
~ Tak ada dusta yang kekal ~
Ave tertawa-tawa melihat Alina setengah berdansa memamerkan uang yang ia dapat dari Zaid. Semua orang juga tersenyum melihat tingkah gadis itu. Jarang sekali Alina sesenang itu.
Mungkin karena salah satu proyeknya juga baru selesai hari ini ditambah idola nomor satunya menraktir, makanya ia begitu bahagia.
Langkah kaki dari seseorang yang mengenakan sepatu tinggi di pintu membuat Ave memutar tubuhnya dan melihat Rose masuk dengan bibir mencibir. Wajahnya terlihat kesal, berbanding terbalik dengan suasana di ruang Creative Department yang sedang ramai. Saat itu Rose langsung mendekati Ave.
"Ve, kamu bilang Pak Zaid mau ke Malaysia?" tanyanya.
Ave mengangguk.
"Berapa lama? Kamu tahu gak?" tanya Rose lagi.
Pertanyaannya juga mengundang ingin tahu dari Alina yang juga sudah berdiri di samping Ave lagi.
"Katanya sih sementara di sana dulu, Mbak. Sampai urusan perusahaan kakaknya selesai. Emang ada apa sih, Mbak?" tanya Ave sambil tersenyum.
Bukannya lebih baik, wajah Rose justru semakin kelam. "Gue... barusan ketemu sama nenek lampir yang namanya Maya itu di lift. Gila tuh model ye, masih aja dipake. Eh pake begini tadi... 'si Ave sekarang di Creative ya?'... gue jawab, 'iya, Mbak! Ada perlu dengan Ave?'... eh dia malah ngelengos. Emangnya gue apaan yak?! Heran gue, kita semua udah sepakat gak mau pake dia, masih diperpanjang aja tuh kontraknya."
Kening Ave berkerut. Maya? Oh si Nenek sihir yang hanya takluk dengan Natasha.
"Seingat Ave, kontraknya full di Jepang, gantiin Mbak Natty. Mbak Natty kan sekarang nangani The Crown Models," kata Ave menjelaskan. Ia lupa kalau tadi Zaid sempat mengatakan soal penyelesaian kontrak model.
"Uuugh, kenapa harus dia sih? Orang sombong gitu!" Rose kembali ke kubikalnya sendiri dan duduk sembari menghempaskan dirinya ke kursi.
Ave masih terdiam.
"Hati-hati sama dia, Ve. Dari dulu dia itu naksir berat sama Pak Zaid. Sebel ih! Pak Zaid kok sabar banget sih ngadepin dia?! Atau... " omel Rose panjang lebar sebelum tampak memikirkan sesuatu.
Kali ini Alina yang mengintip dari balik dinding pembatas. "Atau kenapa, Ros?"
Rose berdiri lagi. Menatap Ave. "Ve, ngapain coba dia ke sini? Jangan-jangan mereka... mmm... di Malaysia... "
Sesuatu yang aneh terasa di hati Ave. Firasat yang tidak enak. Ia mengingat kembali keanehan yang terjadi belakangan ini pada Zaid. Setelah malam ulang tahunnya, Zaid seperti menjaga jarak dan jarang menghabiskan waktu bersamanya seperti biasa.
Zaid selalu sibuk dan selalu lembur setiap hari. Tapi saat Ave ke kantornya, Zaid lebih sering keluar kantor entah ke mana. Belum lagi perubahan sikap kedua asisten dan sekretarisnya.
"Dia pasti lagi di ruangan Pak Zaid. Kamu ke sana gih! Jangan sampai bos kesayangan kita diambil sama orang luar judes kek nenek lampir itu," kata Alina setelah melihat raut wajah Ave.
Ave mengangguk dan segera meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Alina dan Rose memandang dengan senyum puas. Mereka yakin Maya takkan bisa mengalahkan Avelia.
Saat memasuki ruangan Manajemen, Ave tak melihat siapapun selain berpapasan di pintu masuk dengan Akbar yang tampak sibuk memegang beberapa map.
"Loh pada ke mana, Mas?" tanya Ave.
