Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 57 - Crazy Jealousy


__ADS_3

~ Siapa yang cemburu? Saya hanya ingin tahu dia siapa? (Zaid) ~


Ave membaca pesan masuk di ponselnya. Bahunya merosot lesu. Matanya memandangi layar monitor komputer tanpa ekspresi. Sudah hampir sebulan ia tak menengok keluarga dan teman-temannya. Bahkan mengirimkan laporan keuangan yang menjadi kewajibannya melalui email, tanpa menemui Papa.


[Kapan kamu pulang, Ve?]


Pertanyaan itu dikirim oleh Papa, juga Lily dan Ajie, serta Tiar bahkan Emak dan Ayah Lily. Mereka merindukan Ave dan masakan enaknya. Rumah besar Ajie yang kini menjadi tempat pertemuan keluarga setiap akhir pekan terasa sepi tanpa kehadiran Ave.


Ave juga ingin pulang, tapi belakangan ia kesulitan melepaskan diri dari Zaid. Pria itu bersikap aneh dan Ave tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan Zaid. Sejak Zaid kecelakaan karena dirinya, Ave juga tak ingin meninggalkannya terlalu lama.


Sebuah notifikasi masuk, dan Ave melirik layar ponselnya. Ada pesan dari Lily. Ia membuka dan membaca pesannya.


[Lily: Gue kangen elo, Ve. Kalo lo gak bisa dateng, biar gue aja deh ke kost-an lo!]


"Kalau Lily mau datang, datang saja ke rumah!"


Ave hampir melompat mendengar suara yang begitu dekat di telinganya. Ia melotot pada Zaid yang tersenyum jahil padanya.


"Untung Ave gak lagi pegang palu, Pak!" kata Ave sambil mendengus kesal. Di kantor, Ave tetap menggunakan panggilan 'Pak' untuk Zaid. Ia tak ingin hubungannya dengan Zaid mempengaruhi suasana di kantor.


Alina di sebelahnya tersenyum. Ia terlalu senang melihat wajah Zaid yang bahagia walaupun bukan karena dirinya. Melihat idolanya bahagia, Alina juga merasa bahagia.


Zaid terkekeh, lalu santai ia berdiri setengah bersandar di meja kerja Ave. Sambil melepas kancing lengan baju di pergelangan tangannya, ia berkata, "Aku tahu itu, Sayang! Begini-begini juga kepalaku udah ngerasaain dipentung sama talenanmu."


"Paak!" teriak Ave buru-buru berdiri menutup mulut Zaid.


Terlambat! Alina sudah mendengarnya. Senyumannya lenyap dan ia menyipitkan mata ke arah Ave seakan-akan sedang melempar anak panah pada gadis itu.


Zaid tertawa saat melirik Alina. Tanpa peduli ia menepuk pipi Ave dan melepaskan tangannya. "Justru itu yang bikin aku sadar kalau perempuan itu luar biasa. Talenan aja bisa dijadikan senjata, ha ha ha ha!"


"Bapaaak!"


"Sudah, sudah. Jangan marah lagi! Kalau teman atau kakakmu mau datang, undang saja mereka datang. Hari ini aku ada pertemuan sampai malam dengan klien. Kamu bebas memakai rumah," kata Zaid sambil berlalu, bergerak menuju ruang kerja Pak Bambang.


Ini yang membuat Ave semakin bingung dengan sikap Zaid. Lelaki itu sepertinya tak peduli dengan anggapan para karyawan. Walaupun tak pernah menyentuh di luar kewajaran, Zaid tak mengubah caranya berbicara. Di rumah maupun di kantor, Zaid selalu menggunakan bahasa dan gaya bicara yang sama. Padahal Ave berusaha membedakannya agar teman-teman di kantornya tak bersikap canggung padanya.


Tapi siapa yang belum tahu kalau mereka pacaran di kantor ini? Semua orang sudah tahu dan Ave merasakan beragam respon. Sebagian besar karyawan, terutama di Manajemen dan Creative, menerimanya dengan biasa saja. Tapi di departemen lain, Ave merasakan hal yang lain. Tak semua orang menyukai hubungannya dengan Zaid. Ia bisa membedakannya setelah beberapa kali harus berurusan di luar dua departemen itu. Ave berusaha untuk tidak peduli, tapi ia tak lagi bisa terus menerus seperti itu.


