
~ Stalking adalah cara lain merindukan seseorang (Zaid dan Ave) ~
Ave melangkah masuk ke dalam rumah yang tampak masih sepi. Zaid belum pulang. Dengan gontai ia berjalan menuju paviliunnya sendiri.
Hatinya masih seperti dibebani batu. Walaupun kini jauh lebih baik setelah bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang bergerak cepat menemuinya hanya karena satu pesan pendek. Ave merasa tak lagi sendirian. Setidaknya ia mendapat saran dari mereka.
Usai menceritakan semua yang terjadi saat makan siang itu, satu persatu temannya memberi saran.
"Sudahlah, Ve. Gak usah sedih. Lu tinggal jelasin ke Zaid, kalo lu hanya kaget. Gitu aja kok repot! Gue dulu habis ciuman ama kakak lu, udah gak bisa misah lagi sampe nikah," ucap Lily santai.
Tiar melotot padanya. "Lu mah beda kali, Li. Urat malu lu kan putus di hadapan Ajie. Malah malu-maluin. Ini Ave! Beda!"
Lily balas menatap dengan sinis. "Lah apa bedanya ama lu, Yar? Ngejar-ngejar laki lu bertahun-tahun, ampe rela ngurusin badan. Nih gue... udah segendut ini, Mas Ajie tetap aja sayang. Huh!"
"Yaah, lu gendut karena hamil, Dodol!" pekik Tiar tak mau kalah.
Natasha yang kemudian mendelik pada keduanya. "Ini kita lagi ngebantu Ave, kalian berdua ribut aja." Keduanya kontan diam.
"Bukannya gak mau bilang, tapi gak sempat, terus Pak Zaid malah menghindari Ave. Terus kayak marah gitu. Sampe satu lift aja gak mau," keluh Ave sambil menunduk.
Natasha merangkulnya. "Ya kan nanti juga ada waktu juga, Ve. Bukan salah lu juga kali. Tenang aja! Jangan sedih. Nanti lu bisa ngomongin ke dia pelan-pelan, temui baik-baik dan jelaskan! Pura-pura aja ada kerjaan apa gitu trus masuk ke kantornya. Ngomong berdua aja. Biar masalah lu berdua clear."
Karena itulah Ave tetap memilih pulang ke rumah Zaid. Lagipula ia harus memasak untuk makan malam.
Tapi sampai Ave selesai mandi dan sholat Magrib, Zaid tak terlihat di rumah utama itu. Bahkan sampai Ave mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kulkas, ruang kerja dan ruang tidur di lantai dua tampak lengang.
Penasaran, Ave memilih memeriksanya langsung ke lantai atas. Mencari tahu. Yang pertama ia datangi adalah ruang kerja Zaid. Saat dibuka, ruang itu gelap gulita, membuat Ave meraba ponsel dan menyalakan lampu untuk mencari saklar.
Setelah lampu menyala, Ave bergerak masuk. Ini pertama kalinya ia benar-benar masuk ruangan ini. Selama beberapa hari ini, paling-paling ia berteriak dari dapur, atau paling dekat, dari pintu. Baru kali ini ia masuk. Tak ada siapapun.
Saat berpindah ke pintu kamar Zaid, ternyata dikunci. Dengan kecewa, Ave turun lagi ke bawah. Sibuk menduga-duga. Mungkin Zaid masih lembur. Hari ini memang luar biasa sibuk.
Namun saat melewati ruang makan, Ave melihat kertas di bawah gelas kosong yang dibalik. Ia mengambilnya. Itu surat. Dari Zaid.
[Ave, saya harus berangkat malam ini. Ada meeting penting di KL. Saya lupa info kamu. Hati-hati di rumah.]
Bahu Ave merosot lesu. Meeting apa? Kenapa begitu mendadak? Untuk apa menulis surat begini di zaman digital? Tak bisakah pria itu mengiriminya pesan WA atau email? Apa karena Zaid memang tak ingin bicara dan bertemu dengannya sama sekali?
