Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 24 - Mesmerized By Her


__ADS_3

~ Hati-hatilah pada Ave! Dia benar-benar penyihir (Zaid) ~


Untuk sesaat Ave tak menyadari perhatian yang tertuju padanya. Sudah lama ia tak bertemu Natasha yang belakangan sibuk dengan proyek barunya di Singapura.


"Entar makan siang bareng sama gue ya, Ve," kata Natasha, lalu berbisik di telinga Ave. "Kita makan bareng Elang."


Senyum di wajah Ave merekah makin lebar sebelum ia mengangguk penuh semangat.


Walaupun studio itu cukup luas, tapi ruangan itu telah terbagi-bagi menjadi beberapa sudut pemotretan dengan beragam tema, membuat para staf yang bekerja di sekitar Natasha bisa melihat keakraban keduanya dengan leluasa. Sebagian tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu itu dari raut wajah mereka. Itu termasuk Maya.


Dengan memberanikan diri, Maya melangkah maju. "Halo, Ve! Tadi belum sempat say halo sama kamu. Kenal sama Mbak Natty juga ya?"


Ave dan Natty sama-sama menoleh. Kepala mereka juga sama-sama berputar kembali sebelum saling melemparkan tatapan dan senyum penuh arti. Sama-sama tak menganggap ada Maya yang tersenyum pada mereka. Respon yang kompak itu membuat senyum Maya berubah getir.


"Ve, lu kerja sana. Entar ditegur sama boss. Gue harus ngelanjutin ini," kata Natasha sambil sekali lagi memeluk Ave. Lalu keduanya berpencar, yang satu kembali duduk di kursi siap untuk dirias ulang, sementara yang lain memilih masuk ke ruang lain di sebelah studio. Sementara Maya berdiri kaku di bawah tatapan semua staf. Terlihat jelas kalau sebagian besar ikut senang melihatnya diperlakukan seperti itu. Kali ini, Maya memilih menyingkir, menuju sudut pemotretannya sendiri. Tentu saja sambil menahan rasa malu dan jengkel.


"Gimana dengan Ave? Dia... unik kan?" tanya Natasha sambil melirik Zaid yang mendekatinya tanpa menoleh. Seorang penata rias masih menambahkan blush-on di wajahnya.


Zaid tersenyum sinis. "Kenapa? Sekarang kamu mau jujur siapa dia sebenarnya? Itu sebabnya lu manggil gue hari ini?"


Tawa Natasha pecah, membuat sang penata rias mengangkat tangan dan menegurnya. Lalu sambil meminta maaf ia berkata, "Gue tuh udah jujur banget sama lu, Id. Dia itu gadis baik, meski yaitu tadi... unik."


Sudut bibir Zaid yang khas muncul. "Seperti lu?"


"Benarkah? Hahaha... Maaf, Mbak... Maaf!" Sekali lagi Natasha tertawa, dan sekali lagi ia meminta maaf pada penata riasnya. "Lagian lu, Mas. Gue disamain Ave. Gue begini karena malang melintang di dunia showbiz. Tapi kalo Ave beda. Gadis itu baru kenal dunia. Masih polos. Bedalah sama gue."


"Polos?" ulang Zaid. Ia teringat dusta Ave saat wawancara, saat bekerja bahkan saat menjadi Chef di rumahnya sendiri. Gadis licik seperti itu yang disebut dengan polos?


"Kenapa? Benar kan? Gue ngenalin ke elu, karena pengen lu ngeliat cewek yang beda dari semua cewek-cewek di sekitar lu. Lu sih kebanyakan ketemu Maya dan sejenisnya, jadi orientasi perempuan lu standar banget," ejek Natasha.


Zaid mencondongkan tubuhnya, mendekat. "Orientasi? Gak salah lu bahas soal orientasi gue, Nat? Lu tau si Ave ngomong apa soal orientasi gue?" tanya Zaid pelan. Tapi terdengar tajam dan dingin.


Sekali lagi Natasha terbahak-bahak. Untunglah kali ini tugas sang penata rias sudah selesai. Ia nampak begitu lega melihat wajah Natasha yang sumringah.


"Oooh itu, yang soal lu dibilang gay itu ya! Hahaha... Gue aja gak kepikiran loh, hahaha... " kata Natasha geli. Sesaat ia lupa menahan suaranya.


Tangan penata rias yang tengah memasukkan kotak blush-on membeku di udara, ia melirik Zaid takut-takut membuat Zaid ingin sekali menyumpal mulut Natasha yang masih tertawa. Memang hanya mereka bertiga yang mendengar, tapi tambahan sepasang telinga bisa membuat berita viral ke semua staf. Sesuatu yang dibenci Zaid.


"Ya gak usah juga lu sebut kali, Nat. Dikira orang bener lagi," ucap Zaid cepat. Kalimatnya jelas melegakan hati sang penata rias. Tapi tak urung senyum geli muncul di wajahnya saat meninggalkan Zaid dan Natasha.

