Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 25 - A Sudden First Kiss


__ADS_3

~ Ciuman pertama yang tiba-tiba membuat Sang Putri terbangun dari mimpi ~


Tak seperti saat berangkat kerja, ketika motor besar itu membawa keduanya kembali ke rumah, mereka sama-sama diam. Sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Ave tahu kebisuan Zaid karena dirinya. Ia melakukan kesalahan lagi. Memeluk bossnya tanpa izin. Saat sadar soal itu, Ave sudah berada di luar ruangan. Ia yang tadinya melompat kegirangan karena permintaannya dipenuhi, berdiri membeku cukup lama di depan pintu. Saat Ave kembali mengintip ke dalam ruang meeting, Zaid sudah berdiri menghadap jendela. Layar laptop sudah terlipat kembali. Melihatnya seperti itu, Ave tak berani mendekat.


Sementara Zaid ragu mengambil keputusan antara dua pilihan. Menghindari Ave atau mencintai gadis itu apapun kondisinya.


Hati dan pikirannya saling bertentangan. Di satu sisi, ia sadar hatinya sudah dimenangkan Ave. Ia mungkin bisa menghindar dengan memberhentikan atau memindahkan gadis ini ke departemen lain. Hanya untuk bisa melupakan Ave, Zaid benar-benar tak yakin.


Tapi di sisi lain, ia sendiri yang pernah mengancam akan memecat Ave jika berani jatuh cinta padanya. Plus Ave juga bukan gadis biasa, ada sesuatu dalam dirinya yang selalu membuat Zaid tak bisa mempercayai gadis itu sepenuhnya. Padahal mencintai seseorang perlu saling percaya. Tanpa itu, bukan hanya dua orang yang akan saling menyakiti, mungkin saja mereka akan menyakiti semua yang di sekelilingnya. Zaid tahu benar soal itu.


Lampu merah di depan mereka, membuat Zaid otomatis menekan pedal rem. Motor berhenti sejenak. Zaid merasakan sesuatu di perutnya bergerak mundur. Kedua tangan Ave yang tadi melingkari pinggangnya diiringi pelukan di belakang Zaid mulai melonggar. Tak lagi peduli dengan perang batin yang masih berkecamuk dalam hatinya, salah satu tangan Zaid menangkap dan menarik tangan Ave kembali, membuat tubuh gadis terdorong maju. Kembali jatuh di punggung Zaid.


Ave ingin menarik tangannya, tapi tangan Zaid tetap menggenggamnya erat-erat hingga lampu merah berganti warna hijau. Pria itu bersiap-siap, namun sambil memindahkan tangan Ave ke perutnya lagi. Seperti saat awal, Ave terpaksa memeluk Zaid lagi sebelum motor melaju cepat.


Ave tak suka naik motor. Kalau bukan karena terpaksa karena situasi keuangannya yang memburuk sebulan belakangan ini, ia takkan mau menumpang motor Zaid. Dari dulu Ave tahu betul motor itu hanyalah satu dari alat para pemuda agar bisa menikmati sentuhan dan pelukan para gadis. Sampai ia menempel di punggung Zaid...


Menempel seperti ini mengingatkannya pada Ajie, saat dulu mengantarnya sekolah. Sebelum Papa dan Mama berpisah, sebelum mereka berdua membagi tempat tinggal. Saat-saat paling membahagiakan di masa remaja Ave. Kasih sayang dan perhatian menjadi bagian dari hari-harinya saat itu.


Ingatan itu datang lagi, tapi dengan rasa berbeda. Ave tak bisa menjelaskannya. Ia hanya merasa... pulang. Seperti merasakan kehangatan yang dulu pernah hilang. Kehangatan yang kini mulai kembali memenuhi hatinya.


Tahu kalau Zaid juga ingin ia tetap memeluk punggung pria itu, Ave pun membaringkan kepalanya ke atas punggung Zaid, menikmati kehangatan itu sepenuhnya. Tiba-tiba Ave kangen Papa, juga kangen Mas Ajie dan rumah. Ia juga merindukan almarhumah Mama.


Ave mengerjapkan matanya. Dua bulir airmata mengalir, napasnya yang menghangat karena emosi membuat kaca helm berembun. Ia ingin menghapusnya, tapi takut melepas pelukan. Bagaimana kalau Zaid melepas tangan dan menariknya lagi? Mereka bisa celaka kalau itu terjadi. Jadi ia membuka kaca helm dengan menumpu ujung kaca pada punggung Zaid, menggeser perlahan sampai terbuka dan membiarkan angin mengeringkan wajahnya yang basah. Ave tak sadar, jejak airmata yang mengalir di pipinya membasahi jas yang dikenakan Zaid. Diam-diam Ave mengeluarkan seluruh kerinduan pada Mama dengan tangis tanpa suara.


