
~ Kekuatan terbesar adalah dua teman yang berisik ~
Ave memutuskan untuk mengambil langkah penting. Sejak kecelakaan Zaid, Ave tak ingin lagi berpura-pura. Ia menyadari hubungan mereka jauh lebih serius dari yang ia kira. Ave bahkan tak membayangkan andaikan ia tak bisa bersama Zaid. Ia lebih tak berani membayangkan apa yang terjadi pada Zaid andai mereka berpisah.
Dan Ave bukan anak kecil yang tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mencapai keinginannya. Walaupun tabungannya masih kurang banyak, tapi Ave harus memikirkan rencana lain.
Pilihannya adalah jujur pada semua orang yang mendukung dirinya.
Jujur pada Zaid untuk meyakinkan pria dingin itu untuk tak meragukan cinta Ave. Ave tak ingin kecemburuan Zaid justru merusak rencana awalnya. Bagaimanapun, berbohong itu melelahkan dan Ave tak sanggup terus-menerus membohongi Zaid. Karena itulah, ia memutuskan untuk mengungkapkan segalanya pada Zaid.
Selanjutnya adalah mengatakan semuanya pada dua sahabat baiknya tentang hubungannya dengan Zaid. Tadinya ia berniat mengundang Natasha, tapi gadis itu tak menjawab telepon atau pesannya seharian. Tidak seperti biasa, tapi mungkin Natasha sedang sibuk di Jepang. Mungkin juga perbedaan waktu kedua negara yang jadi alasannya. Apapun itu, Ave berniat menjelaskan saat sahabatnya itu pulang nanti.
"Assalamualaikuum!" Dua teriakan keras terdengar dari pintu rumah. Dua suara yang sangat dikenal Ave, hingga membuat gadis itu berlari nyaris seperti terbang menuju pintu.
Tampak dua wanita berdiri dengan senyum lebar. Yang satu mengenakan kaos dan jins setengah lutut dengan sepasang sepatu sneaker, yang lain mengenakan jumpsuit biru laut dengan perut yang menonjol memperlihatkan kehamilan. Wajah keduanya tampak ceria, apalagi saat pandangan mereka bertemu dengan Ave. Teriakan gembira meningkahi suasana pertemuan itu.
"Wa'alaikum salam, kakak-kakak Ave sayang!" jawab Ave riang sambil memeluk keduanya bergantian.
Sambil menggiring keduanya masuk, Ave berceloteh. "Mana Kak Jaya dan Kak Ajie? Baby boy mana? Kirain tadi ikut. Ave kan pengen liat dia makin mirip sama siapa. Gini-gini juga kan Ave bibinya." Bibir Ave cemberut kecil. Ia sungguh berharap ponakan kecilnya juga datang.
Lily menggeleng. "Ali lagi dibawa Emak ke Bogor. Jangan kuatir, soal kemiripan, anak gue satu itu sebelas dua belas sama bapaknya. Dari orok aja Ali punya hobi yang sama dengan bapaknya."
Ave melongok. "Ali udah punya hobi? Emang anak bayi gitu udah punya hobi?"
"Udah dong! Anaknya siapa dulu... " ucap Lily dengan bangga.
Tiar yang ikut mendengarkan pun mengerutkan kening. "Hobi apa sih, Li?"
"Sama-sama... demen nete."
Tiar membekap mulut Lily. Melotot tajam. "Iiih, Lily!!! Astaghfirullah. Asem bener sih lo!"
"*Isssh, *Kakaaaak! Please deh... Ave kan belum nikah." protes Ave menutup wajahnya dengan tangan.
"Iya nih ibu gila satu ini. Lo anggun dikit kenapa? Udah punya anak juga masih kayak anak kecil. Duh, amit-amit jabang bayi! Punya ipar toxic kayak lo beneran bikin gue kuatir aja," omel Tiar sebelum mengakhiri omelannya dengan mengelus perutnya berulangkali.
