Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 68 - Promise and Dream


__ADS_3

~ Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi jangan pernah menyerah untuk mewujudkan mimpimu ~


Ketika mengemudikan motornya kembali ke kantornya sendiri, sepulang menemui Ajie, Zaid teringat percakapannya semalam dengan Avelia. Saat mereka duduk di sofa berdampingan di malam ulang tahun Ave.


"Ve, kalau aku gak lagi jadi presiden direktur dan hanya jadi supir ojek onlen. Apa kamu masih mau menjadi istriku?" tanya Zaid tiba-tiba.


Ave mendongak. Ada senyum di sudut bibirnya. "Ya enggaklah, Mas. Cewek mana yang mau sama cowok yang tadinya presdir tiba-tiba jadi supir ojek? Sebodoh-bodohnya Ave, mikir masa depan anak-anak Ave nanti juga kali."


Seketika wajah Zaid berubah muram. "Jadi kamu mau ninggalin aku?"


Ave menepuk-nepuk tangan Zaid. "Ya enggak juga. Kan Mas cinta banget sama Ave. Ave gak tega ninggalin Mas."


"Tapi kamu bilang gak mau jadi istrinya supir ojek."


"Itu karena Ave akan memastikan Mas jadi presiden direktur lagi. Kita bangun perusahaan baru lagi, Ave yang jadi ide kreatornya, Mas yang jadi bosnya. Gini-gini, Ave ini sebenarnya lulusan luar negeri loh dan udah pengalaman kerja dari bawah. Siapapun yang mau berusaha, pasti bisa mendapatkan apapun yang ia mau," kata Ave yakin.


"Lalu mimpimu sendiri gimana? Yang mau bangun cafe itu?" tanya Zaid.


"Bukan membangun cafe yang sebenarnya jadi mimpi Ave, Mas." Tawa Ave berganti menjadi senyum tipis.


"Bukan? Lalu apa?"


Ave menyandarkan kepalanya ke dada Zaid. "Itu karena Ave suka berada di dapur. Ave suka memasak, Ave suka melihat orang-orang makan masakan Ave. Bahkan dulu saat bekerja paruh waktu, itu bukan karena Ave butuh uang. Itu terapi jiwa buat Ave juga."


"Terapi jiwa apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa itu setelah almarhumah Mama tiada?"


Sudah beberapa kali Zaid mendengar tentang masalah Ave di Sydney dari teman-temannya, tapi ia tak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi. Inilah saatnya untuk mengetahui itu. Mungkin ia bisa memahami alasan Ajie begitu menentang hubungan mereka.


Cukup lama Ave diam sebelum akhirnya ia mulai bicara. "Iya. Saat itu Ave gak tau harus gimana. Ave juga gak tau harus ngadu ke siapa. Waktu itu hubungan Papa dan Grandpa juga lagi perang dingin, jadi Papa gak tau kalau Mama meninggal karena Grandpa gak tau harus kontak ke mana. Mama putri satu-satunya Grandpa. Grandpa terlalu tua. Ave terlalu muda. Jadi kami berdua sama-sama terluka, tapi sama-sama gak tau caranya saling menyembuhkan. Saat itu Ave hanya merasa... sendirian."


Zaid mempererat pelukannya. "Andai aku bersamamu saat itu, Ve," bisik Zaid sambil mengecup dahi Ave.


"Itu sebabnya Ave dekat dengan Mas Elang, Mas. Mas Elang teman yang baik. Dia juga yang bantu Ave nyari kerja. Walaupun alasannya konyol banget."


"Elang beruntung... " desis Zaid dengan suara rendahnya. Ada iri terasa dalam nada suaranya itu.


Ave menggeleng-gelengkan kepalanya. Tersenyum kecil. "Dia itu ada maunya bantu Ave. Mas! Itu Mas Elang sengaja nyariin Ave kerja di cafe tempat ia biasa nongkrong, supaya tiap hari Ave bisa jagain tempat duduk spesialnya."


"Benarkah?"


Kembali Ave duduk tegak, menatap Zaid. "Tau gak apa yang dia kerjain saat itu? Ya itu... nontonin semuaaa film dan dramanya Mbak Natty. Dia fans beratnya dari dulu. Makanya Ave gak heran kalo mereka jadian."


Zaid mengangguk-angguk. Dalam hatinya ia merasa sedikit bodoh dulu pernah menduga kalau antara Ave dan Elang ada perasaan lain selain persahabatan.

__ADS_1


"Tapi Mas Elang benar juga sih. Melayani orang sampai badan capek, bertemu banyak orang dan sering mengobrol ternyata menjadi terapi baik untuk melupakan kesedihan Ave. Gimana mau mikirin yang sedih-sedih lagi, badan Ave udah capek banget. Bawaannya pas pulang ke apartemen ya hanya ingin tidur," kata Ave sambil kembali bersandar pada Zaid.


"Sejak kapan kamu suka masak?" tanya Zaid ingin tahu. Tangannya membelai rambut Ave perlahan.


"Yang suka memasak itu awalnya Mama. Nah Ave hanya ikut-ikutan, kebiasaan dari kecil liat Mama di dapur. Sambil masak, Mama pernah bilang kalau memasak bisa memberikan kebahagiaan dan kegembiraan. Itu hobi yang menyenangkan gak cuma diri kita sendiri tapi juga orang lain."


"Dan itu alasanmu ingin membangun Cafe?"


"Salah satunya... karena Cafe adalah tempat keluarga, para kekasih yang lagi jatuh cinta dan para sahabat untuk  berkumpul, makan-makan bersama. Tempat orang-orang merasa memiliki tempat selain rumah. Homey dan cozy."


