Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 87 - Extra Story : Welcome To The Family


__ADS_3

~ Mengucapkan selamat datang untuk calon anggota keluarga yang baru~


Dengan sedikit gugup, Zaid menoleh ke sampingnya. Ave tersenyum.


“Tenang aja, Mas Ajie gak makan orang kok.”


Zaid menurunkan sedikit kepalanya. Berbisik di telinga Ave. “Tapi dia bisa bikin orang makan hati.”


Ave tertawa kecil. “Kan ada pawangnya. Mas Ajie pasti gak akan makan siapa-siapa.”


“Pawang?”


Tangan Ave melambai. Meminta Zaid menurunkan telinganya sedikit, lalu berbisik, “Kak Lily.”


Kedua terkikik bersamaan, membuat Ajie dan Lily yang tengah duduk di sofa depan mereka, mengangkat kepala mereka bersamaan. Memandang Zaid dan Ave dengan curiga.


“Pasti ngomongin Mas Ajie tuh,” bisik Lily ke telinga suaminya.


Ajie menyipitkan matanya, tak melepaskan tatapan tajam dari calon ipar dan adiknya. “Hmmm... “


“Tenang aja, Mas. Dendammu akan terbalaskan,” bisik Lily sekali lagi. Ada makna tersirat dalam nada suaranya.


Ajie menoleh, menatap istrinya penuh cinta. “Emang cuma kamu yang ngerti aku, Sayang.”


“Because I love you so much.”


[Karena aku sangat mencintaimu]


“Me too.”


[Aku juga]


Papa memandang dua pasangan yang duduk berhadapan di depannya, yang tengah berbisik-bisik saling menatap seakan melupakan keberadaan dirinya. Mulutnya meruncing, merasa diabaikan.


“Eheeem, eheeeem... “


Keempatnya segera menoleh pada Papa.


“Iya tauuu, pasti pada ngomongin Papa kan?” tuduh Papa dengan senyum tertahan.


Ave segera berdiri, memeluk leher Pak Fariz. “Iih, enggak kok. Ave tuh cuma ngasih tips ke Mas Zaid cara mencairkan hati Papa yang baik dan mecahin hati batunya Mas Ajie.”


Papa tergelak. “Papa mah akan selalu paling cool, Ve. Relaks!”


Ajie hanya menatap adiknya tanpa ekspresi, sementara Lily tak bisa menyembunyikan tawa. Zaid melipat bibirnya menahan senyum.


“Of course... You are my best daddy in the world.”


[Tentu saja... Papa adalah ayah terbaik di dunia]


“Itu karena dia ada maunya, Pah,” ucap Ajie datar.


Ave menyeringai. “Kayak Mas Ajie gak pernah ngerayu aja.”


“Aku gak pernah ngerayu Papa!” tegas Ajie.


“Tapi ngerayu Kak Lily terus biar bisa punya dedek buat Ali tiap hari kan? Wew! Emangnya Ave gak tau?” sergah Ave sambil memeletkan lidahnya.


Pak Fariz terkekeh-kekeh, apalagi saat melihat Ajie terdiam dan wajah Lily merona. Ia pun menepuk-nepuk lengan Ave yang masih memeluk lehernya. “Udah sana duduk samping Zaid. Udah gak pantes manja-manja gini terus, Princess.”


Bukannya melepas, Ave malah mempererat pelukannya. Menyandarkan tubuhnya di tangan sofa tunggal itu. “Biarin. Tadi aja Ave deket Mas Zaid, Papa udah protes.”


“Udah duduk sana lagi, Ve! Kapan selesainya rencanamu kalau bertingkah kayak anak kecil terus gitu?” tegur Ajie.


Ave kembali mencibir. “Kan sama aja, dekat sini atau sana. Kalau mau diomongin ya omongin aja!”


Ajie akan bicara ketika terdengar suara Zaid.


“Ve, duduk sini!” pintanya singkat sembari menatap Ave lembut.


Tak membantah, Ave tersenyum dan melakukan perintah Zaid.


Saat ia duduk, Zaid kembali berkata, “Kalau Mas Ajie ngomong itu harus didengerin.”


Senyum Ave langsung lenyap. Ia mencubit paha Zaid.

__ADS_1


Kedut kecil di sudut bibir Ajie terlihat. Menatap adiknya penuh kemenangan.


