Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 48 - The Bad Memories


__ADS_3

~ Masa lalu selalu penuh kesalahan, tapi masa depan belum tentu dipenuhi kebenaran ~


Pesta barbekyu belum berakhir. Ave malah asyik bermain kartu remi dengan para staf. Malam panjang sepertinya baru dimulai. Dengan alasan ingin menelpon seseorang, Zaid pun meninggalkan pesta.


Sesuai janji yang dibuat Zaid. Ia memutuskan untuk menunggu Jaya hingga selesai makan malam bersama istrinya. Dengan alasan ingin menikmati malam lebih panjang bersama teman lamanya, Jaya memutuskan menginap di hotel bersama Tiar. Setelah mengantar Tiar ke kamar, Jaya menemui Zaid di salah satu sudut bar hotel yang buka hingga pagi.


"Lu benar-benar gak tau dia siapa?"  tanya Jaya tak percaya ketika akhirnya Zaid bertanya tentang Avelia.


Zaid menatapnya. Penuh tanda tanya. Mengapa ekspresi Jaya tampak terkejut seperti itu? Ada yang salah?


Tatapan itu membuat Jaya menghela napas. Walaupun ia juga tak mengira kalau Ave bisa serapat itu menyembunyikan identitasnya. Tadi ia sempat senang mengira hubungan dua sahabat lamanya itu sudah kembali seperti dulu. Sudah membaik. Apalagi ia bisa melihat tatapan mata Zaid sangat tak biasa saat mengarah pada Ave. Ia kenal baik arti tatapan yang pernah ia lihat di mata Ajie saat melihat Lily. Tatapan penuh cinta.


"Ave itu adik kandungnya Ajie. Id."


Dengan satu kalimat itu seolah-olah ada batu sedang menghantam jantung Zaid. Tangannya yang menggenggam gelas berisi soda mengencang. Tapi ada sisi lain di hatinya yang masih tak percaya. Zaid tertawa pahit. "Gak mungkin, Jay. Lo kali yang salah. Ave bilang dia itu sepupunya Lily dan itu sebabnya dia kenal Ajie. Mereka hanya saudara ipar."


Jaya tak langsung menjawab. Keningnya berkerut. Tenggorokannya terasa kering mendengar sanggahan sahabatnya itu. Ia meraih gelas air sodanya sendiri dan menyeruputnya sedikit sebelum menjawab.


"Sepupu Lily itu cuma gue. Gak ada yang lain. Avelia itu juga adik Ajie satu-satunya. Lo inget kan waktu Ajie cerita soal adiknya? Itu Avelia."


Zaid mengusap rambutnya. Mulai tak bisa berpikir dengan normal. Ia sibuk mengingat semua yang telah terjadi selama ini, mencari secuil informasi yang meyakinkan sebagai bukti. Tapi... tak ada. Jaya benar, perlahan-lahan ia bisa mengingat adik kecil yang selalu diceritakan Ajie dengan penuh cinta. Seorang adik perempuan.


"Ave itu teman satu les Lily. Mereka sangat akrab jauh sebelum Lily dan Ajie ketemu lagi. Ajie bahkan tak mengira kalau Lily dan Ave sangat dekat sebelumnya. Banyak yang mengira mereka bersaudari."


Sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, Zaid memutar kembali kenangan masa lalu. Kenangan yang berusaha ia kubur dalam-dalam.


Semua berawal dari perpisahan Mama dan Papa. Tapi saat itu Zaid justru sangat bersyukur. Papa begitu ringan tangan, sementara Zaid masih terlalu muda untuk bisa membela Mama. Ketika akhirnya suatu pagi, setelah pertengkaran panjang, Mama memberitahunya dengan mata sembab.


"Papa dan Mama bercerai, Id. Maafkan Mama!" bisik perempuan itu lirih.


Tanpa berkata apa-apa, Zaid hanya memeluk perempuan itu dan dalam hati ia berjanji akan menjaga ibunya sekuat tenaga. Mereka hanya berdua sekarang. Tanpa siapapun karena Mama sendiri anak yatim piatu. Mama membuka warung kecil-kecilan di dekat tempat wisata. Walaupun hidup sederhana, Zaid tak pernah mengeluh. Kehidupan mereka jauh lebih baik daripada saat masih tinggal bersama Papa. Ia tak perlu kuatir atau takut lagi pada Papa yang ringan tangan. Malah itu adalah masa-masa paling bahagia sepanjang hidup Zaid.


