Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 85 - Epilog: Zaid's Heart (My Stupid Love 1)


__ADS_3

'Orang-orang yang bodh*.'Itu cap yang selalu kuberikan pada mereka yang kupikir bersikap terlalu aneh hanya karena mengaku mencintai seseorang.


Aku melihat cinta yang bod*h itu ketika Mama yang sudah tersiksa lahir dan batin, selalu tersenyum pahit tiap kali kusarankan untuk berpisah dengan Papa. Ia tak pernah bergeming dari keyakinannya, bahwa cinta akan mengubah Papa menjadi seperti dulu. Terbukti, Papa tak pernah berubah, dan untungnya ia pergi begitu saja setelah menceraikan Mama secara sepihak. Menyingkir dari hidupku dan Mama.


Kukira itu kebodohan pertama yang kulihat. Ternyata tidak, bertahun-tahun kemudian aku bertemu Uncle. Pria baik hati tapi bod*h yang mau saja menikahi seorang janda dengan anak remaja sepertiku.


Uncle tak peduli jarak Kualalumpur Jakarta, atau Mamaku yang hanya seorang pemilik warung biasa dengan dirinya yang seorang pengusaha sukses, atau perbedaan kultur di antara kami, atau bahkan pada protesku sebagai anak tirinya.


Uncle hanya tersenyum saat aku tanya alasannya. "Because I love your mother, Zaid."


Dan dia bukan orang terakhir.


Satu lagi justru teman SMA-ku sendiri. Namanya Ajie. Dia anak baru yang pindah ke sekolah kami. Aku menyukainya. Meski dia sedikit aneh.


Tanpa sengaja saat ia menraktir kami, aku melihat foto anak kecil di dompetnya. Kukira itu adiknya. Ternyata...


"Oh ini? Ini Lily. Ini calon istriku."


Apa??? Bagaimana bisa anak kecil seperti itu jadi calon istrinya? Aneh kan? Dan tentu saja... bodh*


Bertahun-tahun kemudian, aku kembali menyaksikan kebodohan lain. Natasha yang berusaha menarik perhatian Ajie namun selalu gagal. Membiarkan dirinya mengejar ketidakpastian. Lalu mengorbankan karirnya dan dipermalukan. Untuk apa? Katanya, semua itu karena cinta. Walaupun akhirnya Natasha justru tersenyum bahagia ketika Lily dan Ajie menikah.


Bahkan ketika Natasha jatuh cinta lagi... Ia melupakan segalanya, termasuk citranya sebagai artis terkenal hanya untuk mencintai seorang... satpam?


Makanya aku selalu menghindarinya. Buat apa cinta ketika hanya menyiksa? Buat apa asmara kalau hanya menjadikan dirimu bagai orang bod*h?


Lebih dari tiga puluh tahun aku berhasil membuktikan bahwa tanpa cinta aku bisa berhasil. Lihatlah The Crown, perusahaan yang kubangun dengan tanganku sendiri! Di usiaku, aku bisa menjadi Presiden Direktur dengan membangunnya dari nol.


Cinta?

__ADS_1


Itu hanyalah sepotong kue kecil, pemanis hidup yang tak perlu. Aku takkan mudah tergoda. Pekerjaanku yang selalu berhubungan dengan banyak wanita, ternyata tak membuat janjiku itu luntur.


Malah akhirnya wajah-wajah cantik itu yang menjadi alatku untuk menghasilkan kesuksesan demi kesuksesan bagi The Crown. Tak terhitung jumlah iklan yang diproduksi The Crown dengan mengandalkan wajah-wajah cantik model-modelku.


Sampai aku bertemu gadis yang bernama Avelia.


Harus kuakui wajah peranakannya memang cantik. Tapi kalau sekadar memandang wajahnya itu, hatiku tak akan tergerak. Lebih banyak model berwajah peranakan yang jauh lebih cantik darinya.


Tapi gadis itu punya mata yang unik. Mata yang selalu bersinar cemerlang tapi seperti mata seorang anak kecil. Polos dan mudah terbaca. Ketakutannya, kesedihannya, kegembiraannya... tergambar jelas dalam sorot matanya itu.


Untuk pertama kalinya aku merasa aku ingin terus menatap sorot mata itu. Sorot mata yang membuatku betah bersamanya.


Lalu aku terkejut pada diriku sendiri.


Belum pernah aku merasa takut kehilangan seseorang. Tidak setelah aku kehilangan semua yang kumiliki bertahun-tahun lalu. Tidak setelah aku tak punya siapapun selain keluarga tiriku di Kualalumpur. Melihat tubuh mungil Ave nyaris tergilas mobil yang melaju, jantungku seperti berhenti berdetak.


Inikah cinta?


