
~ Keluarga itu... kadang gila, kadang konyol, kadang ribut malah kadang tak jelas, tapi selalu ada cinta bersama mereka (Ave) ~
Sebelum Ave keluar dari rumah, setelah pernikahan Ajie, setiap akhir pekan seluruh keluarganya selalu berkumpul di rumah Papa untuk menghabiskan hari Sabtu dan Minggu bersama. Ajie dan istrinya, Lily akan menginap. Juga Emak dan Ayah Lily. Tiar, ipar Lily juga selalu diajak. Kadang-kadang disertai oleh Jaya, jika ia sedang libur. Tapi Tiar memang lebih sering muncul sendirian karena suaminya bertugas di luar Jakarta.
Tapi sekarang Papa tinggal bersama Ajie karena tak ingin sendirian di rumah, ditambah perut Lily yang semakin besar dan makin mendekati waktu kelahiran, maka kini keluarga berkumpul di rumah Ajie.
"Assalamualaikum!!!" pekik Ave saat membuka pintu ganda rumah Ajie.
Serempak, Tiar, Lily dan Ajie yang sedang duduk di ruang tamu menjawab, "Waalaikum salam!"
Tiar berdiri, menyongsong Ave. "Aduuh, lu ke mana aja? Kirain gak jadi datang. DiWA, ditelpon... semua gak dijawab."
Ave memeluk dan mencium pipi Tiar. "Maaf! Maaf! Ave lupa kasih kabar. HPnya Ave semalam jatuh dan rusak, Kak. Maaf ya!"
Ave mulai menyalami satu persatu. Mulai dari Lily dan Ajie. Ave celingukan ke dalam. "Papa mana? Emak sama Ayah?"
Lily tertawa. "Ada di dalam. Emak di dapur tuh. Papa sama Ayah di kantor Mas Ajie. Lagi main catur."
"Gak ada telepon biasa untuk ngabarin dulu, Ve?" tanya Ajie. Terlihat agak gusar. Pasti ia juga mencari Ave.
"Maaf, Mas. Ave bangun siang hari ini, terus tadi masak dan sarapan. Terus langsung ke sini, jadi gak sempat ngabarin," kilah Ave. Tetap tak berani menatap mata kakaknya yang tertuju padanya.
"Kamu sekarang kerja di mana? Katanya Natasha yang rekomen. Mas tanya nama perusahaannya kenapa dia gak info? Kemarin Mas kebetulan ke gedungmu, ternyata banyak perusahaan di situ. Yang mana?"
Jedeeer! Nah kan? Ini yang tidak diinginkan Ave sama sekali. Ave mulai panik.
"Terus.... kenapa kamu pindah? Tiar bilang kamu sudah ngembaliin kunci apartemen. Tinggal di mana sekarang?" cecar Ajie lagi.
Duh, ini harus dijawab dengan apa? pikir Ave bingung. Tatapannya beralih pada Lily. Meminta bantuan.
Untungnya Lily menepuk paha suaminya. "Ih, Mas. Nanya kok kayak interogasi gitu sih. Nanya itu yang penting-penting aja. Ave itu udah dewasa loh."
Ajie menoleh pada Lily. "Ya udah, kamu deh yang nanya."
"Oke. Cintaku sayang, adikku yang manis. Kerja... ooh kalo kerja gak usah deh. Kakakmu ini sudah tau. Sudah ada kontak person. Gak perlu. Kalo begitu... Tinggal di mana, Cinta? Kost, apartemen, rumah atau numpang? Numpang sama siapa? Layak enggak?" tanya Lily.
Baru saja Ave ingin membuka mulut. Lily sudah kembali bertanya, "Pakai AC atau kipas angin? Masak sendiri atau harus beli dari luar? Berapa orang yang tinggal di situ? Sekamar sendirian atau sama orang lain? Jauh gak dari kantor? Lingkungannya aman gak? Gampang diakses atau masuk gang? Bayarnya pertahun atau bulanan? Murah atau mahal? Dan... tempatnya nyaman gak?"
Tiga pasang mata menatap Lily tanpa bisa berkata apa-apa. Bahkan Ajie sendiri tak ingin tahu sedetail itu. Ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Istrinya memang bukan perempuan biasa.
"Ajie nanya kayak interogasi. Nah lo nanya... kayak agen kos-kosan gak mau rugi, Li!" kata Tiar sebal.
Ave tertawa. "Tenang aja, Kak, Mas. Tempat tinggal Ave yang baru sangat layak, dekat kalo mau ke kantor. Tapi emang jauh banget kalo ke sini. Hanya karena Ave di situ sedikit bohong soal siapa Ave, makanya Ave gak bisa kasih tau Mas Ajie. Tapi kalo Kak Lily dan Kak Tiar mau datang, boleh aja. Nunggu Ave izin dulu sama yang punya rumah ya."
Ajie mengangguk-angguk. Wajahnya terlihat lebih baik. "Baiklah. Mas juga sudah nitip kamu sama Natty. Dia pasti gak akan sembarangan nyariin tempat kerja. Kalo Lily... sementara ini biar fokus sama kehamilannya aja dulu. Tinggal sebentar lagi."
