Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 51 - A Crazy Love


__ADS_3

~ Jangan jadi gila, Ve! (Zaid)~


Saat akhirnya tiba di Denpasar dan berada di dalam mobil yang bergerak menuju hotelnya, Zaid menyalakan ponselnya. Beberapa notifikasi beruntun segera terdengar. Untuk sesaat Zaid membiarkan saja tanpa memeriksa dan hanya meletakkan ponsel itu di dalam saku jaketnya, sementara ia memeriksa agenda pertemuan sekali lagi. Di sampingnya ada Aam yang sedang menyiapkan beberapa berkas tambahan. Mereka mulai membahas beberapa hal.


Setelah selesai memberi instruksi lagi pada Aam, Zaid pun mengambil ponselnya dan mulai memeriksa notifikasi yang masuk.


Saat itulah Zaid membaca pesan dari Ave. Bukan pesan biasa. Tapi sebuah puisi yang membuat senyum tipis Zaid muncul di sudut bibirnya. Lama pria itu menatap pesan itu. Membacanya berulang kali.


Aam yang kali ini bertugas sebagai asisten pengganti Hazmi, menatap Zaid yang masih tenggelam memandangi layar ponselnya. Melihat ada senyum yang akhir-akhir ini sulit sekali muncul di wajah bosnya, Aam bisa menduga siapa pengirim pesan itu. Pasti Avelia, kekasih cantik Zaid yang lucu.


"Ave ya, Pak?" tebak Aam ikut tersenyum sambil memasukkan kertas-kertas ke dalam map.


Zaid menoleh, wajahnya sedikit berubah. Tidak menjawab apapun. Hanya senyuman yang sempat muncul tadi langsung hilang sebelum pria itu memasukkan kembali ponselnya. Setelah itu, Zaid memandang kaku melalui jendela mobil, ke arah jalanan.


Melihat reaksi Zaid, Aam merasakan suhu dalam mobil mendadak turun ke derajat terendah. Tadinya ia ingin menghilangkan suasana kaku yang ia rasakan semenjak dari Jakarta. Tak disangka ia justru menambahnya.


Baru kali ini Aam bertugas menemani bosnya, yang memang terkenal selalu bersikap dingin pada semua orang. Tapi sejak pacaran dengan Ave, Zaid bersikap lebih hangat dan lebih banyak bicara. Karena itulah, Aam mengira ia beruntung bisa menemani sang bos dingin ini merasakan daerah wisata paling terkenal di Indonesia dengan hubungan bos-karyawan yang lebih baik. Hanya saja ia tak tahu kalau menemani seseorang dengan aliran darah sedingin es seperti Zaid itu, tak semudah bayangannya. Mungkinkah itu karena bukan Ave yang bersamanya?


Mungkin lebih baik Aam meminta bantuan Ave. Dengan gugup, Aam mengirim pesan pada Ave.


[Aam : Ve, bos lagi kurang sajen nih! Kamu apain emangnya?]


[Avelia: Oh, Mas yang pergi sama Pak Zaid ke Bali?]


[Aam: Iya nih, tadi gue nanya elo, bos diam aja. Awkward dah jadinya. Gue harus gimana nih, Ve?]


[Avelia: Jangankan Mas Aam, Ave aja lagi dicuekin nih. Bantuin Ave baikan sama Pak Zaid dong, Mas!]


[Aam: Gak salah lo minta gue bantuin, Ve? Ini gue malah mau minta bantuan elo]


[Avelia: Gak tau juga tuh bos kenapa. Sama Ave gitu juga kok.]


[Avelia: Kalo gitu kasih tebak-tebakan aja deh ke Pak Zaid, Mas!]

__ADS_1


[Aam: Lah, gak salah ngasih tebak-tebakan? Lo gimana sih, Ve? Ini Mr. Boss loh. B.O.S.S!]


[Avelia: Ave tahu, Mas. Tapi biasanya Pak Zaid ketawa kalo Ave kasih tebak-tebakan lucu. Kan tadi Mas juga yang minta]


[Aam: Ya udah apaan? Gue coba deh!]


[Avelia: Ada kuda jalan di atas jalanan yang penuh kotoran alias eek. Kan kakinya ada empat tuh, terus pas dilihat pemilik kuda ternyata cuma ada tiga kaki yang terkena kotoran, yang satunya kok gak kena padahal jalanan itu benar-benar penuh banget sama eek? Ayo kenapa?]


[Aam: 3 aja yg kena? Kok bisa?]


[Avelia: Kaki kuda yang satunya... lagi mencet hidungnya lah. Kan kotoran bau, Mas!]


Kontan Aam terkekeh saat membaca jawaban Ave. Bahunya berguncang saat ia tertawa geli, membuat Zaid menoleh dan bertanya, "Apa yang lucu?"


Aam menoleh pada Zaid. "Ave nih, Pak. Biasa. Kirim pesan lucu... " namun ia menelan kata-katanya yang lain saat melihat perubahan wajah Zaid.


Bukannya senang, wajah Zaid justru makin tambah kelam. Mulut Zaid membentuk garis lurus tipis dengan sorot mata yang tak bersahabat. Aam meneguk liurnya, tak jadi melemparkan lelucon untuk Zaid dan memilih menunduk. Buru-buru Aam mengusap ponselnya, keluar dari ruang chatnya dengan Ave dan menyimpan ponselnya. Mode asisten sibuk pun ia gunakan. Pura-pura membaca berkas.


