Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 52 - Accident


__ADS_3

~ Asal kamu baik-baik saja (Zaid) ~


Ave bersenandung riang menuju mobil. Terdengar suara bip pertanda kunci otomatis mobil terbuka, sesaat sebelum Ave membuka pintu dan masuk ke kursi pengemudi.


Hari ini ia akan menjemput kekasih hatinya. Mr. Snowy Devil-nya yang tiga hari terakhir ini benar-benar sibuk. Hanya satu pesan masuk dari Zaid, dan satu lagi pesan yang disampaikan Jenny.


"Jangan lupa makan! Jangan bawa pekerjaan ke rumah dan jangan tidur terlalu malam," kata Jenny menirukan pesan Zaid lengkap dengan intonasi dan suara beratnya, membuat lima orang pria di Manajemen ikut tertawa mendengarnya.


Ave cemberut mengingat pelitnya Zaid menghubunginya. Tiga hari ini ia merasa kesepian dalam rumah besar milik Zaid. Akhir pekan benar-benar sunyi tanpa manusia yang tak banyak bicara itu di sisinya.


Dengan sengaja, mengusir kesunyian, Ave membawa setumpuk pekerjaan ke kamarnya. Itu membantunya menghabiskan malam yang terasa lebih panjang tanpa Zaid.


Padahal baru tiga hari.


Belum pernah Ave merasakan ketergantungan dengan seseorang seperti sekarang selain pada almarhumah Mama dulu. Ia merasa biasa saja kalau ditinggal Papa atau Ajie selama apapun. Juga saat ia harus menghabiskan waktu kuliahnya sendirian. Ia terbiasa dengan suasana sepi, menikmati waktu hanya dirinya.


Semua berbeda setelah Zaid hadir dalam hidupnya. Ia rindu aroma khas pria itu saat memeluknya. Ia rindu pada wajah dingin dan senyum kakunya. Ia bahkan merindukan kata-kata sarkas Zaid yang menjengkelkan.


"Mas, biar Ave yang jemput Pak Zaid ya," pinta Ave sehari sebelum jadwal kedatangan Zaid.


Hazmi terdiam sesaat, sebelum bertanya, "Kamu mau ikut ke airport? Boleh. Tentu saja."


Ave tersenyum malu. Bukan itu yang ia maksud. "Bukaaan, maksud Ave... Biar Ave yang jemput Pak Zaid... Sendirian." Ave ingin segera melepas kangen pada kekasihnya.


"Sendirian?" ulang  Hazmi. Ada kilasan tak percaya di sorot matanya.


Jenny mendekati mereka. "Kamu bisa nyetir, Ve? Punya SIM?" tanya gadis itu.


Senyum manis muncul di wajah Ave. "Yes, Mbak! Masak Ave berani bawa mobil gak punya SIM?" Lalu dengan cepat gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tas kecil yang bergantung miring di bahunya, mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah kartu. Surat Izin Mengemudi.


Alis mata Hazmi naik saat ia meraih kartu itu. Benar. Itu foto Ave dan jelas sekali kalau itu SIM miliknya. SIM khusus untuk kendaraan roda empat.


"Baiklah, kalo gitu nanti saya info ke Pak Zaid deh," kata Hazmi sambil mengembalikan kartu pada Ave.


Buru-buru Ave menggeleng. "Enggak! Enggak! Jangan dikasih tau! Ave pengen ngasih kejutan."


"Tapi... " Jenny dan Hazmi sama-sama ingin menyanggah.


"Tenaaang! Pokoknya serahin ke Ave. Pak Zaid gak bakalan marah. Ave kan cuma kangen aja sama... mmm." Senyum malu-malu muncul di wajah Ave yang memerah.


Keraguan Jenny dan Hazmi pun lenyap melihat wajah Ave yang tampak bahagia.


Pagi tadi, Jenny pun menyerahkan kunci mobil perusahaan yang biasa ia gunakan. Mobil otomatis yang memang cocok dikendarai perempuan. Walaupun masih ada ragu karena Jenny belum pernah melihat sendiri kemampuan Ave, tapi melihat wajah Ave yang terlihat percaya diri, gadis itu pun membiarkannya.


