Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 34 - When Sun Shines


__ADS_3

~ Panas matahari bisa membakar otak normal, matahari di langit maupun putri matahari bernama Avelia  ~


Matahari sedang mengamuk, dan panasnya benar-benar membakar hari ini. Zaid malah memilih hari Minggu untuk jalan-jalan.


"Jalan-jalan? Ke mana? Ngapain?" tanya Ave bingung saat Zaid mendatangi paviliunnya. Ia sudah telanjur berbaring di lantai, menghambur seluruh bantal, berbaring sembari membaca komik online dengan snack aneka macam.


Zaid menghembuskan napas. "Iyaaa... kamu sendiri yang bilang gak mau liat saya sendirian. Ya udah sekarang kita jalan. Saya mau motret."


"Hah? Gak usah deh, Pak! Ave lagi banyak kerjaan," tolak Ave halus.


Zaid memejamkan mata dan sekali lagi menghembuskan napas. Kerjaan apa? Bukannya dia tidak melihat isi kamar yang seperti kapal pecah di belakang Ave. Snack dan bantal berhamburan di lantai.


Cewek antik satu ini... benar-benar... 


"Sudahlah, kamu ikut aja!" kata Zaid sambil memakai jaket hitam yang dipegangnya. Berbalik meninggalkan Ave yang langsung mencibir kesal.


Hampir satu jam mereka berjalan kaki di salah satu jalan utama Jakarta, Ave mulai kepanasan. Ini sesuatu yang ia benci di Jakarta. Panas, macet, dan... pria cuek di sebelahnya. Sudah cukup tadi dia dibonceng dengan motor gede sialan itu. Ini saatnya untuk membuat pria ini sadar bahwa Putri Matahari sedang butuh sesuatu untuk mendinginkan dirinya.


"Pak, pas Bapak lagi motret-motret gitu... ganteng banget loh!" Ave memulai rayuannya.


Zaid menoleh sedikit dari kameranya. "Baru tau?" katanya dan kembali sibuk dengan kamera. Malah memasang posisi yang dibuat-dibuat.


Tidak, ini takkan berhasil. Ave melupakan fakta tingkat sensitifitas Zaid yang super rendah dalam menghadapi perempuan. Jadi ia mengubah sedikit strateginya.


"Mau gantengnya nambah gak, Pak?" tanya Ave. Gadis itu mendekat pada Zaid.


Kali ini Zaid menurunkan kameranya. "Motret lebih sering dan lebih lama bareng kamu di sini?"


Sambil menarik napas dalam-dalam untuk memaksa senyum tetap tampil di wajahnya, Ave berkata, "Ave akan sangat senang sekali nemenin Bapak. Tapi kalo liat Bapak motret sambil makan es krim, Bapak pasti keliatan lebih ganteng deh."


"Kok bisa?" Alis mata Zaid menyatu. Ia mencium aroma ada-maunya-di-balik-rayuan.


"Kan kalo hati Ave senang semuanya jadi terlihat lebih baik," kata Ave sambil mengerjapkan matanya pada Zaid.


Zaid tertawa tanpa sadar. Dasar gadis perayu! Tapi Zaid tahu, Ave tak serius. Gadis itu sudah jelas-jelas menolak cintanya. Namun akhirnya ia pun mengangguk. Mengajak Ave menuju mal terdekat, mencari es krim.


Mintanya memang hanya es krim. Tapi begitu Zaid menganggukkan kepala saat mereka mengunjungi sebuah hipermarket, Ave tak hanya memanfaatkan itu mengambil 3 es krim cone, ia juga mengambil beberapa jenis snack kripik, kacang atom pedas dan dua jenis snack rumput laut. Zaid memilih membiarkan gadis itu memasukkan semua dalam keranjang dan ia hanya mengambil dua botol air mineral dingin berukuran sedang, namun ketika Ave mulai melirik daging sapi segar yang sedang dipajang, buru-buru pria itu menarik tangan gadis itu menjauh.

__ADS_1


"Sekalian kan Pak. Biar tambah ganteng," rayu Ave tak mau menyerah.


"Nanti aja! Kita lagi jalan-jalan. Bukan belanja mingguan!"


"Sekalian aja, Paaak... Entar malam kita makan daging panggang."


Tapi Zaid tak bergeming, tak peduli ia berjalan menuju kasir. Ave mengikuti dengan bibir cemberut. Saat mengantri bersama. Ave sibuk memperhatikan jajaran barang-barang yang dipajang dekat kasir, sementara Zaid memeriksa pesan masuk di ponsel. Saat pria itu tak melihatnya, Ave mengambil satu persatu permen yang terpajang di dekatnya dan memasukkannya ke dalam keranjang. Lumayan untuk menghemat!


Karena sibuk mencuri lihat pada Zaid agar tak ketahuan menambah belanjaan, Ave tak lagi terlalu melihat pada barang-barang yang ia masukkan, sampai tiba saatnya Zaid membayar.


"Kamu beli ****** buat apa, Ve?" tanya Zaid menoleh cepat pada Ave dengan kaget usai memperhatikan isi keranjang yang sedang diambil satu persatu oleh kasir.