Saat mereka sampai, Ave buru-buru berlari masuk ke rumah. Untunglah kali ini ia bisa melepas sendiri helm yang ia tenteng masuk. Menyembunyikan matanya yang sudah membengkak.


Zaid hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Mungkin gadis itu buru-buru seperti itu karena harus segera memasak makan siang.


Ketika Zaid melangkah ke dapur, telinga Ave sudah disumbat oleh headset kecil dan ia sudah sibuk mengeluarkan beberapa kotak berisi bahan makanan. Tanpa menunggu, Zaid memilih naik ke lantai dua. Ke kamarnya sendiri. Ia akan sholat dhuhur dulu, sekaligus menenangkan dirinya sendiri. Ia perlu waktu untuk berpikir saat ini, sebelum memutuskan tindakan selanjutnya.


Zaid meletakkan jasnya ke atas tempat tidur, menggulung celana dan lengan baju saat tanpa sengaja mata tertumbuk pada jas itu lagi. Kembali Zaid meraihnya, memperhatikan noda basah di bagian punggung.


Ini jejak air. Tapi dari mana?

__ADS_1


Kepala Zaid miring sejenak. Berpikir. Lalu ia tersentak dengan dugaannya sendiri.


Apa Ave menangis? Kenapa?  Gadis itu selalu tertawa dan tersenyum. Matanya selalu dipenuhi sinar bahagia, yang kadang terkesan jahil dan penuh muslihat. Tapi Zaid belum pernah melihatnya menangis.


Lalu, setelah terdiam cukup lama dan tak mampu memikirkan alasan apapun yang mungkin, Zaid menghela napas dan memilih untuk sholat dulu. Allah punya semua jawaban.


Saat turun kembali menuju ruang makan, tampak piring makan telah disiapkan. Mangkuk besar berisi sup sudah tersedia di atas meja. Tinggal lauk pauk yang belum ada. Tapi hanya untuk satu orang. Begitu juga gelas dan perlengkapan sendoknya.


Zaid memilih ke dapur, mendatangi Ave. "Kamu gak sekalian makan, Ve?" tanya Zaid.


Tak ada jawaban. Masih ada headset menyelip di telinga Ave yang membelakanginya. Sibuk menggoreng. Memutuskan tak ingin mengganggu, Zaid kembali ke ruang makan. Duduk menunggu.


Tak sampai lima menit, Ave muncul membawa nampan berisi satu mangkuk bubur nasi dan dua piring berisi lauk tempe goreng dan telur dadar gulung. "Maaf, Pak. Gak keburu kalo goreng yang lain. Takutnya kita kelamaan. Jadi Ave masakin yang simple aja. Oh ya... ini bubur khusus untuk Bapak. Biar perut Bapak mendingan."


Gadis itu mengangkat satu persatu mangkuk dan piring ke hadapan Zaid. Mengaturnya agar mudah dijangkau.


Zaid mendongak, menatap Ave. "Kamu duduk juga. Makan sama saya," perintah Zaid. Ia urung bertanya dan memilih cara memerintah seperti itu pada Ave. Itu satu-satunya cara efektif dan cepat menyuruh gadis itu.


Benar dugaannya, meski awalnya ragu, Ave duduk pelan-pelan di kursi dekat Zaid. Piring yang tadi disediakan untuknya, disodorkan Zaid pada Ave. "Saya makan pake mangkuk bubur aja. Kamu pake ini."


Untuk beberapa waktu, mereka makan dalam keheningan dan hanya suara sendok garpu yang terdengar.


"Ve," panggil Zaid masih sambil memandangi buburnya dan memainkan sendoknya.


Ave menatap Zaid bingung.


"Kamu punya pacar ya?" tanya Zaid lagi. Ia meraih gelas dan minum seteguk. Mendadak tenggorokannya terasa kering.


Sedangkan Ave merasa bagai ada petir sedang menggelegar di samping telinganya. Sejenak ia merasa tuli sebelum meneguk liur. Berpikir keras mencari tahu maksud pertanyaan itu sebelum menjawab. Tak ada yang terpikirkan. Nihil. Wajah Zaid tampak datar saat bertanya.


"Mmmm... kan Ave udah bilang gak ada, Pak." Ia hanya bisa menjawab jujur.


"Tapi waktu itu kamu bilang kamu lagi jatuh cinta." kata Zaid mengingatkan.