Saat melamar pekerjaan, Ave tahu bahwa ada syarat memiliki SIM A dan C untuk calon karyawan yang diminta perusahaan. Ia memiliki kedua SIM itu sejak usianya 17 tahun dan saat itu ia memang bisa mengendarai mobil dan motor. Hal ini juga yang membuat Hazmi dan Jenny yakin Ave bisa mengemudi.


Tapi ketika kuliah dan tinggal di Sydney, Ave tak pernah membawa kendaraan sendiri lagi. Di kota itu, transportasi umum senyaman mobil pribadi. Paling-paling Ave memakai sepeda kalau tak terlalu jauh. Begitupun saat pulang kembali ke Jakarta, Papa dan Ajie memberinya keleluasaan memakai Pak Harun sebagai supirnya setiap kali mau keluar rumah. Akses kendaraan umum, serta banyaknya layanan ojek online menambah kenyamanan menjadi penumpang. Selama bertahun-tahun, Ave tak lagi pernah mengemudi sendiri.


Baru saat Ave mulai menyalakan mesin mobil, keraguan yang tadi tak pernah ada sejak ia menawarkan diri, mendadak muncul. Berbagai dugaan buruk seketika bermunculan dalam benaknya. Tapi demi misi menjemput kekasihnya secara pribadi sebagai hadiah kecil untuk Zaid, Ave melupakannya.


Ini Jakarta, bukan Sydney.


Harusnya itu yang dipikirkan Ave saat kemarin ia bicara pada Hazmi. Ia melupakan fakta jalanan kota metropolitan yang semrawut dan penuh aturan ala hutan rimba.


Saat Ave menyetir pelan, klakson dari para pengemudi mobil yang terburu-buru membuatnya gugup bukan kepalang. Saat ia menyetir lebih cepat, berkali-kali motor-motor muncul melintas cepat bagai hantu yang mengejutkannya. Saat ia mengemudikan mobilnya lebih ke tepi, para pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang membuatnya terkejut. Belum lagi angkot-angkot yang berpacu mencari penumpang, memotong jalan mobilnya tak peduli.


Akhirnya, Ave hanya bisa menyetir pada kecepatan yang ia anggap masih sempat mengerem secara mendadak tanpa membuat siapapun yang ada di depan mobilnya mati konyol.


Karena tegang dan gugup, Ave tak lagi memperhatikan jam atau rute jalan di layar GPS. Ia sudah terlambat saat memasuki jalan tol menuju bandara, tapi kemudian malah salah mengambil jalan dan harus kembali memutar untuk masuk tol lagi. Jalanan di Jakarta sungguh memusingkan.

__ADS_1


Ponselnya berulang kali berbunyi dan Ave hanya bisa membiarkannya. Ia tak berani menjawab saat kegugupannya sudah mencapai puncak. Yang saat ini ia pikirkan hanya agar bisa segera tiba di bandara.


"Ya Allah, please bantuin Ave! Ini kenapa gak sampe-sampe sih?" gumam Ave gugup.


Saat itulah terdengar suara ponsel lagi, tepat saat di depan Ave ada dua jalan membentang. Tanpa pikir panjang, Ave mengarahkan mobilnya keluar dari tol. Di jalan yang agak sepi, ia menepikan mobil dan berusaha keras membaca situasi. Ia tak tahu sedang berada di mana.


Mata Ave menatap layar GPS yang membingungkannya. Mungkin lebih baik kalau ia menelpon seseorang. Ave pun mengambil ponselnya dan tepat saat itu sebuah panggilan masuk terdengar.


"Halo?"


"Kamu di mana?" Suara berat yang dingin dan tegas terdengar. Zaid.


"Mas sudah sampai ya? Tu... tunggu ya!"


"Kamu di mana?" ulang Zaid lagi dengan lebih tegas.


Tiit! Tiiit! Tiit!


"Anj***g! Bab*! Mon***!  Sialan! Lo mau lewat! Lewat aja sana!" Sumpah serapah meluncur keluar dari mulut Ave tanpa ia sadari saat beberapa mobil yang melewati mobilnya menekan klakson panjang. Rupanya mobil Ave berhenti di perempatan yang cukup ramai.