Bagaimana kalau kelemahannya itu membuatnya terluka? Bagaimana kalau sifat cerobohnya itu membuat dia celaka? Bagaimana kalau kebiasaan buruknya membuat dia sakit?


Bukannya aku tak ingin menghindarinya. Aku berusaha. Sangat keras dan pergi sangat jauh dari Jakarta. Tapi apa hasilnya?


Belum pernah kepalaku terasa mati rasa seperti ini, hatiku seperti dicubit dan mataku sulit sekali dipejamkan untuk tidur. Aku baru tahu kenapa orang bilang rindu itu menyiksa! Dan yang paling menyiksa hatiku, semakin lama aku tak bertemu dengannya, semakin aku kuatir padanya.


Tapi kuberitahu kalian... jangan percaya pada kata-kata perempuan begitu saja meski ia merayumu semanis madu!


Kukira Ave juga menyukaiku. Kukira dia juga jatuh cinta padaku seperti diriku. Ternyata tidak!


Aku harus bekerja keras hanya untuk membuktikan aku benar-benar mencintainya. Dalam proses itu, malah aku yang sakit hati. Ave bilang, dia sudah pernah jatuh cinta dan itu membuatnya kapok jatuh cinta.

__ADS_1


Makanya aku kini mengerti, cinta itu memang kejam. Aku sekarang mengerti mengapa Mama begitu setia pada Papa. Setidaknya aku mewarisi sifat tak mudah menyerah itu dari Mama, karena aku tak pernah ingin mundur setelah yakin mencintai gadis itu.


Tiga puluh tahun lebih aku hidup di dunia ini. Baru kali ini aku mencintai dan menemukan seseorang seperti Ave. Kalau aku melepasnya, itu artinya akulah si bod*h yang sebenarnya. Lagipula, aku selalu berhasil mendapatkan apa yang kuinginkan.


Ketika kukira setelah memenangkan hati Ave, menjalani hari-hari indah dan bisa memeluknya sebagai calon suaminya, semua akan berjalan dengan mudah dan lancar, sekali lagi cinta membodohi diriku.


Ia adik dari seseorang yang paling kuhindari di dunia. Pria yang membenciku setelah kukhianati kepercayaannya sebagai seorang sahabat.


Aku kini mengerti. Inilah saatnya cinta melepaskan...


Tapi aku tak bisa menahan diri. Ave terlalu berharga untuk dilepaskan. Aku bahkan terlalu takut melihatnya sedih. Aku bahkan tak merasakan sakit saat mobil menabrakku.


Aku hanya merasa hatiku sangat sakit melihat gadis kecilku menangisiku. Itu jauh lebih menyiksa. Biarlah mereka bilang aku manusia bod*h, bersedia mati atas nama cinta. Tapi demi keselamatan perempuan yang paling kusayang, aku benar-benar ikhlas.


Inginku itu sangat sederhana, aku hanya ingin bersama Avelia. Selamanya sampai maut memisahkan. Bahkan jika maut memisahkan aku ingin Avelia menjadi bidadariku di surga.


Hanya saja di atas cintaku, ada cinta Ajie dan Papa Avelia. Pria setengah baya itu sedang sakit dan aku tak bisa membiarkan Avelia-ku menangis karena bingung memilih. Aku tak bisa membiarkan ia kembali kehilangan satu-satunya orangtua yang ia miliki. Aku tahu rasanya sendirian, dan aku tak ingin gadis cantikku merasakannya.


Dan aku tahu, semua orang akan bilang bahwa meninggalkannya adalah keputusan terbodoh yang pernah ada.


Kuganti nomor teleponku, kukirim kembali semua barang Avelia ke rumahnya. Aku pergi, sejauh kakiku melangkah. Aku pulang ke rumah Zahra. Hanya tersenyum dan menghela napas.


Tapi kukatakan pada kakak tiriku itu. "Tolong jangan tanya alasannya, Kak! Ini... sangat berat."


Ya, sangat berat menahan airmata agar tidak jatuh di hadapan perempuan yang kusayangi selain Ave itu. Untungnya, kakakku mengangguk dan tersenyum.


Zahra hanya memelukku dan berbisik, "Allah akan berikan awak jodoh yang terbaik, Zaid. Tak ada yang bisa menentang takdirNya."


Doa, aku sangat perlu itu sekarang. Maka kuserahkan semua pada Allah, berdoa di malam-malam saat mataku terlalu sulit untuk dipejamkan.

__ADS_1


Aku hanya bisa memohon pada Allah untuk menjaganya, menjaga papanya dan keluarga Avelia, karena hanya dengan mendoakannya aku merasa tenang.


Pada siapa lagi aku menitipkan sebelah jantung dan hatiku itu selain pada Sang Pemilik Alam Semesta?


__ADS_2