Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 67 - Behind Betrayal


__ADS_3

"Iya, apapun itu," ulang Zaid yakin. Ia tak peduli. Ia harus memperjuangkan Ave sampai akhir.


Ajie melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu terangkat. "Termasuk menyerahkan The Crown?" tanyanya.


Zaid terpana mendengarnya sebelum mengangguk. "Iya, termasuk The Crown."


Ajie tertawa lagi. Ia berjalan mengitari meja dan menarik laci mejanya. "Bahkan tanpa kamu bilang iya sekalipun, The Crown bisa kumiliki kapanpun aku mau."


Wajah Zaid seperti disiram air dingin. Seakan seluruh darahnya tersedot ke atas mendengar kata-kata Ajie. Ia sungguh tak ingin kelanjutannya. Ia hanya tahu, ini pasti sesuatu yang buruk.


Ajie mengambil beberapa dokumen dari lacinya. Melemparkan satu persatu ke atas mejanya sambil berkata, "Ricky menjual 5% sahamnya ke Grandpa gue di Australia demi usaha peternakannya, Grandpa Wilson. Zahra, kakakmu menjual saham 10% untuk mengganti kerugian perusahaan suaminya melalui salah satu cabang anak perusahaan GE di Malaysia.  Natasha diam-diam meminjam ke aku untuk membeli 10% saham dan waktu dia membuka cabang The Crown Models, aku membeli bagian itu secara resmi darinya. 7% dari saham publik The Crown juga ada di tanganku."


Zaid tak bisa berkata apa-apa mendengar pemberitahuan itu. Dokumen-dokumen yang dilempar Ajie ke atas mejanya satu persatu membuat pikirannya kosong melompong seketika. Bagaimana bisa...


"Beberapa minggu lalu Elang menghubungiku, dia bertanya soal kepemilikan saham yang aku punya di The Crown." Seringai khas Ajie muncul lagi. "Dia saja tahu soal itu. Bagaimana bisa kamu malah tidak tahu, Id?"


"Elang juga tahu?" tanya Zaid tanpa bisa menyembunyikan rasa herannya.


Ajie mengangguk. "Tentu saja. Seorang pengusaha seharusnya punya jaringan informasi yang cukup. Dia tidak akan mau membeli saham yang kamu tawarkan kalau dia tidak tahu siapa pemilik lainnya. Kami bahkan menyepakati satu hal."


Zaid merasa tidak perlu bertanya. Ia tahu, Ajie telah memasang jebakan ini sebelum ia menyadarinya. Dari dulu Zaid tahu, Ajie bisa kapan saja menghancurkan The Crown. Hanya ia tak menyangka justru orang-orang yang dipercayanya yang membantu niat Ajie. Mungkin mereka juga tak tahu. Mungkin juga mereka tak sadar. Entahlah. Tapi saat ini Zaid merasa seperti berada di bawah pisau pemotong leher.


"Elang sepakat untuk menjual 10% sahamnya padaku jika aku mau. Ia berharap, The Crown akan semakin berkembang dengan pengaruhku di dunia bisnis. Itu artinya aku juga bisa menghancurkan The Crown semudah membalikkan tangan," lanjut Ajie sedikit tertawa sinis.


"Jadi apa yang ingin kamu lakukan sekarang, Jie?" tanya Zaid pasrah. Ia tahu, percuma menjelaskan panjang lebar jika Ajie sudah seperti ini.


"Aku hanya memintamu memilih. The Crown atau adik gue?"


"Gue memilih Ave!"


Ajie tertawa kecil. "Jangan buru-buru! Kalau kamu pilih The Crown, gue akan memastikan seluruh saham ini akan kembali jadi milikmu dan aku akan membantu mewujudkan rencana ekspansi perusahaanmu yang tertunda. Tapi kalau kamu pilih Ave... " Ajie berhenti bicara namun senyumannya terlihat misterius. "... Maka kamu harus meninggalkan The Crown."


Zaid tersenyum. Tampak tulus. "Gue gak menginginkan apapun, Jie. Gue benar-benar ikhlas kalau lu mau ambil The Crown sekarang. Pilihan gue tetap Avelia. Gue akan tinggalkan The Crown."

__ADS_1


"Baiklah. Tapi aku belum selesai."


"Silakan."


"Aku tidak akan menuntut hubungan kalian putus. Juga tidak akan mengganggu hubunganmu dan Ave. Tapi meskipun Ave adalah adikku satu-satunya, jangan mengharapkan restu atau bantuan apapun dariku."


Zaid menatap Ajie tak percaya. Ia tak mungkin melakukan itu pada Ave. Buat Ave, keluarganya adalah segalanya. Pilihan ini sama saja menyakiti gadis itu.


"Soal The Crown... kurasa yang terbaik adalah menghancurkan. Setidaknya dengan begitu, aku puas bisa menghancurkan jerih payahmu."


"Ajie!" Zaid terkesiap.


Senyum mengejek terlihat di wajah Ajie. "Bukankah kamu bilang tidak ada masalah?"


