Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 72 - Just Another Trip (1)


__ADS_3

~ Hanya sebuah perjalanan biasa, bukan perpisahan ~


Di ruang kerja Zaid, Avelia memandang tak mengerti pada Zaid yang sedang sibuk memeriksa buku-buku yang hendak dibawanya.


"Maksud Mas apaan sih? Jadi ini perginya gak hanya seminggu? Sampai kapan?" tanyanya heran.


Zaid tersenyum sekilas. "Untuk sementara Jenny akan tinggal di rumah karena aku harus tugas ke Malaysia sementara waktu. Gak bisa diprediksi. Tapi kalau kamu gak betah, kembalilah ke rumah Papamu!"


"Memangnya ada proyek di sana? Kukira Mas ke sana hanya untuk membantu suaminya Kak Zahra," selidik Avelia. Ia hafal semua proyek dan tender yang tengah berjalan, jadi ia tahu tak ada satupun proyek di negara tetangga itu.


"Bukan proyek. Tapi perusahaan iparku di sana sedang butuh bantuan. Aku harus segera ke sana secepatnya, kalau tidak mereka akan dapet masalah," kata Zaid berusaha meyakinkan.


Tapi pria itu memalingkan wajah hingga Ave tak bisa melihatnya dengan jelas.


"Kok mendadak? " tanya Ave lagi. Ia masih penasaran.


Masih tampak tak peduli, Zaid menjawab, "Ya namanya juga masalah, Ve. Pasti mendadak."


"Iya, tapi... tapi Ave ingin Mas bertemu Papa secepatnya. Ave harus menjelaskan masalah dengan Mas Elang juga. Belum lagi ngurus pernikahan kita. Katanya mau buru-buru... "


Tangan Zaid yang sedang memegang buku berhenti di udara. Hati Zaid seperti ditonjok. Terasa sesak. Dengan senyum yang dipaksakan, ia berpaling pada Ave. "Terima kasih untuk itu, Ve. Soal Elang, dia udah janji ke aku untuk membicarakannya dengan orangtuanya dan Papamu. Jadi kurasa tidak ada masalah. Lagipula, bukankah kamu sendiri pernah bilang kalau keluarga adalah hal penting yang tidak bisa kita sia-siakan?"


"Iya sih... "


"Zahra adalah kakak yang ditinggalkan Mama untukku. Aku ingin membantunya."


Ave mendengus. Wajahnya memerah. "Iya iya. Ave ngerti. Tapi tadinya Ave juga mau ikut. Biar sekalian kenalan sama keluarga Mas di sana. Nanti setelah Mas kenal sama keluarga Ave di sini dulu. Mas kan belum ketemu kakakku juga."


"Ini kan bukan pertama kali aku ke Malaysia, Ve?" ucap Zaid lembut.


Mulut Ave cemberut. "Ave tahu. Tapi gak tahu kenapa, hati Ave ngerasa gak enak aja. Gak usah berangkat deh, Mas. Gimana kalo masalahnya ipar Mas diselesaikan dari Jakarta aja? Mas Ajie dan Mas Elang pasti bisa bantu. GE kan ada cabang di Malaysia. Ave juga bisa ngomong ke Papa, itu bisa..."


Suara Ave tenggelam dalam pelukan Zaid, pria itu sudah kehabisan alasan. "Kalau baru jadi pacarmu aja, aku udah ngerepotin mereka, bagaimana mereka bisa menghargaiku, Ave sayang?"


"Tapi... "


"Sudah, jangan kuatir! Sekarang kembali ke kantormu. Pak Bambang pasti udah nyariin staf andalannya. Aku juga masih harus meeting dengan Jenny dan Hazmi," kata Zaid sambil mencium pucuk kepala Ave. Aroma lembut sampo membelai hidungnya.


Meski berat, Ave mengangguk kecil dan melepaskan diri dari pelukan Zaid. Setelah itu, dua orang masuk ke dalam ruang kerja Zaid. Jenny dan Hazmi.


"Sebenarnya ini ada apa, Id?" tanya Hazmi tak sabar begitu ia masuk.


Dengan tenang, Zaid duduk di kursinya. "Gue dan Ajie memutuskan untuk bekerja sama, jadi dia yang akan menangani The Crown saat gue gak ada."


