
~ Mengembalikan senyum Avelia dan menemukan sahabat baiknya lagi (Ajie) ~
Tiga gadis dari Creative Department sedang berada di depan lift, menunggu sambil mengobrol ringan tentang kejadian beberapa hari terakhir. Mereka baru selesai makan siang.
"Lu beliin apa buat Ave?" tanya Gita.
Alina mengangguk. "Cappucino sama Red Velvet. Ave mintanya itu."
"Tapi dia belum makan siang loh. Ah, tadi kenapa kalian gak ngingetin sih?" keluh Gita.
Rose mengangkat plastik di tangannya. "Gue beliin dimsum juga kok."
"Emang Ave suka itu?" tanya Alina tak mengerti.
Rose mengangkat bahu. "Gak tau. Tapi ini favoritnya Pak Zaid. Kalo dia gak mau makan, gue tinggal bilang aja kalo Pak Zaid suka ini. Dia pasti mau makan," ucapnya ringan dengan mata berputar jenaka.
"Ha ha ha, lo cerdas emang, Rose!" kata Gita sambil tertawa.
"Pokoknya kita harus jaga Ave baik-baik, kalo dia sehat maka Pak Zaid pasti senang. Dan kita..."
"Ssstttt!" Dua gadis di sisi Alina buru-buru memperingatkan dirinya.
Tepat saat itu pintu lift terbuka dan ketiganya pun masuk. Belum sedetik berada di dalam, sebuah teriakan kecil terdengar. "Tolong tahan pintunya, Mbak!"
Otomatis tangan Gita menekan tombol kode 'buka' dan membiarkan sang empunya suara masuk. Namun, saat melihat orang itu masuk, tersenyum dan mengangguk berterima kasih, mulutnya terbuka. Begitu juga kedua temannya, menatap pria muda yang baru masuk itu dengan salah tingkah.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan dada tegap masuk sambil mengangguk pada ketiganya sambil melepas kacamata hitam yang ia kenakan. Pria itu mengenakan jaket hitam dengan celana coklat gelap bergaris lurus sepanjang kakinya. Sepasang sepatu hitam tampak mengkilat di kakinya.
Sementara wajahnya yang tampan sedikit tertutup oleh topi hitam di kepalanya. Namun, topi itu juga menunjukkan identitasnya secara tak langsung. Seragam polisi yang sedikit terlihat di balik jaketnya serta lambang Kepolisian berukuran kecil di sisi samping topi telah cukup memberitahu semuanya.
Pria itu berdiri di dekat pintu lift, sementara tiga gadis di belakangnya sibuk bersenggolan, bertukar tawa kecil, berkikik-kikik satu sama lain. Wajah ketiganya bersemu merah. Tak bisa menyembunyikan kesenangannya melihat pria tampan lain di kantornya. Apalagi ditambah dengan pakaian yang ia kenakan.
__ADS_1
Tiba-tiba pria itu berbalik, membuat ketiga gadis itu serentak berhenti tertawa seketika. "Maaf, Mbak-mbak! Ruangan Pak Presdir di lantai berapa ya?"
"Eh? Ruangan Presdir? Bapak mau ketemu Pak Zaid?" tanya Alina kaget.
Alis pria itu terangkat. "Apa Pak Zaid sudah masuk kerja?" tanyanya balik. Ekspresinya justru terlihat heran.
'Aha!' terlihat di ekspresi ketiga gadis itu. Rupanya pria itu tahu kalau sekarang Zaid tak ada di The Crown.
Tanpa banyak bicara, Gita menekan tombol lantai tempat departemen Management dan ruangan Presdir. "Nanti Mas lanjut aja ke atas. Kami nanti turun duluan," kata Gita sambil menunjuk ke tombol-tombol itu.
Pria muda itu tersenyum manis. "Terima kasih banyak ya, Mbak-mbak yang cantik."
Mendengar itu, wajah ketiga gadis itu berubah lagi. Senyum terbentuk di wajah mereka dengan sangat jelas. Pria tampan memuji mereka dengan manis. Sungguh keberuntungan yang luar biasa.
"Aveeee!!!"
Teriakan menggelegar bersamaan di pintu masuk Creative Department membuat Avelia dan para staf lain yang tengah asyik bekerja terlonjak kaget. Ia bahkan belum melihat bayangan orang-orang yang berteriak, tapi sudah mendengar suara mereka. Avelia kini berhasil membuktikan kalau kecepatan suara jauh lebih baik dari kecepatan benda tiba di tempat.