Sisa hari itu dijalani Aam seperti seorang narapidana. Zaid tak membiarkannya menganggur walaupun beberapa menit. Relay dari satu meeting ke meeting lain, dengan persiapan dokumen tak ada habisnya serta menghubungi beberapa staf di Jakarta untuk tele-conference. Karena ini pengalaman Aam yang pertama kali, ia melakukan banyak kesalahan. Dan Zaid selalu menggunakan intonasi rendah yang dingin saat menegurnya.


"Cuma seperti itu yang kamu pahami kerja selama ini?"


"Yakin kamu terpilih karena kemampuanmu, Am?"


"Hanya untuk mencari itu, saya harus menunggu?"


Aam tak bisa berkata apa-apa. Ia juga tak bisa menghentikan tangannya yang bergetar saat menyiapkan dokumen. Apalagi untuk merespon kalimat dari wajah dingin dan kaku di depannya itu. Aam tak lagi peduli disebut pengecut atau penakut. Pekerjaannya terlalu beresiko untuk dipertaruhkan saat ini.


Bagaimana Hazmi bisa bertahan menjadi asisten dari pria yang dijuluki Snowy Devil oleh kekasihnya sendiri?


Mendadak Aam merasa ia harus bersikap lebih hormat pada Hazmi. Efisiensi Hazmi yang luar biasa bukannya tanpa alasan. Pasti Hazmi mengalami lebih dari yang Aam bisa bayangkan.


"Kamu ngapain di situ? Ini bukan saatnya melamun! Kita harus selesaikan malam ini juga!"

__ADS_1


Bergegas Aam berdiri, berusaha menjajari langkah lebar Zaid dengan lututnya yang mulai bergetar. Seharian ini, sejak subuh tadi ia sarapan seadanya, melewatkan makan siang dan sekarang malam sudah menjelang, hanya dua cangkir kopi masuk ke perutnya yang malang sepanjang hari.


Zaid juga sama sepertinya. Malah sepanjang hari ini, Aam melihat Zaid hanya menegak sebotol air mineral saja. Inikah rahasia pria ini menjaga ketampanan dan bentuk tubuhnya yang menjadi pujaan para gadis di kantor? Dengan menahan lapar?


Aam lebih suka tubuhnya yang gempal dengan daging melimpah ini jika harus mengalami kelaparan seperti sekarang.


Orang kaya memang aneh. Untuk apa mereka mencari uang kalau bukan untuk makan? Apakah melihat rekening bisa mengenyangkan? Aam tak mengerti soal itu. Tapi karena kelaparan, daya konsentrasinya juga berkurang drastis. Boro-boro memikirkan masalah perut orang kaya atau bosnya, ia hanya bisa berdoa dalam hati agar perutnya tak protes terlalu nyaring saat nanti berada di ruang meeting.


Sementara di depannya, Zaid melirik jam tangannya sekali lagi. Jika Zaid bisa menyelesaikan meeting terakhir ini, maka ia bisa mengejar pesawat ke KL. Malam ini juga ia ingin bertemu dengan Zahra. Ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengan kakaknya itu. Kalau tidak, ia akan terus seperti ini.


Hubungannya dengan Ave tak bisa seperti ini terus. Ia tak bisa menemukan jalan keluar. Zaid sudah berusaha menghindar dan berharap perasaannya tak sedalam yang ia duga. Tapi belum apa-apa, rencana itu gagal.


Zaid juga berusaha menghubungi Natasha, untuk memahami tujuan sahabatnya itu membuat Ave bekerja di perusahaannya. Tapi gadis itu ternyata sedang bekerja di Jepang, menyelesaikan sebuah proyek film di sana sekaligus melakukan beberapa pemotretan untuk beberapa minggu ke depan.


Zaid mengira dengan meninggalkan Ave sementara, ia bisa berpikir jernih. Tapi melihat tawa geli di wajah Aam membaca pesan lucu Ave, hatinya langsung mendidih. Gadis itu...


Bagaimana ia bisa mengirim pesan aneh pada Zaid tapi mengirim pesan yang lucu pada pria yang bukan apa-apanya?


Di depan pintu ruang meeting, kaki Zaid berhenti melangkah. Aam buru-buru ikut berhenti, menatapnya bingung tapi tak berani bertanya apapun.


Lalu Zaid mengambil ponselnya, membuka pesan yang ia terima dari Ave tadi pagi. Membaca sekali lagi sebelum mengetik pesan balasan. Setelah sepanjang hari berpikir, ia menemukan jawaban yang tepat.


Ada seringai kecil muncul di wajah Zaid saat ia selesai mengirimkan pesan. Seringai yang membuat Aam menarik napas lega. Akhirnya...


Nun jauh di Jakarta, dalam kamarnya, di meja yang dipenuhi dengan draft storyboard dan laptop yang masih menyala, Avelia melirik layar ponsel yang menyala sekilas. Ada pesan masuk.


Gadis itu mengambil ponselnya dan membaca pesan itu.


[Zaid: Jangan jadi gila, Ve. Cukup aku saja yang tergila-gila sama kamu.]


Senyuman lebar merekah muncul di wajah Ave, sebelum ia memeluk ponsel di dadanya dan ia pun memekik girang, "Yessss!!"


*****

__ADS_1


__ADS_2