“Nah bener itu, Mas Zaid. Anak ini emang sukanya ngejawab aja,” ujar Lily. “Tuh dengerin kalo suami ngomong! Nurut sama kakaknya.”


Zaid mengelus kepala Ave. “Insya Alloh nanti enggak lagi, Mbak. Nanti saya ajarin biar jadi istri yang baik kayak Mbak Lily.”


Gantian wajah Lily yang sumringah, walaupun Ajie sempat mendelik tak suka pada Zaid.


Ave mendongak pada Zaid. “Yakin mau Ave kayak Kak Lily? Itu kakak ipar paling jahil sedunia tau, Mas! Belum tau aja.”


“Avelia... “


“Aveeee... “


Papa dan Ajie sama-sama memperingatkan, membuat Ave langsung terdiam. Sementara Lily menatap dua pria itu dengan tatapan penuh rasa terima kasih sebelum mencibir pada adik iparnya yang cemberut.


Sore itu, Zaid sengaja datang ke rumah Pak Fariz untuk membicarakan rencana pernikahannya dengan Avelia. Papa mendesak agar segera dilaksanakan walaupun harus sederhana, tapi Zaid ingin mengadakan pernikahan yang mewah.


“Bagi saya, Avelia itu seorang putri yang berharga, Pak. Kalau saya ingin menjadikan dia ratu di rumah saya, saya ingin memberinya pernikahan yang paling diimpikannya,” kata Zaid.


Avelia menoleh dan menatap Zaid sayang. Membentuk kata ‘thank you’ tanpa suara. Zaid tersenyum.


Papa juga tersenyum. “Begitu? Tapi apa kamu yakin? Semua itu perlu persiapan yang lama. Saya ingin kalian segera menikah, paling lama dua bulan dari sekarang.”


Zaid mengangguk. “Lebih cepat dari itu juga bisa, Pak. Satu bulan... ” Ia menoleh sekilas pada Ave. “Dua minggu dari sekarang juga bisa.”


Fokus semua orang berpindah pada Zaid. Heran.


Dengan sedikit malu, Zaid mengambil Ipad dari tas ranselnya yang tergeletak di ujung sofa. Lalu ia memperlihatkan beberapa foto di galeri Ipad pada Papa.


“Gedung ini, ini dan ini... saya bisa menyewanya kapan saja. Kalau Papa ingin diadakan di gedung lain, saya bisa usahakan untuk nego.”


Ajie berdehem. “Jangan lupa keluarga kami punya banyak gedung, Id. Soal itu tidak masalah. Kamu bisa skip ke yang lain.”


Zaid berpaling pada Ajie dan mengangguk setuju. “Baik, kalau begitu... “ Jari Zaid menggeser layar ipad, memperlihatkan daftar penyelenggara acara. “Ini... adalah beberapa EO yang sudah saya hubungi. Kapanpun mereka siap.”


Saat Zaid menatap Papa, pria setengah baya itu tersenyum puas. “Jadi kamu memang benar-benar yakin ingin menikahi putri saya dari dulu, Id?”


“Papa kok ngomongnya gitu sih? Yang anak Papa, Ave atau Mas Zaid sih?” Ave makin cemberut.


Tawa Ajie terdengar. “Ternyata masih ada normalnya juga kamu, Ve. Kirain udah kemakan cinta buta.”


Tepukan keras singgah ke paha Ajie dan Lily melotot pada suaminya. “Daripada situ dulu, kalo gak Lily yang ngelamar, mau nunggu sampe kapan?”


“Rasain!” kata Ave cepat, sebelum Zaid sempat menghentikannya.


“Sudah dong, kalian ini kapan seriusnya? Ini yang kita bicarakan urusan sekali seumur hidup. Harus serius,” kata Papa memandang putra-putrinya dan juga calon menantunya yang tak bisa berkata apa-apa. “Id, kamu jangan diam saja! Di rumah ini semua orang punya hak bicara yang sama.”


“Belum resmi... “ gumam Ajie sambil memutar matanya.


Zaid menahan tawa. “Sudah diwakilkan oleh Ave, Pa.”