Ave melongok. Hah? Kondom? Buru-buru ia menggali di antara belanjaan. Yang mana sih yang namanya ****** itu?


Suara cekikikan para kasir dan juga orang-orang yang mengantri saat mendengar suara Zaid yang bertanya dan melihat ekspresi Ave yang sibuk mencari dalam keranjang belanjaan, membuat keduanya makin salah tingkah. Zaid membantu Ave dan melemparkan kotak ****** ke luar keranjang.


"Ini gak jadi, Mbak. Dia salah masukin," kata Zaid berusaha tenang. Tetap menegakkan punggungnya, meski wajahnya ikut memerah. Ave memilih menunduk dalam-dalam dan berlindung di belakang Zaid. Menyembunyikan wajahnya dari tatapan ingin tahu orang-orang di sekitar mereka.


"Bapak, kalo negur tuh suaranya dipelanin dikit napa? Kan Ave jadi malu," keluh Ave saat mereka keluar menuju parkiran. Mereka mulai berdebat lagi.


Zaid kembali meliriknya. "Kamu sendiri juga kenapa ngambil sembarangan? Apa-apa itu dicek dulu, dibaca dulu!"


"Kenapa? Mau lihat saya nyobain?" tanya Zaid sedikit menunduk ke arah Ave dengan nada menggoda.


Ave langsung bergidik dan berjalan lebih cepat mendahului Zaid. Dasar Boss omes!


Setelah dari hipermarket, Zaid memutuskan untuk ke tempat lain lagi. Kali ini ia membiarkan Ave menikmati es krimnya sementara ia sibuk memotret. Tak lama, panas matahari mulai menyorot tepat di ujung kepala jadi iapun ikut duduk berteduh di sisi Ave.


"Bapak gak mau esnya?" tanya Ave sambil melirik satu es krim lagi di tangannya. "Udah mulai meleleh nih, Pak!" lanjutnya lagi.


Zaid menggeleng. "Enggak buat kamu aja." Lalu ia mengambil kamera untuk melihat hasil foto tadi.


"Gak takut, Pak?"


"Takut apa?"


"Kalo Ave kebanyakan minum es entar hati Ave... "

__ADS_1


"Hatimu kenapa lagi? Sakit?" tanya Zaid sambil menoleh dengan kuatir.


"... Membeku karena ditraktir es krim sama Bapak ganteng. Trus jadi gak bisa pindah ke lain hati. Hahaha," kata Ave sambil tertawa. Tangannya sudah sibuk membuka bungkus es krim.


Zaid ikut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepanjang akhir pekan ini, ia kenyang dirayu Ave, tapi tetap saja ia tak pernah bisa menduganya. Gadis itu seperti tak kehilangan ide untuk membuatnya tersenyum.


"Kalau sudah makan es krimnya, kita makan siang di luar aja. Mau? Atau kamu sudah masak sesuatu di rumah?" tawar Zaid.


Ave menggeleng. "Enggak, belum. Kan kata Bapak, hari Minggu Ave libur."


"Oke, kalau gitu kita makan steak. Kamu lagi pengen makan daging kan?" Zaid teringat lirikan Ave pada sekumpulan daging segar di mal tadi.


"Asyiiik!" seru Ave senang. Buru-buru ia menghabiskan es krimnya.


Namun saat mereka bangkit dari kursi menuju restoran, Ave malah sibuk berputar-putar di sekeliling kursi besi itu.


"Ada apa, Ve?" tanya Zaid, sambil ikut melihat ke bawah. Tidak ada apapun di trotoar batu itu sama sekali. Selain sisa tetesan es krim yang belum kering, sebiji sampahpun tidak terlihat. Bersih.


"Lagi nyari barang penting Ave yang jatuh, Pak!" kata Ave sambil menunduk melihat ke bagian bawah kursi.


Zaid juga ikut berjongkok, memperhatikan sekeliling mereka. "Barang apa?"


"Hati Ave, Pak. Jatuh nih!"


Kepala Zaid terangkat menatap Ave tak mengerti dan menemukan wajah gadis itu tersenyum manis padanya. Ave berkata dengan nada manja. "Jatuh hati ke... Bapaaak!"


Zaid tak tahu harus berkata apa karena tak yakin itu benar, sampai gadis itu tergelak tertawa melihat reaksinya. Seperti dugaannya, Ave hanya bercanda. Lalu gadis itu bersenandung riang, berjalan lebih dulu meninggalkan Zaid yang masih termangu. Masih sedikit tak percaya pada pendengarannya barusan.


Zaid tahu, gadis itu selalu bercanda. Apalagi setelah ia menyatakan perasaannya, tingkah gadis itu makin menjadi. Tapi Zaid tak bisa marah padanya. Ia malah menikmatinya. Ia suka melihat tawa dan menjadi bahan candaan Ave. Sesuatu yang membuat Zaid merasa makin dekat dengan gadis itu. Hanya saja, makin lama Zaid makin sulit membedakan antara candaan biasa atau serius. Yang ia tahu sekarang, adalah secepatnya ia harus memenangkan hati Ave.


*****


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2