Putri Matahari & Pangeran Salju

Putri Matahari & Pangeran Salju
Episode 76 - The Most Complicated Decision


__ADS_3

~ Keputusan tersulit harus diambil demi keluarga ~


Entah berapa jam telah berlalu, Avelia hanya bisa terdiam menatap pintu ruang operasi. Di sisinya, Lily duduk, terisak pelan sambil memegangi tangannya. Di jajaran kursi lain, Ajie sendirian. Sementara ayah mertua Ajie, Jaya dan Danu serta Pak Harun berdiri tak jauh dari Ajie.


Wajah semua orang terlihat muram. Namun, wajah Avelia yang paling menyedihkan.


Perasaan bersalah memenuhi hati gadis itu sekarang. Apalagi setelah ia tahu kalau Papa mendengar semua kata-katanya pada Ajie tadi siang.


Avelia tidak tahu kalau jantung Papa bermasalah jauh sebelum mereka bertemu kembali. Itu sebabnya Papa sibuk menjodoh-jodohkan semua anaknya. Papa ingin mereka semua menikah sebelum ia pergi. Karena Papa tak ingin Ave sedih, makanya Papa melarang Ajie mengatakannya pada Ave.


Papa tak pernah mengurus bisnis lagi sejak dua tahun terakhir. Konsentrasinya berpindah hanya untuk memikirkan cara agar Avelia kembali ke Indonesia, menikahi seseorang yang bisa membahagiakannya dan sesekali mencari cara memperpanjang kekuatan jantungnya yang semakin melemah.


Itu sebabnya Ajie juga tak mau menunggu lagi. Menikahi Lily sesegera mungkin.


My Big Monkey...


Airmata Ave mengalir lagi. Ia benar-benar menyesal menuruti emosinya. Selama ini ia bisa menutupinya. Seharusnya Ave tetap melakukan itu, membawa rahasia bagian hidupnya yang paling kelam sampai mati.


Suara langkah kaki mendekat membuat semua orang menoleh pada asal suara. Tampak Amy mendekat sambil menenteng sebuah amplop coklat. Di belakangnya ada dua asistennya. Mereka membawa makan malam.


Amy mendekati Ajie dulu dan mereka membicarakan sesuatu. Setelah mendengar instruksi Ajie sebentar, Amy bergerak mendekati Avelia.


"Ave... "


Avelia mendongak. Tangan Amy mengeluarkan sesuatu dari dalam tas plastik yang dibawa oleh asistennya.


"Ini ada sandwich. Makan dulu ya! Jangan sampai nanti saat Pak Fariz keluar, malah kamu yang pingsan," bujuk Amy sambil menyodorkan kotak makanan berisi sandwich. Lalu ia juga memberikan kotak lain pada Lily, yang mengangguk berterima kasih. Lily pun berdiri, membawanya pada Ajie, membujuk suaminya untuk makan.


Ave menatap sebentar sebelum mengambil salah satu sandwich segitiga itu. Tapi baru beberapa gigitan, ia sudah merasa kenyang. Diletakkannya kembali sandwich itu ke dalam kotak dan hanya mengambil botol susu yang disodorkan Amy lagi padanya, menyeruputnya perlahan.


"Oh iya, tadi ada ini. Pak Fariz yang bawa dan terjatuh di lantai. Karena ada namamu, Mbak bawa ke sini," ucap Amy sambil menyerahkan sebuah amplop coklat besar.


"Ini... apa?" tanya Ave lemah. Amy menggeleng. Tidak tahu. Ia tak mau membuka amplop yang jelas-jelas bukan untuknya walaupun tidak dilem.


Tanpa bertanya lagi, Ave membuka amplop itu. Sebuah map dokumen terlihat dan selembar kertas terlipat jatuh ke lantai. Amy mengambilnya dan menyerahkan pada Ave. Map dokumen di tangan Ave diletakkan di pangkuannya, sementara ia mulai membuka lipatan dan membaca lembaran kertas yang jatuh tadi.

__ADS_1


Sebuah surat.


 



Setitik airmata jatuh di atas surat itu. Namun Ave bergegas melipatnya kembali sebelum semua orang melihatnya. Lalu ia memasukkan surat itu ke saku celananya. Ia tak tertarik mencari tahu isi map dalam amplop coklat itu dan hanya memasukkannya kembali.


Ave tak lagi peduli isi map itu. Mungkin berisi surat perjanjian agar Zaid tak mendekatinya lagi. Atau mungkin mengenai saham The Crown. Jika Papa membawanya, mungkin itu miliknya. Saat ini Ave tak ingin memikirkan apapun.


Maka Ave pun memberikan kembali amplop coklat itu pada Amy. "Nanti kasih saja sama Papa. Yang lain milik Papa. Ave udah ambil surat untuk Ave."


Pikiran Ave benar-benar campur aduk. Emosinya tidak karuan. Ia tak bisa berpikir banyak saat ini. Ia tak tahu harus melakukan apa. Yang ia tahu, hubungannya dengan Zaid sudah tidak mungkin. Ia harus membuat pilihan. Dua pilihan yang sama-sama akan menghancurkan hatinya.