Zaid tak lagi terlalu segan sekarang. Suasana yang penuh canda dari awal mencairkan ketegangannya. Walaupun Ajie terlihat masih dingin, tapi Zaid mengingat kebiasaannya dulu. Itulah Ajie yang ia kenal bertahun-tahun yang lalu.


Papa terkekeh sambil mengangguk-angguk. “Kalau begitu, Zaid.... Semua urusan resepsi, silakan kamu pilih saja dengan Avelia. Apapun itu Papa akan setuju. Tunjuk saja EO yang kalian mau. Nanti Pak Harun akan bawa asisten Papa untuk membantu kalian. Ingat jangan terlalu mewah!”


Avelia mengangguk-angguk penuh semangat dan Zaid tersenyum lebar. Tak sadar tangan keduanya saling menggenggam.


Di depan keduanya, Ajie menatap mereka. Jika diperhatikan baik-baik, ada senyum membayang di wajahnya. Sejujurnya ia ikut bahagia melihat wajah bahagia mereka. Sudah lama hatinya tak lagi menyimpan dendam pada Zaid.


Karena kondisinya yang masih dalam tahap penyembuhan, Papa tak bisa mengobrol lama dengan mereka. Harus beristirahat. Tapi Zaid akan tetap makan malam bersama keluarga.


“Kalo gitu Ave mau masak dulu ya, Mas. Di sini aja sama Mas Ajie,” kata Ave. Zaid mengangguk. Lalu gadis itu menoleh pada kakaknya. “Awas ya kalo ngapa-ngapain Mas Zaid! Entar Ave gak buatin pesanan Mas.”


Ajie menatap adiknya dengan mata berbinar. “Jadi bikinin Ayam Goreng Kalasan?”


Ave mengangguk. Tersenyum manis. “Tentu saja, Kakakku sayang. Karena Mas Ajie udah mau bantuin, hari ini Ave mau bikin Ayam Goreng Kalasan, Pudding Mangga dan Sayur Asem khusus buat Mas. Plus Sop Iga Sapi juga malah.” Ave mengerling pada Zaid, sebelum berbalik pergi.


“Emang adiknya Mas the best. Oke!”


Zaid kembali menahan tawa, ia menunduk. Tapi Ajie melihatnya.


“Kenapa? Lo gak suka adek gue perhatiin kakaknya?” sindir Ajie.


Zaid tertawa. Menggoyangkan tangannya. “Ya enggak, Mas... “

__ADS_1


“Panggil gue kayak dulu aja, Id! Geli gue denger lo jadi anak baik gitu. Kalo cuma kita-kita aja, lo gak usah manggil begitu.”


Lalu menyadari kebodohan yang mereka lakukan selama ini, tawa keduanya sama-sama terdengar, membuat Lily tersenyum. Ia berdiri.


“Kalau gitu, Lily mau bantuin Ave deh!”


Buru-buru Ajie menepuk sofa. Ekspresi tenang di wajahnya hilang seketika. “Enggak! Gak usah! Duduk aja di sini!”


“Tenang saja, Suami! Lily hanya ingin buatin sekoteng aja. Kan lagi dingin-dingin gini enaknya minum sekoteng spesial. Ya gak Mas Zaid?”


Zaid mengangguk setuju. Sementara Ajie makin panik, menggeleng-geleng cepat.


“Gak usah, Istri! Please, nanti kalo aku gak ngabisin masakan si Ave, dia bakal.... “ Tiba-tiba mata pasangan ini saling menatap dan bertukar isyarat tanpa kata, segera Ajie menoleh pada Zaid. “Id, lo mau gak? Istri gue paling pinter bikin sekoteng.”


Mendengar suara Ajie yang lebih ramah dari biasanya. Santai, Zaid mengangguk. “Boleh kalo gak ngerepotin.” Ia kembali menunduk, sibuk menggeser-geser layar Ipad.


Ajie mengedipkan mata pada Lily. “Tuh, Yang. Zaid mau. Bikinin buat Zaid aja! Aku air putih aja... “


“Ok! Tunggu ya Mas Zaid!”


“Siap, Mbak Lily!”


Ajie duduk kembali sambil tersenyum simpul. Ia melirik layar Ipad yang sedang dipandangi Zaid. “Itu apa? Lo ngecek apa lagi?” tanyanya.


“Oh ini. Ini daftar menu katering yang paling pas sama gue, Jie. Gue lagi ngecek ada gak makanan yang disukai Ave.”