Hanya saja, kebahagiaan itu berlangsung sangat singkat. Hanya dua tahun. Tepat setelah Zaid masuk SMP, Mama menemukan cintanya yang baru. Seorang pria berkewarganegaraan Malaysia yang secara kebetulan memborong makanan di warung Mama untuk rombongan turis.


Tadinya Zaid mengira keramahan Mama pada pria itu hanya sekadar menghormati pelanggannya, dan ia melakukan hal yang sama. Warung Mama adalah sumber penghidupan mereka, jadi ia mendukung sepenuhnya.


Tapi Mama mengira, tanggapan Zaid berarti ia menyetujui hubungan mereka. Tak sampai satu bulan sejak pertemuan pertama, Mama menikahi pria Malaysia itu secara sederhana. Zaid tak sempat melawan karena saat Mama menikah dengan terburu-buru. Pria Malaysia itu harus segera kembali ke negaranya.


Di saat yang sama, ketika Zaid mencoba mencari Papa, untuk menghentikan Mama. Ia malah menghadapi kenyataan lain. Papa juga sudah menikah lagi. Bahkan Zaid melihatnya saat menggendong bayi mungil dalam pelukannya dengan penuh kasih. Jauh berbeda saat mengetahui kedatangannya. Boro-boro menyambut, Papa malah berkata dengan tak peduli pada istrinya.


"Aku gak kenal anak itu! Sembarangan aja ngaku-ngaku jadi anakku!" kata Papa sebelum melengos pergi dan membiarkan satpam rumahnya mengusir Zaid.


Zaid kecewa pada semua orang. Ia telah berusaha keras menerima perceraian Mama dan Papa. Ia berusaha keras menjalani hidup sulit bersama Mama tanpa banyak mengeluh. Ia berusaha keras melakukan yang terbaik agar Mama merasa cukup dengan kehadirannya. Tapi semuanya percuma.


Lalu sejak Mama dan pria yang menyebut dirinya 'Uncle' itu hidup bersama sebagai pasangan suami istri, Zaid mulai merasa dilupakan. Mama selalu sibuk dengan suami barunya. Walaupun sejak menikah, kehidupan mereka juga berubah. Mama berubah menjadi istri yang begitu patuh dan penuh cinta. Tapi justru melupakan putranya sendiri.

__ADS_1


Walaupun Mama mengajak Zaid tinggal di rumah barunya yang mewah, ia jarang pulang dan lebih sering tidur sendiri di rumah lamanya yang berada di lingkungan kumuh. Zaid merasa kehadirannya hanyalah pengganggu bagi sepasang pengantin paruh baya yang berbahagia itu.


"Lo ngapain di sini? Gak masuk?" tanya seorang teman sekelasnya, saat ia duduk bersandar di taman belakang sekolah sambil membaca buku.


Zaid menoleh sembari menutup bukunya. Ia mengenali temannya itu. Ia Ricky, siswa yang memiliki rekor bolos tertinggi di kelasnya. Juga berkali-kali membuat orangtuanya keluar masuk ruang guru karena kelakuan bandelnya. Anehnya, Ricky selalu bisa membebaskan diri dari hukuman dikembalikan pada orangtuanya. Ia selalu bisa kembali ke sekolah.


Saat menegur Zaid, Ricky tak sendiri. Ada temannya yang juga tertawa cengengesan melihat Zaid.


"Lo kalo pengen bolos tuh niat dikit, Men! Kalo lo di sini aja pasti ketahuan Mr. Herder. Gih ikut gua! Mau gak lo?" tawar Ricky sambil melirik temannya yang mengangguk cepat.


Sesaat Zaid menimbang-nimbang, sebelum akhirnya ia mengangguk.


Buat Ricky, adalah sebuah keajaiban bisa mengajak salah satu siswa berprestasi membolos dan ia menikmati itu. Kalau bisa menjadikan Zaid sebagai salah satu anak buahnya, ia tak lagi perlu pusing mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bolos sesuka hati pun tak masalah lagi.