"Tapi ada banyak orang yang bekerja untuk The Crown, Jie. Mereka tidak bersalah. Bagi beberapa orang, The Crown itu bukan hanya sekadar tempat mereka bekerja. The Crown itu jerih payah mereka, mungkin... mungkin hidup mereka juga."


"Adikku juga! Adikku itu segalanya bagiku dan Papa!" bentak Ajie keras, sebelum ia memejamkan mata dan menurunkan volume suaranya.


"Avelia juga tidak bersalah. Aku hanya melakukan tugasku sebagai kakak. Kamu bukan pria yang cocok untuknya dan aku akan melakukan segalanya, sekalipun itu menghancurkan orang lain untuk melindungi adikku," ujar Ajie dengan nada tajam.


"Apa perbuatan gue dulu benar-benar mengubahmu jadi orang tak punya perasaan seperti ini, Jie?" tanya Zaid dengan wajah datar.


Ajie tak menjawab.


Zaid mengangguk-angguk pelan. "Jadi kalau gue meninggalkan... Ave, lu bersedia tetap mempertahankan semua karyawan The Crown?"


Ajie mengangguk. "Lebih cepat, lebih baik."


"Tapi... kalau gue pergi dari The Crown, tidak mungkin bisa cepat. Gue harus hand-over pekerjaan dan juga... Ave. Bagaimana dengan Ave? Kalau ia harus resign dari The Crown, ia pasti kalah taruhan dengan Papa kalian. Gue sudah janji... "


"Aku bisa mengatasi semua itu. Tak perlu kuatir. Soal cafe yang diinginkan Ave, aku bisa bicara dengan Papa. Tentang The Crown... jangan lupa aku ini siapa!"


"Jie... tidak bisakah gue menunggu sampai Avelia selesai dengan taruhannya?" pinta Zaid.

__ADS_1


Ajie menggeleng. "Aku tidak ingin adikku sedih. Makin cepat kamu menyingkir dari hidupnya, makin baik untuknya."


Kedua pria itu berdiri berhadapan, untuk sesaat saling bertahan dengan pendapatnya masing-masing dalam diam. Sebelum akhirnya, Zaid menghela napas panjang dan mengangguk setuju.


"Gue akan pergi dari Ave. Gue akan... tidak... gue tidak akan menjelaskan apa-apa ke Ave. Silakan jika lu mau ceritakan semuanya, bahkan jika dia membenci gue setelah itu. Tidak apa-apa."


Zaid berusaha mengatur emosinya. "Tapi... gue mohon jaga Ave baik-baik, Jie. Setidaknya gue ngerasa lebih baik kalau dia baik-baik saja."


"No worries. She'll fine," ucap Ajie singkat.


[Gak perlu kuatir. Dia akan baik-baik saja]


Wajah Zaid jauh lebih baik. Senyum tipis terlihat di bibirnya, sebelum ia mengangguk dan melangkah menuju pintu keluar.


"Zaid..."


Langkah Zaid terhenti dan ia menoleh kembali pada Ajie.


"Bagaimana rasanya dikhianati orang-orang yang kamu percayai, Id?"


Pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan Ajie membuat tubuh Zaid kaku. Sesaat suasana hening karena Zaid juga berpikir sejenak.


"Itu artinya gue mungkin tidak cukup baik sebagai teman atau adik mereka. Tapi tidak masalah buat gue sekarang, kehadiran mereka selama ini sudah banyak membantu gue, itu sudah lebih dari cukup. Saham The Crown hanyalah tentang angka, tapi sebagai teman dan keluarga gue, mereka tidak ternilai. Gue pernah sangat putus asa dan merekalah yang membuat gue memilih untuk terus berjuang dan tetap hidup." Zaid tersenyum pada Ajie. "Lagipula, mereka menjualnya pada seseorang yang juga mereka percaya. Gue yakin lu sendiri tidak akan menyia-nyiakan itu kan?"


Ajie baru hendak membuka mulut ketika Zaid mengangkat tangan mendadak. "Ah, dan sekali lagi gue minta maaf sama lu. Gue gak tau kalau lu benar-benar sakit hati selama ini. Gue gak pernah menganggap serius apa yang gue katakan saat itu. Gue selalu menganggap lu teman baik dan semua itu hanya candaan biasa. Gue bukan anak orang kaya seperti lu, jadi gue gak tau kalau nilai persahabatan di mata lu lebih berharga dibandingkan dugaan gue. Sungguh gue minta maaf. Semoga dengan semua yang terjadi ini, lu tidak lagi menyalahkan siapapun."


Lalu tanpa menunggu lagi, Zaid membuka pintu dan keluar.


Ajie berdiri cukup lama memandangi pintu yang tertutup lagi. Lalu ia menatap ke atas mejanya. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lakukan barusan sama sekali tidak salah.


Namun Ajie tahu, ini adalah pertaruhan paling beresiko yang pernah ia putuskan.


Maafkan Mas, Avelia. Ini untukmu.

__ADS_1


*****


__ADS_2