“Kesukaan lo juga kalo bisa... menunya harus mencerminkan kalian berdua,” kata Ajie penuh perhatian.


Zaid mengangguk. “Udah kalo itu, Ave juga udah tahu,” jawabnya santai tanpa melepaskan tatapan dari layar.


“Hmmm... kamu suka makanan Malaysia ya? Gue pernah liat Ave praktek masakan Malaysia.”


Zaid menggeleng. “Enggak kok, Jie. Gue malah gak terlalu suka. Itu karena kak Zahra aja. Aslinya lidah gue Indonesia banget, sama aja kayak lo.”


“Kayak gue? Emang lo suka apa?”


“Itu tadi... Ayam Goreng Kalasan, Sop Buntut, Sayur Asem... Sekarang gue juga suka Ayam Geprek, itu masakan pertama yang dimasak... lo kenapa?” tanya Zaid heran saaat melihat wajah Ajie berubah suram.


“Jadi adek gue bukan masakin gue? Tapi karena makanan favorit kita sama?” Pertanyaan yang lebih mirip sebuah pernyataan.


Zaid terkekeh. “Tenang aja, Jie. Masih ada kok yang gak sama. Gue gak terlalu suka Pudding Mangga.”


Ajie mendengus. “Itu karena Papa yang paling suka pudding itu!”


Tawa Zaid pecah lagi. Tapi Ajie tak benar-benar marah, ia juga tertawa setelah itu.


“Naaah, gitu dong akuuur!”


Suara Lily terdengar sebelum dia masuk dengan membawa nampan berisi dua gelas air putih dan sebuah mangkuk. Lily memberikan mangkuk berisi sekoteng untuk Zaid, sementara membagi dua gelas air putih hangat untuk suaminya dan Zaid.


“Buruan dicoba, Mas Zaid! Mumpung masih anget, kalo udah dingin gak enak,” kata Lily ramah. Lalu ia duduk di sisi Ajie sambil memangku nampan.


Zaid tersenyum sambil mengangguk. “Makasih, Mbak Lily. Wanginya enak.”


Dengan hati-hati, Zaid mengambil mangkuk yang masih mengepulkan asap itu. Ia sempat melirik pasangan yang duduk di depannya, tapi keduanya tampak memperhatikan sesuatu di ponsel Lily. Tak lagi peduli padanya.


Wangi jahe tercium kuat di hidung Zaid, sedikit terlalu tajam. Tapi Zaid menyukai jahe, itu tak masalah untuknya. Meski sedikit bertanya-tanya apa saja isian yang terlihat seperti kacang, daun di dalamnya. Warna sekoteng yang sedikit berbeda juga memancing kerut di dahinya.


Perlahan Zaid menyeruput air sekoteng dan... Serangan pedas dan tajam, asin yang dominan, juga sedikit rasa sepat segera melumpuhkan lidahnya. Saking inginnya menahan diri untuk tidak menyemprotkan sisa air yang telanjur masuk dalam mulutnya, kedua sudut mata Zaid mulai berair.


Suara Ave terdengar dari belakang. “Tuh kan!!! Kak Lily mau ngerjain Mas Zaid. Tega banget siih!” teriaknya sambil buru-buru mendekati Zaid.


Lily dan Ajie tergelak-gelak melihat ekspresi Zaid. Mereka saling tos, merayakan keberhasilan menjahili Zaid.


“Jahil ih nih dua orang! Katanya tadi Kak Lily mau ngerjain Mas Ajie!” kata Ave kesal. Ia menyodorkan mug air putih hangat pada Zaid, yang segera dihabiskan pria itu dengan cepat.


“Welcome to our family, Zaid!” kata Ajie dengan senyum lebar dan ia menyodorkan tangan pada Zaid. “Senang bisa ketemu lagi sama lo, Kawan!”


[Selamat datang di keluarga kami]


Zaid tersenyum dan berjalan mengitari meja, bersalaman kemudian mengadu tinju dengan Ajie, menarik tubuh sahabat lamanya itu untuk beradu bahu. Salam khas seperti layaknya dua pria yang bersahabat, disaksikan kedua kekasih hati mereka yang tersenyum bahagia.


*****


 

__ADS_1


 


__ADS_2