Sementara untuk Zaid, ia hanya ingin keluar dari kehidupan yang membosankan. Mimpinya untuk menjadikan Mama sebagai wanita yang hidup dengan nyaman sudah tak ada lagi, karena Uncle sudah memberikannya. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tak ada rencananya yang berjalan dengan semestinya. Mungkin dengan bersama orang-orang seperti Ricky, ia akan menemukan yang ingin didapatkannya dari Mama dan Papa. Perhatian.


Di luar dugaannya, hari itu juga Zaid mendapatkan jawaban. Usai bermain seharian di tempat bilyar bersama Ricky dan teman-temannya, Zaid memutuskan pulang ke rumah Mama. Rumah kumuhnya terlalu jauh dari tempat bilyar dan ia lelah.


"Kamu dari mana?" tanya Mama dengan nada tajam.


Zaid mengangkat bahu. Apa pentingnya bertanya itu? Pulang tepat waktu, atau tengah malam seperti ini sekalipun, apa Mama peduli?


"Kamu dari mana, Zaid?!! Seharian bolos, pulang tengah malam begini! Kamu anggap apa kami semua di rumah ini, hah?!"


Dengan tak peduli, Zaid memilih duduk di atas sandaran tangan sofa. Tutup mulut akan mempercepat omelan Mama dan ia bisa segera masuk kamarnya sendiri.


Tak pernah terlintas sedikitpun dalam kepala Zaid menjadikan Papa sebagai contoh. Ia membenci Papa, dan semakin benci setelah apa yang ia dengar sendiri dari mulut pria itu saat mengatakan ia bukan anaknya. Zaid benar-benar tak menyangka Mama justru bisa mengatakan hal itu padanya. Ia mulai yakin, Mama hanya terpaksa mengurusnya. Dengan tatapan terluka, Zaid berbalik dan meninggalkan rumah tak peduli dengan jeritan Mama memanggilnya.


Tekad Zaid hanya satu sejak saat itu. Jika Mama saja sudah menganggapnya sebagai pengganti Papa, maka ia akan menjadi seperti Papa. Ia akan melakukan semua yang dibenci oleh Mama. Saat ia terbebas dari semua orang, ia akan melakukan semua yang ia mau. Hidup bebas, tanpa beban dari semua masalah yang menghimpit dadanya. Zaid sudah tak tahan lagi.


Dimulailah hari-harinya yang akrab dengan masalah. Bersama Ricky dan temannya, Zaid berulah. Mulai dari membolos, menyontek, mem-bully, mengintimidasi guru bahkan kemudian Zaid nyaris memukul penjaga sekolah yang menghadangnya saat datang terlambat ke sekolah. Kalau bukan karena Ajie yang menahannya.


Seperti biasa, niat Zaid hanya iseng saat mengenal Ajie. Siswa pindahan itu tampaknya disukai para guru. Di sisi lain, Zaid juga menyukai Ajie. Tak seperti teman-temannya yang lain, Ajie terlihat tulus saat mencegahnya meninju wajah sang penjaga sekolah yang menegur Zaid karena merokok. Teman barunya itu juga tidak tampak takut atau kuatir padanya. Tidak seperti teman-temannya yang perlahan-lahan menjauhinya.


"Jangan begitu, dia ini seumur ayah kita. Anggaplah dia ayahmu! Masak lo tega?" ucap Ajie sambil membantu sang penjaga sekolah berdiri.


Zaid tak berkata apa-apa, hanya memilih pergi. Tapi ia merasa bersyukur, Ajie menghentikan perbuatannya yang pasti akan ia sesali jika benar-benar melakukannya.


Zaid pun mengenalkan Ricky dan yang lainnya pada Ajie. Seperti perkiraannya, Ajie memang tulus dan Zaid menyukainya. Sampai peristiwa itu terjadi.


Sebenarnya walaupun jarang belajar, Zaid tak pernah mengalami kesulitan berarti kalau hanya sekadar mengerjakan PR atau tugas. Ia bahkan masih diperhitungkan masuk dalam 10 besar ranking di kelasnya andaikan saja kenakalannya bisa dikurangi. Ricky dan temannya juga terbiasa meminjam PR pada Zaid atau Ajie.


Suatu hari Zaid tak masuk sekolah. Mama ternyata menjual rumah mereka di tempat kumuh itu agar Zaid terpaksa tinggal bersamanya. Zaid yang tak bisa berbuat apapun, terpaksa pindah secara mendadak ke rumah Mama dan izin dua hari dari sekolah.


