
~ Dari foto ke hatimu (Ave) ~
Avelia tersenyum saat melihat postingan IG terbarunya malam ini. Sebuah foto langit malam yang gelap gulita, dengan caption* 'Langit malamku terlalu gelap tanpa bintangku*'. Ave benar-benar puas melihatnya. Itu postingan termanisnya yang ia gunakan sebagai langkah awal.
Tapi beberapa menit kemudian...
- LilyTheQueen: Ya iya, kalo ngeliat langitnya sambil pake helm.
- TiartiJ: Belum kenal teknologi listrik dan lampu, Neng?
- Aline_FCZZ: Tidur Ve, udah malem nih. Begadang mulu nanti sakit
- Elang1001: Semoga segera dipertemukan dengan bintangnya ya Ave.
- Ms_N: Jangan sama bintang yang kek anak kecil ya Ve!! Dikit-dikit ngambekan! Gak terima kenyataan.
o Elang1001: Daripada sama bintang yang takut sama cahayanya sendiri!
o Ms_N: 😡😡😡
Orang-orang ini... Mengapa mereka tak bisa sedikit menghargai usaha Ave memancing Zaid?
Ave menghela napas. Dengan kesal ia keluar dari aplikasi IG-nya.
Sore tadi, Ajie bilang sebaiknya ia membuat Zaid untuk muncul sendiri. Ajie kuatir, jika memaksa Alina dan teman-temannya untuk mengaku malah akan membuat pria itu menghindar lagi.
Zaid belum tahu perkembangan baru begitu juga Alina dan teman-temannya soal persetujuan Ajie dan Papa. Memberitahunya dengan terang-terangan juga berkesan mengada-ada. Bagaimana kalau Zaid tak percaya?
Mereka semua tahu, Zaid sudah mengganti nomor teleponnya. Sulit menghubungi pria itu ketika kakaknya sendiri juga tak tahu ia ada di mana dan malah meminta tolong untuk mengabari dirinya jika Ave atau Ajie menemukannya.
Lalu saat Ave teringat sesuatu. "Mas Zaid pernah me-like satu postingan Ave di IG, Mas!" serunya.
"Benarkah? Kalau begitu itu jalannya, Ve. Dia pasti rajin memeriksa IG-mu. Teruskan! Kita pake itu aja. Kamu punya clue sesuatu yang berharga di antara kalian? Sesuatu yang pasti membuat Zaid teringat sama kamu."
Ave berpikir sejenak, lalu bergumam, "Mmm... kalau berbekas, mungkin talenan... "
"Talenan?" tanya Elang dan Ajie bersamaan dengan kening berkerut.
"Atau ******?" gumam Ave sembari menyentuh dagunya.
"******??!!!" Kali ini kedua pria itu sama-sama berdiri dengan wajah kaget.
Ave mengangkat tangannya. "Gak seperti yang Mas berdua pikirin deh. Waktu Mas Zaid beliin es krim di supermarket, Ave salah ngambil ******. Ave kira itu permen."
__ADS_1
Dua pria di depannya sama-sama menghela napas.
"Terus talenan itu apa hubungannya, Ve?" tanya Elang heran.
"Oh itu... Inget waktu Ave diam-diam jadi kokinya Mas Zaid gak?" Elang mengangguk.
Ave pun tersenyum lebar. "Malam itu, Ave ke dapur, pas gak sengaja tabrakan sama Mas Zaid. Ave kira maling, terus Ave pukul deh sama talenan."
"Oh astaghfirullah, Ve!" seru Ajie sambil menggelengkan kepalanya, tapi tawanya tampak puas. "Mas bahkan belum sempat balas dia, kamu sudah duluan. Really good sister! Ha ha ha."
Elang juga tertawa. "Jangan yang kek gitu, Ve! Justru entar dia takut mau ketemu kamu lagi. Ha ha ha."
"Mmm... Apa ya? Entar deh, Ave mikirnya pas di rumah aja!"
Ajie dan Elang sama-sama mengangguk. Tapi senyum mereka tak kunjung menghilang. Avelia memang unik. Sama uniknya dengan teman-teman baiknya. Pantas saja Zaid mencintainya begitu besar.
Namun sekarang, Ave kehilangan ide. Sampai ia jatuh tertidur, Ave tak mendapatkan ide apapun. Hingga keesokan paginya.
Ia memasak sarapan paginya seperti biasa. Kali ini menggoreng nasi dengan telur mata sapi. Ia sendirian hari ini di rumah.
Ajie dan Lily sedang berkunjung ke rumah Emak di Bogor bersama putra mereka. Papa masih menjalani perawatan paska operasi di rumah sakit.
Lalu ide itupun muncul dengan sendirinya. Ave mengambil ponsel dan memotret nasi goreng beserta telur dan mengetikkan caption yang memang seketika muncul di hatinya.
Tak lupa ia mematikan kolom komentar. Ia tak mau momen ini berantakan karena komentar teman-temannya.
[Aku memasak begitu banyak nasi goreng untuk orang-orang ... untuk orang lain ... tetapi hanya dua orang yang memasak untukku sepanjang hidupku ... Ibuku dan orang yang mencintaiku.]
Ave menatap foto itu dengan dada yang terasa sesak. Ia teringat pagi harinya bersama Zaid yang selalu dipenuhi tawa dan canda.