"Zaid ada di lobi rumah sakit," bisik Amy pada Ave. Gadis itu pun duduk di sebelah Ave sambil mengambil kembali map coklat itu.


Ave menoleh pada Amy dan melihat Amy tersenyum penuh pengertian padanya. Tanpa kata, ia menepuk-nepuk tangan Ave. Membiarkan Ave yang termangu dalam diam.


Tepat saat itu, pintu ruang operasi terbuka. Beberapa orang berpakaian baju biru keluar. Ajie berdiri dan segera mendekati mereka. Dokter yang berdiri paling depan menjelaskan keadaan Papa saat ini.


Kabar itu membuat ekspresi lega terlihat di wajah setiap orang yang menunggu. Hanya Ave yang tetap duduk di kursi tunggu. Melihat adiknya menunduk diam, Ajie mendekatinya dan berjongkok di depannya.


Seperti saat Ave masih kecil, Ajie meraih tangan adiknya, menggenggamnya erat.


"Papa sudah gak apa-apa. Pulanglah dulu, Ve! Istirahatlah. Malam ini biar Mas dan Jaya yang menemani Papa. Kamu pulang bareng Ayah dan Lily ya," ucap Ajie lembut.


Bibir Ave gemetar saat mulai bicara. "Mas... "


"Sudah, jangan menangis lagi! Kalau Papa lihat kamu begini, dia pasti tambah sedih. Tenangkan dirimu ya! Besok kalau Papa sudah sadar, kamu harus sudah tenang lagi. Kita akan bicara nanti," ujar Ajie masih dengan suara lembut lalu berdiri, sambil mengelus rambut adiknya sebelum berbicara dengan Lily dan Amy.


Ave hanya bisa mengangguk. Ia bersyukur, Ajie sama sekali tak terlihat marah padanya. Juga tak menyalahkannya. Saat ini sulit bagi Ave untuk bicara, bahkan sekadar untuk meminta maaf.


Setelah itu, mereka beriringan keluar menuju tempat parkir rumah sakit, melewati lobi. Lily dan ayahnya berjalan di depan bersama Jaya. Amy dan Ave paling  belakang. Ave tak menyadari apapun, hanya berjalan mengikuti langkah Amy yang menggandengnya. Di lobi, Amy menghentikan langkahnya. Ave menoleh pada Amy yang menunjuk ke satu arah.


Di lobi rumah sakit, suasana sudah sangat sepi. Kursi-kursi yang biasa digunakan untuk menunggu juga tampak kosong. Kecuali satu kursi.

__ADS_1


Zaid duduk di sana. Seperti dulu. Menunggu dalam diam. Tanpa diminta. Hanya duduk, menemani Ave dari kejauhan.


Melihatnya duduk menunggu seperti itu, membuat Ave merasa jauh lebih tenang. Dulu saat Lily baru melahirkan, Zaid juga menunggunya seperti itu. Zaid tak pernah mengatakan apapun, tapi kehadirannya sudah cukup untuk Ave.


"Kamu pulang bareng Zaid ya? Nanti biar Mbak aja yang ngasih tau Mbak Lily," kata Amy sambil memeluk Ave. "Besok kamu harus sudah semangat lagi ya Ve. Kita harus ngasih support ke Pak Fariz."


Lily juga menoleh pada Ave. "Bicaralah dengannya, Ve!" kata wanita itu sebelum kembali berjalan di sisi ayahnya dan Jaya, meninggalkan Ave.


Ave mengangguk pada Amy dan berjalan menuju Zaid. Ave mendekatinya. Namun setiap langkahnya seperti mendekati tebing jurang. Sekarang, sebuah keputusan harus diambil. Suka atau tidak. Benar atau salah. Ave harus memilih.


Kepala Zaid yang tertunduk terangkat saat ia melihat ujung sepatu Ave. Pria itu tersenyum pada Ave.


"Sudah makan?" tanya Zaid sambil berdiri membiarkan Ave memeluknya. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada Zaid.


"Sudah. Tadi dipaksa sama Mbak Amy."


"Mau pulang? Kamu belum istirahat," tanya Zaid.


Ave mengangguk.


"Tunggu aku di depan lobi! Aku ambil motor dulu! Jangan lupa kasih tahu Lily kalau kau pulang bersamaku," kata Zaid.


Ave mendongak sebelum mengangguk. Sesaat ia kaget mendengar Zaid memakai motor. Tapi akhirnya ia hanya diam dan mengangguk.


Zaid pun berbalik, berjalan cepat menuju tempat motor terparkir.


Sementara Ave memandang punggung pemuda yang menjauh itu. Berusaha untuk tidak memikirkan kalau mungkin inilah saatnya ia mengucapkan salam perpisahan.


Ave tak ingin melakukannya. Tapi Ave hanya punya Papa. Ia telah kehilangan Mama dan Ave tahu betapa menyakitkannya melewati hari-hari itu. Mau tak mau ia harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya.


****


Author Notes:


Tisunya masih banyak? 

__ADS_1


__ADS_2