Ave menunduk, menyembunyikan wajahnya. Saat itu ia bercanda. Selain pada Elang, ia tak pernah merasakan apapun pada pria manapun. Satu-satunya yang selalu membuat ia gemetar, ketakutan, kuatir dan bingung belakangan ini hanya Zaid. Itu tak bisa dianggap jatuh cinta. Ave yakin sekali soal itu. Hanya saja, melihat raut wajah serius pria di sampingnya itu membuat ia tak berani menjawab dengan jujur. Dengan lemah, Ave hanya bisa mengangguk.

__ADS_1


"Elang? Apa dengan dia?" tebak Zaid santai.


Buru-buru tangan Ave terangkat, melambai mengelak sambil menggelengkan kepalanya berulangkali. "Bukan! Bukan! Mas Elang sudah punya pacar. Dia pacaran dengan Mbak... " Teringat larangan Natasha, Ave menutup mulutnya lagi sebelum melanjutkan dengan lemah, "Mbak... temannya kakak saya."


"Oh begitu." Lalu keheningan itu kembali lagi. Nyaris sepuluh menit berlalu sebelum Ave berdiri membereskan semuanya kembali ke dapur.


Ave sengaja menyibukkan diri di dapur. Meninggalkan ruang makan yang terasa lebih panas dari biasanya. Sikap Zaid sangat berbeda dari biasanya. Setelah pelukan yang tak disengaja itu, Zaid seperti orang lain. Ave gelisah membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi di luar rencananya.


Ave mencuci piring kotor hingga selesai, sambil berpikir. Tapi sepertinya sia-sia. Hatinya masih berdebar tak karuan. Bingung, bercampur takut dan kuatir. Meski Elang dan Natasha mendukungnya, saat ini ia tak bisa melepaskan kedua pekerjaannya. Ave menghembuskan napas kuat-kuat.


"Ve?" Suara lembut dekat telinga Ave membuat gadis itu berbalik cepat dan terlonjak kaget saat melihat Zaid berdiri di belakangnya. Sangat dekat.


Punggung Ave menempel pada konter pencuci piring. Basah terkena air yang masih menyemprot dari kran. Zaid maju sekali, mematikan kran air. Tapi langkah itu membuat tubuhnya nyaris menempel pada Ave.


Tatapan mereka bertemu. Zaid bisa melihat dengan jelas sepasang mata besar yang memerah seperti menahan tangis. Mendadak seluruh keraguan dalam hati Zaid lenyap.


"Kalau kamu gak mau, beritahu saya... "


Sebelum pikiran Ave bisa mencerna maksud kata-kata itu, Zaid sudah menundukkan kepalanya, mengangkat sedikit ujung dagu Ave dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.


Awalnya, Zaid hanya mencium perlahan. Kadang menyentuh ringan, kadang sedikit menekan. Menjelajahi sudut bibir Ave dengan bibirnya pelan-pelan, menunggu respon Ave.


Setelah Zaid merasakan tangan Ave yang terangkat menyentuh lengannya, ia mulai membuka bibir Ave dan menciumnya lebih dalam. Ini ciuman pertama mereka, tapi secara mengejutkan keduanya bisa saling menyesuaikan diri dengan mudah, menikmati setiap detik dengan harmoni. Inilah waktunya, inilah saatnya. Hanya mereka berdua.


Entah siapa yang ingin memberi, atau siapa yang menerima. karena pada akhirnya keduanya justru saling melengkapi, saling mengisi. Tak ada yang tahu siapa yang mengakhiri, Zaid dan Ave sama-sama melepaskan diri perlahan. Napas keduanya sama-sama tersengal. Tak lagi ingat berapa lama mereka melakukannya, hingga bernapas saja terasa sulit.


Saat Ave membuka matanya, ada sepasang mata hitam keabu-abuan yang dalam sedang menatapnya. Tak ada gunung es lagi di situ, hanya ada kehangatan. Senyum kecil di wajah pria itu bagai matahari kecil yang bersinar cerah.


Tapi Ave menyadari sesuatu. Bahunya mulai bergetar, sebelum airmatanya berjatuhan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah.


Senyum yang tersungging di bibir Zaid langsung lenyap. Dengan kuatir ia menatap Ave. "Kenapa Ve?"


Bukan penolakan seperti ini yang diharapkan Zaid. Gadis itu tadi diam saja. Ia bahkan merasa Ave juga menikmatinya. Sebuah bentuk penerimaan. Sesaat tadi hati Zaid nyaris meledak saking bahagianya. Tapi sekarang... Bagaimana bisa ia justru menangis?


*****

__ADS_1


__ADS_2