Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 31 - Changing His Face


__ADS_3

~ Mengubah wajah tanpa ekspresi itu gampang, gambar saja! (Ave) ~


 


"Semua sudah beres."


Hanya itu yang dikatakan Zaid saat Ave menemukannya duduk di ruang kerjanya memeriksa laptop. Hazmi dan Jenny juga tak terlihat lagi.


"Mereka sudah pulang," jawab Zaid pendek, tanpa mengangkat kepalanya.


Bibir Ave mengerucut. "Kok disuruh pulang sih, Pak? Kan hari ini juga bukan hari kerja."


Kali ini kepala Zaid berpaling menatap Ave. "Mereka yang pengen buru-buru pulang. Justru karena hari ini bukan hari kerja." Lalu ia kembali menatap laptopnya. Ekspresi masih datar.


Masih banyak pertanyaan yang ada di benak Ave. Misalnya... Kenapa Zaid kembali begitu cepat dan bukannya tidur di kamarnya sendiri, malah muncul dari dalam mimpi Ave? Ups, salah! Malah tidur di tempat tidur Ave. Benar kalau seluruh rumah ini dan paviliun juga termasuk properti pribadinya. Tapi selama Ave bekerja di sini, paviliun itu jadi wilayah pribadi Ave.


Tapi melihat Zaid tampak sibuk dan sepertinya tak menganggap peristiwa tadi pagi sebagai sesuatu yang luar biasa, Ave mulai ragu. Hanya saja, kakinya terasa berat untuk keluar.


Insting Zaid yang mengatakan kalau Ave ingin bicara, membuat pria itu mengangkat kepalanya lagi. Terngiang kembali kata-kata Natasha semalam. Perlahan ia tersenyum pada Ave. "Ada apa lagi?"


Senyum senang muncul di wajah Ave dan ia mendekati meja Zaid. "Bapak... marah ya sama Ave? Kok mendadak pergi menghilang begitu saja?"


Masih dengan senyuman, Zaid menggeleng. "Saya memang ada urusan di sana," dusta Zaid.


Dengan tatapan tulus Ave mengangguk percaya, ia menghela napas lega. "Syukurlah. Ave kira Bapak marah gara-gara Ave bilang gak cinta sama Bapak."


Senyuman Zaid mulai menghilang.


"Eh... tapi Ave suka kok sama Bapak. Suka... Suka... "


"Suka?"


"Iya suka sebagai cowok. Suka sebagai teman. Pokoknya Ave suka Bapak." Lalu Ave menunduk. "Cuma Ave belum tau apa Ave cinta sama Bapak apa enggak."


Zaid hanya diam menatap Ave. Ia mulai mengerti. Tentu saja. Ave benar. Hubungan mereka hanyalah hubungan atasan dan bawahan, juga persahabatan. Meski tak bisa juga dibilang terlalu bersahabat.


Ave mendekat ke meja. Tangannya mengibas-ngibas. Mendadak wajahnya terasa panas. Tapi Ave memberanikan diri. "Kita kan baru saling kenal. Bapak gak tau Ave. Ave juga belum kenal Bapak dengan baik. Ave ini di sini hanya tukang masak, di kantor pun cuma karyawan magang. Siapa tau juga Bapak sebenarnya cuma iba dan mungkin juga karena capek ngadepin Ave. Bisa apa aja. Tapi bukan karena... cinta."


Ingin sekali Zaid menjelaskan, sebagai seorang pria dewasa, ia tahu betul membedakan perasaannya. Tapi teringat kata-kata Natasha lagi, Zaid tak lagi berani membantah Ave. Melihat Ave menangis, hatinya benar-benar tidak enak. Apalagi karena dirinya yang menyebabkan. Sekarang ia hanya bisa mengikuti pemikiran gadis ini untuk bisa membuatnya mengerti dirinya sendiri.


"Dulu kan Bapak juga yang melarang Ave untuk jatuh cinta sama Bapak. Bapak sendiri yang bilang kalau pacaran di kantor itu artinya gak profesional," ujar Ave mengingatkan.