Pertengkaran Zaid dan Mama pun tak bisa dihindari lagi. Setiap kali melihat Mama, Zaid selalu diingatkan tentang laporan-laporan sekolah yang semua bernada negatif. Zaid berusaha tak melawan, tapi Mama terus menerus mengomel. Sungguh semua itu membuat Zaid muak.

__ADS_1


Andai saja saat itu tak ada Zahra, kakak tirinya yang berwajah sendu dan ramah, mungkin Zaid akan mengeluarkan seluruh kekesalannya. Tapi gadis manis itu dengan ketenangannya menahan keinginan Zaid. Walaupun masih tak menyukai Uncle, Zaid menghormati kehadiran Zahra. Entah mengapa, Zaid juga bisa merasakan kalau Zahra juga keberatan dengan pernikahan orangtua mereka. Bedanya gadis yang berusia jauh lebih tua darinya itu bisa bersikap tenang dan berusaha memahami orangtua mereka.


Begitu ia masuk sekolah, kebetulan ada PR. Karena sibuk dengan urusan keluarga, Zaid tak sempat mengerjakan dan memilih mengikuti Ricky, mencontek pada Ajie. Siapa sangka, teman yang ia anggap baik itu justru berkhianat dan membuat dirinya bersama teman-temannya dihukum sekaligus dipermalukan di hadapan seisi sekolah.


Ricky yang emosi menyeret Ajie ke belakang sekolah, berniat menghajarnya habis-habisan sekaligus mencurahkan kekesalan yang ditahan-tahannya. Tapi, belum lagi itu terjadi, Jaya mencegahnya. Pihak sekolah juga mengantisipasi dengan memindahkan mereka ke kelas lain sekaligus mengancam mereka berempat dengan sanksi. Satu masalah lagi, mereka bertiga akan dikeluarkan dari sekolah.


Zaid mengira masalah itu selesai sampai di situ.


Tapi Ajie, si anak orang kaya itu yang memiliki koneksi luar bisa termasuk dengan pihak yayasan ternyata menyimpan dendam. Walaupun begitu lulus SMP, Ajie pindah keluar negeri. Namun, Zaid ingat benar, Ajie mengatakan sesuatu yang membuatnya yakin bahwa mantan sahabatnya itu tak pernah memaafkan mereka.


"Ada waktunya lo akan merasakan akibat dari perbuatan lo semua."


Zaid tak pernah ambil pusing dengan semua urusan sekolah. Begitupun ketika Mama memilihkan sekolah dengan yayasan yang sama saat SMA. Berbeda dengan Ricky dan temannya yang memilih SMA lain. Mereka takut pada Ajie, dan kuatir masalah mereka takkan berakhir begitu saja.


Seperti menunggu kesempatan yang tepat, hanya dipicu satu masalah kecil lain karena mendebat seorang guru, Zaid harus menerima keputusan dikembalikan pada orangtuanya hanya beberapa bulan sebelum ia lulus SMA. Benar kata Ricky, Ajie pasti menyiapkan sesuatu untuk bisa membalas dendam.


Mama histeris saat tahu soal itu, membuat* Uncle* yang tak pernah berkomentar ikut menasehati. Zaid muak dengan semuanya. Jika orang-orang ingin ia hengkang dari kehidupan mereka, ia akan mengikuti keinginan mereka. Lalu Zaid benar-benar pergi begitu saja. Ia hanya pergi beberapa hari.


Ketika akhirnya Zaid lelah berputar-putar, menumpang dari satu rumah teman ke rumah temannya yang lain, lalu menginap di beberapa mesjid bahkan tertidur di taman-taman kota beratap langit, ia pun melangkah pulang setelah tujuh hari. Seluruh tabungannya sudah habis, perutnya lapar dan ia belum mandi selama dua hari.


Tapi ia disambut jerit tangis Zahra yang memberitahu dalam bahasa yang kurang dipahami Zaid. Ia tak ingin percaya, tapi wajah murung semua orang menjawab kebenarannya. Zaid tak bisa menangis sampai ia berada di depan makam kedua orangtua yang mencarinya sepanjang malam dan pulang ke rumah setelah menjadi jenazah. Mereka mengalami kecelakaan di hari Zaid melarikan diri. Hidup Zaid seketika berubah dalam semalam.