"Baik, Calon Bapak!" goda Ave. "Ave ke dapur dulu, mau bantuin Emak!"
Dua jam kemudian, seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan.
"Aaah, My little princess is here!" seru Papa sambil mengembangkan tangannya. Ave yang baru keluar dari dapur pun menyongsong memeluk Papa.
[A/N: Putri kecilku di sini!]
__ADS_1
"Hello, Big Monkey! How are you?" tanya Ave sayang. Apapun yang terjadi antara dirinya dengan Papa, ia merindukannya.
[A/N: Halo, Monyet Besar! Apa kabar?]
Kening Emak yang berdiri di belakang Ave, berkerut. "Ave... itu Papanya kok dipanggil begitu? Gak baik!"
Ave tersenyum malu.
"Gak papa, Mak! Maklum anak Aussie. Dia udah ketularan budaya bule sana. Kalo di sana, panggilan dengan memakai nama hewan atau benda gitu gak selalu berarti negatif. Kadang malah jadi panggilan sayang. Ada orangtua manggil anaknya Little Piglet, karena pipinya tembem dan sering memerah. Atau Little Cat karena sering merengek. Ada yang nyebut temannya Big Rocky karena badannya yang tinggi besar. Kalo Ave... dia nyebut saya gitu karena... " Penjelasan Papa terputus. Wajahnya berubah murung.
Ajie melihat ke arah lain sambil menghela napas. Hanya Ave yang tetap tersenyum dan menjawabnya tenang, "Itu panggilan sayang Mama Ave dulu ke Papa, Mak. Karena Mama pertama kali lihat Papa sedang gendong monyet di zoo, waktu dia liburan ke Bali."
Emak menatap tak enak. "Maaf ya, Ve. Mak gak tau."
"Sudah, sudah... Gak usah dibahas lagi. Ayo! Semua udah siap! Boleh dimakan kan?" kali ini seruan Papa kembali memecahkan suasana kaku dan sedih yang sempat muncul.
Ave hanya tersenyum. Sulit baginya hidup di antara dua budaya yang terkadang berlawanan. Mama yang terlahir blasteran, telah menularkan sebagian kebiasaannya selama dibesarkan di negara Kangguru pada Ave. Sementara Papa, pribumi asli yang terlahir dalam keluarga muslim bersuku Sunda. Apalagi Ave sempat beberapa tahun tinggal bersama Mama dan Grandpa Wilson di Sydney. Jelas ia tak bisa melepaskan begitu saja semua kebiasaan itu.
Suara sendok, garpu, dan piring serta mangkuk ditingkahi suara obrolan dan tawa pun mulai terdengar. Papa dan Ayah tergelak saat Lily mulai bercerita tentang keisengannya selama berada di rumah. Ajie malah hampir tersedak dibuatnya.
Terlepas dari apapun yang terjadi di luar sana dan perjanjiannya dengan Papa, Ave selalu mensyukuri kebersamaan ini. Ia mungkin tak lagi punya Mama, tapi ia punya keluarga yang hangat. Keluarga yang selalu membuatnya kuat menghadapi semuanya. Justru niatnya untuk membangun cafe karena ia ingin membuat tempat makan terbaik untuk keluarganya, dan keluarga lain.
Namun, Ave teringat seseorang. Seseorang yang selalu sendirian saat makan. Seseorang yang tak banyak bicara dan nyaris tak pernah tertawa. Seseorang yang menciumnya. Seseorang yang ingin menikahinya tapi ternyata hanya bercanda. Seseorang yang tadi pagi wajah tampannya dicoret-coret oleh Ave. Zaid.
Ave berhenti menyendok dan mulai menatap sekelilingnya. Ke semua anggota keluarganya. Ia mulai diliputi pertanyaan tentang keluarga Zaid. Keluarga yang tak pernah ia lihat fotonya sama sekali di rumah milik pria itu. Satu-satunya foto hanya foto Zaid memakai jas resmi berpose untuk profil perusahaan. Sendirian.
Sekarang, hari libur begini, Zaid berada di rumah. Ponselnya pun ada di tangan Ave. Pria itu sendirian. Mungkin karena itulah, wajah itu selalu terlihat dingin. Mungkin karena ia tak pernah merasakan kehangatan seperti yang dirasakan Ave selama ini. Kehangatan keluarga.
Ave berdiri tiba-tiba. Semua melihat ke arahnya.
"Mmm.... Ave minta maaf. Ave baru inget kalo tadi ada janji. Janji... janji makan siang!" kata Ave sambil menatap memohon maaf.
"Dengan siapa? Laki-laki?" selidik Papa ingin tahu.
Bibir Ave terkatup. Ia tak ingin berbohong.
Lalu Lily tersenyum sembari menatap Ave penuh arti. "Aah... Janjian sama Mbak Natty ya. Iya ya... Lo emang dicari semalam sama Mbak Nat. "
Ajie menoleh pada istrinya. "Natty telepon kamu, Li?"