Zaid mengangkat tangan. Seketika Ave menutup mulutnya. Apalagi nih yang salah?


"Saya tidak pernah berniat pacaran sama kamu, Ve."


Tubuh Ave serasa membeku. Ia menatap lurus Zaid. Lalu apa arti ciuman itu? 


Melihat raut wajah Ave berubah, Zaid menatapnya lekat-lekat. "Saya... ingin menikahimu."


Tik tok tik tok tik tok...

__ADS_1


Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Mereka saling bertatapan. Mendadak semua kalimat yang disusun dalam rencana Ave buyar tak bersisa. Jantungnya berdebar lebih cepat dari detak jam dinding. Pipinya terasa panas. Anehnya, Ave tak bisa melepaskan tatapan dari Zaid.


Ini pertama kalinya seseorang melamarnya. Tak ada pangeran yang berjongkok memohon dengan kotak kecil berbungkus bludru berisi berlian cantik berkilauan di malam purnama. Atau raja tampan dengan jutaan balon yang mengikat sebuah banner bertulis 'Would you marry me?'. Tidak ada. Hanya seorang pria dengan wajah datar nyaris tanpa ekspresi. Tidak ada senyum kebahagiaan. Tidak ada kata-kata memohon. Tidak ada sentuhan. Tidak ada apapun yang menggambarkan perasaan pria itu padanya, kecuali sepasang mata yang tegas dan dalam menatap padanya. Tanpa kata-kata manis, tapi Ave tahu Zaid jujur.


Sekarang ia harus menjawab apa!? Zaid bahkan tak mengenal Ave yang sebenarnya. Jika ia menolak, Ave kuatir Zaid akan menghilang lagi seperti kemarin. Ia tak punya uang untuk menyusul Zaid dan menjelaskannya. Lagipula Ave tak pandai menjelaskan, dan sekarang saja semua kalimat yang ia susun susah payah sudah menguap entah ke mana.


"Tapi... " Zaid masih menatap Ave. Ave menunggu. Lalu tiba-tiba mulut Zaid melengkung tinggi. Ia tersenyum lebar. "Saya... bercanda," lanjut Zaid dengan puas.


What... the... hell!! 


"Tak perlu kamu jelaskan apapun, Ve. Saya mengerti. Sangat mengerti. Saya terlalu sempurna untuk kamu." Dengan santainya pria itu kembali mengetik. Seolah-olah tak ada yang terjadi di antara mereka.


Menahan diri untuk tidak melempar kursi di sampingnya ke arah pria berwajah datar tapi narsis itu, Ave hanya bisa menatap Zaid kesal. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik meninggalkan ruang kerja Zaid.


Laki-laki narsis! Arogan!


Di dapur, Ave mengeluarkan bahan masakan dari kulkas. Sudah tugasnya, ia harus membuat sarapan. Tadinya ia tak berencana membuatnya dan memilih sarapan dengan sereal saja. Tapi karena Zaid pulang, ia pun memasak.


Hanya saja, teringat canda lamaran yang barusan dilontarkan Zaid, Ave mulai membanting-banting mangkuk-mangkuk plastik itu. Ia puas bisa meluapkan kekesalannya. Pasti Zaid senang sekarang mendengar suara riuh dari dapur.


Tapi di ruang kerjanya, Zaid duduk tepekur tanpa bisa melanjutkan ketikannya lagi. Tadi ia hanya spontan melamar Ave. Sekali lagi ia kehilangan kendali diri di depan gadis itu. Masih untung ia bisa melihat perubahan wajah Ave yang terlihat panik. Gadis itu tak mencintainya... tidak, bukan.. Gadis itu belum mencintainya.


Tatapan Zaid turun kembali ke laptop. Ke monitor laptop yang sedang menayangkan strategi baru yang ia rencanakan. Bukan tentang pekerjaan di kantor, atau proyek iklan baru yang harus diselesaikan. Tapi strategi untuk memenangkan hati seorang gadis naif bernama Ave.