Di ujung telepon, mata seseorang nyaris melompat keluar mendengar serangkaian sumpah serapah para penghuni kebun  binatang yang keluar dari mulut Ave seakan tanpa beban.


"Astaghfirullah, Ve!" ucap Zaid perlahan.


"Sebentar, Mas!" Ave memutuskan sambungan telepon, dan memajukan mobilnya sedikit.


Sementara Zaid menatap ponselnya dengan kuatir. Gadis ini... Bagaimana ia tahu di mana dia kalau ditutup begitu saja? Bergegas Zaid mengusap layar ponsel sekali lagi.


Begitu tersambung lagi, Zaid berkata cepat setengah berteriak, "Kamu di mana?! Jangan ditutup telponnya!"


"Ave gak tau, Mas!"


"Coba kamu lihat keluar mobil, ada apa aja yang bisa buat petunjuk?" tanya Zaid sambil melihat ke sekelilingnya sendiri. Sudah lebih dari satu jam ia tiba, dan Terminal Kedatangan internasional tampak sepi, tapi mobil Ave belum juga terlihat.


Zaid melongok. "Maksudku apa yang ada di depanmu, Ve!"


"Jalan."


Zaid menghela napas. "Di belakangmu?"


"Jalan juga, Mas!" jawab Ave lagi. Tapi buru-buru ia menambahkan, "Oooh, sama mobil-mobil yang bawel, Mas. Dari tadi ngelakson terus tiap mereka lewat. Padahal Ave udah majuin mobil loh."


Ini cewek dari planet mana sih? keluh Zaid dalam hati. Akhirnya ia berkata pelan, "Kamu share loc bisa gak?"


"Bisa, bisa, bisa," ucap Ave cepat, dan untunglah kali ini ia melakukan dengan benar. Zaid pun memberikan instruksi melalui telepon.


Kali ini Zaid memperingatkan. "Teleponnya jangan diputus lagi, speaker-in aja sampai kamu nyampe depan saya."


"Siaaap, Yayang Zaid!" kata Ave riang.


Lalu Zaid sekali lagi mengarahkan Ave, sambil sesekali bertanya kecepatan yang digunakan gadis itu. Selama melakukannya, di dalam hati Zaid bersumpah takkan pernah membiarkan Ave mengemudi lagi.


Saat Zaid menghubungi Hazmi tadi, ia nyaris berteriak pada sahabat sekaligus asistennya itu. Walaupun Hazmi bilang ia melihat sendiri SIM milik Ave, tapi Zaid tahu kalau Ave sangat tidak familiar dengan lalu lintas Jakarta.


"Kamu sudah sampai mana?" tanya Zaid sambil meremas ponselnya yang terasa panas.


"Ini udah masuk Terminal Kedatangan, Mas," jawab Ave. Lalu terdengar suara mesin parkir. Ada kelegaan sedikit mengalir di dada Zaid.


"Mas tunggu ya sebentar la... Aaaah!"

__ADS_1


Brak! Bug!


Jantung Zaid berhenti berdetak. Jeritan kecil Ave dan suara sentakan keras, lalu diikuti dengan ponsel yang terjatuh. Tak lama hubungan telepon terputus lagi.


"AVE! AVE!" panggil Zaid kuatir. Nada suaranya meningkat tinggi.


Tanpa peduli tatapan ingin tahu dari orang-orang sekitarnya, Zaid berlari menyusuri setiap gate Terminal Kedatangan, mencari bayangan mobil mungil putih sembari menyeret koper kecil dan ransel di punggung.


Tapi sampai di ujung Terminal, ia tak melihat mobil itu atau Ave. Berputar-putar memeriksa sekelilingnya, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuh Zaid. Panik, ia kembali lagi. Jangan-jangan ia melewatkan sesuatu.


Kerumunan orang menyempitkan ruang gerak Zaid, tapi ia tak menyerah. Sambil menahan berat ransel di punggungnya dan koper di tangannya, ia mencari-cari Ave. Saat itulah ia melihat ke seberang jalan. Ada seorang gadis mungil di antara para petugas berseragam. Dua orang polisi dan beberapa petugas bandara. Gadis itu membelakangi Zaid, tapi ia mengenali pakaian yang dikenakannya. Itu Ave.