"Ajie? Ajie Al Farizi? Lu gak salah ngomong, Id?" tanya Hazmi lagi dengan raut wajah pesimis.

__ADS_1


Zaid tertawa. "Nope. Sahabat lama kita itu yang akan jadi bosmu untuk sementara."


Hazmi dan Jenny saling memandang. Kening mereka dipenuhi kerutan. Kepala mereka dipenuhi pertanyaan. Mereka tahu benar betapa antinya Zaid terhadap Ajie dan GE selama ini. Sekarang tidak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba bekerjasama? Bukankah Zaid bilang hanya akan ke Malaysia untuk membantu kakak iparnya sebentar?


"Tunggu dulu, Id! Sejak kapan kalian... Tidak, sebenarnya apa yang terjadi? Dari kemarin lu aneh banget." Hazmi tampak panik.


"Ajie yang akan jelasin nanti."


"Schedule meeting lu padat minggu depan, itu harus dibatalkan?"


"Ajie yang mutusin itu nanti."


Jenny tahu kepanikan Hazmi, karena ia sendiri juga bingung. "Karena mendadak, kontrak untuk ditandatangani Bapak baru akan siap besok. Nanti itu... "


"Ajie yang akan menandatanganinya."


"Sampai berapa lama lu pergi?" tanya Hazmi makin tak mengerti.


"Ajie yang akan info ke kalian."


"Zaid! Lu yakin gak sedang menjual The Crown pada Ajie?" tanya Hazmi dengan wajah memerah menahan emosi.


Zaid tertawa. "Jangan lupa kalau Ave adalah adiknya, Haz. Wajar kalau ia membantu perusahaan ini."


Beberapa hari terakhir Hazmi merasakan sesuatu yang aneh pada Zaid. Ekspresinya yang tak biasa, kepergiannya yang kadang-kadang bisa seharian meninggalkan kantor tanpa pesan. Belum lagi kehadiran orang-orang tak biasa yang datang menemui Zaid bergantian.


Jika karena Avelia, Zaid melakukan kebodohan lain, Hazmi tak bisa menerimanya. Sudah cukup selama ini perang dingin melelahkan antara GE dan The Crown. Meski sejak tahu Ave adalah adik Ajie, ia berharap hubungan mereka membaik tapi tidak juga harus seaneh dan semendadak ini.


"Selalu ada akhir untuk semuanya, Haz. Gue udah minta maaf, dan gue rasa Ajie juga udah memaafkan. Semuanya akan baik-baik saja. Kalian, The Crown, semuanya akan baik-baik saja," ujar Zaid santai sambil membaca sesuatu di layar ponselnya. Ia menoleh pada Jenny. "Maya akan datang siang ini. Siapkan kontrak akhirnya! Hari ini juga semua urusan TCM yang lama harus selesai."


"Baik, Pak!" kata Jenny sambil mengangguk.


Saat Jenny keluar, Hazmi duduk di kursi depan Zaid. "Apa karena lu pacaran dengan Ave, jadi Ajie memaafkan lu? Lu yakin dia maafin lu?"


Zaid hanya tersenyum simpul. Ia tampak sibuk membaca tumpukan dokumen yang baru saja dikeluarkannya dari laci-laci meja kerjanya. Menyortirnya menjadi beberapa bagian.


Ada yang dimasukkan di kotak besar di dekatnya, ada yang dikembalikan ke dalam laci. Yang lain disusun rapi di atas meja, siap untuk diberikan ke orang lain.


"Lu beberes begini seperti akan pergi lama. Tolong, Id! Kita udah sahabatan cukup lama. Bukan setahun dua tahun, jadi lu harus jujur ke gue. Sebenarnya ada apa?" Hazmi benar-benar tak mengerti apa yang terjadi pada Zaid.


Pria di depannya itu begitu tenang dan santai. Tapi semua yang ia lakukan seperti hendak meninggalkan The Crown untuk selamanya.


Lagi-lagi Zaid tertawa. "Lu gak usah panik begitu. Kita akan selalu bersahabat, Haz. Ajie juga kan teman kita. Tenang saja! Dia udah banyak bantu The Crown selama ini. Kita aja yang terlalu bodoh dan gak tau soal itu."