Selama kuliah, Zaid mulai memahami kalau Ajie tak pernah melupakan masa lalu mereka. Dari Ricky yang baru ditemuinya di tahun kedua saat ia kuliah, Zaid baru tahu kalau cafe milik orangtua Ricky bangkrut tak lama setelah mereka lulus SMP dan gantinya Ricky harus jatuh bangun bekerja serabutan demi membiayai kuliahnya sendiri.


Bahkan setelah tahun-tahun berlalu, saat Zaid mulai bekerja di perusahaan kakak iparnya, Ratu Mas cabang Jakarta, tanpa sengaja ia bertemu Ajie yang saat itu masih menjadi Direktur Perencanaan Golden Eagle dalam sebuah rapat. Tanpa alasan jelas, kontrak yang nyaris disepakati itu gugur begitu saja.


Natasha, salah satu sahabat baik yang dikenal Zaid sejak SMP, juga menjadi alasan bertambahnya kebencian Zaid pada Ajie. Ia tahu betul gadis itu mengejar cinta Zaid sejak remaja, dan ketika ia mengira Ajie telah menerima ketulusan cinta Natasha, yang ada ia justru melihat Natasha menjadi bulan-bulanan berita. Bahkan Zaid menahan geram saat Ajie justru membiarkan berita tentang hubungan Natasha dengan seorang satpam tersiar!


Zaid ingat Natasha mengadu padanya dengan airmata membasahi wajahnya. Lalu dengan tenang Zaid menyarankan Natasha untuk menggunakan kesempatan berita gadis misterius di Singapura, berpura-pura mengakui itu dirinya. Tapi dengan lihai, Ajie berhasil mempermalukan Natasha dengan pernikahannya dengan Lily.


Ajie adalah anak orang kaya yang bertingkah sewenang-wenang. Kesimpulan yang selalu bergema di kepala Zaid. Karena itulah, Zaid memilih menghindarinya. Zaid tak pernah menghadiri acara reuni SMP, ataupun membiarkan perusahaannya bersentuhan dengan Golden Eagle. Sebesar apapun jaringan grup keluarga Ajie, ia akan melepaskannya. Zaid tahu, jika ia tak menghindar, maka GE akan menghancurkannya.


Zaid tak ingin kerja kerasnya, dengan ratusan orang yang harus ia jaga sumber kehidupannya, menjadi korban kesewenang-wenangan Ajie. Zaid bahkan ikut membantu Ricky yang juga mulai merintis usahanya sendiri. Untunglah usaha Ricky bergerak di bidang peternakan, yang berpartner dengan seorang warganegara Australia. Jauh dari jangkauan Ajie.


Kenyataan hidup memaksa Zaid dan Ricky berubah drastis. Saat Zaid memutuskan untuk mengubah hidupnya, saat itu juga Ricky melakukan hal yang sama. Ada sedikit rasa bersalah di sudut hati terdalam Ricky karena membuat anak baik seperti Zaid kehilangan segalanya. Karena itu persahabatan mereka tetap terjaga, dengan dua perusahaan yang berkembang bersama.


Kebencian dan permusuhan Zaid dan Ajie, menjadi awal persaingan tak kasat mata  antara The Crown dan Golden Eagle. Untungnya grup perusahaan Ajie terlalu besar untuk mempedulikan kehadiran The Crown. Tapi walaupun begitu, Zaid tak pernah berharap akan berhubungan dengan Ajie.


Tidak melalui perusahaan mereka, tidak juga melalui seseorang.


Zaid menghormati Lily dan menganggap perempuan itu berjiwa hangat, jauh berbeda dengan suaminya. Ia mengira Avelia juga memiliki kesamaan itu karena mereka bersepupu. Tapi kini saat ia tahu Ave adalah adik kandung Ajie, Zaid mulai meragukan pilihannya. Jelas sekali Avelia benar-benar serupa dengan kakaknya, penuh rahasia.


"Bagus sekali... Dengan begini, lu dan Ajie bisa kembali bersahabat seperti dulu. Sudah terlalu lama kalian bermusuhan," ucap Jaya dengan senyum penuh arti, juga mengembalikan Zaid pada masa kini.


Bersahabat?

__ADS_1


Zaid tahu itu hanya sebuah kalimat ironi yang tak mungkin terjadi.


*****


__ADS_2