Lily yang sibuk memperhatikan sekeliling rumah hanya mengangkat bahu. "Entar kalo lo lahiran juga ngerti maksud gue. Eh... rumah kost lo gede ya Ve. Beneran ini kost aja? Kok kayak rumah pribadi sih?"
Ave tersenyum. "Kak Lily lupa kalo Ave punya second job. Ini rumah bos Ave. Kalo kamar Ave itu... tuh... di sana!" kata Ave sambil menunjuk keluar jendela, ke arah paviliunnya.
Kedua wanita itu sama-sama mengangguk. Puas mengetahui kondisi Ave.
Ave mengajak mereka ke dapur, duduk di depan meja makan yang telah tersaji beberapa hidangan. Ave sengaja menyiapkan makan siang untuk mereka.
__ADS_1
"Wuaaah gak nyesel ke sini. Kangen banget sama masakan lo, Ve." Lily mulai memeriksa setiap hidangan dengan mata bersinar.
Tiar juga tak mau kalah. Ia mengaduk mangkuk sayur asem dengan mulut berdecak tak sabar. "Akhirnya, kesampaian juga ngidam sayur asem buatan lo, Ve!"
"Tenang aja! Ave gak hanya masak buat kalian berdua loh. Ave juga udah nyiapin makanan untuk dibawa pulang. Hari ini Kak Lily dan Kak Tiar langsung ke Bogor kan?"
Keduanya mengangguk.
"Kamu gak sekalian pulang ikut kita?" tanya Lily dengan mulut penuh. Ada potongan ayam kecap di tangannya.
Sorot mata meminta maaf terlihat di dua mata indah Ave. "Ave gak bisa, Kak. Ada beberapa desain brosur yang harus Ave selesaikan."
Mendengar itu, Tiar dan Lily saling memandang sebelum Tiar kembali menatap Ave. "Ve, kami datang ke sini, bukan hanya ingin tahu rumah yang lo tinggali sekarang. Tapi ini soal... Papa."
"Papa?"
Lily mengangguk. Ia meminum gelas air putihnya sebelum bicara. "Kami gak tau dari mana Papa tahu soal hubungan lo dan Elang waktu di Sydney. Tapi gue rasa, Papa salah. Papa kira lo dan Elang sempat pacaran di sana dan karena bertengkar sedikit, kalian pisah. Kebetulan pas Papa liat profilnya Elang cocok sama tipe mantu idamannya, Papa pun menghubungi orangtua Elang."
Selera makan Ave seketika menguap. Ia menatap Lily dan Tiar bergantian. Berharap mendengarkan semua yang terjadi dengan detail.
"Papa gak sendirian. Mas Ajie dan Bang Jaya juga ikut campur. Mereka gak tau kalau Elang udah punya Natasha. Mereka taunya Elang itu sahabat elo dan pemuda baik yang pantas buat elo. Sementara orangtua Elang juga ternyata pernah ketemu lo dan almarhumah Mama. Mereka juga suka sama elo. Dan begitulah... akhirnya keduanya sepakat untuk menjodohkan kalian."
Bahu Ave merosot. Otaknya kosong melompong. Wajahnya terasa panas antara bingung dan kaget.
Lily menghela napas. "Elang juga sama kagetnya dengan elo, Ve. Dia ingin langsung menolak, tapi gak enak sama Papa dan kakak lo. Elang kuatir kalau langsung menolak, maka hubungan kekeluargaan dan persahabatan kita bakal retak. Elang gak mau, gue dan Tiar juga. Gue malah kuatir Natasha bakal tambah benci sama gue dan Mas Ajie. Lo tau kan Natasha itu mantannya siapa?"
Tiar mengangguk-angguk. "Kami... ingin tahu perasaanmu sendiri, Ve. Terlepas kamu atau Papa yang bakal menang taruhan, kami tak ingin siapapun jadi korban. Terutama lo sendiri, Ve. Kami sayang lo, dan kami pengen lo juga bahagia seperti gue dan Lily. Gak ada yang paling membahagiakan perempuan selain bersama dengan pria yang ia cintai. Kami datang ke sini untuk bilang ke kamu, apapun keputusanmu, kami pasti mendukungmu. Bahkan jika harus membuat kami kehilangan sahabat."