"Membantu? Ajie membantu kita?" Hazmi makin tak mengerti.

__ADS_1


Zaid mengangguk dan tertawa pahit. "Dia memaafkan kita jauh sebelum kita memikirkan cara untuk meminta maaf padanya. Ajie bahkan membantu Rizky," kata Zaid sambil meletakkan satu dokumen lagi ke atas salah satu tumpukan di mejanya.


"Rizky? Lu yakin?" Kening Hazmi mengerut


Kembali kepala Zaid mengangguk. "Peternak di Australia yang jadi partner Rizky adalah kakeknya Ajie. Modal tambahan yang didapatkan Rizky dari kakek Ajie sebenarnya adalah uang pribadi Ajie. Bukan dari GE. Ia hanya tak ingin Rizky tahu."


Mulut Hazmi terbuka.


"Dan elu... " telunjuk Zaid mengarah pada Hazmi, senyum penuh arti terlihat di wajahnya. "Apa lu tahu siapa penyandang dana beasiswa dua adik kembar lu?"


Wajah Hazmi berubah. "Jangan bilang itu Ajie," ucapnya.


Zaid mengangguk. "Good answer! Perusahaan yang memberikan dana beasiswa itu salah satu anak perusahaan grup GE."


"Dari mana lu tau semua ini? Ajie yang bilang?" selidik Hazmi masih tak percaya.


"Bukan," jawab Zaid sambil menggeleng. Ia mengambil beberapa dokumen lagi dari dalam laci dan mulai memisahkannya. "Untuk membantu gue mengurus The Crown, Ajie memang menjelaskan beberapa hal. Tapi hanya permukaannya. Ia tidak menjelaskan semua itu, tapi karena informasi darinya, gue bisa mencari tahu sisanya. Gue tahu dari kantor pengacara."


Hazmi terdiam. Ia tak menyangka, pria yang ia sangka pendendam dan sombong itu justru membantu diam-diam.


"Ajie... bukan tipe yang pamer. Dia mungkin malah tidak suka kalau kita tahu. Jadi nanti saat ia menangani The Crown, bersikaplah seperti biasa," gumam Zaid dengan wajah tenang. Ia melirik Hazmi yang masih kebingungan.


"Kalau gue yang biasa pasti... pasti kasar dan... lu taulah," kata Hazmi tak berdaya. Ia benar-benar merasa tak enak. Ia bahkan sudah bersikap tak peduli pada Avelia sejak tahu kalau dia adik kandung Ajie.


Zaid terkekeh. "So, just do like that! Tapi jangan menyakiti dia lagi. Berpura-puralah kalian tidak ada yang tahu soal itu. Ajie akan lebih menghargai lu kalau kita memperlakukan dia seperti biasa. Kalo lu gak mau lakuin buat gue, at least buat The Crown."


"Tapi lu akan kembali kan, Id? Kata-kata lu kayak mau pergi selamanya."


"Soal itu juga... "


"Jangan bilang gue harus nanya ke Ajie juga!"


Hanya tawa Zaid lagi-lagi yang terdengar. Tapi senyumpun tidak muncul di wajah Hazmi. Baginya, Zaid terlalu banyak tersenyum, terlalu banyak tertawa dan sikapnya berbeda dari biasanya. Terlalu tenang. Terlalu menerima.


Jauh di dalam hatinya, Hazmi yakin terjadi sesuatu. Hanya saja ia tak mengerti apa itu. Ia tak ingin menduga hal-hal buruk, tapi sikap Zaid membuatnya kuatir.


"Ini hanya perjalanan biasa aja, Haz. Lu gak perlu panik seperti itu."


"Baiklah, gue harus urus yang lain dulu. Kapan lu berangkat?" tanya Hazmi lagi sambil mengambil kembali dokumen yang harus ia urus dari atas meja Zaid.


"Lusa."


"Kabari gue kalau lu sampe dan make sure gue bisa kontak lu!"


Zaid tidak menjawab, ia hanya tersenyum simpul. Menatap punggung sahabatnya yang keluar sebelum akhirnya menghela napas panjang. Satu orang lagi yang harus ia hadapi dan semuanya akan selesai.

__ADS_1


__ADS_2