Lily mengangguk. "Iya. Kan HP Ave rusak, Mas. Dia nanyain."
Kembali Ajie berpaling pada Ave. "Ve, besok Mas kirim HP yang baru ke rumahmu. Tulis aja dulu alamatmu! Kalo ngasih ponsel boleh kan, Pa?"
Papa mengangguk.
Alamat? Ah no! Ajie akan tahu di mana ia tinggal dan selanjutnya pasti ia akan tahu siapa penghuni lain rumah itu. Itu sama saja bunuh diri!
"Gak usah, Mas! Ave udah dapet pinjaman kok. Pinjaman dari... dari teman... kantor," kata Ave terbata-bata, sambil menggeledah tasnya dan mengambil ponsel yang diberikan Zaid.
Sekali lagi semua mata tertuju pada Ave.
Emak mengangguk-angguk. "Baik banget temannya Ave, ya."
__ADS_1
"Ya baguslah. Saat begini memang penting punya teman-teman yang baik." Ayah tersenyum simpul.
Tiar melirik Lily. "Gak kayak sahabat sehidup semati gue. Hidup doang mau. Mati mah tinggalin. Boro-boro minjemin. Yang ada malah nelepon minta dibayarin padahal katanya dia yang nraktir."
Ajie tertawa mendengar sindiran Tiar. "Oh jadi waktu itu dia nelepon kamu, Yar?"
Tiar tertawa dan mengangguk-angguk. Begitu pun semua yang mendengar, membuat percakapan teralih pada Tiar yang kemudian berkisah tentang Lily yang berusaha melarikan diri saat dikerjai Ajie dulu.
"Kalo gitu Ave boleh bungkusin Bubur Manado gak, Mak? Sama puding coklatnya juga."
Emak mengangguk. "Bawa aja, Ve! Bawa aja yang kamu mau. Kalau kurang nanti Emak masakin lagi dan nanti dikirim ke rumahmu."
"Ooh udah, Ave cuma mau ambil untuk dua aja."
"Dua? Satunya siapa?" selidik Emak. Tapi Ave tahu, telinga Papa juga ikut menegak.
"Monyet! Untuk monyet, Mak. Pemilik rumah yang Ave sewa pelihara monyet." Lalu tanpa menunggu komentar lagi, Ave berlari masuk ke dapur. Mengambil persediaan makanan hari itu.
Setelah selesai, Ave keluar. Tampaknya makan siang keluarganya hampir selesai. Sebagian sudah sibuk mengobrol.
"Ave pamit yaaa... Assalamualaikum!" seru Ave sambil menyalami seluruh anggota keluarga satu persatu.
"Waalaikumsalam!"
Selesai berpamitan dan tidak lupa membawa bungkusan makanannya, Ave bersiap ke pintu saat ponselnya berdering. Ave terkesiap, buru-buru menurunkan kembali semua bawaannya dan mengambil ponsel dari dalam tas. Mengecek si penelpon.
Lily, istri Ajie AF
Dengan kaget, Ave menoleh ke belakang. Ke arah meja makan. Lily tampak sedang menatapnya. Ada ponsel sedang menempel di telinganya. Wanita yang sedang hamil tua itu tersenyum penuh arti pada Ave.
"Kok dibiarin telpon orang berdering gitu, Ve? Jawab cepat! Kasih tau kalo kamu cuma minjem," tegur Tiar yang baru saja mengambil tambahan sayur di dapur.
Ave meneguk liur. Dengan ragu ia mengusap layar ponsel. "Halo... " sapanya lemah.
Lily yang tengah menelponnya. "Halo! Apa kabar Mbak Natty? Lily nih... Kapan main ke sini, Mbak?"
Jelas sekali Ave bisa mendengar suara Lily. Tak hanya dari ponsel. Tapi juga di depannya. Lily tengah berpura-pura. Mau tak mau Ave mengikuti caranya.
"Halo, saya Avelia. Temannya... Temannya Mbak Jenny. Saat ini HP Mbak Jenny lagi saya pinjem. Ada pesan?" tanya Ave dengan suara tercekat.
"Hahaha... Iya, Mbak, Lily juga kangen banget. Lagi nunggu hari ini nih, Mbak. Doain ya!" Sementara Lily terus melanjutkan permainannya.
Ave berbalik, sambil meraih kembali semua bawaannya. Ia harus menyingkir segera dari rumah ini sebelum Lily membuka seluruh aibnya. "Baik, baik, Mbak! Nanti saya sampaikan!" ujarnya sambil menutup telpon.
Sial! Sial! Kenapa juga Ave pulang hari ini? Udah tau Kak Lily kayak Sherlock Holmes, masih nekat aja berbohong.
Sementara di dapur, Emak yang sedang beberes di dapur bersama Tiar tampak tercenung dengan kening berkerut lagi. Tangannya berhenti bergerak.
"Neng... "
"Ya Mak?"
"Sejak kapan monyet suka makan Bubur Manado, Ayam Goreng Rica-rica dan Puding Coklat?" tanya Emak kebingungan.
__ADS_1
*****