Bibir Ave membentuk senyum, tapi matanya terasa hangat. Lalu senyum itu berubah menjadi getaran. Ia ingin menangis lagi.
Tidak boleh! Ia tak boleh lagi menangis. Ave harus membawa Zaid kembali.
Sampai di kantor, Ave terlalu sibuk untuk melanjutkan rencananya. Tapi untungnya, Elang datang ke kantor.
Ajie dan Elang memang bergantian menggantikan pekerjaan Zaid sebagai Presdir The Crown, sambil tentu saja... membantu Ave menjalankan rencananya.
"Dia ada di sini, Ve!" kata Elang memberitahu sambil menyodorkan ponselnya pada Ave saat mereka makan siang bersama di ruang kerja Presdir.
Ave segera mengambil foto Zaid yang sedang duduk di sudut kafe sambil mengobrol dengan dua orang gadis. Ave tak melihat wajah kedua gadis itu, tapi ia mengenali pakaian mereka.
Itu pakaian yang dikenakan Gita dan Alina hari ini. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Ave. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu bulan, akhirnya ia bisa melihat Zaid.
__ADS_1
Kekasihnya tampak lebih kurus. Wajah tampannya kini tirus dengan mata yang terlihat lelah. Ia pasti sering begadang. Ia juga pasti susah makan. Ave ingat Zaid punya pencernaan yang buruk, dan seleranya sangat pemilih. Mata Ave mulai berkaca-kaca.
"Udah... Udah... Kalo nangis, besok saya gak ngasih tau kabarnya lagi deh!" kata Elang sambil mengambil alih ponselnya. Tapi ia mem-forward foto Zaid melalui pesan pada Ave. "Itu sudah Mas kirim. Pandangi sampe puas!"
Ave terkekeh, meski kilau air mata terlihat di matanya. Ia mengangguk berterima kasih.
"Saya sudah minta tolong sama salah satu karyawan di kafe untuk selalu mengirim info. Kamu tenang saja! Lagipula Mas Ajie sudah membeli kafe itu."
"Hah?"
Elang mengangkat wajahnya. "Kamu gak tau, Ve? Duh... kalo pacarmu aja bisa ngasih segala yang dia punya untukmu, Ve. Apalagi kakakmu!"
Ave terdiam. Elang menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Ajie melakukan banyak hal untukmu, Ve. Kamu tahu atau tidak, dia juga sayang sama kamu. Kalau dia bertindak terlalu jauh pada Zaid, itu karena dia terlalu takut kamu mengalami hal buruk. Saya tahu, kamu pasti masih menyalahkan dia. Dan Ajie masih berusaha membayar semuanya. Percayalah, Ajie juga sangat menyesal."
"Ave tahu, Mas Elang. Ave juga menyesal ngomong kasar ke Mas."
Elang menghela napas. "Tapi Ve, waktu Ajie bilang ke saya, saya juga kaget mendengarnya. Kenapa kamu gak bilang kalau saat itu kamu pernah berpikir sampai sejauh itu, Ve? Apa saya ini bukan teman yang baik untukmu?"
Ave menggeleng. "Justru sebaliknya, Mas. Kalau Ave gak kenal Mas saat itu, mungkin sekarang Ave bener-bener gak ada."
Elang tak tahu ia harus merasa lega atau malah sedih mendengarnya, tapi ia bisa melihat Ave jujur mengatakan isi hatinya.
"Ve, kalau saya saat itu... "
"Apaan sih, Mas? Kenapa jadi serius sih? Itu udah lama, Ave juga udah gak mikirin. Jam makan siang udah selesai, Ave harus sholat dan lanjutin kerja lagi. Kerjaan Ave banyak banget nih."
Ave berdiri sambil mengangkat piring kotor bekas makan siang mereka. "Apapun yang terjadi dulu, kita akan selalu jadi sahabat baik selamanya, Mas Elang. Sekarang buat Ave, Mas juga kakaknya Ave dan Ave berharap Mas juga bisa memperbaiki hubungan Mas dengan Mbak Natasha."
Elang tak mengatakan apapun, ia hanya mengangguk.
Ave sungguh-sungguh tak ingin memikirkan masa lalu lagi. Terutama kalau masa lalu hanya akan menyakiti orang-orang yang ia cintai.
Papa sudah menjadi korban dari cerita masa lalu yang seharusnya Ave lupakan. Ia tak ingin melakukannya lagi.
Selanjutnya, Ave tak lagi kekurangan ide. Dengan mudahnya ia mendapatkan ide foto ketiga. Foto jendela di lantai 9, tempat ia dan Zaid pertama kali bertemu.
Ide itu muncul berkat bantuan Lily, bahwa tempat kekasih bertemu adalah sesuatu yang paling berharga untuk diingat.
Kedua jempol Ave sibuk mengetikkan caption, 'This place was fun because you're here with me.'
[Tempat ini dulu menyenangkan, karena kamu di sini bersamaku]
__ADS_1
Dengan kata-kata ini, Zaid pasti tahu kalau Ave merindukannya. Dan Ave tak menunggu lama untuk respon Zaid.
Siang itu, Zaid memberinya tanda hati untuk postingan itu. Tak hanya itu, pelayan kafe kembali mengirimkan foto Zaid yang sedang duduk sendirian memandang keluar jendela. Ia terlihat lebih baik dari kemarin. Sekarang, Zaid malah datang rutin setiap hari.