosot jatuh ke lantai.


"VE!" teriak Zaid.


Hanya dengan beberapa langkah, Zaid sudah berada di dekat Ave, membawa gadis itu dalam pelukannya. Bergegas Zaid memeriksa wajahnya. Mata Ave terpejam rapat. Ia pingsan.


*****

__ADS_1


__ADS_2