Akbar berpaling. "Eh Ave? Oh kita lagi ada rapat departemen. Kamu nyari Pak Zaid? Dia lagi ada tamu tuh."
Ave mengangguk. "Iya Ave tau, Mas. Cuma mau nyamperin bentar."
"Oh oke, ketuk aja! Permisi sebentar juga gak apa. Hanya Mbak Maya aja. Kalau mau nunggu juga gak lama itu. Saya harus meeting dulu ya Ve. Tak tinggal."
__ADS_1
"Iya, Mas!" sahut Ave.
Dengan langkah pelan, Ave menuju pintu ruang kerja Zaid yang tidak tertutup rapat. Dari luar, ia bisa mendengar suara perempuan sedang berbicara lantang.
"... Masih kamu belain, Mas? Perempuan itu sudah menghancurkan semuanya. Perusahaanmu, dirimu... "
"Kamu tahu dari mana, May?"
Suara pelan tapi dingin itu milik Zaid. Sudah lama Ave tak mendengar nada suaranya yang seperti itu, tapi ia masih mengingatnya dengan baik.
"Aku ingin menemui Natasha kemarin buat nanyain kenapa kontrak aku di-cancel. Di depan TCM, aku lihat dia bertengkar dengan seorang pria. Elang dari Mulia Property. Siapa yang sangka kekasih Natasha ternyata seseorang yang berpengaruh seperti dia?"
Terdengar nada sinis bercampur iri dari perempuan itu. Tanpa melihat Ave tahu kalau pemilik suara itu adalah Maya.
"Apa yang kamu dengar?"
"Apa?" Suara Maya makin sinis. "Bahwa Elang membeli 30% saham milikmu dan Ajie membeli lebih dari 30%, hingga kau kehilangan saham mayoritas?"
Tangan Ave menutup mulutnya. Kaget.
Mas Ajie? Mas Elang?
"Atau... Permintaan Ajie yang ingin kau memilih antara The Crown atau Avelia adiknya?"
"Maya! Cukup!" Itu suara Zaid yang dalam dan terdengar begitu tertekan.
Malah tawa pahit yang terdengar lagi. "Melawan seorang Ajie Al Farizi itu sama saja menghancurkan dirimu, Mas. Lalu apa artinya semua kerja kerasmu bertahun-tahun untuk The Crown? Aku lihat bagaimana kau berjuang untuk semua ini. Sekarang hanya karena satu orang, kau mau pergi begitu saja, melepaskan The Crown gitu aja?"
"Apa kalau kau pilih Avelia lalu keluarganya mau menerimamu? Apalagi yang tersisa darimu kalau The Crown sudah tidak ada? Aku tahu kamu dan Ajie itu musuh bebuyutan dari dulu. Itu sebabnya Ajie tidak setuju hubunganmu dengan adiknya, memaksa kalian putus dengan memintamu mundur dan meninggalkan Indonesia."
"Senang bisa mengenalmu, May. Tapi semua yang kamu tanya itu adalah urusan pribadi saya. Jadi silakan tandatangani surat pelepasan kontrak ini saja... "
"Avelia?"
Suara di belakang Ave membuat gadis itu menoleh dan terlihat Jenny yang tampak bingung melihat Ave berdiri di depan pintu.
Tak ingin kedua orang di dalam mengetahui kehadirannya, Ave menyeret Jenny menjauh. "Mbak, Ave boleh nanya?"
"Nanya apa, Ve?"
"Apa benar Ajie Al Farizi sekarang yang memegang saham mayoritas di The Crown?"
Jenny tak menjawab. Matanya membulat mendengar pertanyaan Ave. Sorot matanya bertanya dari mana gadis ini tahu.
"Tidak... Jadi Mas Zaid tidak akan kembali ke The Crown?" tanya Ave lagi dengan suara parau. Ia berusaha mengendalikan diri.
Jenny makin tidak mengerti. Ia baru tahu fakta itu. "Saya gak tau, Ve. Kami hanya diminta untuk mempersiapkan administrasi dokumen presdir yang baru untuk sementara selama Pak Zaid ke Malaysia, agar ada yang menggantikan tugasnya. Itu sebabnya kami meeting untuk... hei, Ve! Avelia!"