Ave mengambil ponselnya, menekan nomor telepon Zaid. Satu kali berbunyi, dua kali... hingga lima kali... tidak dijawab. Lalu setelah Ave memeriksa sekali lagi apakah nomor yang ia tuju sudah benar dan menghubungi kembali, terdengar pemberitahuan operator.
__ADS_1
'Nomor yang Anda tuju tidak aktif... '
Dengan bibir cemberut, Ave memandangi ponselnya kecewa. Tak habis akal, Ave memeriksa IG Zaid. Akun IG itu sebenarnya sempat ia blokir karena kuatir Zaid mem-follow-nya. Ave kuatir postingan sampahnya akan terbaca dan dikritisi oleh Zaid, pangeran salju yang menurutnya pasti tak tahu arti pergaulan dunia maya. Ia juga takut Zaid tahu siapa Papa dan Ajie dari komentar teman-teman dekatnya yang sering keceplosan.
Tapi, tak ada yang aneh dari postingan Zaid. Masih sama seperti terakhir saat Ave dulu memeriksanya. Hanya foto-foto dengan rekan-rekan bisnisnya. Entah itu main golf, makan siang, makan malam, meeting, di studio, kantor. Sama saja. Sesekali ia berfoto bersama model yang sedang bekerja sama dengan perusahaan, termasuk dengan Natasha. IG Zaid benar-benar terlalu formal untuk Ave. Tapi walaupun begitu, ia menekan kata 'follow' di akun Zaid.
Masih dengan kecewa di hatinya, Ave kembali ke dapur dan mengembalikan semua bahan ke dalam kulkas. Ia tak mau memasak kalau hanya untuk dirinya sendiri. Lagipula ia sudah kehilangan selera. Lebih baik tidur. Ia lelah lahir batin hari ini.
Sementara di ruang tunggu bandara, Zaid baru saja menyalakan kembali ponsel yang sempat dimatikannya setelah telepon Ave masuk tadi. Ia melirik jam digital yang terpajang di layar monitor ruang itu. Masih lama. Masih bisa mengecek beberapa pesan dan notifikasi. Mungkin saja ada hal-hal penting selain.... missed call dari Ave.
Begitu selesai meeting dan bertemu Pak Bambang, Zaid pulang sebentar. Ia agak kuatir bertemu Ave, tapi ternyata gadis itu belum pulang. Setelah menulis surat dengan tergesa-gesa, lalu memasukkan pakaian asal-asalan ke dalam ransel kecilnya, Zaid pergi ke kantor lagi, menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum langsung ke bandara.
Begitu ponsel menyala, notifikasi beruntun masuk. Ada pesan dari Jenny, ada pesan dari Zahra, kakaknya. Tapi yang membuat jari-jari Zaid berhenti bergerak adalah... notifikasi follower dari akun IG-nya. 'vee_alfar mengikuti Anda.'
Sesaat Zaid menimbang-nimbang sebelum akhirnya menyentuh nama yang tertulis itu, mengecek akun itu. Tak seperti biasanya saat ada akun-akun yang mengikuti akunnya, kali ini instingnya berkata kalau akun ini milik seseorang yang ia kenal.
Sekali tekan, layar berpindah ke akun vee_alfar. Akun itu tidak di-private. Foto profilenya hanya foto bagian belakang seorang gadis yang sedang mengangkat satu tangan. Zaid tersenyum. Ia bahkan mengenali hanya dengan melihat bagian belakang foto itu. Ini pasti akun milik Avelia.
Foto-foto selanjutnya memastikan jawaban Zaid benar. Meski di beberapa foto terakhir tak ada foto yang menampakkan wajah Ave, ada banyak hal yang dikenali Zaid.
Foto terakhir itu foto motornya sendiri
'Kenapa pria-pria di sekeliling gue naik moge sih!? Hay, pria-pria di sekitar gue, yang ada naik motor itu masuk angin!'
- Elang1001: Entar gue bawain minyak angin cap pacul kalo gi bawa lu. Etapi itu motor -siape, Non? Jelas bukan punya gue!
- Vee_alfar: Emang pernah ngajak? Cuma Ms. N yang bisa naikin kali.
- Ms_N: Who is Ms. N?
- Vee_alfar: When Ms. N asked who is Ms. N.