"Tumben lo puitis banget, Yar," sela Lily membuat Tiar melotot padanya. Ia langsung mengulum bibirnya.
Ave tak tahu harus mengatakan apa soal Elang. Semua yang terjadi beberapa bulan terakhir ini seperti menaiki jet coaster. Dulu ia kembali ke Indonesia dengan hati yang kesepian, kini hidupnya penuh dengan banyak orang spesial di hatinya. Saudari-saudari iparnya, sahabat dan teman di kantornya, dan tentu saja kekasih hatinya.
Ave juga bisa membedakan arti sayang pada sahabat dengan cinta yang sebenarnya. Baginya, Elang akan selalu menjadi sahabat rasa kakak untuk selamanya dan Zaid adalah cinta yang sebenarnya.
Perlahan senyum tipis merekah di bibir Ave. "Ave udah punya pacar, Kak."
"Pacar?"
"Siapa? Siapa?"
Nyaris bersamaan, dua wanita di depan Ave bertanya tak sabar. Mereka tampak bersemangat. Pemberitahuan singkat itu cukup memberitahu mereka, bahwa kekuatiran yang menjadi beban hati mereka saat datang mungkin tak perlu.
"Kalian mengenalnya... " ujar Ave sambil menunduk. Dengan tenang ia menyendok sayur asem dan menuangkannya ke mangkuk. Menyeruputnya pelan.
__ADS_1
"Kenal?" Mata Lily membulat. Beberapa detik ia berpikir sebelum tercetus sebuah nama. "Zaid! Jangan bilang pacar elo itu Zaid! Bukannya lo udah nolak dia??"
"Zaid?" Kening Tiar mengerut sebelum ia teringat seseorang yang diperkenalkan suaminya saat bertemu Ave di Bogor. "Boss kamu, Ve? Temannya Bang Jaya ya? Yang bikin kamu galau waktu itu?"
Gantian Lily yang keheranan. "Boss? Bukannya Zaid itu teman kerjanya?"
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat keduanya menatap Ave menuntut jawaban.
Ave mengangguk pelan. "Mas Zaid itu boss Ave, Kak Lily. Kak Tiar juga benar. Dia yang diperkenalkan sama Bang Jaya waktu kita ketemu di Bogor itu."
Wajah Lily kehilangan warna. Berusaha mengingat semua yang telah ia katakan pada Zaid saat pertama kali bertemu. Di sudut hati terdalam, Lily memaki-maki dirinya sendiri, sebelum akhirnya bisa menenangkan dirinya.
Kalau memang Zaid marah, tak mungkin hubungannya malah makin dekat dengan Ave. Setelah ditolak, Zaid malah berhasil memenangkan hati Ave. Dengan mata menyipit, Lily bahkan menganggap mungkin karena dirinyalah Zaid dan Ave bisa jadi pasangan.
"So tell us everything, Sis! No need secret between us!" kata Tiar tersenyum hangat.
[Jadi beritahu kami semua, Dik! Gak ada rahasia diantara kita!]
Ave pun menceritakan semua dari awal. Tiar dan Lily sempat kuatir saat ia bilang soal pemilik rumah yang ternyata kekasihnya itu. Tapi akhirnya Tiar yang berucap bijak. "Gak papa, selama lo bisa jaga jarak dan jaga diri. Gue juga dulu suka tidur di kamar Bang Jaya sebelum kami menikah."
"Itu karena nemenin gue kali, Yar. Lo kan security gue. Ini beda! Ave sendirian di sini," protes Lily.
"Tenang aja! Bang Jaya kenal Zaid. Kalo dia sampe ngapa-ngapain Ave, kita bisa minta pertanggungjawaban dengan orang itu kapan aja."
Lily menggeleng. "Gue bukannya takut Zaid ngapa-ngapain Ave, gue takut Zaid diapa-apain Ave trus mereka keterusan deh. Ini kan pertama kalinya Ave pacaran, gue tau banget tuh rasanya. Pengen nyoba segala macam bentuk sentuhan. Iya kalo laki model Mas Ajie. Kalo laki yang dipegang dikit langsung nyosor, gimanaaa??"