Sekarang, saat Ave berusaha menjaga jarak, Zaid malah sebaliknya. Ruang direktur utama seakan-akan pindah karena Zaid. Nyaris setiap hari Zaid berada di departemen Creative, kadang menggunakan ruang meeting, kadang berjam-jam berada di ruangan Pak Bambang. Hal ini membuat staf Manajemen terpaksa bolak-balik dari lantai 8 ke lantai 7.


"Hai, Sayaaang!"


Alina yang masih kesal pada Ave, melemparkan tatapan tajam pada Akbar yang baru saja masuk ruangan departemen Creative, yang menyapanya mesra. Tangan Akbar memegang tumpukan map coklat. "Paan sih lo! Sayang, sayang... sejak kapan nama gue jadi sayang?" ujarnya dengan bibir merengut.


Akbar tak berhenti menggoda. "Ya udah, ganti deh jadi Cinta."


"Sekali lagi lo manggil gue bukan dengan nama gue, nih gue lempar ke elo ye!!" kata Alina sambil menunjuk tape dispenser besar di depannya.


"Beneran gak mau?" tanya Akbar setengah menahan tawa. Matanya bersinar jahil. Ave hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.


Alina melengos.

__ADS_1


"Alinaaa ... Alinaaa, " panggil Akbar lembut merayu.


Sedetik Alina menoleh, terkejut mendengar perubahan nada suara Akbar. Tapi pria itu sudah masuk ke ruang kerja Pak Bambang, meninggalkan Alina yang masih menatapnya bingung. Tak sadar Alina menoleh pada Ave, sebelum kembali fokus pada pekerjaannya sendiri. Ada senyum tipis tersungging di bibirnya.


Mike yang berada di sisi Ave yang lain, mencondongkan tubuhnya ke arah Ave dan berbisik, "Gue rasa Akbar rajin ke sini karena dia dan mmm... lagi pedekate, Ve. " pemuda itu memberi isyarat anggukan ke arah Alina.


Ave mengangguk setuju. Tanpa berkata lagi, kedua bertukar tatapan saling mengerti sebelum sama-sama menunduk dan tertawa kecil bersamaan.


Mereka tak melihat saat itu dari jendela kaca dari ruang kerja Pak Bambang di belakang keduanya yang tak tertutup gorden, ada sepasang mata yang baru selesai tertawa langsung berubah suram.


"Mike dan Ave memang akrab, Pak. Tapi mereka hanya berteman. Mike baru saja mulai pacaran dengan Rose."


Zaid mendongak dan menatap Akbar yang baru saja menjelaskan. Mereka duduk berhadapan di sofa ruang kerja itu sambil membahas beberapa surat kontrak, sementara Pak Bambang, si pemilik ruangan, sibuk memeriksa beberapa storyboard di meja kerjanya sendiri, tak sempat mendengar obrolan mereka.


Wajah Zaid yang suram pun berubah, ia mengangguk dan saat melirik kembali, Mike dan Ave sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ia kembali menekuni satu persatu map-map yang disodorkan Akbar.


Karena Zaid sudah mengizinkan, maka Ave pun membalas pesan Lily.


[Ave: Hari ini Ave pulang agak cepat, Kakak ke tempatku sore ini. Nanti Ave masakin sesuatu yang spesial.]


[Lily: Siap, Sayangku!!!]


[Lily: Gue ajak Tiar juga!]


Ave tersenyum lebar, membayangkan bertemu dengan dua sahabat baiknya. Sayang, Natasha masih belum kembali. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan pada mereka. Ave mungkin bisa merahasiakan banyak hal dari semua orang, termasuk Ajie dan Papa. Tapi tidak pada ketiga sahabatnya. Sore ini, Ave ingin menceritakan semuanya.


Baru saja ia meletakkan ponselnya dan berniat melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba...


"My Dear Avelia Shamsiah!"


Hanya dalam beberapa langkah, Ave sudah berada di dekat Elang dan seperti biasanya, mereka berpelukan!