- Elang1001: Love you Ms.N
.....
Foto kedua... gambar lukisan abstrak di rumahnya.
'When I tried to understand your taste, and what I got is puyeng.'
__ADS_1
[A/N:Ketika mencoba mengerti seleramu, dan yang kudapat hanya puyeng.']
- LilyTheQueen: And you are not alone.
- TiartiJ: Me too. Ini kontrakan baru lu, vee_alfar?
- Vee_alfar: Bukan Kak TiartiJ, rumah tetangga kost-an Ave.
....
Senyum membayang di wajah Zaid. Teringat saat Ave ketakutan kalau Natasha tahu di mana ia tinggal. Mungkin sama kuatirnya jika diketahui teman-temannya yang lain.
Foto berikutnya adalah kubikal kecil di kantornya. Selanjutnya adalah foto Ave bersama teman-teman perempuannya dan... Elang. Seperti ada api yang membakar dada Zaid melihat tangan Ave yang santai bertumpu di pundak Elang yang sedang duduk. Jempolnya kembali menyentuh layar. Ia tak ingin melihat foto itu.
Lalu ia berhenti sejenak memperhatikan foto buket pengantin. Ini... apa? Jantung Zaid serasa ikut berhenti, dengan cepat ia menggesernya, ternyata beberapa foto pernikahan Ajie dan Lily. Zaid tersenyum, menahan malu sendiri. Ia sudah mengira yang tidak-tidak.
Satu persatu foto yang dipublish oleh Ave diperhatikan Zaid. Ia mulai mengenali sisi lain gadis humoris itu. Seluruh caption fotonya selalu lucu dan membuatnya tersenyum. Komentar yang menyahutinya pun juga kebanyakan dari teman-teman perempuannya. Sampai sebuah foto tua terlihat.
Foto seorang wanita cantik setengah baya tersenyum dengan wajah sedikit pucat dan topi kupluk menutupi kepalanya. Wanita itu duduk di atas kursi roda dan tangannya terlihat sedang diinfus.
'Miss you like crazy, Mom.'
Lama Zaid memandangi foto itu. Ia tahu pasti ini mamanya Ave. Hanya saja, Zaid merasa pernah melihat wanita itu entah di mana. Tapi sia-sia ia berusaha mengingatnya. Mungkin ia hanya melihatnya tak sengaja, hanya sekadar berpapasan.
Dengan ragu, Zaid menekan pilihan komentar di bawah foto tua itu dan mengetikkan kalimat pendek.
- Zaid_Zabir: 'Pray for her. Al Fatihah.'
Senyum tipis muncul perlahan. Hanya kalimat biasa yang mendoakan seseorang yang disayangi. Itu normal. Ia juga biasa melakukannya di akun teman-temannya. Ucapan yang sangat wajar. Takkan ada yang aneh. Ave pasti takkan keberatan. Ini hanya cara Zaid meminta maaf.
Tepat saat itu, terdengar suara pemberitahuan dari pengeras suara untuk boarding. Zaid bangkit dari kursi tunggu dan berjalan masuk sambil mematikan ponselnya lagi. Ini saatnya untuk mendinginkan perasaannya sekaligus memberi waktu pada Ave untuk memaafkan dirinya. Mudah-mudahan saat kembali, gadis itu sudah bersedia bicara dengannya lagi.
Di dalam kamarnya, Ave memandangi berulangkali daftar komentar di foto almarhumah Mama. Foto yang ia upload sekitar setahun lalu saat baru kembali dari Sydney. Ada beberapa komentar, tapi komentar yang terakhir, baru dikirim beberapa menit yang lalu.
Zaid_Zabir: 'Pray for her, Al Fatihah.'
Setelah itu notifikasi pop-up lain muncul. 'Zaid_Zabir mengikuti Anda'
Matanya yang tadi mengantuk, semangatnya yang tadi hilang entah ke mana, senyumnya yang lenyap sejak siang tadi... semua kembali dengan kompak saat gadis itu melompat kegirangan dan sebuah pekik riang terdengar membahana di paviliun itu.
__ADS_1
"Yeaah! Pray for me too, Pak!!"
*****