"Ave, Ave, Ave, Ave," panggil Alina terburu-buru ketika masuk dan menyongsong Avelia.
"Ish... kamu tau gak tadi kita ketemu siapa?" tanya Alina sambil duduk di kursinya, dan menyeret kursi itu dekat dengan kursi Ave. Ia meletakkan karton berisi kopi dan kue pesanan Ave di atas meja.
"Ya gak taulah, Mbak. Ave kan di sini!" jawab Ave bingung.
Alina mengibaskan tangan di depan wajahnya. Tak peduli. "Itu loh, Ve. Tadi ada polisi cakep banget. Pake seragam gitu. Tinggi, ganteng, dan... mmm... ganteng sih. Pokoknya ganteng. Dia lagi mau ketemu sama Pak Ajie di atas. Kamu kenal ndak? Dia tadi pake jaket, jadi kita gak bisa liat namanya."
Kening Ave berkerut. Polisi? Hmmm, jangan-jangan...
Telpon internal Ave berbunyi dua kali. Ia mengangkat tangan pada Alina. "Sebentar, Mbak. Ave jawab telepon dulu."
"Ya, ini Ave bukan Mbak Alina," seru Ave seenaknya. Alina terkekeh. Juga Jack dan Mike yang duduk dekat mereka.
__ADS_1
Terdengar kekeh khas yang dikenal Ave. "Iya tahu. Ini kakakmu yang ngomong, bukan Zaid."
Senyum di wajah Ave segera lenyap. "Jessh... Ada apa? Ave sibuk nih!"
"Ini ada Bang Jaya. Dia mau bicara denganmu," ujar Ajie santai di ujung telepon.
"Oh, Bang Jaya di sini?" ulang Ave. Matanya melirik Alina yang penuh minat menguping obrolan Ave.
"Mmm... Dia dapet kabar soal Zaid. Kamu naik ya."
"Oke!"
Ave menutup telepon dan tertawa sendiri. Kini ia tahu siapa polisi yang dimaksud Alina. Ia pun menoleh pada Alina yang masih senyam-senyum sendiri.
"Mbak, polisi tadi namanya Jaya Januardi. Dia kakak sepupu iparnya kakak Ave. Dan yes... Dia emang romantis banget. Tapi dia gak punya IG, istrinya yang lagi hamil yang punya. Fotonya banyak di situ. Mbak tinggal klik foto di IG Ave, dan cek yang suka komen di sana. Mbak akan ketemu foto profile istrinya yang lagi dipangku sama Bang Jaya." Lalu Ave berdiri sambil meraih karton kopi dan kue. "Ave mau ke atas dulu. Makasih buat kopi dan kuenya yaaa!"
"Istri? Dia udah punya istri?!!" tanya Alina tak percaya. Menatap Ave yang menjauh dengan mata nanar.
Ave hanya tertawa sambil mengangkat tangannya yang bebas sebelum keluar.
"Kenapa semua orang ganteng selalu cepet bener sih lakunya?" keluh Alina.
"Karena kalo ganteng gak kawin atau gak punya pacar itu artinya hanya ada dua, Lin!" seru Jack dari balik kubikalnya sendiri.
"Apa neh?" tanya Alina sambil mengangkat wajahnya sedikit agar bisa melihat Jack.
"Belum ketemu jodohnya atau... artinya pisang makan pisang. Ha ha ha," jawab Jack sambil tertawa terbahak-bahak.
Alina cemberut. "Situ dong yang gitu! Pisang makan pisang. Ampe sekarang belum nikah-nikah."
Alih-alih marah, Jack malah tertawa makin nyaring. "Lu ngakuin dong gue termasuk golongan orang ganteng?! Ha ha ha."
__ADS_1
Dan sebuah pulpen hinggap di dahi Jack, sebelum teriakan dan kata-kata makian meluncur bebas memenuhi lantai paling berisik di gedung The Crown itu.
Baru setelah Pak Bambang membuka pintu, suara-suara itu dengan ajaibnya menghilang tanpa jejak dan berganti dengan akting para staf yang tengah sibuk bekerja. Tapi sorotan tajam tampak masih terlihat di wajah-wajah yang baru saja berteriak saling menghujat.