Mata semua staf yang melihat nyaris melompat keluar. Dan sedetik kemudian sebuah suara benda terjatuh dan pecah terdengar dari ruang kerja Pak Bambang yang tertutup.


Di dalam ruangan, Pak Bambang dan Akbar sibuk menahan langkah Zaid yang hendak keluar dan memberi pelajaran pada Elang yang berani memeluk kekasihnya. Gelas yang terguling dan pecah karena tersenggol tak lagi dipedulikan ketiganya. Mereka saling mendorong dan menarik.


Ave buru-buru melepaskan pelukan. Ia lupa lagi aturan pergaulan di Indonesia. Dengan kuatir ia memandang ke arah suara ribut tadi dan menunggu, tapi tidak ada yang keluar. Staf yang lain juga Elang juga melihat ke arah yang sama. Namun karena tak ada siapapun yang muncul dari ruangan itu, mereka pun bersikap rileks. Diam-diam menghela napas lega.


Elang menatap Ave. "Kamu ke mana saja? Sebulan gak pulang-pulang. Ajie nelpon Natty dan Natty minta saya ke sini untuk memastikan kamu baik-baik saja," katanya sambil berbisik di telinga Ave.


Di dalam ruangan, Zaid yang hampir bisa ditenangkan, kembali rusuh menuju pintu. Tapi Akbar lebih cepat, ia menempelkan tubuhnya ke pintu untuk menghalangi. Sementara Pak Bambang memegangi lengan Zaid. Terdengar desisan di bibir Zaid. "Satpam itu... Satpam itu berani sekali!"


"Jangan cemburu, Mas! Siapa tau mereka hanya teman," kata Pak Bambang berusaha menyabarkan.


Zaid berhenti bergerak, menoleh pada Pak Bambang. "Siapa yang cemburu? Saya hanya ingin tahu dia siapa?"


"Dengan tangan terkepal begitu?" Tatapan Pak Bambang berpindah pada kedua tangan Zaid yang terkepal.


Sementara di luar wajah Ave memerah mendengar bisikan Elang. "Maaf ya Mas, Ave sudah membuat semua orang kerepotan."


Elang tersenyum dan menggeleng. "Bukan, Ave. Kamu itu sudah seperti adik saya dan Natty. Tentu saja kami kuatir."

__ADS_1


Ave mengangguk dan menggandeng tangan Elang menuju ke sofa tamu. "Tapi... Mas Elang pasti punya keperluan lain deh. Gak mungkin Mas datang cuma mau nyari Ave dengan penampilan begini."


Saat memasuki ruang Creative, penampilan Elang jauh berbeda dari biasanya. Ia memakai kemeja lengan panjang marun dengan kerah putih dengan celana pantofel hitam dan sepatu mengkilat. Dua orang pria muda yang mengikutinya juga memakai pakaian yang kurang lebih sama dengannya. Dari cara mereka berinteraksi dengan Elang, Ave yakin keduanya adalah staf Elang.


Di dalam ruangan, Zaid menendang tulang kering kaki Akbar dan berhasil mendorongnya menjauh dari pintu. Ia berhasil membuka pintu setelah melepaskan pegangan Pak Bambang.


Ave tengah berkenalan dengan dua asisten Elang, Khalif dan Muis, saat pintu ruang kerja Pak Bambang terbuka. Suara-suara berisik yang terdengar membuat tatapan semua orang beralih ke arah yang sama.


Yang pertama muncul adalah Zaid. Kemejanya sedikit berantakan, ada anak rambut yang jatuh di dahinya dan wajahnya merah padam. Di belakangnya, Akbar terpincang-pincang dengan penampilan yang juga sedikit kacau. Terakhir yang muncul adalah Pak Bambang. Walaupun ia terlihat baik-baik saja, tapi ada sedikit keringat di dahinya. Mereka seperti habis berkelahi satu sama lain.


"Hei, siapa ini? Bukankah ini... " Zaid mendekati Ave, tanpa peduli kekuatiran yang membayang di wajah Ave saat gadis itu berdiri. Dengan senyum penuh arti, Zaid merangkul bahu Ave. "... Bukankah ini mantan koki saya yang dulu?" tanyanya sedikit menyindir pada Elang.