Belum selesai Jenny menjelaskan, Ave sudah berbalik. Setengah berlari gadis itu bergerak menuju lift yang kebetulan terbuka saat ia mendekat. Ave langsung masuk dan meninggalkan Jenny yang kebingungan melihat tingkahnya.
Bukankah seharusnya Ave senang karena Ajie adalah kakak kandungnya? Mengapa gadis itu justru terlihat marah?
__ADS_1
Pintu ruang kerja Zaid terbuka. Pria itu keluar sambil memegang map. "Ada apa, Jen? Kenapa teriak-teriak depan pintu?"
Jenny berbalik. "Eh, itu... Bapak gak tau kalo tadi Ave ke sini?"
Zaid terkesiap. "Di sini? Ave tadi ada di sini? Sejak kapan?"
Jenny mengangkat bahu dengan wajah bingung. "Saya kurang tahu, Pak. Tadi saya lihat Ave berdiri di sini. Mukanya pucat dan dia nanya ke saya. Belum selesai saya jelaskan, dia udah pergi."
"Dia nanya apa?"
"Dia nanya soal kakaknya, Ajie Al Farizi. Apa benar dia yang memegang saham mayoritas di The Crown?" ulang Jenny.
Wajah Zaid memucat. Dengan gerakan cepat, ia menyodorkan map yang ia pegang. "Ini kontrak Maya, selesaikan hari ini juga! Dan... usir dia dari kantor saya sekarang juga!"
Lalu tanpa menunggu jawaban Jenny, Zaid bergerak menyusul Ave.
Tapi Ave sudah masuk ke dalam taksi ketika Zaid sampai di lobi. Untuk sesaat, Zaid berpikir dan ia segera mengambil ponselnya. Menghubungi Ave.
"Halo?"
"Ve? Kamu di mana?" tanya Zaid begitu teleponnya dijawab.
Ave memandang ke depan, melirik supir taksi. "Mas, Ave akan ngomong ke Mas Ajie. Ave tahu semuanya," katanya lirih. Ia tak ingin sang supir mendengar obrolannya.
"Ve, kamu salah paham. Dengarkan aku dulu! Kamu kembali dulu. Kita bicara ya," bujuk Zaid sambil berjalan cepat menuju tempat parkir di basemen, menuju motor besarnya.
"Gak bisa, Mas! Ave tau kakak Ave gimana. Mas tenang aja. Ave yang akan jelasin ke dia," kata Ave keras kepala sebelum memutuskan telepon begitu saja. Tak lagi peduli lirikan sang supir taksi dari balik kaca spion.
Ave tak pernah menyangka masalah antara Zaid dan Ajie jauh lebih parah dari dugaannya. Ia tak tahu Ajie bisa begitu menyimpan dendam. Belum pernah ia melihat kakaknya begitu tega menghancurkan seseorang seperti sekarang. Seseorang yang sangat penting bagi Ave.
Dada Ave terasa sesak, matanya menghangat dan kepalanya seperti dipenuhi pijar api. Ia marah, kesal dan sedih sekaligus. Emosinya campur aduk.
Hampir saja Zaid meninggalkannya tanpa pernah diketahui Ave. Padahal beberapa menit lalu, Ave masih memikirkan rencana pernikahan mereka. Bagaimana bisa kakaknya sendiri yang menghancurkan impiannya?
Ave mengangkat wajahnya. Ia harus secepatnya sampai ke gedung GE dan menemui Ajie. Dulu, ia selalu menunggu dan menunggu. Sekarang, ia tak ingin lagi menunggu. Ave akan memperjuangkan sendiri impian dan cintanya. Tak seorangpun, bahkan Ajie sekalipun, yang bisa menghancurkannya lagi.
"Pak, nanti belok kiri ya habis ini. Biar cepat sampai!"
"Baik, Mbak!" kata sang supir dengan patuh.
*****
Author Notes:
Mau happy ending apa sad ending nih?
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya.
Terima kasih.
Iin Ajid
__ADS_1