Sembari tersenyum tipis, Zaid mulai kembali melanjutkan ketikannya. Seperti sebuah rencana sebelum memulai proyek baru, ia menuliskan semua yang ia tahu tentang Ave.


-- Avelia Shamsiah\, 24 tahun\, 08 Agustus 1995\, lulus SMAN Melati 2\, punya 1 kakak yang sudah tiada\, bekerja lepas setelah lulus SMA\, adik sepupu Lily...


Zaid menutup matanya, berusaha mengingat-ingat lagi detail tentang Ave. Tapi bukannya terpikir sesuatu, ia malah mulai mengantuk. Dua hari terakhir, tidurnya tak karuan karena gadis bernama Ave.


Karena Zaid bisa mendengar suara gemerincing panci dan entah apa lagi di dapur, ia tahu Ave sedang memasak sarapan untuknya. Kalau ia tidur di kamar, gadis itu pasti tak berani membangunkannya. Zaid tak ingin masakannya sia-sia. Jadi ia memilih berdiri dan duduk bersandar di sofa ruang kerjanya. Sekadar menyandarkan kepala dan tiduran saja. Menghilangkan kantuk yang makin sulit ditahan.


Kurang lebih setengah jam kemudian, Ave naik untuk memanggil Zaid dan menemukan pria itu tertidur sambil duduk.


Sama seperti tadi pagi, wajah Zaid yang tertidur lebih mirip anak kecil. Polos tanpa ketegangan. Tampak santai. Tak ada dua garis lurus kecil di tengah dahinya yang selalu terlihat saat ia memasang wajah dinginnya. Tak ada bibir yang terkatup lurus nyaris seperti garis juga.


Ave tersenyum memandanginya, sebelum sebuah ide terpikir olehnya. Seringai Ave makin lama makin lebar, lalu ia bergerak ke arah meja kerja. Mengambil salah satu spidol.


Dengan mengendap-endap, Ave mendekat lagi. Sangat dekat, lalu perlahan Ave membuka tutup spidol dan mulai menggambar lingkaran besar di pipi Zaid. Sentuhan itu membuat kepala Zaid bergerak sedikit. Ave berusaha keras menahan tawa saat melihat lingkaran itu berhasil ia gambar. Tak puas hanya satu, Ave juga melingkari pipi satunya lagi. Ia juga menggaris tiga garis lurus di dagu Zaid. Dua contrengan di sudut bibir Zaid yang jarang tersenyum juga ia tambahkan perlahan. Zaid seperti sedang tersenyum karena dua coretan itu.


Tak berhenti sampai situ, Ave membentuk tiga lingkaran kecil di dahi Zaid. Kali ini Zaid menggelengkan kepalanya. Merasa terusik. Buru-buru Ave menyembunyikan spidolnya tepat saat mata Zaid terbuka. Pria itu tampak bingung melihat Ave berjongkok di depannya. Sangat dekat.


Segera Ave menyunggingkan senyum paling manis sambil berkata, "Sarapan sudah siap, Pak!"


Saat mereka sedang sarapan, Zaid lega melihat Ave sepertinya tak terusik dengan lamarannya tadi pagi. Ave malah berulangkali tersipu-sipu, menahan tawa. Walaupun mereka sama-sama memilih untuk diam dan makan, tapi tak ada lagi ketegangan di antara mereka.


"Nasi gorengnya enak, Ve. Saya suka," puji Zaid berusaha menghilangkan kesunyian di antara mereka, setelah ia menghabiskan sarapannya.


Ave mengangguk-angguk dan bibirnya dikulum lagi, seperti menahan geli. Gadis itu tampak berusaha keras menghindar melihat wajah Zaid. Mungkin ia malu, pikir Zaid.


Karena Ave tak mengatakan apa-apa, Zaid pun berdiri. Menuju toilet untuk mencuci tangan.