__ADS_1


"Gue tau bininya Ajie emang jahil, dan mereka udah temenan lama. Tapi gue gak nyangka kalo dia nularin si Ave juga. Ya ampun... Ave! Ave!" Natasha menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kalimat itu membuat Zaid menatap Natasha penuh tanda tanya. "Teman? Bukannya mereka sepupu?"


Natasha menoleh. Teringat sesuatu. Mulutnya terbuka sesaat sebelum memperbaiki. "Ah ya! Aduuh, gue lupa!"


"Ada yang lu sembunyikan dari gue, Nat? Soal Ave... " selidik Zaid.


Tiba-tiba Natasha berdiri. Melangkah kembali memasuki lantai berkanvas putih itu. Tak mempedulikan Zaid lagi. "Aaah, kita mulai sekarang aja yak!"


Seruan-seruan komando bermunculan, dan semua staf kembali bergerak. Seseorang melipat kursi rias yang tadi diduduki Natasha, membuat Zaid terpaksa mundur. Beberapa orang mulai mengangkat kabel-kabel yang menjulur, sementara sang fotografer mulai kembali menekan tombol kamera.


"Bapak kok gak ngomong kalo ada si nenek sihir itu?" tanya Ave dari belakang. Sedikit mengagetkan Zaid. Ada tumpukan kertas di tangannya. Ave menyodorkan pada Zaid. "Ini email dari kantor, minta dibalas sekarang, Pak."


Zaid hanya mengangguk dan mengambilnya. Mata mereka mulai berpindah lagi ke arah Natasha yang tengah berpose. "Nenek sihir? Natasha?" tanya Zaid mengulang kata-kata Ave.


"Iissh, bukaaan! Mbak Natasha mah the sweetest angel in the world. Tapi itu tuuh, Mbak Maya Michelia. The devilish demoness in the world."


[A/N: The Devilish itu artinya jahat pake banget yak! Paling paling paliiiing iblis deh pokoknya.]


Kali ini Zaid benar-benar menatap Ave. "Seenaknya aja ngasih julukan sama orang. Terus kamu apa? The devilish witch in the world?"


"Eeh, nyebut saya monyet lagi!" Zaid mulai kehilangan kesabaran.


Bukannya mengalah, Ave justru membalas tatapan Zaid. "Lah waktu itu Bapak sendiri kan yang ngaku! Ave sih cuma ngingetin. Lupa?"


Ave mempertahankan tatapannya saat matanya bertemu mata Zaid. Seisi studio seakan menghilang dan hanya ada mereka berdua. Tapi tatapan Zaid yang tadi tajam perlahan berubah, sebelum Ave tahu arti tatapan itu, Zaid sudah membuang muka ke arah lain.


"Kamu emang cocok sama si Natty, Sama-sama penyihir!" ujarnya. Nada suaranya terdengar berbeda. Lalu dengan langkah tegak, ia berjalan masuk ke ruang meeting. Ada sesuatu yang harus ia kerjakan dan itu tempat yang biasa digunakan para staf kantor untuk bekerja.


Perlahan hati Ave dipenuhi rasa bersalah saat melihat punggung berbalut setelan abu-abu itu. Harusnya ia tak mengucapkan kata-kata seperti itu pada bosnya sendiri. Belakangan ini sikap Zaid padanya berubah. Ia memang masih pemarah, masih dingin, tapi jauh lebih lunak. Zaid tak pernah membahas masalah ia menjadi koki di rumah pria itu. Ia juga tak lagi menuntut proposal seperti dulu. Ia bahkan menganggap Lily sebagai sahabatnya, sama seperti dirinya. Semalam setelah bercerita panjang lebar soal interogasi Zaid, Elang juga mengatakan sesuatu yang membuat Ave berterima kasih pada pria itu.


"Boss kamu itu baik banget, Ve. Kamu harus baik-baik sama dia ya Dik!"


Sebuah ide tiba-tiba muncul di otak Ave. Dengan cepat, ia menyusul Zaid. Ia harus melakukan sesuatu untuk meminta maaf.


Zaid nampak sedang duduk di salah satu kursi meeting. Bekerja dengan laptopnya. Mengetik dan sesekali berhenti untuk membaca kata-kata yang ia ketikkan. Dua map kulit bertumpuk di sebelahnya. Mata yang dingin itu fokus. Sesaat Ave teringat ketika Lily pernah bilang kalau suaminya terlihat tampan saat sedang bekerja. Zaid juga terlihat begitu tampan saat serius bekerja.


Andai saja Ave boleh jatuh cinta padanya. Andai saja lelaki ini sebaik kakaknya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Zaid tanpa mengangkat wajahnya, membuat Ave yang berdiri di depan pintu yang terbuka tersentak. "Kamu bikin masalah apa lagi?" sambungnya lagi, masih sambil mengetik.