Tiar mendelik. "Lo ini kakaknya Ave atau Zaid sih? Yang dibelain malah anak orang. Lagian itu lo... Lo malah emang jahil ke mana-mana, Li. Ratu penyihir lo sih, untung aja Ajie tabah. Gak heran gue kalo Emak sama Ayah sampe syukuran 3 hari 3 malam pas lo merit. Jangan samain Ave dengan elo."
Ave terkekeh. "Kakak berdua tenang aja. Ave dan Mas Zaid insya Allah bisa jaga diri. Soal perjodohan, biar aja Papa mengira dia bakal menang. Ave yakin, Ave bisa menyelesaikan taruhan itu sebelum waktunya. Ave juga akan ngomong ke Mas Elang dan orangtuanya. Ave hanya minta tolong supaya kakak berdua juga ngejelasin ke Mas Ajie dan Bang Jaya. Ave gak mau ada salah paham di antara mereka. Hanya... soal hubungan Ave dan Mas Zaid... tolong jangan ada yang tahu dulu."
Kedua wanita di depannya mengangguk serempak. Lalu tangan Lily menjulur meraih tangan Ave, diikuti Tiar.
"Kalau elo tetap gak berhasil menang, elo jangan kuatir, Ve. Kami akan bantu menjelaskan ke Papa. Taruhan ini hanya untuk pembuktian ego aja. Kalau kalah artinya harus menekan ego, gue rasa Papa pasti juga bisa mengerti. Gue emang gak punya ayah, tapi gue yakin Papa lo akan mikirin kepentingan lo di atas keinginannya," ujar Tiar menepuk-nepuk tangan Ave.
Lily mengangguk setuju. "Papa hanya ingin yang terbaik buat lo, Ve. Gue dari awal udah pro Zaid, dan gue yakin dia orang baik banget. Gue bakal dukung lo sepenuhnya. Nanti Natasha pulang, gue dan Tiar pasti akan bantu menjelaskan ke dia." Ia menoleh pada Tiar dengan mata bersinar jenaka. "Kita udah kayak calon anggota partai ye, Yar! Mendukung, memilih, menjelaskan... hihihi."
Tiar menatap ke sebelahnya, sebal. "Serius dikit kenapa sih, Li? Udah cukup gue yang pusing ngadepin lo tiap hari."
Lily menjulurkan lidahnya. "Eh dikira elo aja yang pusing. Gue juga tau! Elo yang hamil, tiap hari ngeliat gue selalu bilang amit-amit jabang bayi melulu. Abang gue juga ikut-ikutan, tiap hari nasehati gue supaya jangan begini begitu, kuatir bininya jengkel dan anak elo entar kayak gue. Gue cantik begini, manis dan lucu lagi. Malah dianggap virus sama lo berdua. Pokoknya gue doain, kalo perlu sampe solat malam, entar anak lo bakal mirip banget sama gue. Amiin... Amiiin. Aminin Ve! Biar terkabul nih."
"Iih, enggak! Enggak! Amit-amit jabang bayi. Amit-amit jabang bayi," kata Tiar berulangkali sembari mengelus perutnya berulangkali. Yang disindir hanya tertawa, sibuk mengunyah hidangan di hadapannya.
Ave hanya tersenyum diam-diam memperhatikan. Matanya basah, menahan haru. Kedua wanita berisik yang sedang beradu argumen di depannya ini adalah dua kekuatan terbesarnya saat ini. Mereka pengganti almarhumah Mama yang luar biasa. Dua sahabat yang hadir kembali setelah berpisah bertahun-tahun, dan kini menjadi keluarganya.
__ADS_1
Ternyata, jujur itu tak sulit. Yang berat adalah memahami perasaan sendiri. Kini Ave makin yakin dengan pilihannya, dan setelah itu menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan. Bukan lagi untuk mimpi saja, tapi untuk orang-orang yang ia sayangi di sekitarnya.
*****