Tanpa pikir panjang, Zaid menyeberang setengah berlari. Bergerak secepat mungkin menyongsong Ave.


Ciiiit!


Bugh!


Jeritan orang-orang terdengar bergema saat sesuatu yang besar menabrak tubuh Zaid. Zaid merasa tubuhnya menjadi ringan, melayang, berputar di udara membuat ia tak lagi bisa melihat Ave sebelum jatuh di atas jalan yang panas dan keras.


Sesaat kemudian Zaid sudah terbaring. Tepat di depan matanya ada mobil silver berhenti. Tapi Zaid tak ingin terus berbaring. Seseorang sedang menunggunya. Ave membutuhkannya.


Dengan sekuat tenaga, Zaid menahan rasa sakit berdenyut di kepalanya yang mulai terasa, juga melupakan tangan kiri serta pahanya yang terasa basah karena sesuatu yang hangat. Keningnya berkerut saat akhirnya ia bisa melihat Ave berlari ke arahnya. Ia memaksa kakinya untuk bisa menahan tubuhnya yang mendadak terasa lebih berat dari biasanya sambil mengangkat tangan kanannya. Meminta Ave berhenti.


"MAS ZAID!" teriak Ave dari seberang jalan. Untungnya para petugas di samping Ave, tampak menangkap tangan gadis itu, membuat Zaid tak bisa menahan senyum. Aneh, ia justru merasa sangat tenang.


"Mas... Mas... Anda baik-baik aja?"


"Mas, duduk dulu! Jangan... "


"Itu kakinya luka, Mas. Ke rumah sakit dulu... "


Zaid tak mempedulikan orang-orang yang mendekatinya dengan panik dan menawarkan bantuan dengan kuatir. Ia terus mendekati Ave. Ia hanya ingin memastikan Ave baik-baik saja. Bahkan jika itu harus membuatnya kehilangan nyawa.


"Hu hu hu... Mas, Mas kenapa nyebrang mendadak? Duduk... Duduk dulu!"


Begitu sampai  tangan Ave yang gemetar segera membuka, memeluk tubuh Zaid. Airmata mengambang di pelupuk mata gadis itu saat mengeluarkan saputangan untuk menutup luka di kepala Zaid.


Zaid menatap Ave dengan mata yang sudah mulai berat. Sakit di kepalanya makin menyakitkan.


"Kamu... baik?" tanya Zaid susah payah. Tenggorokannya terasa kering, dan sudut bibirnya sedikit perih saat digerakkan.


Ave mengangguk-angguk. Lalu Zaid menunduk, menggenggam pergelangan tangan Ave sebelum ia terkulai. Kesadarannya masih ada, tapi tubuhnya mulai terasa sakit. Para petugas yang tadi sempat keheranan melihat reaksi Zaid yang masih tetap berjalan setelah tertabrak, segera membantu Ave menahan tubuh pria itu agar tak terjatuh.


Tak lama sebuah ambulan muncul. Namun, tangan Zaid yang menggenggam pergelangan tangan Ave tak mau lepas. Petugas pun meminta Ave ikut naik bersama mereka.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit terdekat, Ave menangis penuh penyesalan.


"Jangan... nangis... " Suara pelan terdengar lagi. Walaupun tertutup respirator, Ave bisa melihat Zaid sedang tersenyum padanya. Mata pria itu menatapnya penuh kasih sayang.


"Hik... hik... hik... Maafin Ave, Mas!"


Terdengar suara Zaid mengatakan sesuatu, karena tak mendengarnya, Ave mendekatkan telinga ke wajah Zaid.


"Jangan... nangis! Tidak... Apa-apa... Asal kamu... "


Ave menatap wajah terluka yang memandangnya masih dengan senyum itu. Bibir Ave bergetar menahan tangis.


"... Baik-baik saja. Aku... " Suara Zaid menghilang. Matanya pun tertutup lagi. Tapi genggaman tangan Zaid masih kuat, membuat Ave hanya bisa menggigit bibir menahan tangis.

__ADS_1


Sulit sekali. Airmata Ave bagai air bah yang tak terbendung, mengalir tak berhenti.


*****


__ADS_2