Sesuatu terlintas dalam benak Zaid. "Loh kalau entar yang pacaran putus, atau pasangan yang bercerai, atau ada keluarga mereka yang udah gak ada lagi gimana? Cafe-mu bakal gak didatangi mereka lagi," tanya Zaid.


"Salah banget kalo Mas mikir gitu," sergah Ave cepat.


Sebelum Zaid sempat bertanya, ia sudah melanjutkan kalimatnya. "Mereka pasti akan kembali. Untuk sebuah kenangan. Untuk mengingat anggota keluarga yang tiada, untuk kekasih yang pergi dan untuk sahabat atau keluarga yang tidak kembali. Semua orang itu butuh kenangan sebagai alasan untuk hidup. Kenangan itu tidak ternilai. Sama seperti Ave, yang bertahan untuk hidup demi kenangan Mama. Ave tetap hobi masak kan juga karena pengen selalu inget Mama."


Lalu Ave mendongak lagi. "Dan kenangan itu akan membuat seseorang menghargai semua yang masih ia miliki. Just like how thankful I am to meet you, Mas."


[Seperti betapa bersyukurnya aku bertemu denganmu]


"Kalau begitu, walaupun nanti kamu kalah taruhan. Kita berdua akan tetap mewujudkan Cafe-mu itu, karena sekarang mimpimu juga jadi mimpiku, Ve," janji Zaid.


Ave tertawa. "Lah tadi katanya mau jadi supir ojek onlen?"


Mereka tertawa berbarengan. Seperti biasa saling membalas.


"Tenang aja, Mas! Tabunganku sebentar lagi bakal memenuhi syarat Papa. Lagipula, Papa sengaja begitu bukan karena dia gak pengen ngasih modal. Papa hanya ingin lihat kesungguhan hati Ave aja. Dulu Mas Ajie juga digituin kok. Hanya tau ajalah... Mas Ajie mah bukan manusia. Dia mah dewa uang. Gak diajarin juga apa aja bisa jadi uang di tangannya."


"Ha ha ha, ngomongin kakak sendiri itu, Ve? Ajie bisa makin marah sama aku. Dikira aku ngajari kamu."


"Enggaklah... Mas Ajie itu sayang banget sama Ave, Mas. Pasti dia ngasih restu sama kita," ucap Ave santai.


Sesaat ingatan Zaid kembali pada pertemuannya dengan Ajie. Hubungan Ave dengan kakaknya pasti sangat baik, ia bahkan tak mengetahui sisi kejam Ajie yang menakutkan itu. Tapi demi Ave, Zaid berjanji dalam hatinya untuk tetap berjuang.


"Kalau keluargamu, Ajie atau Papa nanti gak ngasih restu hubungan kita, gimana, Ve?" Akhirnya Zaid tak tahan untuk tidak bertanya.


"Kalau Mbak Zahra gak ngasih restu hubungan kita, gimana, Mas?"


"Kamu... " Zaid menunduk menatap Ave, tak bisa meneruskan kata-katanya. Ia hanya bisa menghela napas. Ia tidak mungkin memberitahu Ave.


Ave kembali mendongak, "Ave sayang sama Mas Zaid. Tapi keluarga juga segalanya bagi Ave. Hanya tinggal Papa dan Mas Ajie yang Ave punya, jadi Ave ingin Mas bisa akur dengan mereka. Mas mau kan mengalah demi Ave? Mas jangan kuatir! Kak Lily dan keluarganya juga pasti bantuin kita. Ave yakin, kalau kita berusaha, Papa dan Mas Ajie pasti mau merestui kita."


"Baiklah, Sayang. Aku pastikan akan meminta restu mereka dulu. Secepatnya. Kau benar, keluarga adalah segalanya."

__ADS_1


"Ya secepatnya. Eh kenapa harus cepat-cepat juga sih?" tanya Ave lagi.


"Karena memelukmu seperti ini benar-benar ujian mental luar biasa... "


Ave menepuk dada Zaid. "Idiih, dasar otak mes**!!"


"Ha ha ha!"


Malam itu, sebelum Ave memejamkan mata, ketika Zaid tahu gadis itu sudah sangat mengantuk, pria itu kembali bergumam, "Ve, apapun yang terjadi, kamu harus tetap mewujudkan mimpimu itu."


"Hmmm." Ave tak menjawab. Gadis itu mendengar, tapi matanya sudah terlalu mengantuk.


Zaid benar-benar tak tak tahu cara menghadapi Ave andai ia tahu bagaimana respon Ajie hari ini.


Pria itu telah menutup seluruh jalan yang dikira Zaid bisa menjadi celah untuknya dan Ave. Zaid tak bisa membuat Ave memilih. Itu sama saja akan menyakiti Ave. Itu sebabnya, Zaid memilih mengorbankan dirinya. Itu lebih baik.


Untuk itu, Zaid perlu memastikan beberapa hal. Ia telah lama mengabaikan urusan The Crown. Sungguh ia tak percaya, Ajie bisa menguasai saham perusahaan yang ia dirikan, lebih dari perkiraannya.


Semuanya kembali berputar. Hazmi sudah berkali-kali mengingatkannya untuk memeriksa kembali para pemilik saham. Tapi, Zaid terlalu sibuk membuka cabang perusahaan The Crown Models bersama Natasha. Kini impian memperluas perusahaan malah menjadi senjata yang membunuh dirinya sendiri.


Zaid ingin jawaban atas semua yang ia dengar dari Ajie hari ini. Ia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ia ingin memahami semuanya sebelum membuat rencana.


Tanpa berpikir panjang, Zaid mengarahkan motornya menuju kantor pengacaranya.


Ia tak bisa menyerah.


*****


 


 


Author Notes:


Finally, the missing chapter is here... 


(^_^)/


Iin Ajid


 


 

__ADS_1


__ADS_2