__ADS_1


"Eeeh, Bapak mau ke mana?" tanya Ave kalang kabut menghalangi Zaid.


Kening Zaid berkerut. "Ke toilet."


"Tu... tunggu dulu! Jangan masuk dulu! Masih... Masih bau! Tadi Ave habis eek," seru Ave asal dengan cepat.


Zaid tertawa kecil. "Tapi tadi kamu sarapan sama saya, gak ada ke toilet."


"Oooh tadi itu... se... sebelum kita makan."


"Kalau begitu, baunya pasti sudah hilang, Ve."


"Tapi, Pak... "


Kening Zaid berkerut. "Kamu kenapa sih?"


"Oke! Oke!" Ave mengangkat kedua tangannya. Lalu dengan tatapan mata yang ceria, ia kembali berkata, "Ave izin jalan ya Pak! Hari ini kan hari Sabtu, jadi Ave mau pulang ke rumah Kak Lily. Boleh pergi sekarang gak, Pak? Trus piring kotornya entar kalo Ave balik baru dicuci. Biarin aja di wastafel. Boleh gak?"


Zaid melirik piring-piring kosong yang tergeletak di meja makan. Sebenarnya ia tak suka melihat tumpukan piring kotor. Tapi Ave sepertinya ingin buru-buru pergi.


"Soalnya kalo gak pagi-pagi, keburu macet, Pak," sambung Ave meyakinkan.


"Mau saya antarin?" tanya Zaid menawarkan bantuan.


Dengan cepat Ave menggeleng. Jadi akhirnya Zaid hanya mengangguk sambil berkata, "Pergilah!"


Tanpa menunggu lagi, Ave blingsatan menuju meja, menyambar piring dan gelas kotor lalu meletakkannya begitu saja di wastafel sebelum berlari ke kamarnya lagi. Zaid yang hampir melangkah masuk toilet teringat sesuatu. Ponsel Ave rusak.


Zaid keluar lagi. Ia nyaris bertabrakan dengan Ave yang melewatinya.


"Jangan lari-lari gitu, Ve! Nanti jatuh."


Cengiran Ave muncul. Ia ingin berlari lagi, tapi tangannya ditahan Zaid. Tanpa pikir panjang, Zaid mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan menyerahkannya pada Ave. Gadis itu menatap kuatir.


Jangan-jangan boss jahatnya ini tahu... 


"Kamu gak punya HP kan? Ini pake saja. Kalau ada telpon masuk, biarkan saja. Kalau ada yang penting, telepon rumah. Passwordnya... " Zaid menunjukkan pattern passwordnya pada Ave yang melongok. "... Mengerti?"


Ave mengangguk. Hatinya mulai terasa tak enak. Tapi ia tak berani mengaku, jadi Ave hanya berkata, "Pak, untuk ngilangin spidol permanen itu pakai minyak kayu putih. Itu yang paling cepat. Dan gak ada bekasnya juga."


"Maksudmu apa?" Kini Zaid tak mengerti. Kenapa gadis ini malah berkata aneh?


"Ave pergi dulu ya, Pak. Baik-baik di rumah! Jangan marah-marah! Entar cepat tua!" ucap Ave cepat sambil berlari lagi.


Zaid tertawa kecil sebelum berjalan masuk ke toilet untuk mencuci tangan dan menyikat gigi. Saat matanya menatap cermin toilet, bukan wajah mengantuk yang ia lihat, tapi wajah yang dipenuhi dengan coretan spidol lingkaran dan garis. Ia seperti badut!


"Ave!" desis Zaid geram. Lalu tangannya mulai sibuk membersihkan wajahnya yang penuh dengan hasil kreasi tangan Ave.


Di halaman rumah, Ave tertawa lebar dengan hati puas, sambil bersenandung riang berjalan melewati pagar tinggi.


Makanya Pak, kalau sedang melamar jangan bercanda! Eits... Jangan bercanda dengan melamar. Bukan Ave namanya kalau tak membalas. Rasakan!

__ADS_1


*****


__ADS_2