Elang tak bisa menyembunyikan senyum tak enaknya, sementara dua orang asistennya tampak bingung. Hanya Ave yang sibuk merapalkan doa dalam hati.


"Selamat siang, Pak Zaid! Apa kabar?" sapa Elang sambil berdiri dan menyodorkan tangan.


"Selamat siang, Pak Elang? Apa itu nama Anda yang sebenarnya?" balas Zaid dengan nada bicara yang sinis, tanpa melepaskan rangkulan dan menggunakan tangannya yang lain untuk menyambut sodoran tangan Elang.


Elang terkekeh. "Benar itu nama asli saya, Pak. Kalau bukan karena permintaan adik saya, saya tidak akan memalsukan apapun."


Mendengar kata 'adik' yang ditekankan oleh Elang, semua orang yang tegang melihat sikap Zaid yang bermusuhan sejak awal mulai merasa lega.


"Adik? Avelia adik Anda?"


Ave mendongak, berusaha memahami maksud Zaid. Tapi entah mengapa, ia merasa bulu kuduknya meremang.


Tapi Elang sudah tahu Zaid dan ia sudah mendengar sendiri dari Natasha tentang pria ini. Tanpa ada kepanikan atau kekuatiran, Elang mengangguk lagi. "Ya, bukan adik yang sebenarnya. Tapi bagi saya, untuk saat ini ia adalah seorang adik. Bukan begitu, My Dear Avelia?"


Zaid berpaling sedikit menatap gadis di sebelahnya. Ave hanya menjawab dengan anggukan ringan sambil tersenyum. Tak ingin berlama-lama dengan pria yang membuat hatinya panas, Zaid pun mulai bertanya.


"Apa Anda datang ke sini hanya untuk menemui Ave atau... "


Elang menggeleng cepat memotong kalimat Zaid. "Sebenarnya saya ingin bertemu Anda. Natasha yang memberi saya rekomendasi. Saya ingin membahas masalah bisnis dengan Anda. Kebetulan saja saya tahu Avelia bekerja di sini."


Salah satu alis mata Zaid terangkat. Jadi lelaki ini bukan orang sembarangan. Profesi satpam yang dulu ia pakai hanyalah kedok belaka. Tipikal anak orang kaya yang tidak disukai Zaid.


Merasakan kecurigaan Zaid, Elang kembali melanjutkan, "Tapi saya juga perlu menjelaskan beberapa hal tentang pertemuan kita sebelumnya, jadi kalau Anda tidak keberatan, bisakah kita berbicara secara pribadi?"


"Silakan. Kita bisa bicara di ruangan saya."


Baru beberapa langkah, sesuatu terlintas di kepala Elang. Ia ingin memastikan satu hal.


"Tunggu, Pak! Saya lupa sesuatu."


Tanpa menunggu jawaban, Elang kembali ke arah Ave yang masih berdiri di tempatnya dan sekali lagi ia memeluk gadis itu sambil berbisik, "Pacarmu itu luar biasa pencemburu, Avelia. Rasakan pembalasan Masmu ini setelah bertahun-tahun kamu cuekin dulu dan nikmati pertengkaran kalian!"


Ave berusaha memasang senyuman terbaiknya. "Jangan lupa, Mas Elang! Kekasih hatimu lebih pencemburu dibandingkan siapapun. Ingat baik-baik, bukan Ave namanya kalau tidak membalas!" desisnya tak mau kalah.


Elang tertawa dan melepaskan pelukannya sambil menjitak dahi Ave pelan, dan kembali ke arah Zaid, pria yang kini memandang seakan-akan hendak membunuh Elang.


Elang tak peduli, misi untuk memulangkan Natasha dengan segera berhasil ia lakukan dengan sangat baik. Zaid, si Boss yang menurut Natasha tak punya perasaan itu, kini dipenuhi dengan api cemburu yang berkobar-kobar dan hendak memakannya.

__ADS_1


Tak apa, demi kekasih hatinya. Demi kerinduan yang sudah tak lagi mampu ia sembunyikan.


*****


__ADS_2