Mulut Ave terbuka siap membalas. Tapi ia teringat alasan ia menemui Zaid. "Pak! Nanti kita kembali ke kantor, atau... "


Kepala Zaid terangkat. Matanya kini tertuju pada Ave. "Kenapa?"


"Begini loh, Pak. Kalo Bapak gak keberatan, gimana kalo kita makan siang di rumah aja sebelum ke kantor? Kan lewat juga. Biar Ave yang masak."


Zaid tak menjawab. Ia menatap Ave. Berusaha membaca pikiran gadis jahil itu. Tapi hanya sepasang mata berbinar dengan senyum kekanak-kanakkan yang terlihat. Barusan mereka berdebat lagi, namun kini gadis itu menawarkan kebaikan. Sungguh kontras.


Menuju kantor kembali jika dari studio ini memang melewati jalan menuju rumah Zaid. Tapi Ave bukanlah gadis biasa yang biasa menawarkan kebaikan. Jelas Zaid curiga.


"Ave kan baru. Ave tahu dari Mbak Jenny, Bapak nyari Chef karena perut Bapak sering sakit. Jadi Ave ingin lebih sering memasak makanan yang bergizi dan sehat buat Bapak," kata Ave memberi alasan sambil mendekat ke kursi di sebelah Zaid.


Zaid menghela napas panjang, lalu kembali fokus pada laptopnya. Sambil mengetik ia berkata, "Semalam perut saya sudah sakit gara-gara kamu."


Sepiring Ayam Geprek dengan sambal pedas yang sengaja dibuat Ave kemarin sore untuk mengerjai Bossnya itu langsung muncul dalam ingatan Ave. Kedua tangannya melambai-lambai di depan dadanya. "Maaf, Pak! Maaf! Ave lupa. Beneran Ave lupa! Tenang aja. Sekarang Ave udah tau kok. Bapak jangan marah ya! Ave bikin puding tadi pagi. Bisa buat nenangin perut Bapak. Atau Bapak mau dibuatin bubur?"


Zaid tak menjawab.


"Paaak, beneran ini.... Ave benar-benar pengen masak buat Bapak." Bibir Ave mulai melengkung. Kakinya dihentak-hentakkan. Kebiasaannya saat menginginkan sesuatu.


Jari-jari Zaid berhenti bergerak. Ia berpaling menatap Ave. "Kamu kan tadi diajak makan siang sama Natasha. Kamu lupa?" Sulit menampik permintaan ini setelah merasakan kelezatan masakan gadis itu.


Ave mengangguk-angguk. "I... itu bisa nanti. Yang penting Bapak dulu mau gak?" Natasha pasti mengerti. Cukup satu kata untuk menjelaskannya 'Zaid',


"Baiklah. Kalau begitu undang Natasha makan siang bareng saya."


"Bareng? Aaaah, jangan! Jangan! Bisa gawat kalau dia tahu saya tinggal di rumah Bapak! Enggak! Gak usah! Pokoknya Bapak jangan bilang ya kalo Ave tinggal di rumah Bapak. Please, Pak!* Please* Bapak Boss paling ganteng sedunia!" pinta Ave. Kedua tangannya bertangkup di depan hidungnya. Tidak mungkin bagi Ave memberitahu itu pada Natasha, yang selalu berpikir sekonservatif kakaknya.


Tak ada yang bisa dilakukan Zaid selain mengangguk setuju.


"*Aaakh, thank you so much *Pak Zaid!" Lalu hanya dalam hitungan detik, tanpa sadar Ave melakukan kebiasaannya saat merasa senang. Memeluk leher Zaid.


Dua tangan Ave melingkari leher Zaid sebelum kepala mereka saling bersentuhan lembut, gerakan biasa namun nyaris membuat jantung Zaid berhenti berdetak. Kehangatan tangan itu menyentuh sekeliling lehernya yang dingin. Angin lembut dari napas Ave juga berhembus menggoda di telinganya, meninggalkan kuduk yang mendadak meremang. Hanya sepersekian detik sebelum sang pemilik menarik diri, menjauh lalu meninggalkan ruang meeting itu sambil melompat-lompat girang.


Zaid menunduk kembali, menatap laptopnya. Tapi isi pikirannya sudah melayang entah ke mana, lenyap tak bersisa. Gadis itu dan pelukannya yang kini menempel kuat dalam otaknya. Bahkan hatinya.


Bagaimana ia bisa tersihir seperti ini? Sudah banyak gadis yang memeluknya. Kebanyakan malah model-model cantik dengan bodi aduhai. Memang hanya pelukan persahabatan. Itu cara biasa di zaman modern dan dalam bisnis hiburan yang ia terjuni jauh sebelum wisuda. Harusnya ia sudah terbiasa. Harusnya ia tak terpengaruh seperti anak SMA yang bau kencur. Ia seorang pria berusia 31 tahun!

__ADS_1


*****


__ADS_2